Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 76. Curhatan Sri


__ADS_3

Nathan terbangun saat mendengar Wahyu menangis. Nathan melihat ke arah Lilis yang masih terlelap. Nathan perlahan melepaskan tangannya yang sejak tadi dibuat sebagai bantalan tidur oleh Lilis. Nathan tersenyum lalu beranjak mendekati Wahyu. Ternyata dia mengompol, pasti dia menangis karena jijik, dingin dan basah.


Nathan berusaha meniru cara Naina mengganti popok Wahyu. Masih ragu-ragu dan semrawut. Akan tetapi, Nathan sudah berusaha sebaik mungkin, untuk membuat Wahyu nyaman. Syukurlah setelah popoknya di ganti, Wahyu bisa kembali tidur dengan nyaman.


Nathan bergegas kekamar mandi untuk mencuci tangan setelah mengganti popok Wahyu. Nathan tersenyum sendiri setelah berhasil menjadi ayah yang baik meski hanya sekedar bisa mengganti popok saja. Saat keluar dari kamar mandi, Wahyu merengek, dan mulutnya bergerak-gerak.


Apakah dia haus, batin Nathan.


Nathan mendekati Wahyu dan bertanya padanya.


"Wahyu, haus?"


Lilis yang terbangun, dan tertawa melihat kelakuan Nathan. Menggemaskan dan bikin tertawa.


Anak sekecil itu ditanya, mana bisa jawab, batin Lilis.


Nathan yang menyadari ditertawakan oleh Lilis, dia cuek saja. Nathan pura-pura tidak tahu Lilis sudah bangun. Nathan tetap membuatkan susu untuk Wahyu. Setelah membuatkan susu dan menemani Wahyu minum susu, Nathan kembali ketempat tidur.


Lega rasanya, setelah beberapa kali pasti dia


akan semakin ahli dalam merawat Wahyu.


"Mas, gimana, ada kesulitan?"


"Kayaknya, tidak ada. Masih bisa aku atasi. Kamu tenang saja, jika kamu capek, aku yang mengurus Wahyu," jawab Nathan bangga.


"Baguslah, jadi nanti aku bisa agak santai jika Mas Nathan ada di rumah."


"Tapi, jangan sering-sering. Susah juga ngurus anak."


"Baru segitu saja sudah ngeluh," ledek Lilis.


"Bukan ngeluh, Sayang. Tapi emang capek juga. Salut sama kamu sehari semalam mengurus Wahyu tanpa ngeluh," kata Nathan.


"Mas, sudah hampir pagi, kalau tidur lagi takut nanti malah bangunnya kesiangan. Mending kita bangun dan mandi lalu sholat subuh," kata Lilis bergegas bangun.


"Benar juga. Sebaiknya memang kita langsung bangun saja," kata Nathan pelan.


Begitulah aktivitas Lilis dan Nathan setelah memiliki Wahyu. Mereka bergantian merawat Wahyu. Terkadang mereka akan saling menguatkan dengan saling memijit saat keduanya merasa lelah.


Pagi ini, sebuah mobil datang dan berhenti tepat di depan rumah Lilis. Ternyata Guntur datang kerumah Nathan, sebelum Nathan pergi bekerja.


"Assalamualaikum," ucap salam dari Guntur.


"Wa'alaikum salam," jawab Nathan yang baru saja bersiap-siap berangkat kerja.

__ADS_1


"Nathan, maaf mengganggumu," kata Guntur sedih.


"Masuk dan duduklah," ajak Nathan.


"Terima kasih."


"Ada apa, sepertinya kamu sedang ada masalah?" tanya Nathan.


"Kakek masuk rumah sakit."


"Apa, Kakek masuk rumah sakit? Kenapa, sakit apa?" tanya Nathan panik.


"Penyakit jantung Kakek kumat dan kelihatannya ini cukup parah. Sejak kamu meninggalkan keluarga Sugara, Kakek sangat tertekan. Nathan temuilah Kakek, agar Kakek bisa lebih tenang," pinta Guntur.


Nathan berpikir sejenak, kemudian dia setuju untuk menemui Kakek.


"Baiklah, sepulang kerja, aku akan menjenguk Kakek."


"Terima kasih Nathan. Aku pamit pulang dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


Nathan menatap kepergian Guntur dengan perasaan cemas. Bagaimanapun juga, Kakek adalah orang terdekat dengannya setelah ayah dan ibunya.


"Mas, belum berangkat?" tanya Lilis.


"Sudah, sudah jam berapa ini. Kamu saja yang berangkat kesiangan. Mentang-mentang kamu pelayan istimewa yang bisa berangkat kapan saja sesuka hati," kata Lilis sambil tersenyum.


"Itulah hebatnya aku."


"Ih, sombong. Nanti digosipin loh," kata Lilis.


"Ya udah. Aku berangkat dulu. Oh ya hampir lupa. Nanti sore aku mau menjenguk Kakek di rumah sakit, jadi aku pulangnya agak malam ya," kata Nathan pamit.


"Kakek sakit apa?"


"Nanti sepulang menjenguk Kakek, aku akan cerita," kata Nathan.


Lilis tersenyum saja, lalu dia mencium tangan sang suami.


"Hati-hati di jalan."


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam.

__ADS_1


Lilis menatap kepergian suaminya dengan senyum. Senyum termanis yang dia miliki. Lilis kembali masuk kekamar saat suaminya sudah tidak terlihat bayangannya.


Siangnya, Sri datang menemui Lilis dan membawakan Lilis beberapa keperluan Wahyu. Mulai dari pampers, susu, dan keperluan bayi lainnya. Sri memang sahabat yang baik, mau membelikan semua itu saat Lilis sedang sibuk.


Sri duduk di samping Lilis, saat Lilis selesai mengganti pakaian Wahyu. Wahyu memang termasuk anak yang tidak terlalu rewel. Sehabis mandi, minum susu, langsung tidur.


"Lis, aku dan Wendi memutuskan untuk menikah," kata Sri malu-malu.


"Sri, bilang mau menikah kok malu. Aku ikut senang mendengarnya, kedua sahabatku akhirnya menikah. Wendi pria yang baik dan kamu gadis yang baik," kata Lilis sambil tersenyum.


"Menurutmu, apa dia bisa melupakan kamu?" tanya Sri.


Pertanyaan yang cukup sulit Lilis jawab. Karena dia bukan Wendi, jadi dia tidak akan bisa menjawab dengan pasti.


"Sri, setelah kalian memutuskan untuk menikah, kenapa pertanyaan itu muncul diantara kalian? Jika ingin kepastian, tanya saja padanya, karena aku tidak akan bisa tahu isi hati orang lain," jawab Lilis.


"Aku takut, jawabannya tidak seperti yang aku harapkan," kata Sri sedih.


"Tapi Sri, kamu harus meyakinkan diri dulu dan kamu harus siap dengan kemungkinan terburuk. Kamu harus siap menerima dia apa adanya. Satu yang pasti, aku tidak ingin ada diantara keraguanmu padanya," kata Lilis.


"Aku yakin padamu, Lis. Tapi aku masih belum yakin sepenuhnya dia sudah melupakanmu. Apa yang harus aku lakukan?" Sri tampak bingung.


"Sri, ketika dia memilihmu, berarti dia sudah jatuh cinta padamu. Jadi, kamu hanya perlu memupuk dan menyirami cinta itu dengan kasih sayang. Hanya itu yang bisa aku sarankan. Karena cinta itu, ada yang mudah terkikis oleh waktu dan keadaan. Cinta itu harus dipupuk dan disirami setiap hari, seperti kita menanam sebuah pohon. Jika tidak kita pupuk dan sirami, pohon itu akan layu. Tetapi jika kita bisa merawat dengan baik, menyiram dan memberinya pupuk terbaik, maka dia akan tumbuh menjadi pohon yang besar, kuat dan kokoh. Akan tetapi jika kita sudah berusaha yang terbaik, tetapi pohon itu tetap layu, mungkin itu sudah takdirnya," kata Lilis meyakinkan Sri.


"Lilis, kamu semakin dewasa sekarang. Aku jadi kagum padamu," kata Sri tersenyum.


"Aku jadi malu, Sri. Apa ucapanku tadi benar adanya? Kenapa aku jadi sok bijak ya? Sri, kamu boleh tidak mendengar ucapanku tadi, karena itu hanya pandangan aku saja. Hanya menurut aku saja," kata Lilis takut kata-katanya tidak sesuai harapan Sri.


"Mungkin ada benarnya juga. Jadi biarpun Wendi belum sepenuhnya mencintaiku, aku bisa berusaha memupuk dan menyirami cinta itu agar semakin tumbuh besar dan kuat. Bukan begitu?" tanya Sri sambil melihat Lilis.


"Cakep, Sri. Semoga semua sesuai harapan kamu ya, Sri," kata Lilis."Rencana menikah di kampung, apa menikah disini saja?"


"Di kampung Sri. Kita masih memiliki keluarga, jadi akan ada acara lamaran dulu di kampung, baru akad nikah."


"Benar juga, aku hampir lupa kalian masih ada orangtua di kampung."


"Kamu menikah disini kan, karena ibu kamu juga disini."


"Tapi, aku mungkin akan mengadakan acara syukuran nanti dikampung. Mengundang para tetangga dan saudara sebagai gantinya. Lalu kapan rencana kalian menikah?"


"Kita sudah sepakat, 2 bulan lagi. Semoga tidak ada halangan," kata Sri sambil menghela nafas.


"Aamiin. Semoga dilancarkan segala urusan teman hamba yang cantik dan baik ini. Aamiin," ucap Lilis ikut berdoa.


"Makasih, Lis."

__ADS_1


Sri memeluk Lilis erat. Dua sahabat masa kecil itu saling menguatkan.


__ADS_2