DiLeMa CINTA

DiLeMa CINTA
Awal Hidup Baru


__ADS_3

Disinilah Syifa sekarang, berdiri didepan sebuah rumah minimalis yang elegan, rumah dua lantai yang lebarnya kira-kira 9mx12m dengan pekarangan penuh aneka tanaman hias yang ditata dengan rapi dilengkapi sebuah kolam kecil yang dihuni 5 ekor ikan emas ukuran besar. Rumah itu tampak bergaya meski tak semewah rumah-rumah pada umumnya di kompleks perumahan itu.


Antara Syifa dengan rumah elegan itu terpisah oleh sepasang pagar besi yang berdiri kokoh, di cat warna merah marun kombinasi emas membuat pagar itu tampak mahal. Binggung Syifa menatap rumah didepannya.


" Benarkah ini alamatnya? " tanya Syifa pada diri sendiri. Syifa melongok ke dalam, berharap ada orang yang bisa ia tanya. Sunyi sepi bagai rumah tanpa penghuni. Tiba-tiba ekor matanya menangkap sebuah tombol dipojok pagar, tertempel rapi pada beton yang membatasi rumah dari dunia luar.


Penuh percaya diri Syifa menekan tombol itu. Tak lama kemudian seorang wanita berusia 50 an keluar sambil menggendong bayi berusia kira kira-kira 3 bulan.


" Mbak Syifa ya? " tanya wanita itu sumringah " Mari, silakan masuk "


Syifa mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumah. Berjalan pelan di atas bebatuan yang disusun rapi selebar 1,5m yang sengaja dibuat berkelok, disepanjang jalur itu dihiasi rerumputan setinggi betis dikedua sisinya dan beberapa lampu taman yang menyoroti tanaman palm merah. Serta teras yang tampak begitu nyaman untuk bermalas-malasan. Sebuah kursi Cleopatra lengkap dengan meja kecil didepannya ditambah dua kursi bulat senada dengan meja dan kursi Cleopatra yang ada. Di kedua sisi teras tak lupa beberapa pot berukuran sedang berjajar bak beberapa pengawal.


" Begitu nyaman membaca di tempat ini " batin Syifa saat melintasi satu set fornicure elegan itu dengan pandangan ingin.


" Silahkan, duduk di sini, sebentar lagi Tuan keluar, beliau baru saja pulang kerja, mungkin sedang mandi " terangnya panjang lebar.


Syifa duduk dengan perasaan takut setengah mati. Perutnya terasa mulas, jantungnya berdebar kencang, karena teramat tengang.


" Tenang Mbak, Tuan orangnya baik kok " katanya seakan tau apa yang Syifa rasakan.


Dan saat itulah, pintu kamar utama terbuka. Sesosok pria yang sangat familiar keluar dari sana. Syifa terpana, antara terpesona dan tak percaya. Tanpa sadar Syifa menelan ludah, saat tiba-tiba ia membayangkan bisa membelai rambut yang basah itu, memeluk tubuh kekar itu, dan bersandar pada dada bidang itu.


Penampilannya berbanding 180° dari yang selama ini Syifa lihat. Kaus polos putih yang melekat ditubuhnya. Menampakkan setiap lekuk tubuh atletisnya. Celana pendek longgar warna senada tampak pas dikenakan olehnya. Rambut basah yang masih acak-acakan itu, entah kenapa begitu... menggoda.


" Sore Syifa, bagaimana keadaan kamu sekarang? " tanyanya mengabaikan mulut Syifa yang melongo.


Gugup Syifa segera memperbaiki ekspresi. Malu banget ketahuan sedang memperhatikan dengan sebegitunya.

__ADS_1


" Alhamdulillah baik Dok " jawab Syifa menunduk menyembunyikan rona wajahnya.


" Mbok Inah, sini Davanya biar aku gendong, tolong minumnya " katanya sambil berjalan mendekati wanita yang dipanggil mbok Inah itu. Dengan terampil dan lembut mengambil alih bayi Dava. Menggendongnya penuh kasih kemudian mencium kedua pipi tembem bayi itu. " Kamu pasti kaget ya, lihat saya di sini? " tanyanya seraya duduk, seakan tau benar apa yang Syifa pikirkan. " Kami dokter Nia dan saya dulu teman kuliah, sampai sekarang hubungan kami masih terus berlanjut, oh ya ini Dava putra saya, dan tugas kamu adalah merawat Dava selama saya kerja " terangnya santai


" Baik Dok, eh Tuan " Jawa Syifa patuh dalam hatinya malu tak terkira telah sebegitu terpesonanya dengan lelaki yang lebih pantas jadi ayahnya dan yang lebih memalukan orang itu sudah berkeluarga.


" Oh Adi maafkan aku " batinnya teringat tadi pagi ia bertemu Adi untuk berpamitan. Awalnya Adi mendorongnya untuk menyelesaikan pendidikannya yang belum kelar tapi setelah tau kondisi Syifa yang sebenarnya Adi tak bisa berbuat banyak.


" Tidak masalah, panggil saja sesuka kamu "


Dokter Wisnu berdiri, menimang Dava dengan penuh kasih, berjalan pelan ke sisi kiri, lebih tepatnya ke dinding yang di sana tertempel sebuah cermin besar berbingkai kayu berukir yang tampak gagah, dengan sebuah meja kecil dibawanya. Ia meraih sebuah sisir, merapikan rambutnya kemudian melangkah keluar melewati Syifa tanpa ekspresi. Saat itulah mbok Inah keluar membawa 2 gelas teh manis.


" Silakan tehnya " katanya rumah


" Kamarnya sudah siap kan mbok " Dokter Wisnu menyela


" Baiklah, nanti antar kan Syifa ke kamarnya, saya jalan-jalan dulu sama Dava " Dokter Wisnu berlalu keluar dengan Dava dalam gendongannya. Sulit bagi Syifa untuk mengalihkan pandangan darinya, ia bahkan tak sadar mbok Inah tersenyum melihat tingkahnya.


" Memang den Wisnu itu punya banyak pesona, udah ganteng, baik hati pada semua orang, penyayang, sabar, ah pokoknya is the best " kata mbok Inah dengan ejaan bahasa Inggris yang kacau. Syifa yang tadinya malu, kini justru malah tertawa mendengar pengucapan bahasa Inggris yang kacau itu.


" Ups maaf " Syifa menutup mulutnya dengan sepuluh jari tangannya saat melihat bibir manyun mbok Inah.


" Gak papa emang suka belepotan, hehehe gak papa kan ikutan gaya anak milenial " sahutnya dengan senyum lebar memamerkan deretan giginya yang hanya tinggal beberapa.


Setelah membantu mbok Inah menyiapkan makan malam, Syifa kembali ke kamarnya, kamar yang terhubung dengan kamar Dava, itu agar memudahkan Syifa dalam merawat Dava tanpa mengurangi privasi masing-masing. Syifa mulai membongkar barang bawaannya. Beberapa pasang baju yang pantas juga mukena. Dua buah foto hitam putih yang masih terawat, satu-satunya kenangan yang tersisa dari kedua orang tuanya, selain yang tersimpan rapi dalam hati.


Satu persatu ia susun barang-barangnya pada lemari pakaian disudut ruangan.

__ADS_1


Lama Syifa menatap foto kedua orang tuanya dengan mata berkaca-kaca.


" Bapak, Ibu, maafkan Syifa... sesekali Syifa pasti akan datang. Dari sini Syifa akan selalu memohonkan ampunan " bisik Syifa getir, dipeluknya erat kedua foto itu kemudian meletakkannya di bawah tumpukan pakaian.


" Tok tok tok... " pintu diketuk dari luar.


" Ya sebentar " sahut Syifa bergegas menuju pintu. Wajah ramah mbok Inah menyambutnya tepat di depan wajahnya begitu pintu terbuka membuat Syifa sedikit terkejut.


" Mbok bikin kaget aja " Syifa sambil mengelus-elus dadanya.


" Maaf gak sengaja, kirain kamu tertidur karena kecapekan "


" Enggak mbok Syifa habis menata baju " balas Syifa langsung merasa nyaman dengan wanita itu.


" Nyok kita makan atu " katanya menirukan logat orang Betawi yang terdengar sumbang. Syifa hanya bisa mengangguk sambil tersenyum, kemudian mengekor mbok Inah ke dapur.


Saat melewati kamar baby Dava, diam-diam Syifa melirik ke dalam pintu yang kebetulan setengah terbuka. Dengan ekor matanya Syifa dapat melihat Dokter Wisnu tengah mengganti popok baby Dava tanpa canggung.


" Udah biasanya gitu, mbok cuma sesekali ngurus den Dava kalo den Wisnu di rumah " terang mbok Inah seakan tau apa yang menjadi tanda tanya besar dalam batok kepala Syifa.


" Oo.... " Syifa manggut-manggut sambil ber-O ria


" Mbok tolong Dava ni saya mau mandi lagi " tiba-tiba Dokter Wisnu memanggil mbok Inah yang langsung tancap gas masuk ke dalam kamar baby Dava.


Entah mengapa ada rasa tak nyaman mengakui bahwa yang dipanggil bukan dirinya mengingat bahwa menjaga dan merawat baby Dava adalah tugasnya.


" Ah mungkin Dokter Wisnu masih belum terbiasa " batinnya menenangkan diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2