Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 97. Pernikahan Guntur


__ADS_3

Kedatangan Nathan, membawa hal baik dalam kehidupan Kakek. Kakek mulai berangsur-angsur sembuh dan sudah bisa berjalan sendiri. Tentu saja kabar itu menjadi hal yang sangat membahagiakan untuk Lilis dan Nathan.


Bahagia, meski didalam hati, ada sedikit rasa kekhawatiran yang tercipta. Akan tetapi Lilis tidak ingin berpikir buruk dulu sebelum terjadi.


Kabar baik datang juga dari Guntur dan Sita yang akan segera menikah. Persiapan pernikahan telah selesai dilakukan. Pihak Guntur memang tidak banyak persiapan, karena hampir semua persiapan dilakukan oleh pihak perempuan.


Hari pernikahan telah tiba. Nathan mengajak Lilis dan anak-anaknya untuk ikut ke sana sebagai keluarga pihak laki-laki. Karena Lilis sedang hamil dan tidak mungkin menggendong Wahyu, maka Nathan yang berinisiatif menjaga Wahyu selama di pesta.


Lilis bangga karena Nathan tidak malu menggendong Wahyu sambil menyapa beberapa tamu yang di kenalnya. Nathan juga tanpa malu mengenalkan Lilis kepada mereka.


Akan tetapi apa yang dilakukan Nathan membuat Kakek tidak senang. Kakek merasa malu karena Nathan menunjukan bahwa dia laki-laki yang penurut pada istrinya. Kakek juga malu memperkenalkan Lilis sebagai menantunya.


Bukannya Lilis tidak tahu, jika sang Kakek tidak suka dengannya. Akan tetapi Lilis akan berusaha membuat Kakek menerima dirinya apa adanya. Karena Lilis sudah merasa capek, Nathan dan Lilis segera berpamitan untuk pulang. Meskipun Kakek meminta Nathan untuk lebih lama tinggal karena Kakek ingin mengenalkannya pada teman-teman bisnis yang baru, Nathan lebih memilih mengantar Lilis pulang.


"Mas, kembali saja kesana, Lilis tidak apa-apa. Lilis dan anak-anak bisa pulang naik taksi," kata Lilis setelah keluar dari gedung pernikahan.


"Lilis, aku tidak akan tenang jika membiarkan kalian pulang tanpa aku," kata Nathan.


Lilis tersenyum melihat Nathan begitu mengkhawatirkan keluarganya. Nathan ingin memastikan kondisi seluruh keluarganya aman. Terutama kondisi kehamilan Lilis.


Selama perjalanan pulang, Naina dan Wahyu langsung tertidur karena lelah. Nathan ingin segera sampai di rumah supaya Lilis tidak kecapekan memangku Wahyu yang sudah tertidur.


***


"Cepat sekali pulangnya, Lis. Apa acaranya sudah selesai?" tanya Bu Siti saat melihat Lilis sudah istirahat.


"Belum selesai, Bu. Tapi, Lilis sudah tidak kuat lagi di sana, lelah rasanya," jawab Lilis


"Mungkin karena kamu sedang hamil jadi cepat merasa lelah."


"Bisa jadi, memang akhir-akhir ini aku gampang lelah," kata Lilis.


"Lis, tadi Sri datang ingin bertemu kamu. Sepertinya dia ada kabar gembira untukmu."


"Benarkah, kabar apa ya? Aku jadi ingin segera bertemu dia."


"Nanti sore dia mau datang lagi," jawab Bu Siti.


Lilis sangat bahagia ketika mengetahui, Sri akan memberinya kabar gembira. Walaupun Lilis penasaran, dia tetap harus bersabar menunggu sampai Sri kembali datang menemuinya.


Sambil menunggu kedatangan Sri, Lilis beristirahat bersama Naina dan Wahyu di kamarnya. Sementara Nathan sedang sedang berselancar di internet untuk mencari terobosan baru mengembangkan usaha keluarganya.


Lilis rebahan sambil memperhatikan suaminya. Betapa beruntungnya dia memiliki Nathan. Memiliki pria yang begitu mencintainya.


Lilis dan Nathan memiliki latar belakang dan dunia yang berbeda. Akan tetapi, Nathan ingin mencoba menunjukan bahwa semua itu bukan masalah. Ada beberapa hal yang memang harus dilakukan untuk bisa mencapai apa yang diharapkan.


Tidak cukup jika hanya saling mencintai. Mereka juga harus saling pengertian, saling jujur dan setia, saling percaya, memahami tanggungjawab masing-masing dan saling menjaga perasaan.

__ADS_1


Tanpa semua itu, hubungan pernikahan mereka tidak akan bisa damai dan tenang. Karena itu harus ada usaha dari kedua belah pihak.


Dan Lilis selalu kagum pada Nathan yang selalu bisa membuat Lilis tidak bisa jauh darinya. Dalam kekagumannya, Lilispun tertidur.


"Sayang, Lilis," panggil Nathan sambil mencium pipi Lilis.


Lilis menggeliat pelan dan membuka matanya perlahan-lahan lalu tersenyum karena mendapati suaminya sedang memperhatikannya.


"Ada apa, Mas?"


"Sri datang. Sebenarnya, dia tidak ingin aku membangunkanmu, tapi aku yakin kamu pasti ingin sekali bertemu dia. Jadi, terpaksa aku harus mengganggu tidurmu," kata Nathan sambil tersenyum.


"Iya, aku ingin sekali bertemu dia. Aku ingin mendengar kabar dia sekarang."


"Cuci mukamu dulu biar air liurmu tidak kelihatan," goda Nathan.


"Benarkah, tadi aku ngiler yah?" tanya Lilis sambil mengusap pojok bibirnya.


"Biar ngiler tapi masih tetap cantik kok," ucap Nathan tersenyum lebar.


Lilis tahu suaminya sedang menggodanya, Lilis bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka. Beberapa menit saja, Lilis sudah keluar dari kamar mandi.


"Kamu temui saja mereka, aku disini jaga Naina dan Wahyu," kata Nathan.


"Makasih, Mas," ucap Lilis sambil mencium pipi Nathan dan langsung melangkah pergi.


Lilis tidak menghiraukan teriakan Nathan. Pastinya dia mau minta lebih jika dibiarkan. Sampai di ruang tamu, Lilis langsung memeluk Sri.


"Sri ... apa kabar?" Lilis terharu dalam pelukan Sri.


"Baik-baik saja, Lis. Aku senang sekali saat mendengar kamu balik ke sini. Akhirnya kita bersama-sama di kota ini," kata Sri sambil melepas pelukannya dan tersenyum.


"Sayang, aku pulang aja ya. Lagian disini aku juga nggak terlalu penting kan?" kata Wendi merasa tidak di perhatikan keberadaannya.


"Mas, jangan pulang, tunggu aja diluar kalau kamu nggak enak hati," kata Sri.


"Kenapa diluar, ikut jaga Wahyu saja di kamar bersama Mas Nathan," kata Lilis sambil tersenyum.


"Ide bagus itu, mas. Sana, ke kamar Lilis. Nanti kalau sudah selesai ngobrol bareng Lilis, aku panggil deh untuk pulang," kata Sri sambil mendorong pelan punggung suaminya.


Setelah Wendi hilang di balik pintu kamar Lilis, Lilis dan Sri kembali melanjutkan obrolannya yang tertunda.


"Sri, aku dengar kamu ada kabar gembira apa?" tanya Lilis penasaran.


"Aku jadi malu, Lis. Kasih tahu nggak ya?" tanya Sri pada dirinya sendiri.


"Ya harus dong. Masak harus pake rahasia-rahasiaan segala. Nggak asyik tahu?" kata Lilis cemberut.

__ADS_1


"Oke, aku hamil," ucap Seri pelan.


"Apa ...."


"Aku hamil, Lis udah 4 Minggu," kata Sri lebih keras.


"Kamu hamil? Kabar bagus itu, setelah malam pertama yang gagal, akhirnya bisa hamil juga," kata Lilis sambil tertawa.


"Ststst, jangan keras-keras, nanti ada yang dengar. Malu kan aku," kat Sri malu.


"Yang mana, yang kamu hamil atau gagalnya malam pertama?" tanya Lilis menggoda Sri.


"Yang kedua, Lis. Kalau hamil itu nggak malu-maluin, tapi kalau gagal malam pertama, bisa jadi ejekan orang," kata Sri sambil menepuk bahu Lilis.


"Auw, sakit," teriak Lilis.


"Ouh, maaf Lis," kata Sri panik.


"Becanda, Sri. Sensitif amat setelah hamil," ucap Lilis.


"Lis, aku lihat perut kamu agak gemukan deh, apa kamu mau gemuk kali ya?" tanya Sri.


"Bukan Sri, aku juga lagi hamil," jawab Lilis tersenyum.


"Oh, benarkah? Jadi kita sama-sama, barengan hamil?" kata Sri senang.


"Iya."


"Lis, gimana kalau anak kita nanti lahir kita jodohkan saja. Tentu saja kalau laki dan perempuan," kata Sri.


"Kayaknya, aku nggak bisa Sri."


"Kenapa, apa karena aku miskin?" tanya agak kesal.


"Bukan. Aku ingin anak-anakku nanti bisa bebas memilih orang yang di cintai. Aku tidak ingin terlalu memaksakan jodoh untuk mereka," jawab Lilis.


"Semoga saja nanti, kita bisa menjadi besan suatu saat nanti," kata Sri.


"Semoga anak kita ada yang saling mencintai, gitu boleh kan doanya," kata Lilis.


"Boleh-boleh."


Kedua sahabat itu saling tersenyum karena keduanya memiliki kabar yang baik. Harapan menjadi sebuah keluarga saat anak-anak mereka besar nanti.


yuk mampir ke karya temen aku dengan judul dibawah ini


__ADS_1


__ADS_2