Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 61. Nafkah pertama


__ADS_3

Nathan mengajak Naina, Lilis dan Bu Siti ke taman yang dulu biasa mereka kunjungi. Mereka pergi bersama dengan menggunakan taksi. Demi kesehatan Lilis dan bayinya.


Naina sangat senang bisa pergi bersama ayah, ibu, dan Mbah Uti. Mbah Uti duduk menemani Lilis sedang Naina dan ayah Nathan bermain ayunan. Naina duduk di ayunan dan ayah Nathan yang mengayun pelan.


"Lis, ibu lihat Naina sangat mencintai ayahnya. Mungkin sebaiknya biarkan saja dia tidak tahu kalau Nathan bukan ayah kandungnya. Dia masih terlalu kecil untuk bisa memahami apa itu ayah kandung dan ayah sambung," kata Bu Siti.


"Lilis tahu, Bu. Naina masih terlalu kecil. Lilis akan tunggu sampai dia bisa membedakan antara ayah kandung dan ayah tiri," kata Lilis.


"Semoga Nathan nanti tidak akan berubah sikap, dan membeda-bedakan Naina dengan adik-adiknya," ucap Bu Siti sambil menghela nafas.


"Lilis percaya pada Mas Nathan. Dia akan bersikap sama dan tidak akan membeda-bedakan Naina dengan adiknya."


"Semoga saja."


Hari sudah semakin siang, dan mereka memutuskan untuk mampir ke warung makan Lilis. Karena dirumah tidak ada yang masak, jadi mereka akan makan di warung. Setelah itu mereka baru kembali ke rumah.


***


Nathan sangat gembira ketika pertama kalinya dia mendapatkan gaji dari kerja kerasnya sebagai seorang pelayan di restoran. Dia sudah tidak sabar ingin segera membawa uang itu pulang dan diberikan pada Lilis, sebagai nafkah pertamanya setelah keluar dari keluarga Sugara.


Nathan tidak peduli ketika Wendi dan Sri menatapnya sambil tersenyum. Entah mereka mengejek atau mendukung Nathan, Nathan tidak peduli lagi.


Saatnya pulang kerja. Nathan bergegas pulang untuk segera bertemu Lilis. Hatinya dipenuhi bunga-bunga kebahagiaan. Akan tetapi saat dia masuk kekamar, bunga dihatinya tiba-tiba layu. Lilis sedang menghitung uang yang jumlahnya tidak sedikit. Uang untuk membayar gaji para pegawai di warung makan dan uang untuk belanja warung. Juga uang hasil dari warung makan yang pastinya akan masuk ke kantongnya.


Nathan menatap amplop yang ada ditangannya dengan hati sedih. Uang di amplop ini tidak sebanding dengan uang hasil usaha Lilis.


"Mas, loh ... kok tidak masuk. Sini, masuklah."


Ucapan Lilis mengagetkan lamunannya. Dan Nathan tersenyum sambil menyembunyikan amplop yang berisi uang gajinya bukan ini. Nathan mendekati Lilis lalu duduk disampingnya. Diatas ranjang, telah berjejer pembagian uang yang segera dimasukan amplop satu persatu. Lilis menghentikan kegiatannya, saat melihat wajah suaminya tampak murung.


"Mas, ada apa? Mas, sakit?" tanya Lilis cemas.


Lilis buru-buru memegang kening Nathan dan tangan satunya lagi menyentuh keningnya sendiri untuk membandingkan suhu. Ternyata, sama. Jadi suaminya baik-baik saja. Lilis tersenyum lega dan kembali menatap wajah yang masih tetap sama. Murung.


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Lanjutin saja pekerjaan kamu," kata Nathan sambil memperlihatkan senyum termanisnya.

__ADS_1


Lilis kembali memasukan uang-uang itu kedalam amplop. Dan sisanya dia masukan kedalam amplop terpisah dan disimpan di laci meja. Sedangkan amplop-amplop berisi uang gaji itu dimasukkan lagi kedalam sebuah amplop besar dan dibungkus rapi lalu di simpan juga kedalam laci meja.


"Mas, mandi dulu nanti baru istirahat," kata Lilis kembali duduk diatas ranjang.


Nathan bergerak perlahan berniat bangkit dari duduknya sampai Lilis melihat sebuah amplop dari yang disembunyikan suaminya.


"Tunggu, itu apa ditangan mas Nathan?" tanya Lilis.


"Oh, ini. Bukan apa-apa, ini tidak penting," jawab Nathan gugup.


"Mas, aku ... kenapa tiba-tiba perutku sakit, mas," kata Lilis sambil memegangi perutnya.


"Kamu kenapa, kita cepat pergi ke dokter," kata Nathan panik.


"Sepertinya, ini karena kamu tidak jujur mas," kata Lilis lagi.


"Benarkah, tapi mana bisa begitu?" kata Nathan bingung.


"Bener, mas. Makanya kalau ditanya jujur aja, biar dedeknya tidak ngambek," kata Lilis sambil menatap suaminya dalam-dalam.


Nathan terdiam mendengar perkataan Lilis.


Nathan menyerahkan amplop ditangannya pada Lilis. Lilis menyambutnya dengan gembira. Lilis pun memeluk dan mencium amplop dari sang suami. Nathan tampak bingung, dia harus senang atau sedih melihat istrinya terlihat bahagia. Senang karena Lilis menerima uang darinya, sedih karena mungkin Lilis berpura-pura senang.


"Terima kasih, Mas. Sudah memberiku nafkah yang halal, dari kerja kerasmu selama ini. Lilis janji akan menggunakan uang ini dengan sebaik-baiknya untuk keperluan makan kita sehari-hari, agar bisa menjadi berkah untuk keluarga kecil kita," ucap Lilis sambil tersenyum.


"Kamu, tidak ingin tahu berapa banyak isinya?" tanya Nathan.


"Mas, berapapun jumlahnya, bagiku tidak penting lagi. Yang penting mas ada niat untuk memberi nafkah istri dan anak."


"Terima kasih, istriku sayang. Aku mau memelukmu tapi badanku bau asem," kata Nathan tersenyum lega.


"Ya udah, mandi dulu. Nanti baru peluk aku," kata Lilis manja.


"Gemesnya aku," ucap Nathan sambil mencium pipi Lilis.

__ADS_1


Nathan bergegas pergi mandi setelah berhasil mencium istrinya yang masih terkejut dengan ciuman tiba-tiba dari sang suami. Akan tetapi senyumnya merekah karena merasa suaminya lebih romantis dari yang dia kira.


Lilis menatap sendu amplop ditangannya. Nafkah yang benar-benar hasil dari kerja keras suaminya membanting tulang sebagai pelayan. Meskipun Nathan tahu, Lilis sudah memiliki uang sendiri, tetapi sebagai suami dia ingin menunjukkan tanggungjawabnya dengan tetap memberi nafkah. Dan Lilis sangat menghargai sikap Nathan.


Lilis, keluar untuk menyiapkan makan malam. Dia dibantu ibu Siti dan Naina mulai memasak. Naina tampak senang bisa ikut memasak bersama ibu dan Mbah Uti. Biarpun dia tidak membantu tetapi malah membuat dapur kotor dengan memotong-motong sayuran sesuai keinginannya sendiri.


Lilis dan Bu Siti hanya tersenyum melihat ulah Naina berhasil membuat pekerjaan mereka bertambah. Setelah selesai masak, Bu Siti membersihkan sampah bersama Naina. Setelah itu membantu Naina mandi.


"Naina, bantu Mbah Uti bersihkan sayuran yang sudah Naina potong. Besok Naina bisa potong sayur lagi," kata Bu Siti.


"Baik, Mbah Uti," Naina dengan cekatan memasukkan sayuran yang sudah dia potong-potong ketempat sampah dibantu Mbah Uti.


"Sudah beres. Mbah Uti bantu mandi sekarang," kata Bu Siti sambil menggandeng tangan Naina.


Lilis kembali menata masakan yang sudah matang kedalam wadah. Nathan yang baru selesai mandi, mendekatinya dan menawarkan bantuan.


"Istriku sayang, ada yang bisa aku bantu?"


"Sudah selesai mas, tinggal taruh ini dimeja makan. Kalau mau bantu, silahkan," jawab Lilis tersenyum.


Nathan menaruh beberapa makanan diatas meja makan. Setelah itu dia kembali mendekati Lilis yang sedang mencuci beberapa wadah kotor.


"Istriku sayang, kalau aku tidak jatuh miskin, aku pasti akan mempekerjakan seorang pelayan untukmu," kata Nathan sedih.


"Mas, aku tidak perlu pelayan. Aku masih bisa menangani pekerjaan rumah ini. Lagian jika aku lagi tidak bisa, aku bisa minta Mbak Surti untuk membantu, tidak setiap hari juga, Mas."


Lilis masih melanjutkan kegiatannya tanpa melihat reaksi Nathan. Nathan berusaha membantu Lilis mencuci wadah, tetapi malah mereka bercanda dengan air.


Suasana bahagia itu, disaksikan Naina dan Bu Siti yang baru saja keluar dari kamar Naina. Naina tersenyum melihat ayah dan ibunya tetap mesra meski di dapur.


"Naina, ayo kita main sebentar diluar, sambil menunggu waktu Maghrib tiba," ajak Bu Siti.


"Mbah Uti, Naina pingin ikut ayah dan ibu main air," kata Naina lugu.


"Tidak boleh, Naina masih anak-anak. Mainnya sama Mbah Uti saja," kata Bu Siti bingung mau menjelaskan situasinya.

__ADS_1


Naina masih saja tidak mau pergi. Sampai akhirnya Bu Siti menawarkan sebungkus es krim kalau Naina mau ikut keluar. Naina setuju tetapi belinya harus sekarang.


Naina dan Bu Siti pergi menuju ke rumah sebelah untuk membeli es krim.


__ADS_2