
Sepulang kerja, Nathan menjenguk Kakek di rumah sakit. Dengan perasaan tidak menentu, Nathan masuk kesebuah ruang VVIP. Disana, Kakek tampak lemah dengan selang infus di pergelangan tangannya dan selang oksigen di hidungnya.
"Nathan kamu sudah datang?" tanya Guntur."Mendekatlah, Kakek ingin bicara padamu."
Nathan melangkah gontai mendekati Kakek Edward yang mulai membuka matanya setelah Nathan datang. Nathan duduk di samping tempat tidur Kakek dan Nathan memegang tangan Kakek lembut.
Sementara Guntur keluar ruangan untuk memberi kesempatan Kakek dan Nathan berbicara dengan leluasa.
"Kakek, bagaimana kondisi Kakek. Maaf, Nathan tidak langsung menjenguk Kakek. Nathan pikir, Kakek hanya berpura-pura seperti yang pernah Kakek lakukan waktu Nathan hendak menikahi Lilis," ucap Nathan sedih dan menyesal.
"Kakek tidak apa-apa," kata Kakek lemah.
"Kakek, maafkan Nathan," hanya itu yang keluar dari mulut Nathan karena tiba-tiba airmatanya menetes.
"Nathan, Kakek ingin kamu kembali," kata Kakek lemah.
"Kakek, jangan terlalu banyak bicara. Kita bicarakan itu nanti, saat Kakek sudah sembuh."
"Kamu janji pada Kakek, untuk kembali," suara Kakek semakin lemah.
"Iya, Nathan janji. Kakek jangan terlalu banyak berpikir. Tenanglah Kakek," jawab Nathan panik.
"Kakek senang mendengarnya," kata Kakek lalu memejamkan matanya pelan.
Nathan menahan tangisnya. Dia sangat sedih melihat kondisi Kakek saat ini. Nathan merasa ini salah dia, karena meski tahu kebenarannya, Nathan masih belum mau kembali pada keluarga Sugara.
Flashback on.
Desta membisikan sesuatu ke telinga Nathan dengan suara lemah.
"Nathan, maafkan aku. Pada saat tes DNA antara kamu dan Kakek Edward, aku yang menukarnya. Aku menukar sampel kamu dengan orang lain. Sehingga hasilnya negatif. Aku sengaja ingin membuat kamu kehilangan semua milikmu, termasuk kehilangan Kakek. Orang yang kamu cintai selama ini," Desta berhenti sejenak.
"Aku ingin kamu merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang-orang yang kamu cintai bahkan kehilangan harta."
Flashback off
Nathan menatap Kakek dengan hati sedih. Nathan ingin sekali mengatakan bahwa Nathan masih cucu Kakek yang dulu. Tetapi Nathan masih belum tahu, bagiamana caranya. Tidak mungkin memaksa Kakek untuk melakukan tes DNA lagi.
Semoga suatu saat, ada jalan untuk Nathan mengatakan yang sebenarnya. Karena awalnya Nathan tidak ingin kembali menjadi keluarga Sugara setelah melihat Kakek dan Guntur baik-baik saja. Hubungan pernikahannya dengan Lilis, semakin harmonis karena Nathan menjadi pria biasa bukan orang kaya.
Tetapi sekarang, setelah melihat kondisi Kakek seperti ini, Nathan menjadi bingung. Ditambah lagi, dia sudah berjanji pada Kakek untuk kembali lagi.
__ADS_1
Nathan beranjak keluar setelah melihat Kakek tertidur. Diluar dia menemui Guntur.
"Guntur, jaga Kakek. Aku tidak bisa menginap disini. Aku harus minta izin dulu pada istriku. Besok aku akan datang lagi," kata Nathan.
"Baik. Pulanglah, kamu masih banyak tanggungjawab lain. Biar Kakek aku yang urus," kata Guntur.
Nathan akhirnya pergi setelah mendengar perkataan Guntur. Guntur termasuk pemuda yang baik. Dia selalu berusaha membuat Kakek bangga, dan dia tidak pernah menyusahkan Kakek. Kinerjanya juga baik di bisnis keluarga Sugara. Kemajuannya cukup bagus untuk seukuran dia.
Meskipun dia bergaul dengan Desta, dia Sam sekali tidak pernah terlibat dengan apa yang dilakukan Desta. Prinsip hidupnya juga sangat bagus dan dijalankan dengan baik. Sungguh, Kakek beruntung memiliki Guntur.
Sampai dirumah, Nathan bergegas mencuci tangan.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Suara Lilis dari dalam kamar. Nathan bergegas menemui Wahyu untuk menyapanya. Disana ada Naina yang juga sedang melihat Wahyu yang manis dan lucu.
"Wahyu, anak ayah," kata Nathan sambil mendekati Wahyu dan ingin menciumnya.
"Tunggu, sudah cuci tangan?"
"Sudah."
"Belum."
"Kalau begitu, mandi dulu dan ganti pakaian yang bersih dulu, baru boleh mencium Wahyu. Begitu kan Naina, peraturan dari ibu?" kata Lilis sambil meminta dukungan Naina.
"Benar, ayah. Tadi saja aku pulang sekolah juga tidak boleh pegang-pegang adik. Naina harus ganti pakaian dulu baru boleh. Ayah juga, setelah mandi dan ganti pakaian baru boleh cium adik," kata Naina jujur.
"Ah, kalian ini main keroyokan. Naina, bantuin ayah dong, jangan bantuin ibu terus. Naina anak ayah bukan?" kata Nathan manja.
"Tapi Naina juga sayang ibu dan Adik," jawab Naina tersenyum.
"Anak pinter. Di ajarin sekali, sudah ngerti. Jangan kayak ayah, diajarin sekali, malah pingin nambah. Nggak ngerti-ngerti," kata Lilis tertawa.
"Diajarin apa dulu, kalau diajari ngurus adik, aku emang lemot. Tapi kalau disuruh buat adik, nggak usah diajari, aku pinter sendiri," kata Nathan bercanda.
"Mas, ngomong apa sih. Ada Naina. Saru banget," kata Lilis sambil mengangkat pojok bibirnya.
"Naina nggak bakal ngerti maksudku. Bukan begitu Naina, Naina tahu apa yang ayah katakan?" tanya Nathan.
__ADS_1
"Tahu apa, ayah?" tanya Naina bingung.
"Sudah, jangan di ladeni ayahmu. Naina, sudah malam. Naina tidur dulu, besok kita main lagi sama adik," kata Lilis lembut.
"Baik, Bu. Besok kan hari Minggu, kita ajak adik ke taman yang biasa. Kita main disana," pinta Naina.
"Naina, adik masih terlalu kecil untuk main di taman. Nanti kalau sudah bisa jalan, kita ajak adik ke taman," jawab Lilis pelan, takut Naina tersinggung.
"Yah, masih lama dong," kata Naina kecewa.
"Naina, berdoa saja supaya adek cepet bisa jalan. Kalian nanti bisa lomba lari," kata ayah Nathan.
"Ya, udah Naina tidur dulu dedek. Besok main lagi sama kakak," kata Naina yang langsung pergi mencari Mbah Uti.
Mbah Uti sekarang tidur bersama Naina, sejak peristiwa penculikan dirinya oleh ayahnya sendiri, Desta. Naina kadang masih takut untuk sendirian. Walaupun Desta tidak melakukan kekerasan secara fisik, akan tetapi secara psikis sangat mempengaruhi pribadi Naina.
Beberapa kali, Lilis membawa Naina ke psikiater untuk memulihkan kondisi mental Naina. Solusinya hanya, menjauhkan Naina dari ingatan saat itu, dan jangan biarkan Naina sendirian.
"Mbah Uti, Naina berani tidur sendiri. Naina sudah besar."
"Tapi, Mbah Uti yang takut tidur sendirian," jawab Bu Siti berbohong.
"Ya sudah, Mbah Uti boleh tidur sama Naina. Mbah Uti jangan takut, ada Naina disini," kata Naina sambil memeluk Bu Siti.
"Kalau begitu, ayo kita tidur. Besok mesti bangun pagi untuk membuat sarapan. Kita bantu ibu biar ibu tidak kecapekan. Malam sudah jaga adik," kata Bu Siti.
Naina dan Bu Siti, mulai terlelap dalam mimpi. Sementara, Lilis dan Nathan baru saja berbaring untuk tidur.
"Istriku sayang, tadi aku menjenguk Kakek. Dia ternyata benar-benar sakit. Kakek kena serangan jantung."
"Tetapi kenapa mas Nathan tidak menginap di sana?" tanya Lilis.
"Tidak, mas belum meminta izin padamu. Jadi mas tidak akan menginap disana."
"Kakek adalah orang sangat penting untuk kamu, mas. Meskipun, kamu tidak pernah mengatakannya padaku. Seharusnya, mas Nathan lebih mementingkan dia daripada kami," ucap Lilis penuh emosi.
Apa yang diucapkan Lilis membuat Nathan kaget. Lilis tidak pernah berbicara keras apalagi terdengar penuh emosi seperti ini.
"Sayang, apa maksudmu? Kalian adalah keluargaku, bagaimana mungkin aku lebih mementingkan Kakek daripada kalian. Kakek sangat penting, tetapi kalian lebih penting dari semuanya. Kalian adalah hidupku," kata Nathan ikut emosi juga.
"Kami masih bisa hidup tanpa kamu. Tapi Kakekmu tidak. Hidupnya hanya tinggal menghitung waktu. Kamu akan menyesal jika kamu tidak bisa membahagiakan Kakek disisa umurnya. Kami tidak ingin menjadi penghalang antara kamu dan Kakek."
__ADS_1
"Apa maksudmu, penghalang? Siapa yang mengatakan itu?"
"Mas, aku ingin memiliki keluarga yang bahagia. Tetapi aku tidak ingin hidup bahagia diatas penderitaan orang lain. Ceraikan aku," kata Lilis pelan tapi membuat Nathan hampir mati karena terkejut.