
Nathan dan Lilis memutuskan untuk kembali ke rumah dulu. Karena melihat kondisi Lilis yang sudah tidak sanggup berjalan sendiri tanpa bantuannya. Kakinya terasa lemah dan tubuhnya lelah. Hatinya terluka dan sakit tak berdarah. Airmata yang tidak kunjung berhenti menetes.
Ada rasa penyesalan di hati Lilis, jika teringat Wahyu. Menyesal, seandainya saat itu dia tidak ke kamar mandi, Wahyu pasti tidak akan hilang. Lilis merasa bersalah dan sulit untuk memaafkan dirinya sendiri
Di rumah, ternyata sudah banyak orang berkumpul. Mereka juga merasa kaget mendengar hilangnya Wahyu. Kampung mereka biasanya aman-aman saja. Tetapi sekarang ada kejadian seperti ini, membuat mereka harus waspada.
"Lilis, bagaimana keadaanmu?" tanya Bu Siti kaget melihat kondisi Lilis lemah.
"Ibu," panggil Naina sedih.
"Biarkan Lilis istirahat, Bu. Kasihan dia, dia sangat tertekan dan syok dengan kejadian ini," kata Nathan sambil memapah Lilis masuk kedalam kamarnya.
"Biar ibu dan Naina yang temani Lilis. Kamu temui saja orang-orang diluar yang ingin ikut bersimpati pada keluarga kita," kata Bu Siti.
"Baik Bu. Nathan keluar dulu. Naina bantu Mbah Uthi jaga ibu," kata Nathan sambil mengelus rambut Naina.
"Iya, Ayah."
Setelah memastikan Lilis akan aman bersama ibu dan Naina, Nathan keluar untuk menemui orang-orang yang datang. Mereka ikut bersedih dengan hilangnya Wahyu.
"Nathan, bagaimana kondisi Lilis saat ini. Apakah dia baik-baik saja? Tapi aku rasa, dia tidak baik-baik saja. Boleh aku melihatnya." kata Wendi cemas.
"Tunggu, dia sekarang sedang istirahat dan sudah ditemani ibu mertua dan Naina. Jadi kamu tidak usah melihatnya. Bukannya kamu ini pengantin baru, kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Nathan agak kesal.
"Tadi aku mendengar kalau Wahyu di culik. Siapapun pasti akan panik mendengar kabar seperti itu. Apalagi ini anak Lilis, aku sangat cemas sekali," jawab Wendi.
"Tapi, orang akan curiga, karena yang kamu tanyakan pertama kali bukan Wahyu, tetapi Lilis. Suami manapun akan marah, ada laki-laki lain memperhatikan istrinya," kata Nathan.
"Memperhatikan apa dan siapa? Jangan cemburuan, aku hanya bertanya sebagai seorang sahabat," kata Wendi membela diri.
Nathan termenung.
"Kalau begitu jawab aku, apa kamu sudah seratus persen melupakan cintamu pada Lilis?" tanya Nathan sambil menatap tajam Wendi.
"Pertanyaan macam apa itu. Tidak masuk akal," jawab Wendi agak gugup.
__ADS_1
Meski Nathan tidak puas dengan jawaban Wendi, akan tetapi dia tidak ingin lebih jauh bertanya. Karena dari jawaban Wendi dia sudah bisa menyimpulkan jika Wendi masih sangat peduli dengan Lilis. Lagi pula dia juga tidak bisa memaksa seseorang untuk tidak mencintai.
Mungkin Nathan lebih beruntung karena cintanya bersambut dan dia bisa menikah dengan Lilis. sedangkan Wendi, hanya bisa mencintai tanpa bisa memiliki. Menghapus perasaan cinta yang memang tulus mungkin tidak akan pernah bisa semudah membalik telapak tangan.
Lamunan Nathan terhenti, setelah Wendi menepuk bahunya. Disaat seperti ini, bisa-bisanya dia cemburu pada Wendi.
"Nathan, apa yang kamu pikirkan?" tanya Wendi mengejutkan Nathan.
"Tidak ada. Sekarang aku bingung, bagaimana caranya aku bisa menemukan Wahyu. Sama sekali tidak ada petunjuk. Tidak ada yang bisa aku curigai. Semua menjadi kosong. Apakah aku hanya bisa menunggu hasil penyelidikan kepolisian?" tanya Nathan.
"Tenang saja, meskipun saat ini kita tidak memiliki petunjuk, aku yakin, jika Allah menghendaki, petunjuk itu akan ada disaat yang tidak kita duga," kata Wendi.
"Terima kasih, Wen. Kamu ini baru saja ijab qobul, pulanglah. Aku tidak ingin, malam pertamamu, kamu tidur diluar. Kamu tidak takut, istrimu marah karena kamu tinggal pergi setelah ijab qobul?" tanya Nathan sambil menghela nafas.
"Sri, tidak. Dia tidak akan marah. Apalagi sahabatnya sedang dalam kesusahan. Wajar kalau aku datang untuk sekedar memberikan dukungan," kata Wendi tenang.
"Itu menurut kamu. Akan tetapi hati wanita sangat rumit. Kita tidak tahu apa yang ada di hati mereka. Pulanglah," kata Nathan.
"Kau ini sepertinya sengaja ingin mengusirku. Aku akan pergi setelah melihat kondisi Lilis. Makanya izinkan aku melihatnya sebentar saja," kata Wendi memaksa.
"Baiklah. Tapi setelah kamu melihat kondisi Lilis, kamu harus segera pergi. Ayo, ikuti aku."
Nathan berjalan pelan menuju kamar Lilis diikuti Wendi. Sesampai di pintu, Nathan mengetuk pintu karena ada Wendi. Takutnya Lilis, Naina atau ibu Siti sedang melakukan hal yang bersifat pribadi.
"Masuk ... kenapa pake ketuk pintu nak. Ini kan kamarmu sendiri?" kata Bu Siti saat melihat Nathan yang datang.
"Ada Wendi, Bu. Dia ingin melihat kondisi Lilis," jawab Nathan.
Wendi sedih saat melihat Lilis dalam keadaan lemah dan tangisannya tidak berhenti.
"Lilis, kamu tenanglah, kami akan mencari keberadaan Wahyu. Aku akan membantu kalian mencari Wahyu sampai ketemu," kata Wendi tak tega melihat Lilis sedih sampai seperti itu.
Nathan menahan diri agar tidak terbawa perasaan. Siapa yang kuat melihat pria lain memberi perhatian pada istrinya. Bagi Wendi, mungkin niatnya baik. Sebagai sahabat ingin membantu Lilis, tetapi ada perasaan tidak rela di hati Nathan atas perhatian Wendi. Yang jelas-jelas pernah mengejar cinta Lilis.
"Wendi, sudah melihat Lilis, kan. Pulanglah, aku bisa mengurus istriku sendiri," kata Nathan berbisik agar tidak terdengar oleh yang lain.
__ADS_1
"Baiklah, Wendi pulang dulu, Lis, Bu Siti, Naina. Nathan, aku pergi sekarang."
Wendi pergi setelah melihat kondisi Lilis seperti janjinya. Nathan ikut keluar dan menerima ucapan dukungan dari tetangga-tetangga dekat yang datang kerumahnya. Karena hari sudah menjelang malam, mereka satu persatu pamit pulang. Kini tinggallah Nathan seorang diri.
Karena sudah hampir masuk sholat Magrib, Nathan bergegas menghidupkan lampu dan masuk ke kamar.
"Ibu, Naina. Mandilah dulu, waktu sholat sudah hampir tiba. Biar Lilis, Nathan yang urus," ucap Nathan sambil melihat Naina dan Bu Siti.
"Baiklah, Nathan. Kamu jaga Lilis, aku akan membantu memandikan Naina," kata Bu Siti.
"Mbah Uthi, Naina sudah besar. Naina udah bisa mandi sendiri," kata Naina.
"Iya, Naina udah besar. Mulai sekarang Naina boleh mandi sendiri," kata Nathan.
"Iya, Naina.Mbah Uthi temani. Ayo, kita keluar. biarkan ibu istirahat," ucap Bu Siti sambil beranjak bangun.
"Ibu, Naina mandi dulu. Ibu jangan sedih terus. Adik Wahyu pasti ketemu," kata Naina.
Lilis mengangguk mendengar ucapan Naina.
"Pergilah mandi," kata Lilis pelan.
Setelah Bu Siti dan Naina pergi, Nathan mendekati Lilis yang masih tampak syok.
"Sayang, aku bantu kamu membersihkan diri. Sudah hampir waktu sholat Maghrib, kita harus berdoa agar Allah menjaga Wahyu dimana pun dia berada. Meskipun kita tidak berada di sampingnya, kita harus percaya, bahwa Allah akan selalu melindungi Wahyu," kata Nathan membujuk Lilis agar tidak terlalu bersedih.
"Mas Nathan benar. Masih ada Allah yang akan melindungi Wahyu. Tapi Mas, tubuhku sangat lemah, aku tidak kuat berdiri apalagi untuk mandi," kata Lilis lirih.
Nathan segera menggendong istrinya menuju kamar mandi. Dengan sabar dia membantu istrinya mandi dengan air hangat. Membantunya berganti pakaian dan menyuapinya makanan. Karena Nathan berharap, setelah makan, Lilis akan bisa mengambil wudhu sendiri tanpa bantuannya.
Setelah makan beberapa suap nasi, Lilis mencoba berdiri dan mengambil wudhu sendiri. Mereka menjalankan ibadah dan berdoa dengan khusyuk. Menyerahkan semua yang terjadi pada Allah.
Bersambung
yuk mampir ke karya temen aku
__ADS_1