Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 91. Lupakan sejenak kesedihan


__ADS_3

Nathan menghela nafas panjang. Semua usaha guna mencari Wahyu, sudah dia lakukan. Akan tetapi, apa yang diharapkan tidak semudah itu. Nathan menatap Lilis dengan pandangan sedih.


"Sayang, duduklah dulu. Aku ingin bicara sesuatu," kata Nathan sambil mengajak Lilis duduk.


"Ada, apa Mas?"


"Kita sudah berusaha demikian juga dengan pihak kepolisian. Sampai saat ini, belum menemukan apa-apa. Semua petunjuk sekecil apapun sudah di telusuri, tetap saja hasilnya nol," Nathan berhenti sebentar. "Aku bukannya putus asa, akan tetapi mungkin kita harus menyiapkan diri untuk menyerah."


"Mas, apa maksud Mas Nathan? Wahyu tidak akan di temukan?" tanya Lilis kembali syok.


Lilis menangis dan dadanya terasa sesak. Nathan yang tidak tahan melihat kondisi Lilis, memeluknya untuk memberi semangat.


"Sayang, kita menyerah bukan berarti kita tidak akan mencari Wahyu lagi.


Meskipun pihak kepolisian tidak bisa menemukan anak kita, aku akan tetap berusaha mencarinya. Tapi, kita harus menyiapkan hati, untuk kemungkinan yang terburuk. Kita harus tetap melangkah dan menjalani hidup dengan baik, agar kita tetap bisa mencari Wahyu."


"Mas, aku tahu. Kita harus tetap hidup dengan baik agar bisa terus mencarinya. Tapi itu sangat sulit bagiku. Bagaimana aku bisa ...."


"Sayang, kamu harus bisa. Lihat Naina, lihat aku dan ibu. Kami sangat membutuhkanmu. Yakinlah, bahwa semua yang terjadi akan ada hikmahnya untuk kita. Kita harus percaya, Allah tidak akan memberikan ujian dan cobaan jika kita dianggap tidak mampu. Jadi kita harus kuat, dan berpikir positif atas kejadian ini," kata Nathan menguatkan hati Lilis.


"Semoga Lilis bisa, Mas."


Lilis masih belum bisa menerima sepenuhnya, jika Wahyu tidak ada lagi di pelukannya. Semua terasa tiba-tiba. Akan tetapi, benar kata suaminya. Lilis mencoba membuat hati dan menerima semua kenyataan ini, untuk tetap bisa bertahan hidup. Masih ada Naina, Mas Nathan dan ibu yang membutuhkannya.


Malam sudah mulai larut, dan Lilis hampir lupa jika hari ini mantan ibu mertua dan kakak iparnya datang untuk meminta izin membawa Naina pergi jalan-jalan. Lilis masih bingung, haruskah dia benar-benar meminta pertimbangan dari suaminya ataukah dia akan berbohong pada Bu Wati dan Mbak Mona jika suaminya tidak mengizinkan Naina pergi?


Berbohong, apakah aku harus melakukan itu hanya untuk membuat Naina tidak mengenal keluarga dari mantan suamiku?


"Lis, ada apa, sepertinya ada yang kamu sembunyikan dariku?"


"Apakah begitu kentara, Mas?"

__ADS_1


"Kelihatan. Dari tadi kamu tidak tenang. Katakanlah, jangan simpan sendiri. Nanti jadi beban hatimu," kata Nathan meyakinkan Lilis.


"Mas Nathan benar. Mas, tadi mantan ibu mertuaku dan Mbak Mona kembali datang," kata Lilis.


"Mau mengambil Naina lagi?"


"Bukan. Awalnya aku kesal saat mereka berusaha membuat Naina bingung. Mengatakan bahwa mereka adalah nenek dan bibi Naina. Bukannya aku tidak ingin Naina mengenal keluarga ayahnya, tapi mereka tidak tahu trauma Naina karena ayahnya. Aku sempat marah tadi, sama mereka," kata Lilis sambil menghela nafas.


"Sudah puas marahnya?" tanya Nathan sambil tersenyum.


"Udah. Tapi setelah marah aku menyesal," kata Lilis sambil menghela nafas.


"Kenapa?"


"Mereka lebih tua dari aku. Tapi bicara mereka memang agak keterlaluan sih, Mas. Pake ngatain aku pelit berbagi kebahagian, makanya Wahyu hilang. Bukankah itu keterlaluan ya, Mas?" kata Lilis agak emosi.


"Bener. Ucapan seperti itu tidak enak didengar. Jadi kalau kamu marah, wajar saja. Seharusnya mereka juga menjaga bicara mereka agar tidak menyingung perasaan orang lain."


"Ada lagi. Mereka ingin mengajak Naina jalan-jalan. Baiknya kita izinkan atau tidak?" tanya Lilis sambil menatap wajah suaminya.


"Mas, aku beruntung memiliki suami sepertimu. Setiap perkataan yang kamu ucapkan, bisa membuat hatiku tenang. Setelah Wahyu hilang, rasanya aku sudah tidak ada gairah hidup lagi," kata Lilis sedih.


"Sayang, bisakah kita melupakan sejenak semua yang terjadi? Beri aku waktu sebentar saja," tanya Nathan.


"Maksudnya apa?" tanya Lilis kaget.


"Tidak-tidak, tidak jadi. Aku tahu kamu belum bisa," Nathan berbalik arah dan berusaha memejamkan mata.


Lilis berusaha mencari tahu apa maksud dari ucapan suaminya. Sejak hilangnya Wahyu yang hampir dua Minggu, Lilis memang tidak pernah berhubungan dengan suaminya. Bahkan, Lilis hampir tidak pernah memperhatikan semuanya, termasuk Naina dan ibu. Apalagi untuk melayani suaminya, hampir tidak ada minat.


Lilis menatap tubuh suaminya yang sedang membelakanginya. Seandainya suaminya ingin, tetapi dia tidak berani bilang kalau ingin, bagaimana? Sementara Lilis terus tenggelam dalam kesedihan dan tidak pernah lagi memperhatikan kebutuhan sang suami.

__ADS_1


Apakah nanti Mas Nathan akan mencari pelampiasan di luar? Jika itu terjadi, aku pasti akan sangat menyesal seumur hidupku. Lalu aku harus bagaimana, haruskah aku mengatakan padanya jika aku siap melayaninya?


Lilis menarik nafas panjang. Memikirkan satu cara, agar sang suami tidak mencari pelampiasan diluar. Memulai dengan cara yang lembut dan tidak kentara.


Dipeluknya tubuh yang sejak tadi membelakanginya sambil mengusapkan wajahnya ke punggung suaminya. Lilis yakin jika suaminya belum tidur, tetapi kenapa tidak ada reaksi. Dia semakin erat memeluknya. Dan pelukannya kali ini sanggup membuat Nathan berbalik badan.


Kini Nathan menatap wajah Lilis yang terlihat agak sembab karena sering menangis. Lilis kembali memeluk suaminya yang kemudian membalas pelukannya. Tanpa malu, tangan Lilis masuk kedalam baju Nathan dan mengelus punggungnya. Sontak saja, Nathan merasa kaget. Hal itu disadari oleh Lilis. Akan tetapi Lilis tidak peduli. Jika suaminya tidak paham sinyal darinya, itu salah dia, bukan salah Lilis, itu yang dia pikirkan saat ini.


Nathan juga bukan pria yang bodoh dan tidak paham sinyal dari sang istri, akan tetapi Nathan memang agak kaget dengan sikap Lilis. Lilis tidak pernah berinisiatif duluan untuk memulai, tetapi kini dia berani melakukan hal yang membuat jiwa kelelakiannya bangkit.


Lilis akhirnya menyerah dan melepaskan pelukannya perlahan-lahan. Saat pelukannya lepas, dia berniat menarik selimut dan segera tidur. Tetapi, jantungnya berdetak kencang, karena tiba-tiba suaminya bergerak cepat memegang kedua tangannya.


"Mas ...."


"Kamu harus bertanggungjawab," kata Nathan.


"Bertanggungjawab apa?" tanya Lilis bingung.


"Kamu mau tidur, setelah membangunkan suamimu?" tanya Nathan.


"Aku ...."


Tanpa menunggu jawaban Lilis, Nathan mulai mencium bibir merah Lilis. Lilis yang sadar, suaminya sudah terbakar gairahnya, berusaha menghentikannya sebelum melakukan lebih jauh.


"Mas ...," ucap Lilis saat lepas dari ciuman suaminya.


Nathan tersenyum dan menyadari apa yang ingin dikatakan Lilis. Mereka berdoa seperti biasanya sebelum menjalani ritual suami istri. Untuk beberapa menit, mereka melupakan kesedihan yang sedang mereka alami saat ini.


Bagaimana dengan ritual Wendi dan Sri setelah dua Minggu menikah?


Bersambung

__ADS_1


Yuk mampir ke karya teman aku dibawah ini



__ADS_2