
"Ayah, Naina senang ayah datang. Ibu ... ayah menyusul kita!" teriak Naina.
Lilis tertegun mendengar teriakan Naina. Mungkin Naina hanya berhalusinasi saja seolah melihat ayahnya. Lagi pula, mana mungkin suaminya ada disini malam-malam begini. Sekarang sudah hampir jam 12 malam. Nathan ada di kota B dan dia di kampung.
"Naina, cepat masuk dan tidur. Jangan lupa, pintunya tutup kembali. Oh ya, apa Mbah Uti bersamamu?" tanya Lilis masih tiduran di kamar.
"Iya, Bu," jawab Naina.
"Assalamualaikum," suara Nathan pelan.
"Wa'alaikum salam," jawab Naina dan Bu Siti.
Naina memeluk ayahnya dengan erat sementara Bu Siti meneteskan air mata melihat kedatangan Nathan di rumahnya.
"Naina, kangen ayah," kata Naina.
"Ayah juga. Kangen kalian semua. Bagiamana dengan ibu dan adik, apa mereka baik-baik saja?" tanya Nathan menahan rasa rindunya.
"Ibu dan adik ada di kamar. Ayah masuk saja, itu kamar ibu. Naina tidur dulu sama Mbah Uti," kata Naina melihat Mbah Uti.
Nathan melepaskan pelukannya. Dia mendekati ibu mertuanya dan mencium tangan Bu Siti dengan penuh rasa haru.
"Temui Lilis. Dia sangat terluka. Kamu bersabarlah menghadapi dia," kata Bu Siti.
"Nathan mengerti," ucap Nathan. "Naina, ayah temui ibu, kamu tidurlah sesuai perintah ibu."
Naina dan Bu Siti masuk ke kamar untuk tidur.
Lilis mulai memejamkan mata, saat suara Naina sudah tidak terdengar lagi. Baru beberapa saat matanya terpejam, terdengar suara pintu kamar terbuka. Dan suara langkah kaki yang terdengar pelan. Lilis ingin membuka mata, namun rasa lelahnya membuatnya tetap terpejam dan tertidur.
Sebuah sentuhan lembut membelai rambutnya yang terikat rapi. Lilis merasa mimpi ini begitu nyata. Sentuhan itu membuatnya membuka matanya.
Sesosok pria yang sangat dicintainya, duduk di tepi ranjang. Dia tampak tersenyum dan perlahan meraih tangan Lilis.
"Mas Nathan," ucapnya lirih.
__ADS_1
Pria itu hanya tersenyum melihat Lilis, tanpa sepatah katapun. Hal itu membuat Lilis yakin jika ini hanya mimpi. Mimpi wanita yang sedang merindukan lelaki yang dicintainya. Lilis menarik tangan Nathan, hingga tubuh dan wajah Nathan berada di atas tubuhnya. Wajah tampan yang membuat hatinya berdebar kencang itu tersenyum manis. Senyum yang membuat Lilis ingin menggigit bibir itu.
Nathan mulai tidak kuasa menahan gairah yang terpendam, yang sudah hampir dua bulan ini tidak menyentuh istrinya. Diam-diam Nathan mengucapkan doa, seperti yang biasa mereka lakukan sebelum menyatu dan dengan sedikit liar, Nathan mencium bibir istrinya. Setelah mendapat ciuman balasan dari Lilis, mereka melewati malam yang indah sebagai suami istri. Akan tetapi, Lilis masih menganggap jika ini hanyalah mimpi yang indah.
Sekitar jam 3 pagi, Lilis terbangun dan merasakan tubuhnya terasa dingin. Lilis kaget, karena mendapati tubuhnya dalam keadaan tanpa sehelai benang. Pantas dia merasa kedinginan.
Pantas aku kedinginan, aku membuka seluruh pakaianku. Padahal itu hanya dalam mimpi, kok bisa beneran begini, batin Lilis.
Lilis bangun dan memakai pakaiannya kembali ketika dia menyadari jika ada seseorang di dalam kamarnya. Bahkan orang itu sedang memberikan susu untuk Wahyu.
"A-anakku ...," teriak Lilis.
"Sudah bangun? Atau masih merasa bermimpi?" tanya Nathan tersenyum.
"Mas Nathan, ini hanya mimpi. Ini tidak benar," kata Lilis tidak percaya.
Selesai memberi Wahyu susu, Nathan kembali duduk di samping Lilis yang masih bingung antara nyata dan mimpi. Nathan kemudian memegang kedua pipi Lilis.
"Masih belum percaya? Kita ulangi sekali lagi?" tanya Nathan menggoda Lilis.
"Benar, tentu saja ini aku," kata Nathan sambil melepaskan tangannya dari wajah Lilis.
Lilis meneteskan air mata. Dia masih tidak percaya jika Nathan sekarang ada di rumahnya, bahkan mereka telah melakukan hubungan suami istri. Bukankah mereka sudah bercerai? Jadi apa yang sudah mereka lakukan tadi, zina?
"Mas, bukankah mas Nathan sudah menceraikan aku, kenapa Mas Nathan mencariku sampai ke kampung?" tanya Lilis sambil melihat ke arah Nathan.
"Siapa yang menceraikan kamu. Aku tidak pernah ingin dan tidak akan pernah menceraikan kamu. Bukankah sebelum aku pergi, aku sudah mengatakan itu padamu?" kata Nathan.
"Tapi, Mas Nathan sudah menandatangani surat pernyataan cerai itu. Bahkan, Mas Nathan sudah menyewa seorang pengacara untuk mengurus perceraian kita," kata Lilis.
"Sayang, kenapa sejak awal kamu tidak menceritakan yang sebenarnya padaku kalau Kakek sudah mengancammu?" tanya Nathan.
"Maafkan aku Mas, waktu itu aku sangat bingung dan panik. Jadi, aku hanya terpikirkan untuk menuruti keinginan Kakek. Tapi bagiamana Mas Nathan tahu, semua ini?" tanya Lilis penasaran.
"Waktu itu, tanpa sengaja aku mendengar Kakek berbicara pada Guntur. Guntur merasa bersalah padaku, karena telah membantu Kakek menghancurkan pernikahanku."
__ADS_1
"Guntur hanya menjemputku saja. Dia tidak melakukan apa-apa dalam hal ini," kata Lilis.
"Tapi, tetap saja dia tidak ingin mendapat karma. Karena dia juga akan menikah, dan dia takut pernikahannya akan hancur juga seperti pernikahanku. Aku meminta penjelasan dari Kakek. Semuanya, sampai usaha Kakek untuk membuat agar kamu percaya, aku sudah menceraikan kamu."
"Lalu, bagaimana Mas Nathan bisa sampai kemari?" tanya Lilis penasaran.
"Sebelum Wendi dan Sri pulang ke kampung, dia sempat menghubungiku jika kamu dan anak-anak, akan pulang kampung dan tidak akan kembali lagi ke kota B. Aku sangat panik. Aku sengaja mencari tiket pesawat yang sama dengan kalian."
"Jadi, Mas Nathan satu pesawat dengan kami?" tanya Lilis.
"Benar. Masih ingat pria yang membantu kalian membawa barang-barang bawaan kalian? Dia orang suruhan ku."
"Pantas, dia memanggilkan taksi juga dengan cepat."
"Semua, sudah aku siapkan dengan baik. Termasuk mengikuti kalian hingga sampai ke rumah ini," kata Nathan sambil menghela nafas.
"Kenapa baru masuk tengah malam?"
"Aku menunggu sampai rumahmu sepi. Aku tidak ingin membuat keributan. Tidak disangka, aku malah tidak bisa menahan diri saat melihatmu bertingkah imut. Menganggap pertemuan ini mimpi dan kamu menunjukkan rasa rindumu yang tanpa beban dan kekhawatiran. Maafkan aku, sudah sengaja memanfaatkan situasi ini untuk melampiaskan hasratku padamu."
"Mas, jika kamu benar belum menceraikan aku, masih menjadi kewajiban ku untuk memberimu hak atas diriku seutuhnya."
"Sayang ...."
Nathan memeluk tubuh Lilis dengan lembut. Pelukan yang tidak ingin dilepaskannya hingga maut menjemput.
"Maafkan aku, karena telah tidak jujur dan meminta cerai tanpa alasan yang jelas. Lilis telah berdosa padamu, Mas Nathan."
"Mas maafkan. Lain kali jika ada masalah apapun, katakan saja padaku. Kita akan hadapi semua masalah bersama-sama. Jika aku tidak bisa mengatasinya, kita bisa minta bantuan orang lain. Pernikahan akan langgeng jika kita saling jujur dan percaya."
"Iya, Mas. Lilis akan selalu berusaha memperbaiki kesalahan yang sudah Lilis lakukan. Meski sepanik dan secemas apapun, Mas Nathan adalah orang pertama yang akan tahu masalahku."
"Dan kita akan selesaikan bersama-sama," tambah Nathan.
Semua kesalahpahaman antara Lilis dan Nathan telah berakhir. Semoga tidak akan terulang lagi kesalahan yang sama di kemudian hari.
__ADS_1