
Syifa merapikan kerudung putihnya, mematut dirinya didepan cermin untuk yang kesekian kalinya. Selalu merasa ada yang kurang seakan penampilannya senantiasa tak pantas. Hari ini ia ingin tampak sempurna, tak ingin walau hanya sebuah Kumal merusak penampilannya.
"Ampun Syifa, kamu tuh udah Perfect, ga perlu ngaca sampai segitunya, Idung kamu juga gak bakalan tambah mancung" teriak Riska yang risih melihat Syifa yang selalu super cuek sama penampilan, kini berubah 180 derajat sejak mendapat sedikit perhatian dari cowok yang sangat ia kagumi.
"Beneran ni, ga malu-maluin kan? ” tanya Syifa sambil memutar badannya sok anggun bak model fashion.
Kontan aja Riska menahan tawa melihat tingkah sok anggun Syifa, sungguh kontras dengan kesehariannya yang selalu tomboi dan cuek bebek. tampak kaku dan malu-maluin. Tapi Riska hanya bisa diam tak tega mematahkan semangat Syifa yang tengah membara, biarlah toh Syifa jadi tampak lebih cantik, batin Riska menahan tawa.
"Dikit, tapi ga papa kamu tampak cantik kok, dah sana berangkat, ntar kacanya pecah lho" imbuh Riska sambil ngeloyor pergi.
"Apa!!?" tanya Syifa berlagak marah, namun alih-alih marah Syifa justru tersenyum pada pantulan wajahnya di cermin.
"Emang cantik " gumamnya seraya mengukir senyum samar di bibirnya "Waduh ngapain mikir gitu " sangkalnya sambil menggeleng kan kepala kuat-kuat. takut kalau-kalau ia besar kepala.
Merasa yakin dengan penampilan barunya Syifa berjalan menuruni anak tangga asrama dan menghampiri sepatu kets kesayangannya sepatu tinggalan teman sekamarnya yang kini sudah keluar dari asrama dan sekarang ia harus sekamar dengan Riska yang sangat memperhatikan setiap detail penampilannya yang awal perjumpaan mereka Syifa selalu bilang
"Ah ribet kaya gitu, cuci muka pake make up, mau bobo pake cream mau keluar rumah lebih ribet lagi yang alas bedak maskara ah apalah aku gak tau namanya" katanya sambil meletakkan kembali tas berukuran sedang yang penuh dengan alat kecantikan wanita.
Sambil mengikat tali sepatunya Syifa kembali tersenyum sendiri seperti orang gila, Mengenang betapa dulu ia mengejek Riska tapi kini ia sendiri justru ikut memakai alat-alat itu, tak tau malu.
Syifa berjalan santai keluar dari asrama masih ada waktu sebelum bel tanda masuk berbunyi lagian jarak antara asrama dan sekolah tidak terlalu jauh hanya sepuluh menit berjalan kaki itupun dengan santai.
Pemandangan pagi yang indah ditingkahi burung-burung liar yang menyanyi riang, suasana begitu damai tampak bersih dan cerah dimana-mana ya semalam kawanan air menyerang atmosfer bumi daerah Bandongan tepatnya disebuah desa di atas bukit yang masih sangat asri dan belum terjamah polusi udara.
Pepohonan tampak hijau sempurna dengan bigroun biru muda bertabur awan putih bak gumpalan kapas yang sangat nyaman untuk sejenak mengusir penat. Semburat cahaya mentari menjadi penyempurna lukisan alam yang Maha dahsyat. Tak henti Syifa mengagumi keindahan panorama itu, terbuai dalam kenyamanan yang membius.
"Pagi Fa " sebuah suara merusak kenyamanan angan Syifa.
"Oh, ya, pagi Roy" Syifa sedikit tergagap mendapati cowok yang sejak semalam tak henti-hentinya mengganggu tidurnya.
Entah mengapa sejak diperhatiin sama cowok idamannya, mendadak Roy terasa istimewa. Tiba-tiba pipinya terasa hangat merah merona bagai buah tomat busuk hihihi gak busuk juga kali, menyadari pandangan Roy terkunci menatapnya.
"Anu....anu..." patah-patah Syifa mencoba tenang namun tiba-tiba
"Hahahaha kesambet apa kamu mendadak cantik begini ada yang ngajak kencan ya?" suara tawa Roy membahana mengusir rasa malu-malu kucing nya.
" Roy!!!!" bentak Syifa berlagak galak sambil mensejajari langkah Roy.
"Ok....ok sori tapi beneran lho kamu aneh tapi cantik juga si " tambah Roy masih tersenyum sambil mengamati penampilan Syifa.
"Makasih" sahut Syifa " udah deh senyum-senyumnya akukan jadi malu"
Langkah mereka memasuki gerbang sekolah yang tinggi dan kokoh. Di sama pak satpam dengan siaga, menjaga dan memantau kalau-kalau ada siswa yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan. Berdiri angkuh sambil menyatukan kedua tangan dibelakang tubuh gempalnya.
"Pagi pak Sam" sapa Syifa seperti biasa.
Kenal benar pak Sam sama Syifa yang selalu jadi relawan ngepel lantai mushola dan menggosok kloset kamar mandi.
__ADS_1
"Tumben mbak Fa rapi jali tertip teladan begitu" balas pak satpam sambil melirik keseluruhan penampilan Syifa.
"Iya pak, kasian kan lantainya kalu mesti di mandiin tiap hari" jawab Syifa sambil ngeloyor pergi.
Mereka kembali berjalan menuju kelas III IPA 2. Sambil berjalan mereka membahas tugas sekolah yang tentunya sama sekali belum Syifa kerjakan, seperti biasa ia cukup menyalin pekerjaan rumah Ira taman sebangkunya yang tak pernah lupa dengan tugasnnya sebagai seorang murid.
Benar saja sesampainya di dalam kelas Roy dan Syifa berebut buku tugas milik Ira yang ternyata sudah diangkut oleh teman-teman yang lain. Kelas riuh rendah siswa-siswa yang tengah berebut menyalin tugas hanya beberapa gelintir siswa yang bisa duduk santai menikmati kepanikan yang kian memuncak seiring dengan dentang jarum jam di dinding.
Asal-asalan Syifa menyalin tugas matematika yang berjumlah sepuluh soal itu, ia menyalin tugas tanpa mengalihkan pandangannya dari tulisan tangan temannya. Tak peduli walau hasil tulisannya naik turun parah bahkan dengan tulisan tangan anak kelas lima SD jauh lebih jelek lagi.
"Teng......teng......teng........" bel berbunyi tiga kali.
Tapi hal itu tak ada pengaruhnya bagi siswa kelas III IPA 2 yang tengah berusaha menyelamatkan diri mereka dari hukuman berdiri dengan satu kaki didepan kelas selama satu jam pelajaran.
"Pak Pri, pak Pri......" salah seorang siswa berteriak sambil lari menghampiri bangkunya.
Seperti kerumunan semut yang mendapat getaran. Sontak kerumunan orang panik itu membubarkan diri dengan pasrah. Mereka lari tunggang lalang saling bertabrakan. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Dan pemandangan indah itu berakhir tepat beberapa detik sebelum Pak Pri yang diam-diam mereka juluki the killer memasuki ruangan kelas.
"Yah anak-anak ku tercinta dengan penuh rasa kecewa saya beritahukan bahwa hari ini saya harus menghadiri rapat koordinasi persiapan ujian akhir mapel matematika jadi saya mohon maaf tidak bisa memeriksa tugas rumah kalian, untuk itu saya beri tugas tambahan saja, buka .......bla.......bla.....bla...."
Pak Pri bicara panjang lebar yang intinya mereka harus mengerjakan tugas yang nanti harus mereka kumpulkan kemudian keluar meninggalkan kebahagiaan didalam kelas yang sejak tadi tegang.
Nah disaat seperti itulah saat paling membahagiakan bagi Syifa, pernah ia di tanya oleh Riska
"Fa kamu paling suka pelajaran apa kalo di sekolah?"
Jelas saja Riska dongkol mendengar jawaban itu,emang dia juga suka pelajaran kosong tapi ga gitu juga kali.
Sontak Syifa menghentikan gerakan tangannya yang sudah mulai terasa keram, tak lama setelah itu buku dan pulpen yang sejak tadi kerja paksa langsung masuk kedalam laci untuk istirahat total.
Begitu pak Pri melangkahkan kaki keluar ruangan, keheningan yang tadi tercipta tercabik oleh gemuruh separuh siswa yang bersiap mengikuti langkah pak Pri, yaitu keluar ruangan, tanpa kecuali Syifa dan Roy tentunya.
Roy dan Syifa, sepasang sahabat yang disatukan oleh nasip cinta mereka yang selalu bertepuk sebelah tangan, berjalan kompak menuju perpustakaan sekolah yang terletak di bagian depan gedung sekolah lebih tepatnya di samping diseberang ruang guru. tempat itu adalah faforit mereka selain tenang, apapun yang mereka kerjakan di sana selama jam kosong tak akan ada guru yang menegur.
Sarat utamanya cukup satu, yaitu letakkan satu buku didepan kita dalam keadaan terbuka, maka lakukanlah apa yang ingin kau lakukan dan seperti itulah mereka sambil mencurahkan isi hati.
" Roy kamu tau kemarin Adi nanyain kabar aku" Syifa mengawali sambil tersenyum bahagia. tangannya sibuk seakan mencari halaman yang ingin ia baca.
"Gitu aja gr" jawab Roy tak begitu senang.
"Gak gr, beneran dia beneran nanya sambil tersenyum gitu dan yang mesti kamu tau, Ben sama Roni, ehm ehem nyindir gitu pas Adi ngobrol sama aku" sangkal Syifa tidak terima.
"Belum ten........"
"Boleh gabung?" sebuah suara memotong kata-kata Roy.
"Bo..... boleh" sahut Syifa terbata menyadari 3 sekawan (Adi ,Ben, dan Roni) itu yang permisi hendak gabung. Seketika wajahnya bersemu merah.
__ADS_1
"Ehem..." mendadak tenggorokan Roy terasa gatal dan itu membuat rona merah di wajah Syifa kian kentara dan salah tingkah.
Senang melihat Syifa salah tingkah, Adi sengaja duduk disebelah Syifa bahkan sempat menggeser kursi nya lebih dekat lagi. Diseberangnya Roy yang tau diri pergi bergabung dengan Ben dan Roni di meja lain.
Hening, suasana sangat tidak nyaman, namun juga amat menyenangkan. Gugup, Syifa malah menjatuhkan penanya dan dengan bodohnya tangannya menggapai- ngapai seperti anak kecil yang tangannya belum sampai, ya memang posisinya terlalu jauh darinya.
Dan kesempatan itu tak diabaikan oleh Adi, gerak cepat Adi ikut menjulurkan kepala kebawah meja dan melihat pena itu lebih dekat dengannya, sengaja Adi tak langsung berhasil meraih pena itu hanya sedikit tersenggol sehingga bergeser lebih dekat dengan tangan Syifa, dan momen itulah yang Adi ciptakan, saat Shifa berhasil meraih pena itu ia pura-pura meraih nya lebih tepatnya menyentuh tangan Syifa yang terasa sangat lembut, dan itu adalah hal yang fatal. Sama-sama terbuai Adi meremas jemari lentik Syifa dengan lembut merasakan aliran kenikmatan semu yang baru saja Syifa kenal. Pandangan mereka terkunci, dunia seakan terhanti dan benih cinta yang telah ada kian bersemi.
"Ehem ehem......" suara kompak para pengganggu itu menyadarkan mereka. buru-buru mereka hendak kembali duduk, namun tiba-tiba.
"Duk..." suara batok kepala Adi terantuk meja sedikit terlalu keras, diiringi gelak tawa Roy, Roni, dan Ban.
Ya semenjak hari itu kedekatan mereka kian kentara, bahkan beberapa kali mereka pergi keluar bersama, malam mingguan atau sekedar makan bareng di warung lesehan.
Hari-hari indah Syifa telah dimulai. Cinta yang dulu bertepuk sebelah tangan kini bersambut baik dan berjalan indah bak bunga yang tengah mekar.
Dan tanpa Syifa sadari ada hati yang tersakiti ada cinta yang tersingkir dari jalan perjuangannya.
"Hai Roy, Napa kok kusut amat belakangan ini?" tanya Syifa bodoh, sambil meletakkan tasnya di atas meja kemudian duduk disampingnya.
"Ga papa sedikit pusing aja" jawab Roy asal.
"Perlu ke UKS? atau obat?" pertanyaan bodoh lain mengalir dari mulut Syifa yang ember.
"Enggak Fa, aku baik-baik aja " Roy mencoba bersikap wajar.
"Ok kalo emang gitu, tapi akhir-akhir ini kamu aneh deh, emang Napa se? apa .......Sinta lagi?"
"Udah ah minggir sana, bentar lagi bel berbunyi, udah ngerjain tugas belum?" usir Roy tak mau di interogasi lebih lanjut.
"Emang ada?" tanya Syifa kaget.
"Ya nggak ada" jawab Roy sambil tertawa melihat mimik muka Syifa seperti orang kebakaran jenggot.
"Roy, apa iya ya? Adi punya rasa ama cewe kaya aku?" tanya Syifa tiba-tiba murung.
"Napa enggak, kamu cantik walau tak secantik boneka Barbie, kamu juga pinter walau tak pernah juara kelas, kamu juga....."
"Kalau itu mah aku juga tau" sahut Syifa kesal dengan jawaban Roy.
"Terus kamu pengen jawaban kaya apa? Fa, andainya Adi ga ada rasa sama kamu saya malah bersyuk......" Roy keceplosan.
Tapi nasi sudah menjadi bubur dan kata-kata yang terpenggal itu sudah terucap.
"Apa!?!!"
"Gak, gak, maksud nya cuma orang bodoh yang ngedeketin kamu tapi nggak ada rasa sama kamu, jelas-jelas doi berusaha banget ngedapetin perhatian kamu" Roy meralat ucapannya.
__ADS_1
Syifa terdiam, ia mulai sadar ada yang salah dengan seluruh keadaan ini dan memorinya berputar kebelakang mencari serpihan-serpihan kecil kenangan penuh makna yang ia jalani bersama Roy kenangan ketika kemah bakti kelas satu ketika ia terseret arus sungai saat mereka mencari ranting, saat rasa panik melihat Syifa tak sadarkan diri mendorongnya untuk melakukan nafas buatan. Dan semua rangkaian panjang perjalanan persahabatan yang mulai bermetamorfosa menjadi sebuah rasa cinta tanpa mereka sadari.