Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 95. Bertemu sang penculik


__ADS_3

Lilis menata hati dan perasaannya untuk bertemu Wiwik. Tetangga sekaligus penculik Wahyu. Wiwik, wanita yang sangat mencintai Wendi, tetapi saat itu, Wendi jatuh cinta pada Lilis. Wiwik lebih marah pada Lilis, karena meskipun Lilis sudah menikah, Wendi masih saja mencintai Lilis tanpa pamrih.


Nathan menggenggam tangan istrinya untuk memberinya kekuatan untuk bersabar ketika bertemu dengan si penculik. Lilis tampak gelisah menunggu.


Beberapa menit kemudian seorang petugas meminta mereka masuk ke sebuah ruangan. Lilis dan Nathan duduk di kursi yang sudah di sediakan. Setelah itu datanglah Wiwik dalam keadaan tangannya di borgol.


"Apa kabar, Lilis," suara angkuh Wiwik masih terasa.


"Apa kabar, baik. Lebih baik dari yang kamu harapkan," jawab Lilis menahan emosi.


"Bagiamana rasanya kehilangan orang yang kamu cinta, menyakitkan bukan? Seharusnya kamu tahu itu dari dulu, Lilis. Itu yang aku rasakan ketika Wendi menolakku karena kamu!" teriak Wiwik.


"Kamu terlalu berpikiran sempit, Wiwik. Kamu yang tidak mampu membuat Wendi jatuh cinta, tapi kamu menyalahkan aku. Kamu ngaca, bagiamana Wendi akan menyukaimu jika kamu memiliki hati yang jahat," kata Lilis emosi.


"Apa katamu? Seharusnya dari dulu aku membunuhmu, agar Wendi bisa mencintaiku," kata Wiwik.


"Aku bersyukur karena Wendi tidak menikah dengan wanita seperti kamu. Sekarang dia telah menemukan wanita yang jauh lebih baik dari kamu. Wiwik, katakan kenapa kamu begitu tega memberikan anakku pada pengemis, untuk dijadikan seorang pengemis juga?" tanya Lilis penasaran bercampur marah.


"Aku sangat membencimu Lilis. Kamu bisa berpisah dengan suamimu yang tidak berguna itu dan sekarang kamu pulang kampung dengan suami baru yang lebih baik segalanya dari mantan suamimu. Aku tidak terima nasibmu lebih baik dari aku yang sampai saat ini tidak ada yang mencintaiku. Aku ingin melihat kamu menangis sepanjang hidupmu meratapi hilangnya anakmu," kata Wiwik dengan penuh emosi.


"Ternyata semua ini karena kamu memiliki sifat iri. Kamu iri padaku? Karena itulah, tidak ada laki-laki yang akan mencintaimu sampai kapanpun. Itu doaku untukmu," kata Lilis semakin emosi.


"Pak polisi ...." Nathan memanggil salah satu polisi untuk membawa Wiwik kembali karena takut emosi Lilis yang bercampur rasa marah itu akan mempengaruhi kondisi bayi dalam kandungannya.


Setelah petugas membawa Wiwik pergi, Nathan memeluk Lilis untuk meredam emosinya.

__ADS_1


"Sayang, ingat bayi kita. Kita sudah tahu alasannya bukan? Kita tidak akan penasaran lagi. Setelah ini, biarlah petugas kepolisian yang menyelesaikan semuanya. Kamu tenang saja di rumah," ucap Nathan dikuti anggukan dari Lilis tanda setuju.


Mereka bergegas pulang. Selama perjalanan Nathan mulai mengerti masa lalu persahabatan antara Lilis, Sri dan Wendi. Nathan tidak seharusnya cemburu pada Wendi yang meskipun dia tidak bisa mendapatkan cintanya, akan tetapi rasa persahabatan mereka masih tetap baik. Jarang ada kisah seperti itu.


Sampai di rumah, Nathan menerima panggilan telepon dan dia berusaha menjauh agar Lilis tidak mendengar percakapan mereka. Lilis ingin bertanya tetapi, selalu berusaha ditahannya. Karena jika suaminya tidak ingin Lilis tahu, maka itu pasti sesuatu yang bisa membuat emosi Lilis terganggu. Mungkin saja masalah Wiwik, dan Lilis juga tidak ingi lagi tahu.


Hal itu terjadi tidak hanya sekali. Bahkan sehari bisa sampai 5 kali. Lama-lama Lilis penasaran juga dengan si penelepon itu.


"Mas, siapa sih yang sering telefonin kamu? Kenapa kadang tidak kamu jawab?"


"Bukan siapa-siapa. Hanya telepon tidak penting. Biarkan saja," jawab Nathan.


Begitulah jawaban Nathan setiap kali Lilis bertanya. Daripada membuat pertengkaran, Lilis memilih diam berhenti bertanya tentang hal itu lagi.


"Mas, seandainya aku ingin tetap tinggal dikampung, apakah kamu bersedia tetap disini?" tanya Lilis sambil menatap Nathan sendu.


"Terima kasih, Mas."


"Besok aku akan mencari pekerjaan, disekitar dikota terdekat. Mungkin saja ada yang cocok denganku," kata Nathan berusaha menghapuskan keraguan Lilis.


Nathan adalah pria kota yang terbiasa hidup mapan dan pekerjaan yang ringan. Walaupun pernah menjadi pelayan, tapi pelayan di restorannya sendiri bukan milik orang lain. Di kampung ini, jika Nathan benar-benar ingin bekerja, maka dia harus memulai dari nol. Dia harus bersedia di perintah orang.


***


Esoknya saat suaminya pergi mencari pekerjaan di kota terdekat, Lilis mendapatkan panggilan telepon dari Guntur. Tentu saja dia sangat kaget, mengingat jika Guntur ada perlu dengan suaminya kenapa mesti menghubungi dirinya. Satu hal yang lebih mengejutkan Lilis, adalah apa yang akan di bicarakan Guntur padanya.

__ADS_1


"Ada apa mas Guntur?"


"Lilis, aku hanya ingin memohon padamu, bujuk suamimu agar bersedia pulang. Saat ini Kakek sedang sakit dan beliau terus menanyakan tentang Nathan. Kakek juga merasa bersalah padamu dan keluargamu. Beliau juga ingin meminta maaf padamu."


"Kenapa tidak langsung saja menghubungi mas Nathan?"


"Aku sudah sering menghubunginya, tapi sepertinya dia terlalu keras kepala dan ingin tetap tinggal di kampung. Hanya kamu yang bisa membujuknya. Kalian kembalilah ke kota."


"Aku tidak ingin kembali ke kota. Jika Mas Guntur ingin mas Nathan kembali, bujuk saja sendiri. Aku tidak ingin ikut campur dalam urusan keluarga kalian."


Tanpa menunggu jawaban dari Guntur, Lilis langsung menutup panggilan telepon tersebut. Lilis menghela nafas menahan kesal. Lilis masih belum bisa melupakan apa yang pernah dilakukan sang Kakek padanya dan keluarganya. Lilis benar-benar masih takut dengan ancaman Kakek dulu. Meskipun ada Nathan yang pastinya akan melindungi dia dan keluarganya, tetapi tetap saja hidup disana terasa tertekan tidak seperti dulu lagi.


Jadi, orang yang terus menelepon Nathan, adalah Guntur. Tetapi kenapa, Nathan mengatakan bahwa telepon itu tidak penting. Bukankah ini menyangkut kesehatan Kakeknya.


Hati Lilis penuh tanda tanya tentang jawaban dari suaminya. Lilis juga terus berpikir jika terjadi sesuatu pada Kakek, hati Lilis pasti akan merasa bersalah karena seharusnya mereka bisa berada disana untuk memberi harapan baru pada Kakek Edward.


Orang kaya seperti Kakek Edward, memang bisa melakukan apa saja, untuk memenuhi keinginannya. Keinginan mengatur orang-orang yang berada di dekatnya. Entah hatinya terbuat dari apa, kehadiran Wahyu saja tidak mampu membuat hatinya menerima kehadiran Lilis dalam hidup Nathan. Lilis tidak ingin, membuat hubungan cucu dan Kakek itu ada ketegangan karena dirinya. Tetapi dia juga tidak bisa mengalah untuk melepaskan suaminya kembali pada Kakeknya.


Bisakah hubungan Kakek Edward dan Nathan bisa kembali baik tetapi, tidak mempengaruhi kehidupan rumah tangganya dengan Nathan?


Suara ponsel Lilis kembali berdering, dan terlihat di layar ponselnya nama 'Mas Guntur' terlihat jelas. Guntur masih belum mau berhenti meyakinkan Lilis untuk membuat Nathan kembali.


Bersambung


yuk baca karya temen aku judulnya dibawah ini

__ADS_1



__ADS_2