
"Ibu tidak setuju," jawaban Bu Siti yang membuat Nathan Panik.
Ditolak? Hati Nathan mulai kacau dan pikirannya terasa ngeblank. Apa yang harus dia lakukan agar Bu Siti mau menerima dirinya. Nathan mengumpulkan segenap rasa kepercayaan dirinya yang masih ada. Mencoba menata hati dan pikirannya. Perjuangannya baru dimulai dan dia tidak akan menyerah segampang itu.
"Bolehkah Nathan tahu, mengapa Bu Siti tidak setuju? Apakah karena saya miskin?" tanya Nathan penasaran.
"Karena kamu tidak jujur."
Jawaban Bu Siti tepat mengena hati Nathan. Nathan menyadari jika saat ini dia memang belum bersikap jujur pada Lilis dan ibunya tentang siapa dia.
Raut wajah bersalah Nathan membuat Bu Siti menghela nafas. Apa yang dikatakannya saat ini hanyalah ingin menguji Nathan, apakah dia sungguh-sungguh ingin menikahi Lilis, ataukah hanya keinginan sesaat Nathan saja. Tetapi, reaksi Nathan sangat diluar perkiraannya. Jadi benar Nathan selama ini sudah tidak jujur pada mereka terutama pada Lilis.
"Maaf Bu Siti, memang ada beberapa hal yang sampai saat ini belum bisa aku katakan pada kalian. Tetapi saya berjanji hari ini, saya akan jujur pada Lilis. Asalkan ibu bersedia merestui kami, saya berjanji akan membuat Lilis dan Naina bahagia."
"Ibu percaya, kalau kamu akan sanggup membuat Lilis dan Naina bahagia. Akan tetapi kejujuran itu wajib bagi pasangan suami istri. Jika salah satu berbohong, maka keharmonisan rumah tangga akan seperti kayu yang dipenuhi rayap. Meski tidak terlihat, namun kayu itu akan keropos dan tidak akan bisa lagi berdiri kokoh menahan derasnya badai," kata nasehat Bu Siti lembut.
"Nathan mengerti, Bu. Nathan berjanji akan selalu jujur pada Lilis."
"Baiklah, karena ibu melihat kamu tulis pada Lilis, ibu menyetujui permintaan kamu untuk menikahi anak ibu. Tetapi yang paling penting, nak Nathan tahu jika Lilis seorang janda beranak satu. Dia tidak perawan. Ibu tidak ingin, kamu menyesal di kemudian hari. Jangan menyakiti hati Lilis. Apakah dia juga sudah menyetujui keinginan nak Nathan?" tanya Bu Siti.
Padahal Bu Siti sudah tahu jika Lilis sudah jatuh hati pada Nathan. Beliau hanya ingin memastikan Nathan tidak akan menyesali karena Lilis adalah seorang janda beranak satu.
"Sudah, Lilis sudah setuju. Karena itu, hari ini, Nathan akan mengajak Lilis dan Naina bertemu Kakek."
"Apa kamu yakin kakekmu akan setuju dengan status Lilis?"
"Nathan belum bisa menjawab. Tetapi Nathan tahu jika Kakek selalu ingin melihat Nathan Bahagia. Dan kebahagiaan Nathan adalah menikah dengan Lilis."
"Baiklah, tolong jaga Lilis dan Naina."
"Ayah Nathan..."
Teriak Naina mencairkan suasana yang tampak tegang. Lilis dan Naina muncul dari balik pintu ruang tengah. Naina langsung berdiri di depan Nathan sambil memegangi tangan Nathan.
"Naina, nanti ikut ayah menemui Kakek, oke?" kata Nathan bahagia.
Naina mengangguk senang sementara Bu Siti menatap Lilis dengan pandangan cemas. Lilis memahami apa yang di takutkan ibunya.
"Mas, Nathan. Naina tidak perlu ikut. Lagipula, ini adalah pertemuan pertama aku dengan Kakekmu. Jadi lain kali saja, Naina ikut."
__ADS_1
"Baiklah. Naina, perginya lain kali saja. Hari ini, ayah Nathan dan ibu Lilis mau pergi sebentar. Nanti ayah belikan, mainan yang bagus atau boneka?"
"Boneka saja, ayah Nathan," jawab Naina agak kecewa.
"Mbah Uti..."
Naina langsung memeluk Bu Siti. Naina pasti kecewa, dia tidak diperbolehkan ikut mereka pergi. Bu Siti memeluk tubuh Naina sambil menepuk-nepuk punggungnya pelan.
"Naina, ibu pergi dulu ya?" pamit Lilis.
Namun Naina tidak mau melihat ibunya. Lilis tahu, Naina pasti marah padanya. Tetapi Lilis melakukan itu demi kebaikan Naina. Lilis tidak tahu, apakah keluarga Nathan akan menerimanya atau tidak dengan statusnya sebagai seorang Janda.
"Ibu, Lilis pergi. Tolong jaga Naina."
"Nathan pergi, Bu. Ayah Nathan pergi dulu, Naina."
Lilis dan Nathan mencium punggung telapak tangan Bu Siti sebelum melangkah pergi.
"Lis, Naina marah," ucap Nathan sambil berjalan disampingnya.
"Biarkan saja, Mas. Nanti juga hilang marahnya kalau kita pulang bawakan dia boneka," jawab Lilis menghibur dirinya sendiri.
Nathan hanya mengangguk pelan. Meskipun sebenarnya dia ingin mengenalkan Naina pada Kakeknya.
"Iya. Tetapi, kenapa aku merasa sejak tadi kamu terus menatapku aneh?" tanya Nathan bingung.
"Tidak ada apa-apa, Mas. Dah ah, ayok kita segera pergi saja. Naik motorku?" jawab Lilis lalu balik bertanya.
"Naik mobilku saja," jawab Nathan.
"Mobilmu?"
"Kenapa?"
"Nggak-nggak. Boleh berkhayal kok," jawab Lilis tertawa pelan.
"Maksudnya berkhayal... berkhayal apa?" tanya Nathan bingung.
"Berkhayal memiliki mobil sendiri, Mas. Suatu saat pasti bisa, semangat," jawab Lilis sambil mengangkat satu lengannya lalu dia berlalu pergi.
__ADS_1
Lilis berjalan cepat menuju mobil Nathan yang di parkir di jalan depan. Dia sama sekali tidak perduli saat Nathan ingin menjawab omongannya. Nathan sebenarnya ingin mengatakan yang sebenarnya, namun Lilis sudah terlanjur menganggapnya hanya berkhayal.
Nanti saja kalau sudah sampai di rumah Kakek. Baru aku akan bilang kepadanya yang sebenarnya, batin Nathan.
Mobil Nathan melaju di jalanan yang cukup ramai dan berhenti didepan minimarket. Lilis dan Nathan berjalan menuju ke bagian buah-buahan segar. Lilis bingung harus pilih yang mana untuk Kakek. Karena dia tidak tahu buah kesukaan Kakek.
"Mas, apa buah kesukaan Kakek?" tanya Lilis.
"Kakek suka buah apel. Belikan Apel aja," jawab Nathan sambil tersenyum. "Habis belikan Kakek Apel, kita cari Boneka yang cantik untuk Naina."
"Iya, mumpung kita ada disini, sekalian beli untuk Naina. Tapi, Mas Nathan yang pilih sendiri ya. Aku ngikutin aja. Aku mau lihat pilihan Mas Nathan seperti apa?"
"Aduh, mana aku bisa milih. Aku nggak tahu boneka seperti apa yang di sukai Naina. Dalam hal ini, kamu wajib bantu aku," ucap Nathan penuh harap.
"Itu kan urusan Mas Nathan untuk mengambil hati Naina," ledek Lilis.
"Makanya Lis, tadi aku udah bantu kamu buat beli buah kesukaan Kakek. Giliran kamu bantu aku pilih boneka kesukaan Naina, deal kan?"
"Ya udah. Aku sudah selesai. Yok kita cari ke sebelah sana."
Nathan mendorong troli belanja yang hanya berisi buah apel untuk Kakek. Mereka berjalan menuju bagian atas Mall yang berisi berbagai macam boneka. Setelah cukup lama memilih, Lilis menemukan sebuah boneka berwarna pink yang sangat manis seperti Naina.
"Bagaimana kalau ini saja, Mas?" tanya Lilis sambil menunjukan boneka yang ada ditangannya.
"Coba aku lihat dulu."
Nathan mengambil boneka yang ada ditangan Lilis. Dia lalu memperhatikan dengan seksama boneka itu sambil tersenyum dan mengangguk pelan.
"Oke, ini saja. Lis, kamu balik dulu ke mobil. Biar aku bayar ini dulu di kasir."
"Tapi Mas, Mas Nathan tidak malu bayar sendiri di kasir?" tanya Lilis.
"Berani, siang-siang begini, apa yang ditakuti? Pergilah dan ini kunci mobilnya."
Lilis menerima kunci mobil dari tangan Nathan. Seolah Lilis bisa membuka mobil sendiri, padahal dia sama sekali tidak bisa membuka mobil Nathan.
Sementara, Nathan sengaja membiarkan Lilis ke mobil duluan karena takut jika Lilis melihat kartu sakti yang digunakan Nathan adalah Kartu Hitam. Seharusnya Nathan tidak boleh takut karena dia sudah berjanji pada Bu Siti, dia akan jujur pada Lilis. Nathan masih menunggu waktu yang tepat dan entah itu kapan.
Lilis yang tidak bisa membuka pintu mobil, segera kembali untuk menunggu Nathan didalam Mall. Dia sangat terkejut ketika melihat Kartu ATM yang digunakan Nathan adalah kartu tanpa batas.
__ADS_1
Apakah dia mencuri atau merampok? Tapi itu tidak mungkin, Nathan bukan pria seperti itu. Dia pria yang baik, batin Lilis.
Bersambung