
Lilis tampak kesakitan saat akan pergi menjemput Naina. Rupanya dia mengalami kram pada betisnya. Dia duduk dengan meluruskan kakinya di atas sofa ruang tamunya. Alamat jemput Naina bakal telat.
Kram betis ini, benar-benar membuat Lilis hampir menghabiskan waktu 15 menit, agar bisa normal kembali.
"Lis, kamu kenapa?" tanya Bu Siti sambil mendekatinya.
"Kram betis, Bu. Mana sudah waktunya harus jemput Naina," jawab Lilis sedih.
"Biar Naina ibu yang jemput ya?" kata Bu Sri.
"Ya, Bu. Maaf ya, Lilis bener-bener nggak bisa jemput Naina," kata Lilis meringis.
"Ibu segera berangkat, takut Naina kelamaan nunggu," kata Bu Siti.
Lilis melihat Bu Siti bergegas keluar untuk menjemput Naina. Sementara Dia masih mencoba memijit bagian kakinya yang sakit. Akan tetapi, Bu Siti kembali tanpa Naina, dan beliau tampak khawatir dan cemas.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam," jawab Lilis.
"Lilis, Naina tidak ada di sekolahnya," kata Bu Siti mengejutkan Lilis.
"Apa, tidak ada disekolah, lalu dia kemana, Bu?" tanya Lilis panik.
"Kata gurunya, tadi dia dijemput seorang laki-laki yang mengaku teman kamu. Gurunya percaya, karena Naina kelihatan tahu dia dan dia juga menunjukan KTP nya," kata Bu Siti.
"Siapa?"
"Desta."
"Desta. Untuk apa dia menjemput Naina? Apakah dia akan membawa Naina pergi?" tanya Lilis bertambah panik.
"Lilis, jangan terlalu panik dan cemas, kamu sedang hamil. Coba kamu hubungi suamimu, supaya dia bisa membantu memikirkan solusinya," kata Bu Siti.
"Ya, Bu."
Lilis segera menghubungi Nathan, untungnya Nathan selalu siap membawa ponsel kemanapun dia pergi.
"Hallo, mas. Bisa pulang sekarang?"
"Bisa," jawab Nathan segera menutup ponselnya.
Lilis menunggu hingga Nathan datang. Lilis menangis dalam pelukan ibunya. Bu Siti pun ikut menangis mengingat bagaimana kondisi Naina saat ini.
"Assalamualaikum," suara salam Nathan memecahkan kesedihan.
"Wa'alaikum salam," jawab Lilis dan Bu Siti bersamaan.
Bu Siti melepaskan pelukannya saat melihat Nathan datang.
"Ada apa, kenapa kalian menangis?" tanya Nathan panik sambil duduk didekat Lilis.
"Naina, Desta membawa Naina," kata Lilis sambil menangis.
"Apa, benarkah? Kurang ajar. Kita harus segera lapor polisi. Dia pasti ingin menculik Naina," kata Nathan.
"Tunggu, Mas. Apakah polisi akan menerima laporan kita? Desta itu ayahnya Naina," kata Lilis.
"Aku lupa. Dia ayah Naina. Ibu, tolong jaga Lilis, biar aku minta bantuan Wendi untuk mencari Desta ke rumahnya," kata Nathan sambil memeluk Lilis.
__ADS_1
"Iya, Nak," jawab Bu Siti.
"Mas, biarkan aku ikut mencari Naina," kata Lilis pelan.
"Istriku sayang. Kamu harus ingat, saat ini kamu sedang hamil. Jaga kondisi perasaan kamu, jangan terlalu banyak pikiran. Serahkan saja semua padaku. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Aku akan menyebarkan orang-orangku untuk mencari Desta," kata Nathan.
"Mas,"
"Sayang, biarpun aku sudah bukan lagi anggota keluarga Sugara, aku masih memiliki banyak anak buahku yang setia. Sekali aku minta mereka bertindak, mereka akan keluar. Sudahlah, Naina akan baik-baik saja. Desta itu ayahnya, dia tidak akan menyakiti Naina," kata Nathan berusaha membuat Lilis tenang.
"Aku percaya pada mas Nathan. Bawalah Naina kembali."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Nathan segera pergi dan menghubungi beberapa orang untuk segera mencari Desta. Lalu dia menghubungi Seno dan Wendi, untuk segera datang ke rumahnya. Setelah Wendi dan Seno datang, mereka bertiga bergegas pergi ke rumah Desta.
Rumah kontrakan Desta tampak sepi. Tidak terlihat ada orang di dalamnya. Mereka turun dari mobil dan mengetuk pintu. Tetapi tidak ada jawaban.
"Sepertinya, tidak ada orang di dalam," kata Seno.
"Apa mungkin, Desta memutuskan kembali ke kampung?" tanya Wendi.
"Mungkin saja kamu benar, Wen. Seno tolong hubungi Rudi untuk mengatur orang mengawasi bandara dan pelabuhan. Kita harus cepat sebelum Desta meninggalkan kota ini," perintah Nathan.
"Siap, Bos."
Seno segera menghubungi Rudi dan meminta Rudi melakukan apa yang diminta Nathan. Seno bergegas menemui Nathan setelah menyelesaikan tugasnya.
"Bos, semua sudah dilaksanakan. Lalu kita akan kemana?" tanya Seno.
Kita akan mencari kemungkinan kemana Desta membawa Naina pergi. Kita susuri sepanjang jalan dekat sekolah Naina. Kita berpencar saja. Aku dan Wendi dan Seno, kamu sendiri ya," kata Nathan.
Mereka bertiga berpisah arah. Nathan dan Wendi menyusuri jalan Utara sedangkan Seno ke arah selatan.
Disaat mereka sibuk mencari Naina, Lilis masih merasakan sakitnya sehabis terkena kram. Dia juga tidak berhenti menangis. Dia ditemani ibunya, yang sambil memijit betis Lilis yang sakit.
"Lis, jangan menangis terus. Berdoa saja supaya Naina segera ketemu," kata Bu Siti pelan.
"Ibu, Lilis sangat khawatir. Naina pasti sangat ketakutan. Lilis tidak dapat membayangkan, bagaimana kondisi Naina saat ini," kata Lilis sedih.
"Mari kita berdoa supaya Naina, baik-baik saja."
Lilis dan Bu Siti berdiam diri sejenak dan berdoa didalam hati, agar Naina segera ketemu.
Ya Allah, lindungilah di manapun Naina berada. Segera pertemukan kami dengan Naina. Aamiin, doa Lilis dalam hati.
"Ibu, dimana Ponsel Lilis?"
"Mungkin tertinggal di ruang tamu. Biar ibu ambilkan," kata Bu Siti.
Bu Siti bergegas mencari ponsel Lilis di ruang tamu. Setelah ponsel Lilis ketemu, Bu Siti segera memberikannya pada Lilis.
"Terima kasih, Bu. Lilis mau melihat apakah Desta menghubunginya atau tidak. Lilis terkejut saat mendapati panggilan masuk dari Desta, sebanyak 5 kali. Dan ada pesan satu masuk dari Desta.
Lilis, Naina ada bersamaku. Jika ingin Naina kembali, segera hubungi aku.
Lilis tertegun. Pesan ini sudah dari satu jam yang lalu. Tiba-tiba airmatanya kembali menetes.
__ADS_1
Naina, maafkan ibu.
"Lilis, ada apa?" tanya Bu Siti cemas melihat Lilis kembali menangis.
"Mas Desta sudah menghubungi Lilis, Bu. sejak satu jam yang lalu. Tapi ponsel Lilis tertinggal di luar tadi," kata Lilis.
"Coba kamu hubungi dia. Apa maunya dia membawa Naina?" kat bu Siti.
Lilis segera menghubungi Desta. Hanya hitungan detik, Desta sudah menjawab panggilannya.
"Hallo, Lilis. Akhirnya kamu menghubungiku juga."
"Apa mau kamu sebenarnya membawa Naina? Aku yakin bukan karena kamu ingin Naina, bukan?"
"Kamu benar, mantan istriku. Aku hanya butuh ..."
"Uang ...?"
"Ha-ha-ha, hebat. Mantan istriku memang hebat, pinter sekali."
"Berapa?"
"Hanya 20 juta. Aku harus segera kembali ke kampung. Setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi."
"Baik. Tapi aku ingin pastikan bahwa Naina baik-baik saja."
"Ibu ... Naina takut."
"Naina, Naina. Jangan takut, ibu akan segera membawamu pulang."
Ucap Lilis dengan suara bergetar.
"Sudah cukup?"
"Mas Desta, jangan sakiti Naina. Dia anakmu juga, darah dagingnya sendiri, mas."
"Aku tahu. Tapi aku tidak bisa jamin dia aman jika kamu tidak segera memberi aku uang tunai sekarang juga."
"Baik, aku akan segera kirimkan uangnya. Di mana harus aku kirimkan?"
"Aku akan kirimkan alamatnya padamu. Ingat jangan lapor polisi jika tidak ingin Naina terluka.
Tut Tut Tut.
"Mas, jangan ...."
Desta menutup panggilan Lilis. Lilis bertambah sedih, dia menangis di pelukan ibunya untuk menguatkan diri.
"Apa tidak sebaiknya beritahu suamimu dulu. Ibu takut terjadi sesuatu padamu dan Naina."
"Lilis takut jika terlambat, Mas Desta akan menyakiti Naina, Bu. Aku akan pergi sendiri terlebih dulu. Jika nanti mas Nathan pulang katakan saja Lilis menjemput Naina."
"Lalu dimana kamu akan menyerahkan uangnya?" tanya Bu Siti cemas.
"Sebentar," Lilis membuka pesan dari Desta. "Taman kota."
"Lis, beritahu suamimu."
"Baiklah, Bu. Aku akan mengirimkan pesan pada mas Nathan sekarang."
__ADS_1
Lilis mengirimkan pesan pada Nathan, bahwa dia akan menemui Desta. Setelah itu, Lilis mengambil uang yang ada didalam lemarinya. Untung Lilis selalu menyimpan uang tunai di rumah untuk keperluan mendadak. Dia menghitung 20 juta dan di masukan ya kedalam amplop besar.
Naina, bersabarlah. Ibu akan membawamu kembali