
Selang dua hari setelah pertemuan nya dengan Roy. Adi mengajaknya bertemu di belakang gedung perpustakaan sekolah. Lebih tepatnya disebuah taman kecil yang nyaman dan teduh dengan kursi taman yang sengaja diletakkan dibawah pohon Cemara. Dihiasi beberapa tanaman hias yang ditata sedemikian rupa oleh ahlinya.
Syifa duduk terdiam menatap kejauhan, menikmati lukisan alam yang Maha dahsyat. Pahatan dedaunan diatas cakrawala nan biru. Ditingkahi gumpalan-gumpalan awan yang tampak lembut mempesona. Serta sederet kokoh pegunungan timur, menjadi goresan alam yang menentramkan. Rasanya waktu berjalan terlampau lambat. Baru sebentar ia duduk di sana menanti kedatangan Adi, namun rasanya bagai sudah berjam-jam.
"Sudah lama?" sapa Adi santai seraya duduk disamping Syifa.
"Baru aja" balas Syifa mempermainkan pena yang sejak tadi ia pegang.
"Maaf membuat kamu menunggu"
"Gak"
ya Allah menggapa jantung ini serasa mau copot
"Denger-denger...... Roy .......?" Adi sengaja menggantung kalimatnya, terdiam menatap Syifa, mencari kebenaran dalam riak wajahnya yang kini tampak pucat.
Syifa menelan ludah, mencoba mencari kekuatan sebelum akhirnya mengangguk pasrah. Toh tak ada gunanya berbohong seluruh dunia juga tau Roy menyatakan cintanya beberapa hari lalu.
"Terus jawaban kamu?" Adi kembali menginterogasi bak polisi.
"Entahlah "
"So masih ada kesempatan ni? " tanya Adi girang.
"Kesempatan?" tanya Syifa yang penyakit bloon nya kambuh disaat yang tidak tepat.
"Ya ..... maksudnya .....ah gimana ya?" Adi garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
Dengan canggung Adi memperbaiki posisi duduknya yang sebenarnya samasekali tidak berubah.
__ADS_1
Melihat kegelisahan Adi, Syifa tersadar bahwa akan ada sesuatu. Iapun mulai gelisah tak jauh beda dengan Adi. Tiba-tiba bangku yang ia duduki terasa panas. Seperti ada ribuan jarum disana yang mengusir kenyamanan.
"Fa..."
Tiba-tiba Adi telah berjongkok dihadapannya. Layaknya pangeran dari negeri dongeng yang tengah meminang seorang putri cantik jelita.
Syifa tergagap mendapat perlakuan seperti itu. Pantatnya kian terasa panas. Keringat dingin membasahi tubuhnya.
"Fa..." Adi mengulangi, kini bahkan dengan berani ia memegang kedua tangan Syifa.
Ingin Syifa menolak tapi rasa nyaman yang membiusnya kala kulit mereka bersentuhan membuatnya tak mampu menarik tangannya dari genggaman tangan Adi.
"Aku ingin kita pacaran" kata Adi cepat, takut kalau-kalau keberanian nya sirna.
Syifa terperanjat, meski sejak tadi ia sudah tau semua mengarah ke sana. Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Ada banyak kalimat dalam bola mata. Ada banyak jawaban dari jutaan pertanyaan.
"Maksudnya ....ya kita pacaran" Adi mulai berani meremas jemari lentik Syifa.
mengapa sekarang, mengapa disaat bimbang kamu tawarkan cinta, mengapa cinta datangnya keroyokan, mengapa tak kemarin-kemarin kala ia hampa dengan cinta yang selalu bertepuk sebelah tangan ..... ARrrrrraaaaaaaaGH.,......
Mengapa sekarang ia kebingungan. Padahal inilah yang selalu ia harapkan. Sering, ia membayangkan kebersamaan yang indah bersama Adi. Lalu, mengapa sekarang ia bimbang di saat kesempatan itu di depan mata.
"Emmmmm....."
"Aku ingin jawaban kamu sekarang. Aku akan tunggu sampai kamu ngasih jawaban. Apapun itu, aku terima" Adi melancarkan strategi tekanan, yang biasanya manjur karena cewe selalu terenyuh melihat perjuangan cowok.
Syifa memejamkan matanya, menahan agar air matanya tidak tumpah, mencari keyakinan dan apa yang sesungguhnya ia inginkan. Menyelami hatinya. Mencari jawaban, siapakah yang ia inginkan.
Adi masih bertahan dalam posisinya walau kaki mulai kesemutan. Untuk mengurangi pegel-pegel di kakinya Adi mengusap lembut tangan Syifa yang sejak tadi menurut bahkan tampak menikmati kemesraan kecil itu.
__ADS_1
"Benarkah kamu mencintaiku? bukankah banyak gadis cantik yang ngejar kamu? Napa mesti aku?" tanya Syifa tidak yakin dengan kenyataan ini.
"Entahlah Fa, cinta tak perlu alasan, yang aku tau, aku ingin selalu bersamamu, hingga akhir waktu" gombal Adi.
Diam.
"Jadi gimana, kita pacaran kan?" Adi kian tak memberi kesempatan Syifa menolak.
"Ya kita...... aku .... kita...."
"Kita pacaran!" potong Adi mantap kemudian bangkit dari posisinya.
Dengan amat tangkas Adi menarik tubuh Syifa hingga berdiri. Menjatuhkan nya dalam dekapan intim yang memabukkan. Adi memeluknya erat, hingga Syifa sesak.
Syifa terperanjat mendapati tubuhnya sudah berada dalam dekapan kuat Adi. Baginya yang tak tau apa-apa dalam cinta itu adalah hal baru. Alarem dalam otaknya berdentang kencang. Meneriakkan tanda bahaya. Sekuat tenaga Syifa mencoba menolak. Namun ia salah, gerakan kecilnya justru membuat Adi terbuai dan lupa diri.
Didekapnya Syifa kian erat, satu tangannya bergerak ke atas dan menarik kepala Syifa kebelakang dalam posisi yang tepat Adi mulai menunduk menyentuhkan ujung bibirnya pada ujung bibir Syifa sedikit hanya sedikit. Sama sekali tak sadar akan kepanikan dan pemberontakan Syifa.
Ini diluar rencana. Bibir mungil itu begitu menggoda.
"Klek.. " Sebuah suara menyadarkan Adi.
Seperti tersengat ribuan wat aliran listrik. Adi langsung melepaskan Syifa. Membiarkannya terduduk lemah di bangku. Ia tampak kacau, gemetar dan pucat. Menggigit bibirnya dengan perasaan berdosa.
Adi celingukan. Ia yakin ada yang tak beres. Ada yang mengamati mereka sejak tadi.
"Tunggu sebentar" kata Adi.
Ia memeriksa keadaan sekitar. Memeriksa setiap sudut yang mungkin dijadikan tempat persembunyian. Meninggalkan Syifa yang dirundung sesal.
__ADS_1