
Sita pulang dengan hati sedih sekaligus senang. Sedih karena perbuatan Desta yang ingin berniat buruk padanya. Senang karena dia bisa lebih dekat dengan Guntur. Keadaan tubuhnya yang agak kacau, ditambah lagi semalam tidak pulang, membuat orangtua Sita sudah siap menunggu kepulangan Sita.
Sita melangkah masuk dari pintu depan dengan pelan dan hati-hati, berharap orangtuanya tidak akan tahu.
"Sita, baru pulang?" tanya ayahnya yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Ayah ...."
"Pergi kemana, sampai pagi baru pulang. Membuat ayah dan ibu khawatir. Kami sampai harus menghubungi beberapa temanmu, tetapi tidak ada yang tahu keberadaanmu," kata ayahnya lagi agak kesal.
"Ayah, sudahlah. Sita juga baru pulang. Biarkan dia istirahat dulu," kata sang ibu meredakan kekesalan sang ayah.
Ayah Damian tampak menahan emosi, karena bagi mereka, Sita adalah anak yang selalu menurut apa kata mereka dan selalu mencoba mengikuti aturan keluarga.
"Sita, masuk dan istirahatlah," kata ibu pada Sita.
Sita hanya mengangguk pelan. Dia memang sedang bingung harus menjawab apa atas pertanyaan ayahnya. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa semalam dia tidur dengan seorang pria. Apalagi pria itu Guntur, pria yang sudah menolaknya.
Sita melangkah pergi menuju kekamarnya. Sementara ayah Damian dan ibu Resmi masih duduk di ruang tamu.
"Kenapa ibu membelanya?" tanya ayah Damian sambil menghela nafas.
"Ibu bukan membelanya, ayah. Tetapi, Sita sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan dari kita. Ibu rasa, biar ibu saja yang mencoba mencari secara pribadi. Siapa tahu dia mau jujur pada ibu," jawab Bu Resmi.
"Kamu benar, ayah sudah terbawa emosi karena takut dia melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Ayah terlalu khawatir padanya. Dia putri kita satu-satunya, yang paling penurut dan baik. Ayah takut, setelah ditolak Guntur, dia akan melakukan hal yang tidak benar," kata ayah Damian.
"Seharusnya, ayah percaya pada Sita. Yang ibu takutkan bukan Sita, tapi kedua kakaknya. Jika tahu Guntur menolaknya, mereka pasti marah sekali," kata Bu Resmi.
"Mereka terlalu memanjakan Sita, lebih dari kita," kata ayah Damian sambil menggelengkan kepala.
"Ibu temani Sita dulu, dan ibu akan mencoba bicara padanya. Doakan, semoga ibu berhasil mencari tahu," kata ibu Resmi tersenyum pada suaminya.
"Semangat, ibu," ucap ayah Damian membalas senyum istrinya.
Ibu Resmi melangkah menuju kamar Sita dan mengetuk pintunya perlahan. Tidak lama, Sita membukakan pintu dan membiarkan ibunya masuk.
__ADS_1
"Ta, apa kamu baik-baik saja?" tanya Bu Resmi pelan.
"Ibu, bolehkah aku memeluk ibu?" tanya Sita balik.
"Boleh, sini anak ibu yang paling manis."
Sita memeluk ibunya yang duduk di tepi tempat tidurnya.
"Ibu. Maaf, Sita sudah membuat ayah dan ibu cemas," kata Sita sedih.
"Iya, kalau kamu ada apa-apa, jangan sungkan bicara pada ibu. Memang kamu semalam ada dimana?"
"Ibu tidak marah padaku karena aku tidak pulang semalam?"
"Ibu sebenarnya tidak suka kamu tidak pulang. Ini pertama kalinya kamu tidak pulang dan tidak memberi kabar pada ayah dan ibu. Apa kamu ada kesulitan?"
Sita menceritakan awal dia pergi ke karaoke bersama Desta, teman Guntur. Dan Desta mencoba berbuat tidak senonoh padanya. Sita kembali memeluk ibunya.
"Aku takut, Bu. Untunglah aku bertemu Mas Guntur."
"Aku yang minta dia untuk tidak membawaku pulang. Kami tinggal di hotel," kata Sita.
"Hotel? Kalian ..."
"Ibu jangan berpikiran buruk dulu. Dia bukan pria hidung belang. Dia memperlakukan Sita dengan baik. Sita malah semakin jatuh cinta padanya. Bagiamana ini ibu, dia sudah menolak Sita."
Sita meneteskan airmata, karena teringat kalau Guntur menolak perjodohan dengannya. Bu Resmi mengerti perasaan putrinya yang cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Ta, jika kamu sangat mencintai Guntur, ibu akan coba bujuk ayah untuk tetap melanjutkan perjodohan kalian. Karena dari pihak Kakeknya Guntur, sebenarnya menolak pembatalan perjodohan yang di ajukan ayahmu. Jadi masih ada kesempatan untukmu bersama dengan orang yang kamu cintai," kata sang ibu.
"Tapi Bu, apakah aku bisa hidup dengan pria yang tidak mencintaiku?"
"Apakah dia membencimu atau apakah dia memiliki wanita lain yang dia cintai?"
"Dia sangat baik padaku, bahkan kami pernah berciuman," kata Sita keceplosan.
__ADS_1
"Apa, kalian sudah berciuman? kapan, apakah semalam saat kalian berada di hotel? Kalian satu kamar, satu ranjang?" tanya ibunya bertubi-tubi.
Sita kaget dan bingung harus bersikap bagaimana. Akhirnya, dia memutuskan untuk berterus terang pada ibunya. Bercerita dari awal hingga akhirnya.
"Setelah mendengar ceritamu, ibu semakin yakin untuk meminta ayahmu segera menikahkan kalian. Bagaimana jika orang-orang tahu apa yang sudah kalian lakukan? Ibu pergi dan bicara pada ayahmu. Tunggu saja kabar baiknya."
Bu Resmi bergegas keluar dan segera memberitahukan semua kepada suaminya. Setelah mendengar cerita istrinya, Ayah Damian bergegas pergi ke rumah keluarga Sugara untuk menemui Kakek Edward. Disana, beliau menceritakan apa yang terjadi antara Sita dan Guntur. Hingga akhirnya Kakek memanggil Guntur.
"Guntur, katakan terus terang apa yang kamu lakukan di kamar hotel dengan Sita. Biar ayah Sita mendengar, apakah kamu bisa jujur atau tidak," kata Kakek.
"Kakek, pak Damian. Kami memang tidur satu kamar dan satu ranjang. Akan tetapi kami tidak melakukan hal yang dilarang. Kami hanya berciuman saja," jawab Guntur.
"Berciuman itu juga sudah termasuk larangan. Kamu tahu, kalian bukan sepasang kekasih juga bukan suami istri. Atas dasar apa kalian melakukan itu. Kakek malu. Kakek tidak mau tahu. Kakek ingin secepatnya kalian menikah untuk menutupi semua ini," ucap Kakek.
"Kami tidak bermaksud memaksamu untuk setuju. Kami terpaksa demi nama baik keluarga kita berdua, bukan begitu Kakek Edward?" tanya pak Damian.
"Benar. Guntur, percayalah pada Kakek. Kakek kemarin tidak ingin memaksamu, tetapi kali ini Kakek harus memaksamu."
"Guntur setuju menikah dengan Sita. Asalkan Sita juga setuju menikah denganku," jawab Guntur tegas dan jelas.
Jawaban Guntur membuat Kakek dan Pak Damian kaget. Bukankah dia tidak mencintai Sita, bagaimana bisa secepat itu berubah?
"Kamu tidak akan menyesal? Setelah ini sudah tidak ada waktu lagi untuk menyesal," kata Kakek.
"Guntur tidak akan menyesal," jawab Guntur tegas.
"Bagus. Pak Damian dengar sendiri, Guntur sudah menerima pernikahannya dengan Sita, putrimu. Jadi sudah dipastikan tinggal mencari hari baik untuk menikahkan mereka," kata Kakek.
"Baiklah, sebagai pihak perempuan, kami akan menerima kapanpun kalian akan menetapkan hari baik untuk menikahkan mereka," kata pak Damian.
"Baik, besok aku akan kabari pak Damian," kata Kakek.
"Kalau begitu aku permisi dulu, Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam," jawab Kakek dan Guntur bersamaan.
__ADS_1