Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 86. Flashback Nathan dan Kakek


__ADS_3

Lilis mulai bisa mengendalikan diri setelah memeluk suaminya beberapa lama. Dadanya sudah tidak terasa sesak lagi. Kini saatnya bercerita pada suaminya. Akan tetapi, tiba-tiba Wahyu menangis sehingga membuat Lilis lebih memilih berlari kekamar untuk melihat kondisi Wahyu.


Nathan menghela nafas melihat Lilis dengan cekatan berlari kala mendengar suara Wahyu. Seorang ibu memang akan lebih mementingkan anak-anaknya dari pada hal lainnya. Kalau sudah begini, Nathan berasa menjadi nomor dua.


Nathan mengikuti Lilis Samapi di kamar. Terlihat Lilis sedang menggendong Wahyu sambil memegangi botol susu. Wahyu rupanya sedang kehausan. Nathan mendekati Lilis dan pamit untuk mandi. Lilis tersenyum dan mempersilakan suaminya mandi.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Nathan bergegas menggantikan Lilis untuk merawat Wahyu.


"Sayang, kamu istirahat saja dulu. Biar aku yang jaga Wahyu," kata Nathan sambil mengambil Wahyu dari tangan Lilis.


"Aku, duduk diluar sambil tunggu Naina dan ibu pulang," kata Lilis.


"Baiklah nanti aku nyusul."


Lilis berjalan keluar dan berniat duduk. Akan tetapi, ibu dan Naina sudah berada di teras rumah.


"Assalamualaikum," ucap salam dari Naina dan Bu Siti.


"Wa'alaikum salam," jawab Lilis.


"Ibu, tadi aku ikut bantu buat jajanan. Apa namanya tadi Mbah Uti," tanya Naina.


"Bugis, nanti kalau udah mateng, akan di antar ke rumah," jawab Bu Siti.


"Loh kok dianter ke rumah, kan jajanan itu dibuat untuk si berikan pada pengantin wanita dan disuguhkan untuk para tamu, Naina?" tanya Lilis pada Naina.


"Lis, mau disuguhkan bagaimana, wong Naina buatnya jatah unthi satu, dikasihnya dua. Lah bugis nya kebanyakan isi, kemanisan jadinya," kata Bu Siti.


"Mbah Uthi, unthi itu apa?" tanya Naina.


"Unthi itu isian bugis. Bugis itu jajanan yang dibuat dari adonan tepung ketan, diisi unthi dan di bungkus dengan daun pisang," jawab Bu Siti.

__ADS_1


"Naina ...."


Tiba-tiba, suasana hati Lilis berubah. Lilis memeluk Naina sambil sambil meneteskan airmata. Hatinya sedih, teringat permintaan mantan ibu mertuanya dan mantan kakak iparnya. Daris segi kemanusiaan, ada rasa kasihan dihatinya dan ingin membantunya. Tetapi, sebagai ibu, dia tidak akan rela melepaskan Naina demi apapun.


Apa yang Lilis lakukan membuat, membuat Nathan penasaran. Pikirannya menjadi tidak menentu. Dia teringat Kakek. Dia curiga jika Lilis terlihat sedih karena ulah Kakek lagi.


Flashback on.


Nathan baru saja selesai mandi setelah pulang dari restoran. Dia berniat menemui Kakek di ruang kerjanya untuk menanyakan masalah intern restoran. Akan tetapi dia sangat terkejut ketika dia hendak mengetuk pintu ruang kerja Kakek. Nathan mendengar pembicaraan antara Kakek dan Guntur yang membuatnya ingin menguping lebih jauh.


"Kakek, Guntur merasa bersalah pada Nathan. Bagaimanpun juga dia adalah adikku. Meskipun kami dilahirkan dari ibu yang berbeda," kata Guntur dengan suara agak berat.


"Guntur, apa yang kamu lakukan, adalah demi kebaikan Nathan. Nathan tidak akan kembali ke keluarga Sugara jika dia masih bersama wanita itu," kata Kakek Sugara tegas.


"Menurut Guntur, Kakek terlalu berlebihan dan kejam. Mengancam Lilis dengan keselamatan ibu dan anak-anaknya. Seberapapun dia mencintai Nathan, Guntur yakin dia akan memilih keselamatan mereka," kata Guntur cukup berani.


"Kamu bilang Kakek kejam? Jika aku kejam, aku akan langsung menyakiti mereka di depan Lilis. Aku hanya mengancam saja, karena aku tahu tahu hati Lilis lembut dan tidak tegaan melihat orang lain terluka. Karena itu aku melakukannya," kata Kakek membenarkan sikapnya.


"Itu berbeda Guntur. Sita itu dari keluarga yang sepadan dengan kita. Tapi, istri Nathan berbeda, dia ...."


"Apanya yang berbeda, Kakek ...."


Suara Nathan mengagetkan Guntur dan Kakek Sugara. Mereka sangat panik dan cemas akan reaksi Nathan.


"Nathan, Kakek bicara tentang Sita dan Guntur," kata Kakek gugup.


"Tidak perlu mengelak lagi, Kek. Nathan tidak menyangka jika Kakek bisa sekejam itu. Kakek tahu, aku sangat menderita tanpa anak dan istriku. Lilis mengusirku, membuatku percaya dia sudah tidak mencintaiku. Membuatku percaya dia wanita matre dan kejam. Dia menerima semua emosiku tanpa mengeluh," kat Nathan penuh emosi.


"Nathan, Kakek melakukanya demi kamu. Agar masa depan kamu bisa lebih cerah. Dulu kamu tidak begitu," kata Kakek cemas.


"Kakek masih saja tidak mau mengakui jika Kakek salah. Baik, karena Nathan sudah menikah dan memiliki anak, maka di manapun anak dan istri Nathan berada, Nathan juga akan akan ikut mereka. Nathan kecewa pada Kakek," Nathan berbalik langkah dan akan melangkah pergi.

__ADS_1


"Nathan, maafkan Kakek ...," kata Kakek lalu tiba-tiba meringis kesakitan.


"Kakek ...!" teriak Guntur.


Guntur bergerak cepat menangkap tubuh Kakek yang akan jatuh. Nathan yang melihat kondisi Kakek Edward kesakitan, sedih juga hatinya. Meski dia marah tetapi, dia tidak bisa membiarkan Kakeknya sakit.


Guntur dan Nathan membawa mengangkat tubuh Kakek dan memberinya obat dari dokter. Setelah beberapa saat, kondisi Kakek sudah membaik. Nathan berniat pergi setelah melihat Kakek sudah bisa duduk sendiri dan tidak merasa sakit lagi.


"Nathan, tidak bisakah kamu tetap disini?" tanya Kakek.


"Seperti Kakek mengancam istri Nathan, Nathan juga bisa mengancam Kakek. Selama Kakek belum tulus dari hati menerima Lilis sebagai istri Nathan, dan berjanji tidak akan mengganggu Lilis lagi, Nathan tidak akan pernah kembali," kata Nathan agak emosi.


"Kakek, terima saja persyaratan Nathan, atau Kakek akan kehilangan Nathan untuk selamanya," kata Guntur merayu Kakek.


Kakek terdiam sesaat mendengar perkataan Guntur. Kakek menatap Nathan yang masih berdiri ditengah ruangan. Dia akan benar-benar kehilangan Nathan, jika dia terus bersikukuh dengan ego-nya.


"Baiklah, Nathan. Kakek berjanji tidak akan menggangu keluargamu lagi. Tapi, kamu harus bisa pastikan, bahwa kamu akan tetap mengelola bisnis peninggalan ayahmu. Kamu harus bisa membujuk istrimu untuk bisa mengikuti kebiasaan keluarga Sugara," kata Kakek terbata-bata.


"Kakek, jangan membuat kesepakatan lagi denganku. Seharusnya Kakek meminta maaf pada Lilis, tapi aku tidak akan memaksa Kakek. Aku menghargai sikap Lilis dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Aku tidak akan pernah memaksa dirinya untuk berubah demi ego Kakek. Jika Kakek tulus, Kakek tidak akan memberi syarat apapun. Jadi, Kakek pikirkanlah terlebih dahulu sebelum memutuskan. Dan selama Kakek belum memutuskan, Nathan akan pergi dan hidup bersama anak dan istri Nathan, jauh dari Kakek," jawab Nathan tegas.


"Nathan, mengalah saja sedikit demi Kakek. Ajaklah Lilis dan anakmu untuk tinggal disini, agar Kakek bisa lebih mengenal mereka," kata Guntur.


"Setelah apa yang Kakek lakukan, aku tidak yakin, Lilis bersedia tinggal di rumah ini. Kakek berdoa saja, supaya ku bisa membawa Lilis kembali ke kota ini. Aku harus pergi sekarang. Assalamualaikum," kata Nathan lalu melangkah pergi.


Flashback off.


Bersambung


Yuk mampir ke karya temen aku


__ADS_1


__ADS_2