Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 71. Menjenguk Desta


__ADS_3

Desta dirawat di rumah sakit karena mengalami pendarahan di kepala dan patah tulang. Dia harus menjalani operasi dan perawatan intensif. Mengingat kondisi Desta yang cukup parah, pihak Nathan memutuskan untuk tidak melanjutkan proses tuntutan hukum untuk Desta.


Lilis bersyukur karena Nathan membatalkan gugatannya. Tidak tahu kenapa, Lilis merasa kasihan pada mantan suaminya. Mungkin karena dia sedang hamil dan sifat lembutnya muncul.


Lilis duduk termenung ditepi ranjang. Dia merasa takut juga, jika Nathan marah padanya setelah tahu dia merasa kasihan pada Desta. Walupun tanpa dia suruh, Nathan berinisiatif membatalkan gugatannya pada Desta. Apalagi setelah itu, Nathan sedikit menjauh darinya.


Mungkinkah dia cemburu atau curiga kalau aku masih memiliki rasa pada mas Desta?


Lilis menghela nafas berat sambil memegangi perutnya. Anak dalam kandungannya bergerak-gerak seolah tahu pikiran ibunya sedang galau.


Nathan masuk tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Lilis. Dia langsung merebahkan diri ditempat tidur dan berbalik badan membelakangi Lilis. Lilis merasa takut, tetapi jika semua tidak di bicarakan, pasti akan menimbulkan kesalahpahaman yang berkepanjangan.


Lilis ikut merebahkan diri di samping suaminya. Dia mencoba untuk lebih dekat.


"Mas, apakah mas Nathan marah padaku?" tanya Lilis ragu apakah suaminya akan menjawab pertanyaannya.


Sudah seharian ini dia tidak mau bicara padanya. Jangankan menyapa, melihat saja seperti dia enggan.


"Marah, Tentu saja aku sangat marah?" jawab Nathan tanpa menoleh.


"Apa salahku?" tanya Lilis sedih.


Nathan membalikan badan membuat Lilis terharu. Matanya mulai berkaca-kaca dan hampir meneteskan airmata.


"Seharian ini, masih belum ngerti juga?" tanya Nathan heran.


"Apakah karena mas Desta? Mas Nathan marah padaku?"


"Astaghfirullah, Lilis. Jadi seharian ini kamu mengira aku mendiamkan kamu karena masalah Desta?" tanya Nathan sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya. Memang ada masalah lain, yang membuat Mas Nathan marah padaku?" tanya Lilis.


Lilis bingung melihat Nathan tersenyum padanya. Lalu Nathan memeluknya.


"Percuma aku pura-pura marah dan mendiamkan kamu. Kamu sama sekali tidak peka," kata Nathan.


"Memang ada apa, sih mas. Kenapa kamu tidak beritahu aku saja."

__ADS_1


"Rupanya, harapanku terlalu tinggi. Berharap istriku lebih mencintaiku daripada aku. Tetapi ternyata, akulah yang terlalu mencintaimu bahkan seandainya kamu sama sekali tidak menyukaiku. Aku tetap mencintaimu."


"Maksudnya apa?"


"Hari ini adalah hari ulang tahunku."


Lilis terkejut. Dia memang benar-benar tidak tahu hari ulang tahun suaminya. Pantas saja kalau Nathan marah padanya.


"Maaf mas, aku bener-bener tidak tahu, kalau hari ini adalah hari ulang tahunmu."


"Lupakan saja, hari ini sudah berlalu. Mas juga minta maaf, jika aku telah membuat kamu sedih. Kasihan anak kita," kata Nathan sambil mencium kening Lilis.


"Lain kali aku akan mengingatnya,"


"Aku ada kabar baik untukmu."


"Apa itu, Mas?"


"Wendi melamar Sri. Dan keduanya sudah sepakat untuk menikah."


"Nanti mereka pasti akan memberitahumu. Kamu pasti orang pertama yang akan diberitahu mereka."


Lilis tersenyum. Memang, mereka bertiga adalah sahabat sekaligus saudara. Hubungan mereka sangat akrab meski ada sedikit rasa canggung saat Lilis tahu Wendi jatuh cinta padanya.


"Semoga besok, mereka datang dan mengatakan secara resmi padaku," kata Lilis penuh harap.


"Kayak mau laporan saja, pake secara resmi. Terlalu tinggi bahasanya," kata Nathan sambil tersenyum.


"Kenapa, masalah buat mas Nathan? Ih, kan aku juga pingin kelihatan jadi bos," kata Lilis manja.


"Kamu selalu jadi bos. Bos disini, di hati aku. Malam ini aku mau laporkan secara resmi, kalau besok, kita sekeluarga akan makan bersama di luar. Bagaimana?"


"Makan di tempat kita aja mas, lebih hemat. Sekalian menambah penghasilan restoran kita," kata Lilis.


"Sejak kapan istriku memiliki jiwa bisnis, kayaknya dulu tidak seperti ini?"


"Aku belajar dari suamiku."

__ADS_1


"Suami yang mana?"


"Jangan bikin kesel deh, Mas. Emang berapa suamiku?" tanya Lilis pura-pura kesal.


"Satu. Sudah tahu kenapa pake tanya segala?"


"Kayaknya aku harus minum madu, boleh nggak ya?"


"Sepertinya, boleh tapi cuman sedikit. Tetapi kalau madu cinta, kamu boleh menikmatinya sesukamu?


"Maksudnya apa?"


Nathan tersenyum, lalu perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya yang terus memandanginya. Sebuah ciuman kecil mendarat di hidung Lilis. Lilis tersenyum karena tidak hanya hidung, berlanjut ke seluruh wajah dan berakhir di bibirnya.


Lilis menyadari jika Nathan menginginkan sesuatu. Dia melepaskan tautan bibirnya dan meminta ritual dahulu seperti biasanya. Berdoa dan baru memulai.


***


Keesokan harinya, Lilis menyempatkan diri meminta izin pada suaminya untuk pergi menengok Desta. Nathan mengizinkan, akan tetapi dia harus ikut menjenguk Desta. Setelah mengantar Naina ke sekolah, Lilis dan Nathan pergi ke rumah sakit.


Lilis tertegun melihat, kondisi Desta yang masih belum sadarkan diri. Mereka masuk untuk melihat lebih dekat kondisi Desta. Sudah hampir seminggu, Desta menjalani perawatan. Mengingat di kota ini dia tidak ada sanak saudara, Nathan ingin membiayai biaya rumah sakit Desta. Akan tetapi, Guntur yang akhirnya membayar biaya rumah sakit Desta. Guntur tidak ingin, menyusahkan hidup Nathan dan Lilis. Karena Lilis kehamilannya sudah menginjak 7 bulan, sehingga uang Nathan bisa dia gunakan untuk biaya persalinan.


Awalnya, Lilis juga berusaha menawarkan diri untuk membantu, akan tetapi ditolak oleh Guntur. Tidak banyak, hanya sebanyak 20 juta. Itupun uang yang dulu diminta oleh Desta. Karena saat itu Lilis sudah mengikhlaskannya untuk Desta pulang kampung.


"Mas, izinkan aku berbicara dengan mas Desta. Beberapa menit saja," kata Lilis.


"Apakah aku harus keluar?" tanya Nathan.


"Tidak perlu. Aku hanya ingin bicara biasa saja dengan dia. Mungkin bisa merangsang syaraf di otaknya."


Lilis duduk didekat Desta yang masih terbaring lemah. Disentuhnya jari Desta dengan lembut. Nathan hanya bisa melihat kejadian itu dengan menahan perasaannya. Meskipun ada rasa cemburu, akan tetapi mungkin bisa membantu Desta sadar. Dengan begitu, Desta bisa segera pergi meninggalkan kota ini dan tidak akan menggangu kehidupan rumah tangga mereka lagi.


"Mas Desta, ini Lilis. Lilis sudah memaafkan semua kesalahan mas Desta dimasa lalu. Tidak ada dendam atau ingin membalas perlakuanmu selama ini padaku. Aku tidak ingin menjadi seperti kamu, itulah alasanku tetap baik padamu sampai saat ini. Aku bersyukur, karena kamu, sekarang aku bisa memiliki kehidupan yang lebih baik. Memiliki usaha dan memiliki suami yang baik. Kamu tetaplah ayah Naina, meski aku tidak ingin mengakuinya. Setelah ini, aku tidak akan datang lagi menemuimu. Mungkin ini terakhir kali kita bertemu," kata Lilis sambil menghela nafas panjang.


Lilis melepaskan tangan Desta dan segera mengajak Nathan pulang. Nathan tersenyum melihat Lilis. Rupanya Lilis hanya ingin pamit pada Desta.


Setelah kepergian Nathan dan Lilis, jari-jari tangan Desta bergerak perlahan.

__ADS_1


__ADS_2