Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 41. Menuju malam indah


__ADS_3

Malam mulai menjelang. Semua orang sudah kembali ke tempatnya masing-masing, termasuk Wendi dan Sri. Mereka memutuskan untuk menginap di sebuah hotel di sekitar tempat tinggal Lilis.


Selesai makan malam dan selesai sholat, keluarga baru Nathan bersantai di ruang keluarga. Sekitar setengah jam kemudian, Bu Siti pamit untuk beristirahat. Sementara Naina masih anteng bermain bersama Lilis. Nathan berusaha memahami keadaan Lilis sebagai seorang ibu.


"Naina mengantuk, ibu," kata Naina.


"Baik, ayo kita bobok. Biar ibu temenin," kata Lilis sambil tersenyum.


Akhirnya ngantuk juga, batin Nathan.


"Mas, kamu istirahat dulu di kamar. Aku mau temani Naina tidur dulu," kata Lilis.


"Baik. Naina, cepat tidur ya?" bisik Nathan pelan.


"Biar aku bantu membawa Naina masuk kekamarnya," kata Nathan.


"Nggak usah, Mas. Hari ini, kayaknya dia lagi mau manja sama ibunya," kata Lilis sambil tersenyum.


"Aku tunggu di kamar," ucap Nathan pelan.


Lilis mengerti ucapan suaminya yang nyaris tanpa suara itu.


Lilis segera menggendong Naina yang sudah mulai mengantuk. Setelah Lilis dan Naina masuk kekamar Naina, Nathan mematikan lampu dan dia segera masuk kekamar Lilis (salah, ke kamar mereka).


Nathan melihat-lihat buku novel milik Lilis yang tertata di rak meja Lilis. Disela-sela kesibukannya di warung makan, Lilis masih sempat untuk membaca novel. Nathan mengambil salah satu Novel yang terlihat agak tebal.


Setebal ini kapan selesai bacanya, untuk seorang Lilis, batin Nathan.


Nathan membolak-balik buku yang dipegangnya seolah sedang mencari sesuatu. Mata Nathan tiba-tiba mengantuk dan dia pun tertidur sambil memeluk buku novel tersebut.


Sementara Lilis segera kembali kekamarnya setelah Naina tertidur. Lilis sangat beruntung menikah dengan Nathan, laki-laki yang mau menerima dirinya apa adanya. Lilis tersenyum saat melihat sang suami tertidur sambil memeluk buku novel yang dibacanya.


Lilis mengambil buku tersebut dengan pelan agar tidak membangunkan Nathan. Namun, tetap saja Nathan terbangun dan menatapnya curiga.

__ADS_1


"Ada apa, kenapa Mas Nathan menatapku begitu?" tanya Lilis cemas.


"Kamu berharap aku tidur?"


"Tidak, sama sekali tidak, Mas. Aku tidak pernah memiliki pikiran seperti itu," jawab Lilis agak panik.


"Baguslah kalau begitu. Kamu sudah siap? Diatas meja ada hadiah untuk kamu. Buka dan pakailah," kata Nathan sambil tersenyum.


Lilis meraih kotak hadiah entah dari siapa. Dibukanya perlahan, dan dia terkejut melihat isi dari kotak hadiah tersebut. Diangkatnya dengan pelan, lingerie berwarna merah dengan potongan yang terbuka dibeberapa bagian. Ditambah bahan yang begitu tipis.


Ulah siapa ini? batin Lilis.


Lilis menatap suaminya yang tersenyum melihat wajah Lilis kaget dan syok.


"Mas, apa ini?" tanya Lilis.


"Nggak tahu. Itu tadi hadiah dari Seno. Ya, Seno yang belikan untuk hadiah pernikahan kita," suara Nathan gagap.


"Mana mungkin Seno membeli pakaian kayak gini. Dia saja belum menikah. Jangan-jangan..."


"Mas, kenapa nggak jujur aja. Kalau memang Mas Nathan mau aku pakai ini, pasti aku akan memakainya," kata Lilis sambil duduk di samping ranjang.


"Nggak, aku tahu kamu tidak suka. Aku..."


Nathan meraih pakaian itu dari tangan Lilis dan menaruhnya di ranjang.


"Mas, aku tidak suka karena kondisi tubuhku yang tidak tahan dengan udara dingin. Kalau tidur dengan pakaian seperti itu, aku pasti akan masuk angin. Tetapi malam ini, ada pengecualian. Itu hadiah pertama darimu, jadi biar aku memakainya."


"Kamu tidak kesal kan, tidak marah?" tanya Nathan khawatir.


"Nggak, Mas. Bukankah menyenangkan suami itu kewajiban? Meskipun aku bukan wanita agamis, aku juga tahu sedikit banyak tentang ajaran agamaku. Tolong bimbing aku agar bisa menjadi istri yang Sholehah."


"Lis, aku juga bukan pria yang agamis. Pengetahuanku tentang agama, juga masih standar. Kita akan belajar bersama untuk bisa mewujudkan kehidupan rumahtangga yang sakinah mawadah warahmah. Kita akan saling mengingatkan jika ada yang salah. Kita akan saling mengisi kekurangan masing-masing. Yang terpenting kita harus saling menjaga kepercayaan," kata Nathan membuat Lilis semakin yakin jika pilihannya kali ini tidak akan salah.

__ADS_1


"Kalau begitu, sini biar aku pakai sekarang. Aku juga ingin lihat, apa wanita kampung sepertiku, bisa cocok memakainya."


Nathan menyerahkan lingerie kepada Lilis sambil tersenyum. Lilis segera pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Lilis menghela nafas sambil tersenyum saat melihat dirinya tampak aneh dengan balutan pakaian seksi ini.


Lilis perlahan-lahan berjalan keluar. Dia tampak malu-malu, karena pakaian itu benar-benar membuat Lilis nyaris tanpa busana. Natha tersenyum dan merasa bersalah sudah membuat istrinya merasa tidak nyaman.


Akan tetapi, matanya membulat dan dia menelan saliva nya saat melihat Lilis menunjukan pemandangan erotis didepannya. Tubuh seksi dengan pinggul yang semok, membuat Nathan tidak bisa berkata-kata. Karena Lilis tidak segera mendekat, Nathan bangkit dari ranjangnya dan mendekati Lilis. Kedua tangannya memegang kedua bahu istrinya dengan lembut sambil tersenyum.


"Istriku, wanita yang paling cantik di dunia," ucap Nathan memuji keindahan didepannya.


Nathan hampir tidak percaya, Lilis bisa berubah total menjadi sangat menggoda saat berpakaian seperti ini. Jiwa kelelakiannya muncul seketika, apalagi dia merasa sudah berhak memiliki kecantikan itu.


Sebenarnya, dia sudah cantik dengan pakaian sederhana, yang biasa dia pakai. Karena pakaian yang sederhana itu, dia bisa terhindar dari mata jahat yang tertuju padanya. Biarpun dia tidak memakai hijab, pakaian yang sopan tetap melekat ditubuhnya.


Untuk kedepannya, Nathan tidak akan pernah membiarkan istrinya memakai pakaian seksi agar tidak mengundang niat-niat jahat lelaki lain. Hanya ketika bersamanya, Lilis boleh menggunakan pakaian seksi atau bahkan tidak menggunakan apapun. Maunya suami seperti itu. Nathan bukan suami yang suka pamer kecantikan istri. Dia tidak suka jika laki-laki lain memuji istrinya dengan pandangan mesum.


Nathan segera mengangkat tubuh Lilis yang masih tidak percaya bisa memakai pakaian seperti itu. Nathan merebahkan tubuh istrinya diatas ranjang dengan lembut. Dia pun duduk di samping istrinya sambil memandangi tubuh istrinya yang hanya berbalut lingerie tipis.


"Sayang, apakah kamu tidak nyaman dengan pakaian ini?" tanya Nathan sambil memegang memainkan jari-jari Lilis.


"Tidak juga, Mas. Hanya sedikit malu, karena aku belum pernah memakai pakaian seperti ini sebelumnya," jawab Lilis tidak ingin membuat suaminya merasa sungkan."Apapun yang Mas inginkan, akan aku lakukan. Selagi bukan hal yang dilarang agama dan dibenci Allah."


"Istriku, aku merasa beruntung memilikimu."


"Aku juga, Mas."


"Sebelum itu, apa kau sudah berwudhu?" tanya Nathan.


"Sudah, Mas. Kenapa?"


"Pantesan wajah kamu basah. Kalau begitu, tunggu sebentar, aku ikut berwudhu seperti kamu."


Untung saja, Lilis sudah memodifikasi kamar mandinya dengan menyelipkan sedikit tempat tersendiri untuk berwudhu agar tidak perlu keluar kamar untuk berwudhu. Karena setahu Lilis, berwudhu di kamar mandi yang ada toiletnya hukumnya Makruh.

__ADS_1


Nathan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Selesai berwudhu, Nathan duduk di samping Lilis dengan senyum nakalnya. Tangannya mulai merayap. Akan tetapi, Lilis dengan cepat menghentikan tangan suaminya. Tentu saja Nathan terkejut dengan sikap Lilis.


Apakah Lilis ingin menolaknya? Haruskah malam pertamaku berakhir hampa?


__ADS_2