Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 6. Hutang lagi


__ADS_3

Mas…"


Lamunan Desta buyar seketika, mendengar panggilan dari Lilis.


"Ada apa?"


"Mas, sudah aku buatkan kopi. Ada dimeja makan."


"Bukannya sudah aku bilang, aku udah sarapan. Malah ini dibuatkan kopi, mana ada waktu untuk santai, sambil minum kopi," ucap Desta kesal.


"Tapi, aku sudah terlanjur buat untuk mas Desta. Mubazir jika tidak diminum, mas. Lilis bela-belain beli gula biarpun mahal untuk mas Desta," kata Lilis memohon.


"Jika takut mubazir, kamu minum sendiri saja."


"Lilis kan sedang hamil, mas."


"Hamil juga boleh minum kopi."


"Tapi Lilis tidak mau menanggung resiko karena kafein, mas. Tidak baik untuk janin."


"Ya sudah. Nanti aku minum sebelum pergi."


Lilis melangkah pergi setelah mendengar jawaban Desta yang sudah sesuai keinginannya. Lilis memang tidak mau, apa yang sudah dibuat akan percuma atau mubazir. Semua dia beli pakai uang yang harus berhemat tingkat tinggi.


Lilis kali ini masih bisa tersenyum, karena ada akan ada pembagian daging kurban sehingga akan mengurangi biaya beli lauk selama beberapa hari.


Tiba-tiba langkahnya terhenti, saat melihat Desta berjalan kesamping rumah. Lilis mengikuti suaminya karena merasa curiga dengan kelakuan Desta. Ternyata Desta membuang kopi yang di buat Lilis.


Entah kenapa, saat melihat Desta membuang kopi, hati Lilis terasa sakit. Ingin rasanya Lilis berteriak dan bertanya pada suaminya, kenapa membuang kopi yang dia buat, padahal tadi dia bilang akan meminumnya. Namun dia tidak ingin ada pertengkaran lagi di pagi ini.


Ada perasaan dibohongi yang kembali mengusik hatinya. Kebohongan-kebohongan kecil mulai muncul kembali setelah kebohongannya terbongkar tentang status pengangguran dirinya. Lilis menjadi takut jika ternyata suaminya masih menyimpan kebohongan lain lagi yang belum dia ketahui.


Tak terasa, air matanya menetes di sudut matanya yang indah. Lilis berjalan menuju ruang tamu untuk sekedar membuat Desta kaget saat kembali. Benar saja, saat Desta hendak masuk untuk mengembalikan cangkir bekas kopi yang dibuangnya, Desta kaget melihat Lilis ada di ruang tamu.


"Sayang, sedang apa?"


"Tentu saja sedang menunggumu, mas Desta."

__ADS_1


Desta menyembunyikan cangkir ke belakang badannya sambil tersenyum.


"Ada apa? Aku kebelet ke belakang dulu."


Lilis menghela nafas panjang melihat suaminya terlihat gugup. Lilis ternyata memang tidak begitu mengenal sifat asli Desta. Sehingga apapun yang terjadi, harus Lilis hadapi tanpa harus mengeluh pada siapapun termasuk pada ibunya.


Tidak berapa lama, Desta datang dan berdiri di depan Lilis tanpa berniat duduk.


"Ada apa? Katakan sekarang. Aku harus segera pergi lagi."


"Besok, mas Desta bisa temani aku pergi ke dokter kandungan kan mas?"


"Besok? Kayaknya tidak bisa. Aku ada pertemuan yang tidak bisa dibatalkan. Kamu jangan manja, pergi sama ibu kan bisa."


"Tapi, mas…"


"Sudah, nggak ada tapi-tapian. Ingat, aku kerja cari uang juga untuk anak kita nantinya. Dah, aku pergi dulu."


Lilis merasa sangat kecewa dengan jawaban Desta yang tidak peduli dengan kondisi kehamilannya. Namun, jika dengan ini bisa membuat Desta berubah, Lilis akan berusaha menerima semua keputusan suaminya dengan sabar.


Lilis mencium tangan suaminya sambil memanjatkan doa dalam hati, agar usaha suaminya berjalan lancar dan mendapatkan hasil yang sesuai harapan. Lilis menatap kepergian suaminya dengan tatapan penuh harap bahwa suatu saat suaminya akan menjadi seorang pengusaha yang berhasil.


Seharian ini, Lilis berpikir keras. Uang pemberian suaminya hanya tersisa beberapa ribu. Jika dia ingin pergi ke dokter kandungan, uang itu tidak akan cukup. Karena biaya dokter spesialis saat ini tidaklah murah.


Pergilah Lilis ke rumah temannya untuk meminjam uang. Sebenarnya malu juga bagi Lilis untuk meminjam uang dari sahabatnya. Dia sudah sering merepotkan sahabatnya sejak menikah dengan Desta tentu masalah uang.


"Sri, maaf ya. Kedatanganku, aku mau pinjem lagi buat pergi ke dokter," ucap Lilis ragu.


"Lilis, kamu tidak perlu sungkan jika mau pinjem uang. Dulu, saat aku susah, kamu yang selalu memberi aku uang. Bahkan nggak perlu aku kembalikan. Memang kamu perlu berapa? Aku nggak bisa pinjemin kamu banyak."


"Cukup untuk pergi ke dokter spesialis saja. Pasti nanti aku kembalikan, jika aku sudah memiliki uang."


"Tapi, kalau untuk ke dokter spesialis aku nggak punya kayaknya. Ini hanya ada 100 ribu. Bagaimana ini?" kata Sri bingung.


Lilis tertegun sesaat. Uang 100 ribu tidak akan cukup untuk ke dokter spesialis kandungan.


"Ya, udah Sri. Nggak apa-apa segitu. Aku nanti ke bidan saja, yang biayanya lebih murah."

__ADS_1


"Maafkan aku, Lis," ucap Sri sedih melihat Lilis tidak bisa pergi ke dokter.


"Kamu sudah sangat baik padaku, Sri. Jangan minta maaf."


Sri memeluk Lilis dan berusaha menularkan semangatnya pada Lilis.


Setelah dari rumah Sri, Lilis teringat jika beras di rumah sudah habis. Dia segera mampir ke warung untuk membeli beras. Untung, Lilis masih sempat ingat untuk membeli beras, jika tidak, mereka akan makan apa sore nanti.


"Mau beli apa, mbak Lis?" tanya pemilik warung.


"Beras 2 liter, Bu As."


"Tapi kali ini bayar kan mbak Lis? Mbak Lis masih ada utang beras 2 liter lho ya."


"Iya, Bu. Yang ini Lilis akan bayar. Maaf ya Bu, nanti kalau Lilis sudah ada uang pasti akan Likis bayar."


Lilis tersenyum perih melihat kehidupannya kembali ke masa sebelum Lilis bekerja. Bahkan sekarang malah lebih susah lagi karena dia harus berhutang sana sini untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.


Sepanjang perjalanan pulang, Lilis tidak henti-hentinya berpikir. Akankah kehidupannya akan terus seperti ini? Pinjam sana pinjam sini dan entah kapan dia bisa melunasi semua hutang ini. Mengandalkan usaha suaminya yang sampai saat ini masih belum ada hasilnya.


Usia pernikahan mereka masih terbilang baru, apakah pantas jika Lilis bersikap tegas meminta nafkah dan memaksa suaminya untuk menghidupinya secara layak? Sedangkan dia tahu jika suaminya baru memulai usaha. Pasti akan ada pertengkaran besar di rumahnya. Dan entah apa yang akan terjadi kemudian.


Membayangkan pertengkaran itu, badan Lilis mulai bergidik. Ngeri…


Siang mulai berganti malam.


Makan malam pun sudah disiapkan Lilis di meja makan. Lilis menunggu Desta pulang untuk makan malam bersama. Meski Bu Siti meminta Lilis untuk makan duluan, agar sang bayi dalam kandungannya tidak kelaparan, Lilis tetap tidak mau makan duluan.


Jam dinding sudah menunjukan pukul 8 malam. Suara motor Desta sudah terdengar berhenti di depan rumah. Lilis bergegas membuka pintu dan menyambut kedatangan Desta dengan senyum dan salim tangan.


Desta segera memasukkan motor ke dalam rumah dan berniat segera mandi. Lilis membiarkan suaminya mandi dan berganti pakaian. Lilis menunggu sambil memanaskan makanan. Namun yang ditunggu malah sudah rebahan di kamar.


"Mas, tidak makan dulu? Aku sudah menyiapkan makanan dimeja makan," tanya Lilis didepan pintu kamarnya.


"Tidak, tadi aku sudah makan di luar. Lain kali, kamu tidak usah menyiapkan makan malam untukku," jawab Desta datar.


Desta tentu tahu, makanan macam apa yang disiapkan Lilis. Pasti nasi putih sama lauknya tahu kalau tidak tempe goreng. Jadi dia pasti selalu makan di luar bersama Maria atau makan di rumah Maria.

__ADS_1


Bersambung


jangan lupa like dan koment


__ADS_2