
Nathan menikmati hari-hari sebagai pria biasa dengan membantu Lilis ke pasar. Berbelanja dan menawar, kini sudah mulai menjadi hal yang biasa bagi Nathan.
Kali ini, dia ingin mencari hal baru. Ketika restoran 'Muney' membutuhkan karyawan baru, Nathan berpikir untuk melamar pekerjaan disana. Dia berusaha mengunggapkan keinginannya pada Lilis dan meminta persetujuannya.
"Sayang, aku ingin melamar pekerjaan di restoran 'Muney' milikmu," kata Nathan mengejutkan Lilis.
"Mas, bagaimana mungkin kamu melamar sebagai pelayan? Jika kamu mau, kamu bisa menjadi Bosnya di sana," tanya Lilis kaget.
"Tidak. Aku ingin bekerja biasa saja. Wendi dan Sri sudah bekerja sangat keras untuk bisa membuat restoran 'Muney' berjalan dengan baik. Aku tidak ingin merusak semuanya."
"Kalau begitu, terserah mas Nathan saja. Tetapi apa Mas Nathan bisa mengerjakan pekerjaan itu?" tanya Lilis lirih.
"Bisa. Aku pasti bisa. Sekalian aku bisa mengawasi perkembangan restoran."
Lilis tersenyum getir, mengetahui suaminya, bertekad begitu kuat menjadi pria biasa baginya. Mungkin itu lebih baik, daripada suaminya terpuruk dalam kesedihan.
Setelah mendapat izin dari Lilis, Nathan mulai bekerja sebagai pelayan biasa di restoran 'Muney'. Nathan berusaha menikmati proses perubahan pada hidupnya, dan berusaha menerima dengan ikhlas.
Wendi dan Sri merasa sungkan atas kehadiran Nathan di restoran, apalagi Nathan malah memilih bekerja sebagai pelayan. Saat jam istirahat, Wendi menemui Nathan dan berusaha mencari tahu apa yang Nathan inginkan sebenarnya.
Nathan dan Wendi duduk di kantor Wendi sambil makan siang. Nathan tampak menikmati makanannya sementara Wendi masih tertegun melihat pria yang tadinya begitu berwibawa dan tegas, kini terbiasa tersenyum untuk orang lain.
"Nathan, apa sebenarnya tujuan kamu bekerja disini sebagai pelayan? Apakah kamu ingin mengawasi pekerjaan kami secara tidak langsung?" tanya Wendi kesal.
"Jangan marah. Kamu tahu sendiri, sekarang aku seorang pengangguran. Bagiamana aku bisa memberi nafkah pada istriku jika aku tidak bekeja," jawab Nathan sambil meneruskan makan.
"Jadi kamu selama ini tidak sedang berpura-pura?" tanya Wendi lagi.
"Kau ini terlalu curigaan, Wen. Atau kamu merasa aku tidak pantas menjadi suaminya Lilis, karena aku bekerja sebagai pelayan di restoran miliknya?" tanya Nathan menghentikan makannya.
"Aku tidak pernah berpikir begitu."
"Atau jangan-jangan kamu mau mendekati Lilis lagi setelah pekerjaanku lebih rendah darimu?"
"Jangan sembarangan bicara. Semenjak Lilis memilih menikah denganmu, aku sudah melepaskannya. Masih banyak wanita yang lain yang mungkin akan mencintaiku lebih besar dari cintaku," jawab Wendi keras.
__ADS_1
"Bagus, itu namanya lelaki sejati. Tidak berpikir untuk merebut apa yang bukan miliknya," kata Nathan sambil tersenyum lega.
Sebuah ketukan pintu menghentikan pembicaraan mereka. Masuklah Sri dengan wajah penuh keheranan melihat Nathan dan Wendi terdiam.
"Kalian ini, bicara sekeras itu, hingga terdengar sampai di luar ruangan. Bagaimana jika ada orang lain yang mendengar?" kata Sri sambil menghela nafas.
"Marahi saja Wendi, dia yang mulai. Aku sudah kenyang. Kalian beresin saja sendiri, aku harus pergi."
Nathan segera meninggalkan kedua orang yang merupakan sahabat dekat istrinya itu. Nathan tidak peduli, apa yang mereka pikirkan. Habis kenyang, lalu pergi begitu saja.
Wendi dan Sri hanya bisa tersenyum melihat sikap Nathan.
"Biar aku yang bersihkan," kata Sri sambil mendekati meja tempat Nathan makan.
"Suruh saja orang lain. Apa kata mereka kalau melihat kamu membawa piring bekas makanan?" kata Wendi.
"Tidak apa-apa. Dia juga termasuk Bos kita, bukan?" tanya Sri sambil tersenyum.
"Benar. Tetapi status dia sekarang adalah bawahanmu, aku rasa itu kurang pantas," kata Wendi lagi.
"Entahlah. Aku hanya tidak suka dia begitu baik pada Lilis. Dan bisa menjadi suami yang benar-benar Lilis harapkan. Aku ingin dia tidak sempurna sebagai suami," ucap Wendi sambil menghela nafas.
"Kamu ini aneh. Dulu, waktu Lilis menikah dengan Desta, kamu marah. Karena Desta tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Lilis. Sekarang, Lilis menikah dengan Nathan yang bisa membuat Lilis bahagia mendapatkan suami yang nyaris sempurna, kamu malah kesal. Pusing aku, Wen," kata Sri sambil menggelengkan kepala.
"Sudah, kamu nggak perlu ikut mikirin aku. Tidak perlu ikut pusing."
"Loh, siapa yang mikirin kamu? Ge er amat. Yang penting jangan sampai Lilis tahu, kamu tidak suka suaminya. Dia tidak akan memaafkan kamu," ancam Sri.
"Kalau kamu tidak ember, Lilis tidak akan tahu. Eh ... hati-hati Sri ... !" teriak Wendi saat piring yang ada ditangan Sri jatuh." Kamu tidak apa-apa, Sri? Apa ada yang terluka, jari tangan?"
Sri tersenyum melihat sikap Wendi yang sangat perhatian padanya. Apalagi kalo ini dia terlihat begitu panik sampai memegang jati tangan Sri. Selama menjalin persahabatan dengan Wendi, baru akhir-akhir ini, Wendi memang sering memberinya perhatian yang tidak biasa.
"Aku tidak apa-apa, Wen. Kenapa kamu begitu panik?" tanya Sri.
"Kamu jangan Ge er. Aku khawatir karena jika nanti kamu sakit, siapa yang akan membantu pekerjaanku di sini?" jawab Wendi menyembunyikan perasaannya.
__ADS_1
Akhir-akhir ini, Wendi selalu memperhatikan Sri. Memperhatikan setiap gerak gerik Sri yang membuat Wendi kagum. Sri seorang pekerja keras dan ulet. Banyak ide yang dia kembangkan untuk memajukan usaha ini.
Hati Wendi bergetar saat menyentuh tangan Sri dan pandangan mereka bertemu, membuat Sri tersipu malu. Padahal mereka adalah teman masa kecil. Setiap hari bertemu dan memegang satu sama lain. Dulu tidak ada getaran apa-apa. Sekarang, tiba-tiba semua berubah.
Wendi sudah mulai membuka hati untuk orang lain. Dia memang sudah melepaskan cinta pertamanya yang sudah bahagia. Saatnya kini dia juga merasakan cinta dari wanita yang benar-benar mencintainya.
"Heh, kalian ngapain saling pegang-pegangan? Hayo, kalian ini sedang pacaran? Wah ... kabar bagus dong. Lilis perlu tahu ini," kata Nathan yang masuk tanpa mengetuk pintu.
Wendi dan Sri melepaskan tangan masing-masing. Sri yang merasa malu segera berlalu pergi dari ruangan Wendi. Sedangkan Wendi menghela nafas panjang melihat sikap Nathan sekarang berubah, tidak seperti dulu lagi.
Nathan yang sangat mengikuti aturan dan prinsip kerja. Nathan yang disiplin dan dingin dalam bekerja itu sekarang menjadi banyak senyum dan suka ikut campur.
Dasar cerewet, bikin kesal, batin Wendi.
"Suaminya pemilik Resto, kamu sekarang banyak waktu ya, buat ngerecokin kami. Jangan-jangan kamu pingin bekerja di sini cuma mau cari informasi tentang aku?" tanya Wendi kesal.
Wendi sama sekali tidak canggung memarahi Nathan, karena sekarang Nathan bukan lagi Bos besar, tetapi dia sekarang hanya bergelar sebagai suami sahabatnya. Seorang pria biasa.
"Wendi, kamu ternyata pinter. Aku kerja di sini, untuk mengawasi kamu, puas?" kata Nathan tertawa pelan.
"Dasar tukang cemburu," jawab Wendi
"Biarin saja. Cepat kamu suruh orang untuk membereskan ruangan kamu ini. Sebelum ada yang kena pecahan piringnya," pinta Nathan.
"Ini piring bekas makan kamu yang pecah, bagaimana kalau kamu saja yang bersihkan," perintah Wendi.
"Kamu tidak takut pada bos kamu? Jika tahu suaminya disuruh membersihkan piring yang pecah, dia akan memarahimu," kata Nathan membela diri.
"Kamu, mengandalkan koneksi dan dukungan dari istrimu?"
"Iya lah. Tidak ada yang salah kan?" Nathan meledek Wendi.
Nathan tampak senang sekali bisa menggoda Wendi. Tapi Wendi yang sudah kesal duluan.
"Benar-benar memberi contoh yang buruk," kata Wendi sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah itu mereka tertawa bersama. Ternyata menjadi pria biasa, lebih mudah tidak sesulit yang Nathan Kira.