
Nathan pergi menemui Kakek di rumahnya, untuk membahas keputusan Nathan. Keputusan yang diambil Nathan untuk meninggalkan bisnis keluarga Sugara. Walaupun sebenarnya hati Nathan tidak ikhlas meninggalkan Kakek. Satu-satunya keluarga Nathan yang masih tersisa.
Nathan juga tidak menyangka, bahwa akhirnya dia harus ikhlas pergi meninggalkan Kakek dan semua kenangan bersamanya. Kakek duduk dihadapannya dengan wajah sedih melihat Nathan. Ada rasa penyesalan karena telah melakukan tes DNA yang akhirnya malah membuat cucu kesayangannya harus menerima kenyataan yang pahit ini.
"Kakek, aku akan menyerahkan semua bisnis keluarga Sugara pada Kakek, termasuk mobil dan rumah yang sudah ayah siapkan untukku," kata Nathan berusaha tegar.
"Nathan. Kakek menyesali apa yang sudah terjadi. Kakek tidak akan menganggap semua ini pernah ada. Tetaplah berada disisi kakek, dan tetaplah bekerja seperti biasanya," kata Kakek berusaha membujuk Nathan.
"Nathan tidak bisa, Kek. Bagaimana orang-orang akan melihat aku? Aku akan seperti lelucon disana. Lebih baik Nathan menjalani saja takdir hidup Nathan, walau pahit. Nathan akan berusaha melihat hikmah yang mungkin ada dibalik kejadian ini."
"Kakek tidak bisa memaksamu, karena Kakek lihat kamu sudah sangat yakin dengan keputusanmu. Tapi Kakek mohon, jangan lupakan Kakek," kata Kakek sambil batuk-batuk ringan.
"Tentu saja tidak, Kakek. Kakek tetap akan menjadi satu-satunya keluargaku selain istri dan anakku."
"Ambilah mobil dan juga rumah pemberian ayahmu. Semua itu milikmu, terlepas dari kamu anak kandungnya atau bukan," kata Kakek.
"Tidak, Kek. Nathan ingin berdiri sendiri dan lepas dari bayang-bayang keluarga Sugara," kata Nathan sambil tersenyum getir.
"Nathan, jangan buat Kakek menangis. Kenapa kamu begitu ingin lepas sepenuhnya dari keluarga Sugara. Setidaknya biarkan hubungan kita seperti dulu," kata Kakek dengan mata berkaca-kaca.
Bagaimanapun, Nathan adalah orang yang dibesarkannya sejak kecil. Kakek sudah terbiasa dengan keberadaan Nathan. Jika sekarang Nathan benar-benar memutuskan semua hubungan dengan keluarga Sugara, Kakek pasti akan sangat kesepian.
Meskipun sekarang sudah ada Guntur, akan tetapi kehadirannya tidak bisa menggantikan posisi Nathan di hati Kakek Edward.
"Kakek, maafkan Nathan Kek. Tapi Nathan sudah ambil keputusan. Semoga keputusan yang Nathan ambil menjadi keputusan yang tepat," kata Nathan sambil duduk dibawah kaki Kakek Edward.
__ADS_1
"Nathan ...."
"Kakek, maafkan semua kesalahan Nathan selama berada di keluarga Sugara. Nathan sering membuat Kakek marah dan kecewa. Setelah Nathan pergi, tidak akan ada lagi yang akan membuat Kakek marah. Nathan harus pergi sekarang," kata Nathan disambut pelukan Kakek Edward.
Kakek dan Nathan terlarut dalam emosi masing-masing. Ada kesedihan di hati keduanya yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Seperti akan berpisah selamanya.
Nathan melepas pelukan Kakek Lalu dia bergegas pergi. Nathan takut jika dia tidak segera pergi, hatinya tidak akan kuat meninggalkan Kakek.
Nathan memanggil Seno, untuk menjemputnya. Setelah menunggu beberapa menit, Seno datang untuk mengantar Nathan ke restoran. Seno tidak berani bertanya, melihat kondisi bosnya yang tampak sedih.
Setibanya di restoran, Nathan menata hati dan pikirannya agar tetap terlihat tenang. Dia masuk dengan hati sedih. Melihat ke sekelilingnya dengan baik. Tempat ini telah bertahun-tahun menjadi saksi perjuangannya memajukan usaha kurang Sugara. Dia berjalan menuju ruang kerjanya diikuti Seno yang dengan setia juga hendak pergi meninggalkan tempat ini.
"Bos, hari ini bos akan pergi, aku juga akan mengundurkan diri dari pekerjaan ini," kata Seno sambil membantu Nathan membereskan barang-barang miliknya.
"Jangan Seno. Kamu jangan ikut-ikutan mengundurkan diri. Tempat ini butuh orang seperti kamu. Kalaupun Kakek nanti Kakek akan mencari penggantiku, aku harap itu kamu," kata Nathan sambil menghentikan aktivitasnya.
"Kamu harus berjanji padaku, lakukan pekerjaan kamu seperti biasanya sampai Kakek membuat keputusan. Jika kamu mengikuti aku, kamu akan susah, dan jadi pengangguran. Karena aku akan beristirahat dulu sebelum aku memulai usaha baru," kata Nathan sambil menepuk bahu asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Siap, Bos. Tapi aku masih berharap Bos akan kembali ke tempat ini," kata Seno penuh semangat.
"Jangan bermimpi. Aku pergi naik taksi saja, kamu tidak perlu mengantar aku pulang," kata Nathan sambil tersenyum tipis.
"Semoga Bos segera kembali," ucap Seno mengiringi kepergian Nathan.
Nathan melangkah perlahan sambil melihat keberbagai sisi di restoran. Ada rasa kehilangan yang dia rasakan, tetapi rasa egoisnya mengalahkan semua itu. Dia berdiri sambil menunggu taksi yang sudah pesannya. Tidak berapa lama kemudian, taksi yang di pesannya telah datang.
__ADS_1
Nathan pergi menuju ke makam orangtuanya, untuk untuk mengirimkan doa sekaligus meminta maaf dan berterimakasih. Meminta maaf pada ayahnya, karena dirinya tidak bisa lagi meneruskan usaha keluarga Sugara.
"Ayah, Nathan minta maaf, karena Nathan begitu egois tidak bisa meneruskan usaha keluarga Sugara. Terimakasih, sudah memberinya hidup yang nikmat, bergelimang harta dan kemewahan meski aku bukan anak kandungmu. Terimakasih juga telah menyayangiku tanpa batas, memberi semua yang terbaik sebagai seorang ayah."
Ayah tetap yang terbaik, katanya dalam hati.
Lalu dia beralih ke makam ibunya.
"Ibu, maafkan Nathan, telah membuat nama ibu menjadi tercemar. Niat hatiku ingin membersihkan namamu, tetapi aku malah membuat nama ibu makin buru dimata orang-orang. Nathan juga tidak bisa menyembunyikan rasa sesal Nathan, bahwa akhirnya Nathan tahu bahwa Nathan bukan anak ayah Samuel. Apapun kesulitan ibu saat itu, Nathan akan menganggapnya sebagai keterpaksaan ibu. Nathan tidak akan menyalahkan ibu."
Setelah selesai berkata seperti itu, Nathan beranjak pergi sambil membawa beribu tanya yang disimpannya sendiri. Pertanyaan yang akan sulit mencari jawaban, karena yang bisa menjawab hanya ayah dan ibunya yang sudah tiada.
Meski terbersit di hati Nathan untuk mencari ayah kandungnya, akan tetapi mungkin lebih baik jika dia tidak perlu mengetahuinya. Nathan takut bahwa kenyataan lain akan lebih buruk dan lebih pahit dari hari ini.
Nathan pulang dengan hati yang penuh luka yang hanya dia yang bisa merasakannya. Ternyata, Lilis sudah menunggunya di teras rumah sambil duduk dan membaca novel. Lilis tersenyum saat melihat Nathan datang dengan wajah kusut. Lilis pun berdiri dan menyambutnya dengan hangat.
"Assalamualaikum," ucap salam dari Nathan sambil meletakkan barang bawaannya dimeja.
"Wa'alaikum salam," jawab Lilis sambil mencium tangan suaminya.
"Sedang baca apa, kelihatannya serius sekali?" tanya Nathan sambil duduk di samping Lilis dan tersenyum.
"Hanya novel, mas. Oh ya, Lilis sudah menyiapkan makanan kesukaan mas Nathan. Sekarang juga sudah waktunya makan siang, kita makan saja dulu. Mas Nathan pasti sudah lapar bukan? Nanti aku panggil Naina dan ibu, biar kita bisa makan bersama," kata Lilis sambil memegang tangan sang suami.
"Iya, tetapi aku ingin mandi dulu. Badanku rasanya kotor banget," kata Nathan sambil menatap Lilis.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita masuk."
Nathan mengambil barang bawaannya lalu dibawanya kedalam rumah. Lilis mengekor langkah suaminya hingga kedalam rumah.