
Nathan panik, setelah menerima pesan dari Lilis. Dia berusaha menghubungi Lilis untuk mencegahnya mengikuti permintaan Desta. Akan tetapi, Lilis tidak menjawab panggilannya. Nathan pun semakin panik.
Akhirnya, dia memutuskan untuk pulang dan berharap Lilis belum pergi. Dengan sabar Wendi menemani Nathan kembali ke rumah. Sampai di rumah, Nathan langsung berteriak memanggil istrinya dengan keras.
"Lilis, Lilis."
"Nathan, ada apa?" tanya Bu Siti saat melihat Nathan pulang.
"Mana, Lilis, mana dia," tanya Nathan panik dan merasa hampir gila.
"Dia sudah pergi dari setengah jam lalu," jawab Bu Siti ikut cemas.
"Kenapa dia melakukan ini, kenapa? Dia sengaja ingin membuat aku gila karena mengkhawatirkannya," kata Nathan semakin panik.
"Nathan, tenanglah. Lilis juga pasti dalam keadaan tidak sadar karena Naina. Kamu jangan ikut-ikutan tidak sadar, ayolah pikirkan cara untuk membuat anak dan istrimu kembali dengan selamat," kata Wendi berusaha menenangkan hati Nathan.
Nathan terduduk lesu, pikirannya kacau. Wajahnya tampak pucat.
Akan tetapi benar kata Wendi, aku harus menjadi pelindung untuk anak dan istriku. Aku tidak boleh panik, batin Nathan.
"Wendi, kamu pergilah ke kantor polisi. Aku akan menyusul Lilis sendirian saja. Aku takut ini akan terlambat bagiku. Aku harus pergi sekarang. Nanti aku akan menghubungimu setiap 15 menit, jadi selalu aktifkan ponselmu," kata Nathan.
"Baik, aku ke kantor polisi sekarang. Kamu hati-hati," kata Wendi lalu pergi dengan mobilnya.
"Ibu, aku pergi menyusul Lilis. Doakan aku bisa membawa kembali Lilis dan Naina dengan selamat tanpa kurang suatu apapun," punya Nathan.
"Tentu, nak. Ibu akan selalu mendoakan kalian selamat kembali sampai di rumah," kata Bu Siti.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Nathan menggunakan sepeda motornya untuk menuju ke taman tempat Lilis mengantarkan uang. Dengan perasaan cemas, Nathan terus bergumam dan menyebut Lilis, istrinya. Matanya merah menampakan rasa marah yang teramat dalam. Dia tidak akan bisa memaafkan Desta, jika sampai dia menyakiti Lilis ataupun menyakiti Naina.
Sampailah dia di taman kota, akan tetapi disana tampak sepi. Nathan berusaha mencari kesana kemari, namun tidak ada terlihat baik Desta, Lilis maupun Naina di tempat itu. Nathan semakin panik. Dia berteriak memanggil Lilis dan Naina. Tidak ada jawaban, hanya beberapa orang yang terlihat heran melihat Nathan seperti orang gila.
Melihat kondisi Nathan yang tampak tidak karuan, datanglah seorang ibu-ibu dengan lembut dia berbicara pada Nathan.
"Apakah kamu mencari seorang wanita yang sedang hamil?" tanya ibu-ibu itu pelan
__ADS_1
"Benar, itu istri saya. Apakah ibu melihatnya?" kata Nathan dengan wajah penuh harapan.
"Tapi, tadi suaminya membawanya pergi," jawab ibu itu kaget.
"Bukan. Dia bukan suaminya, dia mantan suaminya. Sekarang, sayalah suaminya."
"Oh kalau begitu ibu minta maaf. Saya tidak tahu, saya pikir mereka satu keluarga yang hendak jalan-jalan."
"Apa ibu tahu kemana orang itu membawa anak dan istri saya pergi?" tanya Nathan panik.
"Ibu tidak tahu. Ibu hanya mendengar, pria itu bilang akan segera memesan tiket pesawat bertiga," jawab ibu-ibu itu.
"Apa, tiket pesawat bertiga?" Kata Nathan semakin panik.
"Benar, selebihnya ibu tidak tahu apa-apa."
"Terima kasih," kata Nathan pada ibu itu.
Nathan menahan amarah dihatinya karena Desta berniat membawa Lilis dan Naina pergi. Pergi kemana? Nathan segera menghubungi Seno dan meminta dia mencari tahu dari orang-orang yang sudah di tempatkan di beberapa bandara. Nathan sekalian menjelaskan bahwa ada kemungkinan Desta akan membawa Lilis dan Naina pulang kampung.
Nathan juga menghubungi Wendi untuk memberitahukan tentang hal yang sama. Terutama untuk menjelaskan keberadaan Lilis dan Naina ditangan Wendi yang ada kemungkinan berada di bandara.
"Bagaimana, apa ada yang mencurigakan?" tanya Nathan.
"Tidak ada, Bos. Apa mungkin dia mencari bandara yang agak jauhan?" tanya Rey pada Nathan.
"Entahlah, aku pikir dia akan menuju kesini. Karena ini bandara yang terdekat. Kau masih harus waspada, mungkin dia sudah menyadari jika kita mengawasinya, jadi dia sangat berhati-hati," kata Nathan berusaha tetap tenang.
"Kalau begitu, saya akan kembali mengawasi tempat ini. Mungkin nanti dia baru datang. Permisi Bos."
Rey bergegas menjalankan tugasnya kembali untuk mengawasi jika sewaktu-waktu Desta datang ke bandara. Foto Desta dan Lilis serta Naina sudah disebar ke semua anak buah Nathan. Tinggal Desta masuk jebakan.
"Bos, apa mungkin mereka bukan mau pergi naik pesawat tapi naik kapal laut. Mereka akan lebih mudah karena sulit untuk mengawasi satu persatu orang yang ada di dalam mobil," kata Seno.
"Aku hampir lupa. Bukankah dia bawa mobil, kalau kita tahu berapa nomor mobilnya, pasti lebih mudah untuk bisa menemukannya," kata Nathan sambil berpikir keras.
"Bukankah dia tidak memiliki mobil? Bisa jadi dia menyewa mobil atau pinjam dari seseorang?" tanya Seno.
"Benar, Dia tidak punya mobil. Tunggu, Guntur. Mungkin saja dia pinjam mobil Guntur. Aku akan menghubungi Guntur dan menanyakannya. Apakah Desta meminjam mobil dari Guntur atau dari rental mobil," kata Nathan sambil tersenyum.
__ADS_1
Ada secercah harapan yang muncul di hatinya. Nathan segera menghubungi Guntur dan hanya selang beberapa detik, langsung dijawab oleh Guntur.
"Hallo, Nathan. Apa kabar?" suara Guntur terdengar senang.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."
"Katakanlah, apa itu?"
"Apakah Desta saat ini memakai mobilmu?"
"Ya, katanya dia ingin menarik perhatian seorang wanita."
"Mobil yang mana?"
"Mobil kamu."
"Oh, terima kasih."
"Tunggu, ada masalah apa? Apa dia berbuat sesuatu pada kalian?"
"Dia membawa pergi anak dan istriku. Aku harap kamu tidak terlibat. Karena jika sampai aku tahu kamu terlibat, aku tidak peduli kamu keturunan Sugara, aku akan menjebloskan kamu ke penjara."
"Nathan, aku tidak tahu apa-apa tentang masalah ini. Aku akan ikut bersama mencarinya. Kamu sekarang ada dimana?"
"Bandara xx."
"Oke, aku kesana sekarang."
Tut Tut Tut.
Guntur menutup panggilan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Nathan. Nathan menghela nafas berat.
"Kurang ajar, kamu Desta. Kamu membawa anak dan istriku dengan menggunakan mobilku," gumam Nathan sambil mengepalkan tangannya penuh rasa marah.
"Seno, kamu masih ingat nomor mobilku bukan? Segera beritahu semuanya, tentang nomor mobil itu. Jika dijalan atau di tempat manapun, ada yang melihat nomor mobil itu, suruh segera menghubungi aku atau kamu," perintah Nathan.
"Siap, Bos. Perintah segera dilaksanakan," jawab Seno semangat.
Sambil menunggu Seno menghubungi anak buahnya, Nathan terus melihat dan mengamati keadaan sekitar. Siapa tahu tiba-tiba Desta dan Lilis muncul di bandara ini. Akan tetapi hingga beberapa waktu, Desta tidak juga muncul.
__ADS_1