Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 103. Memulai lembaran baru


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, hampir sekitar 5 jam dari kota B. Mereka datang ke sebuah kota kecil yang tidak terlalu padat penduduk. Mobil berhenti di sebuah rumah yang terlihat sederhana tapi bersih dan rapi.


Kedatangan mereka disambut oleh seorang wanita paruh baya yang ternyata pembantu rumah yang disiapkan Nathan untuk Lilis. Namanya Bik Nah. Bik Nah membantu mereka mengangkat barang barang-barang bawaan mereka, dan dibantu pula oleh sahabat Nathan yang ternyata sudah memiliki seorang putra. Sahabat Nathan yang juga merupakan mantan karyawan Nathan.


Lilis merasa bahagia, karena ternyata suaminya sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Sebuah rumah yang sesuai selera Lilis dan anak-anak. Lilis seperti berada di rumahnya sendiri karena Nathan menatanya hampir mirip dengan rumah Lilis yang dulu.


Selesai beberes, Nathan mendekati sopir mobil yang disewanya. Dan dengan tegas Nathan meminta pak sopir untuk tidak memberitahukan alamat rumah baru mereka kepada siapapun tanpa terkecuali. Setelah mendapatkan jaminan bahwa alamat mereka yang baru tidak akan bocor, Nathan membiarkan pak sopir dan mobilnya pergi.


Lilis membawa anak-anak masuk dan beristirahat. Naina dan Wahyu terlihat kelelahan setelah perjalanan jauh. Saking lelahnya, mereka bertiga tertidur di kamar Lilis.


Sementara Nathan berbincang-bincang dengan Giri sahabatnya dan anak laki-lakinya yang bernama Romy.


"Anak kamu sudah sebesar ini, kalau tidak salah usianya 6 tahun seumuran anakku Naina," kata Nathan sambil menatap Romy.


"Benar. Ngomong-ngomong, Naina itu anak tirimu kan?" tanya Giri.


"Benar. Tapi aku sangat menyayanginya seperti anakku sendiri," kata Nathan.


"Apa anak itu tahu kalau kamu bukan ayah kandungnya?"


"Belum. Aku tidak ingin dia tahu, karena aku ingin dia menyanyangi aku sebagai ayah kandungnya," jawab Nathan.


"Sebaiknya setelah Naina beranjak dewasa, kalian harus memberitahu dia yng sebenarnya. Karena itu adalah hak dia untuk tahu siapa ayah kandungnya."


"Aku tahu, aku juga tidak boleh egois. Ingin dianggap ayah kandung selamanya oleh Naina."


"Apa rencana kamu sekarang?"


"Aku akan membuka warung nasi goreng di sekitar sini. Apa kamu tahu tempat yang cocok untuk usaha baruku ini?" tanya Nathan.


"Ada, tapi masih harus di renovasi sedikit. Karena aku tahu selera kamu, dan tempat ini memang tidak seperti yang kamu inginkan. Tempatnya tidak terlalu luas, tapi untuk memulai usaha baru, masih cocok lah," jawab Giri serius.


"Oke, aku butuh bantuan kamu untuk mengurus semuanya. Jika kamu bersedia, kita bisa kembali seperti dulu."

__ADS_1


"Sorry aja, aku sudah memiliki usaha bengkel yang insyaallah bisa lebih maju kedepannya. Jadi aku akan menjadi bos seperti kamu," ucap Giri sambil tertawa. " Nathan, aku dan Romy pamit dulu. Aku masih ada urusan lain. Jika nanti kamu butuh sesuatu jangan sungkan, datanglah ke rumahku."


"Oke, silakan. Aku juga mau istirahat, capek," kata Nathan sambil menggeliat kelelahan.


Giri dan Romy pergi meninggalkan rumah Nathan. Nathan pun segera masuk menemui bik Nah untuk memintanya membuatkan makan untuk mereka. Setelah itu Nathan ikut beristirahat dilantai kamar Lilis beralaskan kasur lantai.


***


Awal kehidupan baru bagi Nathan dan Lilis. Di kota kecil ini mereka akan membangun usaha baru dan memulai hidup baru. Hidup tanpa kekhawatiran dan kecemasan karena suatu ancaman. Di sini, semua orang baru dan tidak ada dendam.


Pagi ini, Bik Nah sudah menyiapkan sarapan untuk mereka. Tampak rasa bahagia terpancar dari wajah Nathan yang merasa sudah bisa melepaskan rasa kekhawatirannya terhadap ancaman pembunuhan yang terus mengikuti keluarga mereka.


"Naina, tambah lagi sarapannya. Besok ayah dan ibu akan mendaftarkan Naina masuk sekolah. Hari ini kalian bermalas-malasan dulu saja," kata Nathan sambil melihat Naina.


"Naina sudah kenyang, Ayah," jawab Naina.


"Ya, sudah. Ayah hari ini akan melihat tempat usaha kita yang baru. Semoga beberapa hari ini, usaha kita sudah bisa dijalankan. Doakan Ayah, ya Sayang, Naina, Wahyu dan juga supaya semua lancar," kata Nathan yang diaminkan oleh Lilis.


"Iya, nanti aku belikan. Aku pergi dulu," pamit Nathan sambil berdiri.


Sambil menggendong Wahyu, Lilis dan Naina mengikuti Nathan hingga di teras rumah. Lilis mencium punggung tangan suaminya diikuti Naina. Nathan menarik nafas lega, karena kini dia bisa bekerja dengan tenang.


Nathan naik sepeda motor menuju rumah Giri, dan mengajak Giri melihat kondisi tempat yang akan dijadikannya usaha menjual nasi goreng. Sampai di tempat tujuan, Nathan mengamati dari berbagai sudut pandang penjual dan pembeli. Tempat yang cukup enak untuk membuka usaha karena letaknya cukup strategis dan menjanjikan. Sementara dilihat dari sudut pandang pembeli, tempat ini cukup menarik dan nyaman untuk melepaskan lelah sambil makan.


Setelah merasa yakin dengan keputusannya, Nathan meminta alamat pemilik tempat tersebut pada Giri. Akan tetapi akhirnya mereka memutuskan untuk pergi berdua ke rumah pemilik tempat itu.


Sampailah mereka disebuah rumah yang sangat mewah. Giri memencet bel yang terpasang didekat pintu. Tidak lama kemudian, muncullah seorang pria paruh baya dari balik pintu.


"Selamat siang, Dokter Pradipta," sapa Giri.


"Selamat siang, Giri. Masuklah," jawab Dokter Pradipta sambil mempersilakan mereka masuk.


Nathan dan Giri duduk bersebelahan dikuti Dokter Pradipta yang sebelumnya meminta pembantunya untuk memberi mereka minum. Tidak berapa lama, teh hangat telah terhidang di depan mereka beserta camilan.

__ADS_1


"Silahkan di minum dulu," kata Dokter Pradipta.


Nathan sepertinya pernah melihat Dokter Pradipta, tapi Nathan lupa dimana mereka pernah bertemu.


"Kamu lupa padaku?" tanya Dokter Pradipta pada Nathan.


"Maaf, saya memang sepertinya pernah bertemu Dokter, tapi saya lupa dimana pernah bertemu Dokter," kata Nathan sambil tersenyum malu.


"Masih ingat saat ulang tahun putramu?" tanya Dokter Pradipta.


"Saya ingat, anda yang ikut kami makan bersama waktu itu, bukan?" tanya Nathan ingat kejadian itu.


"Bener sekali. Aku tidak menyangka jika kamu yang akan membeli tempatku itu," kata Dokter Pradipta.


"Lalu bagaimana, Pak?" tanya Giri penasaran.


"Saya akan menerima tawaran kamu tempo hari, mengingat saya kenal dengan Nathan."


Akhirnya hari itu juga, sudah diputuskan transaksi jual beli ini berhasil dengan harga yang cukup bersahabat.


Dua hari kemudian setelah di renovasi sedikit, tempat itu sudah berubah menjadi tempat yang nyaman untuk makan dan sambil santai. Kehidupan mereka mulai berangsur-angsur berjalan sesuai apa yang mereka inginkan. Ditambah kelahiran putri mereka yang diberi nama Lina Amelia, menambah kebahagiaan mereka.


Meski hidup sederhana, tapi mereka merasakan hidup damai dan bahagia.


Terkadang rasa rindu pada orang-orang yang pernah dekat dengan mereka membuat mereka saling bertemu lewat Video Call saja.


Kabar terakhir, Kakek masih baik-baik saja karena Kakek ingin menunjukkan bahwa dia tidak bersalah.


Bersambung


Yuk baca karya temen aku judulnya ada di bawah ini


__ADS_1


__ADS_2