Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 67. Kakak Sita, preman?


__ADS_3

Desta menahan amarah setelah tahu, kalau Sita dibawa pergi oleh Guntur. Meskipun marah, dia tidak menunjukannya secara terus terang. Karena, bagi Desta, Guntur adalah pohon uang baginya. Lebih baik mengalah untuk sementara waktu.


Malam sudah semakin larut ketika dia mulai merasa kantuk. Dia merebahkan diri diatas kasur yang empuk dan hangat. Hanya satu kekurangannya, yaitu seorang istri. Dia menghela nafas ketika teringat nasib percintaannya yang selalu gagal.


Suara ketukan pintu mengejutkannya. Dengan malas dia bangun dari tidurnya menuju ke arah pintu. Dengan mata masih setengah Watt, dia membuka pintu perlahan. Matanya terbuka lebar saat dia tahu yang datang seperti sekelompok preman.


"Apa benar kamu yang bernama Desta?" tanya salah satu dari mereka.


"Benar, ada apa?" tanya Desta penasaran.


Mereka tidak ada satupun yang menjawab. Salah satu dari mereka segera memberi isyarat pada yang lain untuk menghajar Desta. Mereka berbagi tugas, ada yang memegangi Desta dan ada yang memukulinya. Desta sempat kaget namun dia tidak dapat mengelak dari sergapan orang-orang itu.


"Ampun, ampun. Apa yang kalian lakukan? Apa salahku, kalian salah orang," racun Desta sambil menahan sakit akibat dipukul wajah dan dadanya berkali-kali.


"Hentikan, biar dia tidak mati penasaran, aku akan mengatakan apa kesalahannya," kata Bos mereka yang bernama Tedy.


"Bos, aku tidak pernah menyinggung Bos. Aku juga tidak kenal Bos," kata Desta sambil meringis kesakitan.


"Kamu kenal Sita? Gadis yang kamu beri obat perangsang dan akan kamu gagahi adalah adikku. Kenal kan?" tanya Tedy sambil mengangkat dagu Desta yang memar.


"Si -- Sita, aku kenal dia. Aku tidak bermaksud menggagahi adikmu. Aku hanya memberinya sedikit obat, agar dia tunduk padaku," jawab Desta gagap.


"Hanya sedikit, tapi tetap saja obat dan dengan niat jahatmu. Niat saja, aku tidak terima, apalagi kamu sudah melakukannya."


Tedy menampar wajah Desta dengan keras. Desta tidak bisa melawan karena anak buah Tedy masih bersiap di samping Desta.


"Segera tinggalkan tempat dan kota ini. Aku memberimu waktu sampai besok siang. Jika kamu tidak pergi, maka kamu akan mengalami hal yang lebih menyedihkan dari ini. Bahkan aku bisa membunuhmu," ancam Tedy.


"Jangan bunuh aku. Baik, Sebelum siang aku pasti sudah pergi dari kota ini," jawab Desta ketakutan.

__ADS_1


"Baik, awas jika kamu berani berbohong. Kami tidak akan sungkan lagi. Ayo semua, kita pergi!" ajak bicara Tedy keras.


"Siap, Bos."


Tedy dan anak buahnya segera pergi meniggalkan Desta yang tampak babak belur dan terus meringis kesakitan. Desta merasa apes sekali hidupnya. Istri tidak dapat, malah sakit yang dia terima. Ternyata Sita memiliki kakak seorang preman. Kalau tahu begini, dia tidak akan bermain api.


Tidak ada lagi yang bisa Desta lakukan, selain pergi, sesuai keinginan kakaknya Sita. Desta tidak mau berurusan dengan preman ataupun polisi. Karena dia takut dipenjara. Desta tidak bisa tidur dengan kondisi seperti itu. Bahkan, rasa nyeri itu semakin menyiksanya.


Keesokan harinya, Desta mulai menata pakaian dan barang-barang pribadinya kedalam koper. Sayangnya, dia tidak memiliki banyak uang untuk bisa kembali ke kampung. Terpaksa dia menghubungi Guntur untuk meminta uang. Akan tetapi, Guntur sama sekali tidak mengangkat teleponnya. Desta menjadi putus asa. Desta bingung, darimana dia bisa mendapatkan uang.


Senyum liciknya mengembang dan dia segera pergi membawa kopernya, dengan naik mobil milik Guntur yang kebetulan dia pinjam sejak seminggu yang lalu. Rupanya dia menuju ke sekolah Naina. Saat itu Naina terlihat sedang menunggu seseorang untuk menjemputnya. Desta mendekati Naina dan Bu Guru untuk memulai aksinya.


"Naina, ini paman," kata Desta sambil tersenyum. " Masih ingat paman kan? Paman teman ibumu dari kampung."


"Paman, temannya ibu dari kampung? Seperti paman Wendi dan Mbak Sri?" tanya Naina


"Bagaimana Naina, apa benar dia teman ibumu dari kampung?" tanya Bu Guru.


"Kalau tidak percaya, ini KTP saya, alamatnya sama dengan alamat ibunya Naina," kata Desta sambil mengeluarkan sebuah KTP miliknya.


Desta berharap, Bu guru dan Naina percaya padanya. Setelah Bu Guru melihat alamat Desta sama dengan alamat Lilis. Setelah yakin, Naina pergi bersama Desta, tapi bukan kerumahnya melainkan pergi ke sebuah rumah makan. Desta sengaja agar Lilis dan Nathan panik dan mengira Naina diculik.


"Paman, kenapa kita kesini? Naina mau pulang sekarang," kata Naina sambil menarik baju Desta.


"Naina, nanti paman antar kamu pulang. Sekarang kita makan dulu. Disini ada ayam goreng, ayam crispy. Naina mau yang mana?" tanya Desta sambil menatap anak kandungnya yang tidak bisa dia akui sekarang.


"Naina mau pulang paman. Naina mau ketemu ibu," jawab Naina menangis.


"Naina, jangan menangis. Atau paman tidak akan pernah membawamu bertemu ibumu lagi!" bentak Desta.

__ADS_1


Naina merasa takut setelah dibentak Desta. Tangisannya juga berhenti dan hanya mimik mukanya yang menampakan ketakutan. Takut, jika benar dia tidak akan dipertemukan lagi dengan ibunya, ibunya pasti akan sangat sedih.


"Makanlah, ayam ini dulu, setelah itu paman akan mengantarkan kamu pulang," kata Desta sambil menyodorkan ayam crispy pada Naina.


Naina menerima dan memakan ayam crispy dari Desta tanpa berkata sepatah katapun. Naina sesekali melihat kearah Desta dengan tatapan penuh tanda tanya.


Apakah benar dia teman ibu, kenapa dia galak sekali? batin Naina.


Desta masih memikirkan cara untuk bisa mendapatkan uang dari Lilis, tanpa melibatkan polisi. Desta menatap wajah Naina yang masih sangat polos.


Maafkan ayah, Naina. Ayah terpaksa menggunakan kamu untuk bisa mendapatkan uang dari ibumu. Ayah memang ayah yang tidak berguna untukmu dan ibumu, batin Desta.


Desta segera menghubungi nomor ponsel Lilis. Dering pertama, tidak ada jawaban. Desta mengulangi lagi untuk yang kedua. Masih tetap tidak ada jawaban. Desta menarik nafas panjang karena merasa kesal, Lilis tidak mengangkat panggilannya.


Terpaksa, Desta menulis sebuah pesan kepada Lilis, lewat nomor WA nya. Sebuah pesan yang pasti akan membuat Lilis langsung menghubunginya.


Lilis, Naina ada bersamaku. Jika ingin Naina kembali, segera hubungi aku secepatnya, bunyi pesan yang ditulis Desta pada Lilis.


Desta kembali menatap Naina yang terlihat terpaksa memakan ayam crispy yang dia berikan. Setelah merasa Naina sudah kenyang, Desta membawa Naina pergi ke sebuah taman bermain. Disana cukup sepi, hanya terlihat beberapa ibu-ibu dan anak-anak yang sedang bermain.


Desta mengajak Naina turun untuk melihat-lihat taman. Akan tetapi Naina menolak dan tetap duduk di mobil. Meski Desta merasa kesal pada Naina yang tidak mendengarkan ucapannya, mungkin memang lebih baik dia dan Naina tetep di dalam mobil.


Desta masih menunggu, pesannya dibaca oleh Lilis. Hingga hari sudah semakin siang, belum ada tanda-tanda Lilis menghubunginya. Pesannya sudah masuk dan sudah centang dua, tetapi belum terlihat centang biru, berarti belum dibaca oleh Lilis.


Desta menyandarkan kepalanya di jok mobilnya, untuk menghilangkan penat di kepalanya. Juga bekas-bekas memar di wajah dan tubuhnya masih terasa sakit.


Melihat Desta memejamkan mata, Naina pelan-pelan membuka pintu mobil yang tidak terkunci. Naina senang karena pintu sudah berhasil terbuka. Dia menurunkan salah satu kakinya dan hampir kaki keduanya juga turun kebawah. Sayang, Desta terbangun dan langsung menarik kembali tubuh Naina yang hendak kuat mobil.


"Jangan harap kamu bisa lepas dariku, Naina," gumam Desta.

__ADS_1


__ADS_2