
Setelah meninggalkan keluarga Sugara, dan meninggalkan segala bentuk kemewahan, Nathan menjalani hari-harinya sebagai pria biasa tanpa pekerjaan. Pria pengangguran yang sering terlihat termenung sendirian, kala Lilis tidak disampingnya.
Hari itu, Lilis melihat Nathan termenung dan tidak terasa meneteskan airmata sambil bersandar di tepi ranjang. Lilis mulai panik. Jika di biarkan terus begini, Maka tidak tahu apa yang akan terjadi pada suaminya di waktu yang akan datang.
Lilis mencoba mencari cara untuk bisa membujuk suaminya, agar mau melibatkan diri dalam aktivitas sehari-hari. Diapun mendekati suaminya sambil tersenyum manis dan duduk disebelahnya.
"Mas, kayaknya aku pingin bermanja deh hari ini," ucap Lilis manja.
"Ah, memang setiap hari yang manja itu siapa? Bukannya istriku yang cantik ini?" tanya Nathan tersenyum melihat Lilis.
"Mana, orang mau bermanja, malah takut?" kata Lilis dengan wajah cemberut dan manja.
"Takut, padaku?" tanya Nathan sambil menunjuk hidungnya.
"Siapa lagi. Wajah mas Nathan yang bikin takut."
"Wah, wajah setampan ini bisa membuat istriku ini takut? Takut aku makan bulat-bulat, atau takut aku gigit?" tanya Nathan sambil memeluk Lilis pelan.
"Sama saja, mas. Sebenarnya, digigit pria tampan seperti mas Nathan, mau-mau saja," jawab Lilis mesra.
"Cantik, tidak hanya wajah tetapi hatimu sungguh cantik. Aku pasti sudah gila jika tidak ada kamu di sisiku. Beberapa hari ini, aku terus berpikir keras, dan setiap rasa sakit ini datang, kamu datang dan memberiku energi yang membawaku bisa melupakan semua kesedihanku."
"Mas, aku ingin belajar menjadi seorang istri yang baik. Meskipun masih jauh dari kata istri Sholehah, setidaknya aku sudah berusaha. Aku ingin berada di sisimu baik saat kamu kaya, maupun saat kamu tidak punya apa-apa. Seorang istri akan sanggup hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Satu yang tidak bisa diterima seorang istri adalah perselingkuhan," kata Lilis sambil menghela nafas. " Maaf, aku tidak bermaksud...."
"Tidak apa-apa, Kamu tidak salah. Kamu sudah sangat membantuku, dengan selalu tersenyum manja padaku. Aku merasa masih ada yang membutuhkan aku," kata Nathan sambil meraba wajah Lilis.
"Mas, aku, Naina, ibu dan si kecil yang masih dalam perutku ini, sangat membutuhkan kamu. Jadi kamu harus selalu siap untuk kami, apapun yang terjadi. "
"Siap. Jadi apa yang perlu aku bantu?"
"Besok pagi-pagi sekali, mas pergi ke pasar ya? Soalnya Mbak Surti lagi ada yang penting, nggak bisa pergi. Bagaimana, bisa?"
__ADS_1
"Ke pasar? Tapi, aku 'kan tidak pernah pergi ke pasar," kata Nathan kaget.
"Nanti pergi ke pasar sama aku. Masa lupa sih mas, pasar tempat pertama kali kita ketemu?" kata Lilis sambil tersenyum.
"Oh, pasar itu. Tahu-tahu. Apa yang harus aku lakukan disana?"
"Besok pagi akan tahu sendiri. Yang penting Mas Nathan setuju dulu. Nanti perginya jam 3 lho," kata Lilis.
"Wow, jam 3 pagi? Aku tidak akan bisa bangun jam segitu, sayang?"
"Nanti, Lilis yang akan bangunin mas Nathan. Tenang saja, Lilis akan pake air es buat ngebangunin kamu."
Nathan tampak berpikir, apa iya dia bisa bangun jam 3 pagi. Selama ini, dia tidak pernah bangun jam segitu, kecuali jika dia kebelet lagi pingin sama istrinya.
Nathan menatap wajah cantik istrinya. Dia mulai menyentuh kedua pipi yang tampak mulai memerah karena malu. Nathan mulai mencium bibir merah istrinya. Lilis tampak gelagapan karena ciuman suaminya begitu tiba-tiba.
Setelah puas mencium istrinya, Nathan mengajak Lilis untuk segera tidur.
Lilis setuju dengan permintaan suaminya walaupun dari ulah suaminya ini, gairahnya tiba-tiba muncul. Lilis merebahkan diri di samping suaminya, yang sudah lebih dulu berbaring. Lilis tidak berani menatap wajah Nathan, untuk menyembunyikan gairahnya.
Tangan Nathan, tiba-tiba meraih tubuh kecil Lilis dan berangsur-angsur menenggelamkannya dalam pelukannya. Sebuah bisikan kecil membuat Lilis tersenyum malu.
"Ayo, kita berdoa dulu ...."
Nathan dan Lilis berdoa sebelum akhirnya mereka tenggelam dalam nikmatnya buaian dan belaian masing-masing. Saling menciptakan sensasi yang bisa memuaskan gairah dari keduanya.
Nathan mulai mengerti, jika tidak hanya suami yang ingin dipahami keinginannya oleh istrinya. Akan tetapi, keinginan seorang istri, harus pula dipahami oleh suaminya.
***
Jam sudah menunjukan pukul 3 pagi. Lilis terbangun ketika bunyi alarm ponselnya telah berdering keras. Lilis membuka mata dan melihat suaminya masih terlelap. Dia harus bisa membangunkan suaminya dengan cara apapun sesuai janjinya.
__ADS_1
Lilis duduk dan mencoba membangunkan Nathan sambil menggoyang-goyangkan bahu Nathan. Akan tetapi tidak ada reaksi apapun dari Nathan. Terpaksa, Lilis menggigit pelan telinga Nathan sambil memainkannya, hingga Nathan merasa geli dan membuka matanya.
Setelah Nathan membuka mata, Lilis tersenyum melihat Nathan masih dalam kondisi bingung.
"Mas, ayo kita ke pasar," kata Lilis kemudian.
"Oh, hampir lupa. Tapi aku masih agak ngantuk," kata Nathan sambil menguap pelan.
"Ayo kita mandi dulu biar tidak mengantuk."
"Jam segini, mandi? Pasti dingin."
"Selesai mandi pasti ngantuknya hilang."
Nathan dan Lilis mandi bersama sebelum mereka pergi ke pasar. Sebuah catatan kecil tidak pernah lupa Lilis buat sebelum berangkat ke pasar. Dengan memakai jaket dan celana panjang serta helm, Lilis dan Nathan berangkat menggunakan sepeda motor.
Sesampainya di pasar, Nathan segera memarkir motornya dan menuju sebuah toko sayuran. Ada cabe, bawang merah, bawa putih dan masih banyak yang lainya. Lilis hanya cukup menyerahkan nota catatan dan mereka akan menyiapkan semuanya sesuai barang yang ada didalam catatan tersebut.
Setelah semua siap dan Lilis sudah membayarnya, mereka beralih ke kios penjual daging sapi. Lilis menyerahkan nota pesanannya dan segera menerima 10 kilo daging sapi segar. Setelah membayar, Nathan membawa semua barang belanjaan dan ditata diatas motor.
"Mas, aku tadi sudah minta Mbak Surti untuk menjemputku. Mas bawa saja semua barang belanjaan itu ke warung. Hari ini sengaja hanya belanja sedikit, untuk mas belajar. Mungkin besok, beli dagingnya akan lebih banyak," kata Lilis.
"Kalau harus banyak, kenapa tunggu besok. Sekarang aku pasti kuat meski beli dagingnya di tambah," ucap Nathan sambil bergaya.
"Tidak, Mas. Hari ini aku hanya akan jualan pagi saja. Siangnya mereka akan menghadiri pernikahan salah satu pelayan kita. Nanti kita juga akan datang kesana, untuk memberi dukungan."
"Tetapi aku tidak ingin kamu menunggu Mbak Surti sendirian. Aku tidak tenang. Aku pulang setelah Mbak Surti datang."
"Baiklah. Kita tunggu Mbak Surti sama-sama."
Nathan dan Lilis duduk di kursi dekat parkiran motor. Tidak berapa lama, Mbak Surti datang dan mengajak Lilis segera pulang. Mereka naik motor beriringan pulang ke arah warung makan milik Lilis.
__ADS_1