
Nathan merasa lega, setelah mendapat kepastian dari Lilis bahwa mereka akan sama-sama berjuang untuk tetap melanjutkan rencana pernikahan mereka. Dengan begitu, Nathan lebih bersemangat membuat sang Kakek setuju Nathan menikah dengan Lilis.
Flashback on.
Setelah kepergian Lilis, Nathan masuk kembali kedalam rumah untuk segera membawa Kakek kerumah sakit. Nathan sebenarnya ingin sekali mengejar Lilis. Namun, dengan kondisi Kakek Edward, Nathan tidak mungkin tega membiarkan Kakek kesakitan.
Kakek segera mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Setelah beberapa waktu, akhirnya beliau ditempatkan di ruang perawatan. Tentu saja, Nathan menempatkannya di ruang VIP. Setelah Kakek mendapatkan ruangan, Nathan segera pergi untuk mengurus biaya rawat inap.
Sekembalinya mengurus biaya rawat inap, Nathan bergegas menuju ruang rawat inap Kakek Edward. Namun, sungguh sesuatu yang sangat membuat Nathan marah pada sang Kakek sekaligus bahagia.
"Edward, kau ini. Badan sehat dan kuat begini masih berpura-pura sakit," kata Dokter Elias sambil tersenyum.
"Dokter Elias, bantuanmu ini tidak akan pernah aku lupakan. Lakukanlah dengan baik, agar aku bisa segera memiliki cucu seperti dirimu," jawab Kakek Edward membalas senyum Dokter Elias.
"Kalau kamu hanya ingin cucu, biarkan saja, Nathan menikahi wanita yang dia cintai. Untuk apa memaksanya menikah dengan wanita yang tidak dia cintai. Jangan mengulangi kesalahan yang sama yang pernah kamu lakukan pada ayahnya, Samuel Sugara," kata Dokter Elias sambil menghela nafas.
"Jangan mengungkit masa lalu," ucap Kakek sedih.
"Kenapa, harusnya hal itu menjadi pelajaran untukmu agar tidak terulang lagi. Hingga akhir hidupnya, Samuel tidak pernah merasakan kebahagiaan. Bahkan, dia seperti mayat hidup. Apa kamu ingin, hidup Nathan juga seperti ayahnya?" kata Dokter Elias.
"Elias, kamu benar-benar bisa membuat aku kena mental. Kamu tahu, wanita yang dicintai Nathan seorang janda beranak satu," jawab Kakek Edward.
"Apakah itu, yang membuat kamu tidak setuju dengan pilihan Nathan?"
"Tentu saja. Apalagi, dia berasal dari keluarga miskin," tambah Kakek Edward.
"Memangnya kamu kekurangan uang, sehingga ingin mencari menantu yang kaya?"
"Kamu selalu memojokkan aku, Dokter Elias."
"Aku hanya ingin mengingatkan kamu. Kalau menurutku, lebih baik janda beranak satu. Jelas-jelas, dia bisa memberimu cucu. Kamu bisa memberi dia syarat agar melahirkan cucu-cucu yang banyak untukmu. Belum tentu gadis pilihanmu bisa melahirkan cucu sebanyak yang kamu mau," kata Dokter Elias sambil tertawa.
Kakek terdiam, sepertinya dia mulai terpengaruh omongan Dokter Elias. Padahal, Dokter Elias hanya menggodanya saja karena Kakek Edward sangat menginginkan cucu.
__ADS_1
Kakek Edward dan Dokter Elias merupakan sahabat karib saat mereka masih di bangku SMA dulu. Karena memiliki cita-cita yang berbeda, mereka kuliah di tempat yang sama namun berbeda jurusan. Meski mereka jarang bertemu, tetap saja mereka masih terlihat sangat akrab. Merek selalu mengenang masa-masa SMA mereka, karena masa itu adalah masa yang paling berkesan bagi mereka berdua.
Kakek Edward meminta Dokter Elias untuk membantunya berpura-pura sakit untuk membuat Nathan bersedia menikah dengan Santy. Padahal jika hanya masalah cucu, menikah dengan siapapun harusnya bukan masalah bagi Kakek.
Nathan beruntung karena akhirnya dia tahu kalau Kakeknya baik-baik saja. Dia juga tidak ingin membuka sandiwara Kakeknya, dia bahkan berusaha mengikuti sandiwara sang Kakek untuk memberinya seorang cucu. Nathan tersenyum bahagia, karena dia yakin Kakek akan menerima kehadiran Lilis. Dokter Elias memang hebat dalam mengubah suasana hati Kakek.
"Edward, apakah kamu tidak curiga dengan hubungan Nathan dan wanita itu, siapa namanya?" tanya Dokter Elias lagi.
"Lilis. Curiga, apa maksudmu," jawab Kakek.
"Jangan-jangan dia hamil anak Nathan. Bukankah ini kabar gembira?" kata Dokter Elias sambil tersenyum.
"Benarkah? Tapi mana mungkin, Aku mendidik Nathan dengan sangat ketat. Mana mungkin dia menghamili anak orang?" kata Kakek tidak percaya.
"Itu bisa saja terjadi, kalau kamu masih tetap kekeh menolak pernikahan mereka. Mereka sudah sama-sama dewasa."
"Kamu terus saja bikin aku takut. Mungkin sebaiknya memang aku terima saja pernikahan mereka. Dari pada mereka membuat aku malu karena mereka memiliki anak diluar nikah," kata Kakek sambil menghela nafas berat.
"Nah, ini baru benar. Tenangkan pikiran kamu, Nathan senang, kamu juga ikut senang. Jadi kondisi kesehatan kamu juga ikut baik nantinya karena mengurangi konflik dan mengurangi beban pikiran."
"Mas Nathan, kenapa kamu tersenyum? Apakah ada yang lucu denganku?" tanya Lilis penasaran.
"Tidak. Aku hanya ingat mau pinjam KTP sama Kartu Keluarga kamu."
"Sekarang?"
"Tentu, biar lebih cepat mengurus berkas-berkas yang diperlukan untuk melengkapi syarat pernikahan. Tapi, ada yang ingin aku katakan, semoga kamu tidak keberatan," ucap Nathan sambil melihat ke wajah Lilis yang penasaran.
"Katakan saja, Mas."
"Aku, tidak bisa memberimu pernikahan yang mewah. Kita akan menikah di KUA saja."
"Begitu. Tidak apa-apa, Mas. Aku kira masalah apa," ucap Lilis bernafas lega.
__ADS_1
"Aku juga ingin, kamu menjenguk Kakek. Sekaligus meminta izin menikah. Apa kamu keberatan?"
"Tidak. Aku sudah yakin, aku akan menjenguk Kakek. Apapun resikonya, aku akan siap. Aku sudah memutuskan untuk berjuang bersamamu, jadi apapun yang terjadi aku akan mendukungmu."
"Aku senang sekali mendengarnya."
"Mas, sudah adzan Maghrib. Mas bersedia sholat di sini atau mau pulang saja?" tanya Lilis berbasa-basi.
"Beneran, boleh sholat disini? Kalau boleh sih, aku mau saja," jawab Nathan sambil menahan tawa bahagia.
"Hhh, aku hanya basa-basi, Mas. Kau anggap beneran? Aku ambil apa yang kamu minta tadi," kata Lilis tersenyum.
"Kirain, beneran. Kan sudah tidak sabar..."
Lilis menatap tajam Nathan, hingga membuat Nathan berhenti meneruskan ucapannya. Sudah seperti suami takut istri saja sikap Nathan. Tapi bagi Nathan, itu bukan rasa takut tetapi lebih pada menyenangkan pasangan. Setiap wanita pasti ingin di utamakan dan dinomorsatukan oleh suaminya. Terutama didengarkan apa yang menjadi keinginannya.
Nathan tersenyum melihat Lilis, yang kemudian membalas senyumnya. Lilis masuk mengambil KTP dan Kartu Keluarga. Tidak berapa lama, Lilis keluar dan memberikan apa yang diminta oleh Nathan.
"Aku pergi dulu. Abis Isyak, aku jemput kamu untuk temui Kakek."
"Kenapa tidak besok saja, Mas?"
"Aku tidak yakin, besok Kakek masih ada di rumah sakit atau tidak?" jawab Nathan sambil tersenyum.
"Kenapa?"
"Nanti juga kamu akan tahu. Aku pergi dulu. Hmmm, hampir lupa. Nanti bawa Naina juga," kata Nathan penuh harap.
"Haruskah bawa Naina?" tanya Lilis penasaran.
"Assalamualaikum," ucapan salam dari Nathan.
"Wa'alaikum salam."
__ADS_1
Lilis masih agak bingung dengan permintaan Nathan. Akan tetapi karena di sudah memutuskan untuk mendukung Nathan, maka dia harus percaya dengan apa yang di minta oleh Nathan. Termasuk membawa Naina.
Apakah Nathan ingin mengajak Naina membeli mainan?