
Lilis mengajukan gugatan cerai di pengadilan agama di daerahnya. Untuk mempermudah perceraiannya, Lilis sudah menyewa pengacara, yang akan mengurusnya karena Lilis harus kembali meneruskan usahanya di kota.
Semua hutangnya pada Wendi, mulai dari biaya melahirkan sampai hutang-hutang setelahnya, telah Lilis lunasi. Lilis merasa lega, dia sudah terlepas dari hutang yang membuat dirinya sulit tidur. Semua hutang di warung sudah Lilis cicil bersama dengan uang yang dia kirimkan pada ibunya setiap bulan.
Kembali ke kota bersama anak dan ibunya, adalah semangat terbesar, yang membuat Lilis semakin yakin untuk berjuang. Meski mereka kini tinggal di rumah yang masih terbilang kecil. Sebuah perumahan sederhana namun bersih dan rapi.
Lilis kembali membuka warung, dan para pelanggan yang sudah lama menunggu, kini berdatangan untuk mengantre makanan. Setelah semua beres, Lilis beristirahat sebentar untuk melepaskan lelah. Karena nanti pasti akan datang lagi, pelanggan yang lain.
"Mbak Lilis, ada yang mencari Mbak Lilis," kata Mabuk Surti.
"Siapa? Kalau mas Galah, bilang saja aku capek," kata Lilis sambil menghela nafas.
"Nggak, Mbak. Bukan dia. Aku tanya tadi katanya mau bicara bisnis."
"Bisnis? Benarkah, ada orang yang mau berbisnis dengan orang sepertiku?"
Lilis tertawa kecil, merasa tidak percaya diri. Tapi, siapa tahu aku memang pantas.
"Mbak, semangat. Tuh, orangnya ada di pojok."
Mbak Surti memberi semangat pada Lilis. Lilis jadi bersemangat, apalagi mungkin saja bisnis ini menjadi awal baginya untuk lebih maju lagi.
Lilis berjalan mendekati orang yang dimaksud Mbak Surti. Sesaat Lilis tertegun. Memang, dia masih terlihat muda dan bisnis apa yang bakal ditawarkan. Penasaran juga.
"Mbak Lilis? perkenalkan, nama saya Seno."
Lilis menyambut uluran tangan Seno.
"Lilis. Mbak Surti bilang, Mas Seno ingin membicarakan bisnis dengan saya, apa benar demikian?" tanya Lilis to the point.
"Benar sekali, Mbak. Begini, kami ada tawaran untuk Mbak Lilis."
"Tawaran, tawaran apa?"
"Kami sedang membutuhkan seorang koki masakan daerah Jawa untuk restoran baru kami. Dan kami sangat tertarik dengan masakan Mbak Lilis."
"Maksud Mas Seno, saya bekerja di restoran kalian?"
"Benar. Kami sangat berharap Mbak Lilis menerima tawaran kami. Masalah gaji, bisa dibicarakan setelah Mbak Lilis setuju."
"Maaf, Mas Seno. Saya tidak tertarik untuk bekerja sebagai koki. Saya lebih senang dengan usaha saya seperti sekarang ini. Biarpun hanya warung makan sederhana, tapi usaha ini milik saya sendiri."
__ADS_1
"Tolong pikirkan baik-baik, sebelum Mbak Lilis membuat keputusan."
"Pergilah sebelum saya mengusir anda, tuan Seno," ucap Lilis kesal.
Lilis kesal karena ternyata bukan kerjasama seperti yang dia bayangkan, melainkan menginginkannya menjadi seorang koki. Lilis menatap tajam Seno yang kemudian pergi dengan tergesa-gesa. Menurutnya Lilis cukup menakutkan. Lilis tidak peduli dengan pandangan Seno.
Seno berjalan menuju ke mobilnya. Dia bergegas melapor pada atasannya. Seorang pria berwajah tampan dan berbadan atletis sedang menunggunya. Tampak raut wajahnya dingin dan tidak tampak ada bekas senyuman diwajahnya. Mungkin jika dia tersenyum, akan terlihat lebih tampan lagi. Dia sedang memainkan pulpen yang ada ditangannya.
Namanya Nathan Sugara. Pemilik restoran Malai, yang sudah memiliki cabang di berbagai kota. Restoran mewah untuk orang-orang kelas atas. Kali ini dia memiliki program baru, untuk membuat restoran dengan masakan khas asli Indonesia. Di kota lain, Nathan sudah mulai menjalankan programnya dan sukses besar. Dikota B ini, dia juga sudah mendirikan sebuah restoran khusus masakan khas Padang dan gudeg dari Jogja.
Nathan tertarik pada masakan Lilis, ketika Nathan mendengar cerita salah satu pelayan di restorannya. Bahwa ada satu masakan khas Jawa yang dijual di kota ini yang rasanya enak sekali. Namanya Nasi Gandul. Mereka yang berasal dari Jawa, terutama Jawa Tengah, pasti tahu masakan ini berasal dari mana.
Nathan pernah mencoba satu kali, dan itu membuat dia ketagihan ingin memakannya lagi. Tidak hanya itu, masakan yang lain, juga rasanya pas di lidahnya. Mungkin suatu saat jika Nathan ingin menikah, dia akan mencari wanita yang bisa memasak seperti Bu Lilis. Atau, anak Bu Lilis, mungkin bisa mewarisi resep memasak ibunya. Haruskah dia menikah dengan anaknya Bu Lilis?
Nathan tersenyum membayangkan dia akan menikahi wanita yang pandai memasak. Hal itu membuat Seno bingung. Seumur-umur, Bosnya tidak pernah terlihat tersenyum. Setiap hari, wajahnya dingin bagai kutub utara.
"Bos, dia menolak tawaran kita Bos," lapor Seno sambil menghela nafas.
Senyum Nathan menghilang dari wajahnya. Yang terlihat kini wajah kecewa dan kesal.
"Menolak, apa kamu sudah bilang bahwa dia akan di gaji tinggi jika bersedia menjadi koki."
"Besok, biar aku sendiri yang bernegosiasi dengannya."
"Tapi bos. Tadi dia mengusirku."
"Tenang saja, aku punya rencana lain."
Nathan mencari rencana untuk bisa mendekati Lilis agar bisa membuatnya bersedia bekerja padanya. Dengan begitu setiap saat, dia bisa merasakan masakan Bu Lilis.
***
Esoknya , ketika sudah saatnya makan siang, Nathan menuju warung Lilis. Disana, dia bergabung dengan pelanggan yang lain. Dia memakai pakaian santai sehingga tidak terlihat dia sebagai seorang Bos. Kebetulan, Lilis yang melayani Nathan.
Sistem makan di warung Lilis merupakan hal yang sudah diperhitungkan Lilis agar dengan pelayan yang sedikit, masih bisa berjalan.
Di setiap meja pelanggan, sudah ada sebuah buku catatan tempat pelanggan mencatat makanan yang dipesan. Disitu juga ada berbagai macam menu masakan yang bisa dipilih.
Setiap pelanggan harus menyerahkan catatan pesanan dan akan antri sesuai pengumpulan catatan. Catatan pesanan Nathan ada ditangan Lilis. Lilis segera mengantar pesanan Nathan. Nathan mengira Lilis sebagai salah satu pelayan di warung Lilis.
"Mbak, bisa mengganggu sebentar?"
__ADS_1
"Ada apa?"
"Silahkan duduk sebentar. Saya hanya ingin bertanya, apakah pemilik warung ini memiliki seorang putri?"
Nathan menatap lembut Lilis. Wajah yang terlihat familiar dan membuat hati Nathan tiba-tiba berdebar-debar. Apakah ini cinta pada pandangan pertama?
"Bener sekali mas, putrinya sangat cantik."
"Apakah putrinya sudah memiliki kekasih?"
Lilis terkejut mendengar pertanyaan pria itu. Ternyata dia tidak mengenal dirinya sebagai pemilik warung, apalagi tahu jika putrinya baru berumur 2 tahun. Tapi Lilis sepertinya pernah melihat pria ini, tapi kapan dan dimana, Lilis sudah lupa. Setelah cukup lama mengingat, Lilis akhirnya ingat bahwa, pria muda itu adalah Pria yang pernah membantunya dua tahun lalu ketika Lilis bertemu Madam Susi.
"Mbak, kok malah diam. Kalau sudah punya kekasih juga tidak apa-apa."
"Mas masih ingat saya?"
"Siapa?"
"Di pasar modern dua tahun lalu. Anda pernah menyelamatkan saya, saat anak buah Madam Susi akan membawa saya pergi."
Lilis tersenyum manis pada Nathan yang membuat hati Nathan bergetar. Jantungnya berdetak kencang. Nathan galau, dia kesini ingin merayu putri pemilik warung. Kenapa malah terjebak dengan pelayannya? Sepertinya dia ingat kalau wanita didepannya ini, wanita yang pernah ditolongnya dua tahun lalu.
"Oh, aku ingat. Mbak yang dulu tidak mengucapkan terimakasih. Malah langsung pergi setelah mendengar pengumuman dari kantor pasar, kan."
"Aduh, maaf mas. Waktu itu aku belum sempat mengucap terimakasih. Waktu itu dompetku hilang dan akhirnya ketemu. Kalau begitu, hari ini saya akan mengucapkan terimakasih secara resmi."
"Tidak, perlu. Aku hanya bercanda saja. Saya menolong dengan Ikhlas."
"Terimakasih, atas bantuan mas, dulu," ucap Lilis sambil menunduk seolah memberi hormat pada Nathan.
Nathan menggelengkan kepalanya, merasa apa yang dilakukan Lilis adalah hal yang lucu. Diapun tersenyum.
"Silahkan. Mas boleh meminta satu permintaan sebagai rasa terimakasih saya. Mungkin makan gratis seminggu?"
"Satu permintaan? Kalau begitu, aku ingin berteman denganmu."
"Berteman? Tidak masalah. Saya Lilis."
"Nathan. Berarti sekarang kita teman."
Bersambung
__ADS_1