
Semenjak kedatangan Naina dan Lilis ke resto, Nathan memutuskan untuk bekerja di hari Senin sampai Sabtu saja. Sementara hari Minggu mereka akan bersama di rumah atau pergi ke taman. Naina sangat senang dengan keputusan ayahnya.
Bagi Lilis, apapun yang terbaik untuk keluarga, dia pasti akan selalu mendukung keputusan Nathan. Karena keputusan libur di hari Minggu, juga baik untuk janin dalam kandungannya. Karena ayahnya akan selalu bisa memanjakannya.
Memanjakan istri dan anak bukan hanya semata dengan uang. Tetapi perhatian dan kebersamaan menjadi hal yang lebih membahagiakan. Menyisihkan waktu untuk bisa saling bercengkrama dan berkomunikasi dengan anak dan istri, akan semakin menambah keharmonisan sebuah keluarga.
Mencari nafkah itu penting, tetapi memberi perhatian juga penting. Keduanya harus bisa selaras.
Pagi ini, adalah hari Minggu, dan Nathan tidak bekerja. Lilis sudah selesai menyiapkan sarapan pagi untuk sekeluarga seperti biasanya. Setelah semua siap, dia memanggil ibu dan Naina di kamar Naina.
"Naina, ibu. Sarapan sudah siap," ajak Lilis pelan.
"Iya Lis. Sebentar lagi. Naina tinggal ganti pakaian saja," jawab ibu Siti.
"Ibu, apa ayah pergi bekerja?" tanya Naina penasaran.
"Tidak. Ayah sudah berjanji tidak akan bekerja di hari Minggu. Kau pasti cemas, kalau ayah akan membohongi Naina?" tanya Lilis menggoda Naina.
"Iya, ibu. Naina takut ayah bohongi Naina. Tapi ternyata ayah nggak bohong," jawab Naina senang.
"Makanya sekarang Naina tidak boleh meragukan ayah. Naina harus percaya pada ayah," kata Lilis sambil tersenyum. "Ibu mau panggil ayah dulu untuk sarapan bareng. Tapi kalau Naina udah lapar, makan dulu juga nggak papa. Soalnya ayah tadi abis pergi lari pagi, dan pasti masih capek dan harus mandi dulu."
"Iya, Bu."
"Biar nanti ibu, yang temani Naina sarapan," kata Bu Siti.
Lilis melangkah menuju kamarnya. Dia membuka pintu dan matanya terbelalak melihat apa yang terjadi.
"Mas, kok tidur lagi sih?" tanya Lilis pelan.
Nathan tertidur dengan masih memakai pakaian olahraganya. Lilis menjadi cemas, karena tidak biasanya suaminya tidur lagi setelah sholat subuh. Apalagi ini, setelah lari pagi, malah tidur.
__ADS_1
Apakah dia sakit, batin Lilis.
Lilis mendekati Nathan perlahan-lahan, takut suaminya bangun dan kaget. Disentuhnya kening sang suami, dan biasa saja. Tidak sedang demam. Lilis menarik nafas lega. Mungkin dia hanya kecapekan.
Lilis menatap wajah suaminya yang tenang saat tidur. Dia segera membenarkan selimut dan menyelimuti tubuh suaminya. Setelah itu dia keluar untuk menemui Naina dan ibu.
"Ayah mana, Bu? tanya Naina saat melihat ibunya datang sendirian.
"Ayah ternyata kecapekan dan tertidur lagi," jawab Lilis sambil tertawa kecil.
"Tidur lagi? Nggak papa deh, yang penting ayah di rumah," kata Naina lirih.
"Kalau begitu kita sarapan dulu saja," kata Lilis sambil mengambilkan nasi untuk Naina dan ibu, lalu untuk dirinya sendiri. Meski, Naina bilang tidak apa-apa, tampak ada sedikit kekecewaan di wajah kecilnya.
Selesai makan, Lilis dan ibu Siti membersihkan bekas makan. Sementara Naina bermain di rumah keluarga.
"Lis, Naina tampak sedih karena ayahnya tidak bisa menemani dia," kata Bu Siti.
Selesai beres-beres, Lilis melihat keadaan suaminya. Ternyata Nathan masih tidur. Lilis duduk disampingnya dan bersandar di sandaran ranjang sambil meluruskan kakinya agar tidak capek.
Disaat hamil, Lilis terkadang merasakan kram pada betisnya sehingga dia tidak berani berdiri lama. Takut kalau terjadi kram pas sedang berdiri, dia bisa jatuh. Jatuh itu hal yang sangat berbahaya untuk ibu hamil. Baik bagi ibunya maupun bagi bayi yang ada didalam kandungannya.
Lilis bersandar sambil membaca buku panduan ibu hamil, yang saat hamil pertama dulu, tidak memiliki uang untuk membelinya. Kini setelah Lilis memiliki uang, dia membeli beberapa buku panduan untuk ibu hamil. Kegiatannya saat waktu senggang.
Nathan menggeliat pelan dan kaget saat menyadari dirinya telah tertidur lagi setelah lari tadi. Ditambah melihat Lilis berada disampingnya sambil membaca buku panduan ibu hamil.
"Istriku sayang, kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Nathan sambil duduk.
"Oh, sudah bangun? Mas, tadi aku mau bangunkan, tetapi takut mas kaget. Aku pikir mas Nathan capek dan memang butuh waktu istirahat dan tidur," kata Lilis sambil menghela nafas.
"Maaf, aku tadinya cuma mau pura-pura tidur untuk menggoda kamu. Tidak disangka, aku malah tertidur beneran," kata Nathan terus terang.
__ADS_1
"Jadi, sengaja mau main-main? Badan masih bau keringat, belum mandi balik tidur lagi. Masih malas bangun lagi. Bangun nggak, mandi nggak," kata Lilis sambil menggelitik pinggang suaminya.
"Owh, geli-geli-geli. Temani dong mandi," kata Nathan sambil tertawa.
"Nggak, nanti kamu godain aku lagi. Sudah, cepetan mandi sana."
"Siap."
Nathan bergegas menuju kamar mandi dan tidak lam kemudian terdengar bunyi gemericik air shower mengalir. Lilis tersenyum, menikmati hari-hari bersama suaminya dengan penuh canda bahagia.
Selesai mandi, Nathan keluar hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Lilis bergegas menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Mulai dari pakaian dalam hingga pakaian ganti.
"Terima kasih, sayang," ucap Nathan sambil berdiri dibelakang Lilis.
Lilis tersentak kaget ketika tiba-tiba, Nathan memeluknya dari belakang. Terasa tubuh kekar suaminya seolah hendak mengatakan bahwa dia siap menjadi penopang hidup Lilis.
"Kamu kaget? Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja. Dengan memelukmu, aku merasa memiliki semangat baru dan tanggungjawab yang harus aku lakukan, meski aku sedang terpuruk. Aku harus selalu melindungi istri dan anak-anakku tanpa harus mengeluh. Karena kamulah, aku memiliki semangat hidup, aku terus berusaha bertahan dan terus berusaha tegar meskipun aku harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuap nasi. Aku tidak memiliki apapun yang bisa aku banggakan lagi di depanmu. Asalkan kamu masih mau bergantung pada pria miskin ini, aku akan selalu berusaha menjadi tempat bersandar bagimu yang paling indah dan nyaman," kata Nathan lirih di telinga Lilis.
Lilis tertegun sesaat dan terharu mendengar pengakuan Nathan. Matanya berkaca-kaca dan hampir menangis. Akan tetapi jika dia menangis, suaminya pasti akan salah paham dan pasti merasa bersedih melihatnya. Bagaimanapun juga, dia juga harus terlihat tegar dan menerima apa adanya keadaan suaminya saat ini.
"Mas Nathan, terima kasih telah menjadikanku semangatmu. Terima kasih telah bersedia menjadi tempat bersandar yang paling indah bagiku dan anak-anak. Terima kasih telah menjadikanku wanita yang paling beruntung di dunia karena bisa memiliki suami yang penuh kasih sayang dan tanggungjawab serta setia. Terima kasih karena sesuap nasi yang kamu hasilkan dari kerja kerasmu dan dari jalan yang halal, akan menjadi berkah bagiku dan anak-anak juga menjadi ladang pahalamu karena telah memberi nafkah yang halal pada istrimu. Aku tidak butuh laki-laki yang pandai membanggakan diri didepan istri. Jika ingin dipandang berharga seorang istri, cukup jadi lelaki bertanggungjawab dan setia dengan satu wanita. Jadilah imam yang baik untukku," balas Lilis dengan lembut tapi tegas.
"Betapa beruntungnya aku memilikimu. Tidak hanya cantik wajahmu, tetapi juga baik hatimu. Aku ingin selalu menjadi imam terbaik bagimu. Meski aku tidak bisa menjadi suami sempurna, setidaknya aku sudah mencoba menjadi yang terbaik bagimu," ucap Nathan sambil mencium rambut Lilis.
" Mas, seorang istri atau wanita manapun, tidak hanya butuh janji. Tetapi yang dibutuhkan adalah tindakan dan perbuatan yang mencerminkan janji yang sudah dibuat. Jadilah juga ayah yang baik dan bisa menjadi panutan untuk anak-anak kita. Naina sudah semakin besar dan dia sudah bisa protes jika kita melakukan kesalahan. Dia masih menunggu janji ayahnya untuk pergi bermain bersama," kata Lilis mengingatkan Nathan.
"Aku hampir lupa ada janji dengan Naina. Aku ganti pakaian dulu, nanti kita pergi ke taman yang biasa," kata Nathan sambil melepaskan pelukannya.
Lilis tersenyum mendengar perkataan Nathan yang langsung tanggap dengan peringatannya.
Nathan segera berganti pakaian tanpa rasa malu didepan Lilis. Lilis yang malah tersipu, melihat tubuh sang suami yang dengan jelas bisa dilihatnya.
__ADS_1
Terima kasih mas Nathan, kamu sudah berusaha menjadi ayah yang baik untuk Naina, batin Lilis.