
Hubungan Guntur dan Sita tidak ada kemajuan sejak pertemuan pertama mereka. Karena Guntur terlalu tidak percaya diri dengan status pendidikannya. Sita, putri keluarga Damian, pengusaha makanan instan yang sukses. Sita memiliki latar belakang pendidikan lulusan luar negeri.
Sampai akhirnya Sita datang ke kantornya untuk menemuinya. Sita ingin mengucapkan terimakasih karena pernah mengantarnya makan di tempat dia sukai waktu SMA. Sebenarnya, Sita ingin pergi ke sana lagi. Akan tetapi, ayahnya tidak mengizinkan jika tidak dengan Guntur. Sayangnya Guntur tidak pernah lagi menemuinya.
Guntur duduk termenung, menatap berkas-berkas yang ada diatas mejanya. Tiba-tiba rasa pusing menyerangnya, kepalanya jadi terasa berat. Saat itu, sebuah ketukan pintu mengagetkannya.
"Masuk," teriak Guntur.
Tampak wajah cantik Sita muncul dari balik pintu dengan senyum khasnya. Manis dan cantik. Mata Guntur tidak berkedip menyaksikan keindahan ciptaanNya. Apalagi Sita tampak anggun dengan balutan pakaian santai berwarna abu-abu.
"Mas, Guntur ...," sapa Sita dengan lembut.
"Oh, Sita ...," gumam Guntur.
"Mas Guntur tidak terganggu 'kan, hari ini aku datang kemari?"
"Tidak ... kedatanganmu sama sekali tidak mengganggu," kata Guntur gagap.
Aku malah senang kamu datang, batin Guntur.
"Apakah ada yang penting?" tanya Guntur.
"Apakah harus ada yang penting dulu, baru bisa bertemu denganmu?" tanya Sita sambil menatap Guntur.
"Bukan begitu, Sita. Kamu boleh saja datang, kalau kamu ada waktu," jawab Guntur tersenyum ramah.
"Iya, kalau waktu, aku pasti selalu ada. Akunya yang takut, kalau mas Guntur sibuk," jawab Sita membalas tatapan Guntur.
"Ngomong-ngomong, kamu kesini bukan hanya pingin ketemu aku saja kan?"
"Begini, mas Guntur. Aku ingin mengucapkan terimakasih, mas Guntur pernah mengatakan dan menemani aku ketempat favorit aku sewaktu SMA. Hmm, yang terpenting, aku ingin menyampaikan sesuatu. Entah apakah mas Guntur sudah tahu atau belum, kalau kita akan dijodohkan oleh Kakek mas Guntur. Bagaimana menurut mas Guntur?"
"Dijodohkan? Mana mungkin, pasti itu salah informasi."
Pengakuan Sita membuat Guntur kaget, sekaligus senang. Jika memang mereka akan dijodohkan, berarti Guntur sangat beruntung. Cintanya tidak akan hanya sekedar impian belaka.
__ADS_1
"Aku minta maaf, karena sebagai wanita seharusnya aku tidak mendatangi pihak pria untuk membicarakan hal ini. Tetapi jawaban mas Guntur sangat penting buat aku. Kalau memang jawaban mas Guntur begitu, aku akan bilang pada ayah untuk tidak meneruskan usaha mereka menjodohkan kita."
"Kenapa?" tanya Guntur kaget dengan putusan Sita.
"Lho, itu tadi mas Guntur yang bilang kalau ini salah informasi. Berarti mas Guntur tidak menerima perjodohan ini. Jadi lebih baik batal sebelum sampai ke telinga banyak orang diluar sana," ucap Sita tegas.
Deg. Hati Guntur tiba-tiba merasa sakit. Bukan maksud dia berniat menolak, akan tetapi kenapa Sita beranggapan seperti itu? Hancur sudah harapannya, untuk bisa memiliki Sita.
"Aku pamit pulang dulu dan akan bicara pada ayah. Terimakasih sudah memberi jawaban yang aku inginkan," kata Sita pelan.
Guntur termenung melihat Sita segera pamit pulang. Ingin rasanya dia memanggilnya untuk menjelaskan semuanya, akan tetapi rasa malu dan rendah diri yang begitu besar membuatnya diam.
Sita keluar dengan wajah kesal. Sita berharap, Guntur akan berlari mengejarnya dan menjelaskan semuanya, akan tetapi harapannya hanya mimpi semata.
Saat berbelok, Sita berpapasan dengan Desta. Kecantikan Sita mampu membuat Desta terpana. Desta dan Sita tidak sengaja bertabrakan karena mereka masing-masing sedang tidak dalam kondisi fokus. Sita hampir saja terjatuh, untunglah Desta dengan cepat meraih tubuh seksi Sita. Mereka bertatapan dan Desta merasa kalau dia pasti sudah jatuh cinta pada Sita.
"Maaf, aku tidak sengaja, kata Sita," kata Sita meminta maaf pada Desta sambil melepaskan pegangan Desta.
"Ah, tidak apa-apa," jawab Desta sambil tersenyum. "Kalau yang nabrak gadis secantik ini, pasti aku mau tabrakan terus sama kamu," ucapnya lirih.
"Boleh kenalan? Namaku Desta," kata Desta penuh percaya diri.
"Sita, saya permisi dulu. Mari," pamit Sita sopan.
Desta menatap kepergian Sita dengan perasaan bahagia. Biarpun disini dia tidak bisa rujuk kembali dengan Lilis, tetapi setidaknya di kota ini, dia harus bisa mendapatkan seorang wanita yang bisa dia nikahi. Dan baginya, Sita adalah pilihan yang cocok untuknya. Dia cantik, kaya dan penuh pesona.
Dia lebih unggul segalanya dibandingkan Lilis ataupun Maria. Sita anak orang kaya, anak pengusaha dan lebih menggoda. Kalau Desta bisa mendapatkan Sita, maka hidupnya akan lebih terjamin. Begitulah yang menjadi harapan Desta saat ini.
Seandainya dia bisa menikah dengan Sita, maka dia tidak perlu lagi menjadi asisten Guntur dan menjadi orang suruhan keluarga Sugara. Dia tidak perlu lagi bersikap manis didepan Guntur dan Kakek Edward. Apalagi sekarang, sikap Nathan dan Kakek sudah mulai berubah terhadapnya.
Akan tetapi, Desta mulai curiga dengan kedatangan Sita menemui Guntur. Desta berusaha mencari tahu ada hubungan apa diantara mereka. Desta akan bertanya pada Guntur tentang kedatangan Sila.
Desta melangkah menuju ruangan Guntur setelah Sila tidak terlihat lagi. Dia mengetuk pintu tiga kali dan terdengar suara Guntur dari dalam.
"Masuk," suara Guntur agak keras.
__ADS_1
Desta perlahan membuka pintu dan perlahan mendekati meja kerja Guntur yang penuh berkas-berkas penting. Desta tersenyum lalu duduk di kursi depan meja Guntur.
"Guntur, apa kamu sedang sibuk?" tanya Desta sambil menatap sahabatnya dengan seksama.
"Seperti yang kamu lihat. Banyak berkas yang harus aku urus," jawab Guntur datar.
"Aku akan membantumu, tetapi aku ingin kamu menjawab beberapa pertanyaanku," kata Desta memberi tawaran.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu tanyakan, kalau aku bisa menjawab, aku pasti akan menjawabnya," kata Guntur sambil menghentikan pekerjaannya.
"Pertanyaannya gampang kok. Ada hubungan apa kamu dengan gadis yang ke kantormu tadi?" tanya Desta penasaran.
"Hanya pertanyaan seperti itu? Gampang memang jawabnya. Aku dan dia akan dijodohkan," jawab Guntur pelan.
Jawaban pelan Guntur mampu membuat Desta menelan ludah karena kaget.
"Dijodohkan? Memang sekarang zaman zaman Siti Nurbaya, pake acara perjodohan segala? Guntur, kamu itu pria dewasa, dan kamu bisa menentukan gadis mana yang kamu cintai. Tidak usah kamu ikuti keinginan Kakek kamu, takutnya kamu tidak bahagia,"kata Desta berusaha membuat Guntur menolak perjodohan dari Kakeknya.
"Aku ... tidak bisa menolak keinginan Kakek. Karena ternyata aku juga mencintai dia," kata Guntur sambil menghela nafas.
"Kamu jatuh cinta pada Sita?"
Jawaban Guntur sanggup membuat Desta kaget. Desta tidak menyangka jika Sita akan bertunangan dengan Guntur. Lebih tidak menyangka lagi, jika Guntur malah jatuh cinta pada Sita. Sungguh kebetulan yang menyedihkan.
"Begitulah. Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali kita bertemu di pesta seminggu yang lalu. Dia memang wanita yang sangat mirip dengan ibu. Dia manis dan keibuan. Lemah lembut, dan agak sedikit memiliki sifat manja, tapi aku sangat menyukai dia yang seperti itu," jawab Guntur sambil mengenang pertemuan pertama mereka.
Mendengar perkataan Guntur yang begitu mengagumi Sita, membuat Desta berpikir lagi untuk mendekati Sita. Tetapi apakah dia sanggup melepaskan Sita seperti dia melepaskan Lilis? Dasar memang nasib lagi apes. Kedua wanita yang dia cintai, harus berakhir dengan dua bersaudara itu.
Jangan kali ini, bagaimanapun juga, Guntur dan Sita belum bertunangan apalagi menikah. Jadi, dia masih memiliki banyak kesempatan untuk merebutnya secara halus. Kalau secara halus tidak bisa, secara paksa juga jadi.
"Sayang sekali, Sita tadi salah paham. Dia mengira aku menolak perjodohan ini. Aku jadi kesal karenanya," ucap Guntur lagi.
Mendengar kelanjutan perkataan Guntur, membuat Desta sedikit bisa tersenyum. Desta kali ini tidak akan menyerah, dia akan berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Cukup Lilis saja yang lepas darinya.
Desta mulai memikirkan cara untuk membuat hubungan Guntur dan Sita berantakan. Apalagi jika mendengar kesalahpahaman diantara mereka, cukup untuk membuat Sita menjauhi Guntur.
__ADS_1