DiLeMa CINTA

DiLeMa CINTA
Kebimbangan


__ADS_3

Pusing. Tak tahu mesti berbuat apa selain menghindar. Ya, hanya itu yang bisa Syifa lakukan sebelum ia menemukan jawaban perasaan yang gamang. Dalam hati slalu bertanya.


"Benarkah ia mencintai Adi?"


Cowok keren yang menjadi idaman sebagian besar cewek disekolah. Dengan segala atribut kesempurnaan yang dimilikinya. Dari kepopuleran, ketampanan, kekayaaan juga kepandaian. Ataukah justru ia mencintai Roy cowok biasa-biasa saja yang selalu ada dalam suka dukanya. Setia mendengar keluh kesahnya. Dan menerimanya, apa adanya. Tanpa pernah ia sendiri sadari.


Persahabatan mereka telah lama terjalin. Selama ini, kedekatan mereka tak pernah menjadi serumit ini. Persahabatan yang membuat beberapa teman iri.


"Sahabat itu 1000 kali lebih berharga daripada pacar" nasihat Riska.


"Terus, kalo sahabat itu cinta sama kita? apa coba yang harus kita lakukan?" tanya Syifa tak puas dengan nasihat Riska.


"Ya, binggung juga"


"Apa iya, kita tolak biar persahabatan langgeng? bukankah penolakan akan membuat hubungan menjadi kaku? atau kita terima? nanti kalau putus ..... "


"Ah, mikirnya kejauhan, kaya filem India aja, pejamkan mata, dan lihat siapa yang muncul di dalam angan"


"Mana bisa mau merem seribu kali yang muncul dua-duanya tu" bantah Syifa


"Itu serakah namnya, atu-atu aja buk, kasih yang laen" goda Riska.


Mereka tertawa, menertawakan perasaan yang begitu mudahnya bimbang karena keinginan untuk memiliki segalanya seorang diri. Atau bahasa kasarnya 'serakah'.


"So, belum ada solusi ni buat aku?" tanya Syifa sambil melempar bantal ke arah Riska "Tidur yuk, ngantuk ni" lanjutnya sambil menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Riska hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Syifa.


Roy menatap buku agenda pemberian Syifa. Buku yang menjadi saksi bisu cintanya yang terpendam. Setiap jengkal kisahnya terukir di sana. Sekarang cinta itu tak lagi terpendam. Cinta itu muncul ke permukaan saat ada rasa takut kehilangan.


"Araghhh ...." Roy menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan kasar.


Marah, menyesal dan merasa bersalah telah menjadi penghambat kebahagiaan sahabatnya. Perasaan itulah yang selalu menyesakkan dadanya. Andainya ia bisa menahan diri, andainya perasaannya tak usahlah tercermin dalam kata-kata andai andai dan andai tapi nasi telah menjadi bubur.


Mungkin, dia kejam telah menodai persahabatan dengan cinta. Bila itu harus disebut noda. Namun biarlah waktu yang menjawabnya. Stidaknya ia pernah memperjuangkan cintanya meski dengan cara yang tak semestinya.


"Maafkanlah aku sobat" batin Roy sambil mendengarkan suara merdu dari smartphone nya.

__ADS_1


"Sobat, maafkan aku mencintaimu........" lagu itu seakan mewakilinya bicara.


"Baiklah, Syifa, aku tau aku salah tapi cinta ini akan aku perjuangkan" tekad Roy yakin.


Sebagai lelaki sejati, ia tak mau sejarah cintanya diituls 'cinta terpendam tanpa perjuangan'. Sungguh memalukan.


Apun hasilnya, perjuangannya haruslah sempurna. Sampai titik darah penghabisan kalau bisa. Hehe emang perang?


"Ok Syifa, mari kita bicara" gumam Roy sambil bangkit dari duduknya.


Roy mempersiapkan diri sebaik mungkin. Dengan seksama Roy memilih pakaian yang pantas, memakainya kemudian menyisir rambutnya rapi. Ia ingin hari ini memiliki kesan mendalam.


Setelah merasa rapi Roy melangkahkan kaki menuju asrama putri. Mereka tinggal di asrama yang sama. Sebenarnya bukan asrama, lebih tepatnya, tempat kos. Tapi karena ada beberapa staf yang mengatur jam tidur, jam belajar, dan pola makan maka tempat itu disebut asrama yang memberi fasilitas penginapan bagi siswa yang bersekolah di SMA Nusantara. Terkhusus yang rumahnya jauh.


Syifa tergagap mendapati Roy duduk di teras depan kamarnya. Terlebih dalam keadaan rapi dan tampak penuh percaya diri. 180 derajat dengan penampilan Syifa yang baru saja bangkit dari tidurnya. Matanya merah, kerudungnya kusut, yah seperti itulah orang bangun tidur ancur abis.


"Fa, makan yuk, cepetan saya tungguin" brondong Roy, tak memberi kesempatan Syifa menolak.


Seperti robot remote kontrol. Dengan patuh Syifa segera berlari ke toilet. Tak lama kemudian keluar dalam keadaan yang jauh lebih baik. Malu-malu Syifa lewat di depan Roy untuk masuk ke kamar. Sampai didalam kamar Syifa kalang kabut. Binggung mesti berbuat apa? Beruntung ada Riska, yang membantu menenangkannya, memberinya nasihat dan masukkan.


"Ok! hadapi!" ulang Syifa memantapkan diri sambil mengganti pakaiannya.


Ia mengenakan celana jeans longgar warna biru, dipadu dengan kaus lengan panjang putih pemberian Roy. Tak lupa kerudung biru muda kesukaannya bertengger anggun diatas kepalanya. Ia mencoba bersikap seperti biasa berpenampilan seperti selama ini ia berhadapan dengan Roy.


" Gini gak terlalu drastis kan ?"


" Gak emang biasanya kamu gitu,dah sana kasian yang nunggu, inget tenang dan berfikir jernih sebelum bertindak, ok!, jangan sampai kamu kehilangan sahabat karena cita tapi jangan pula kamu salah pilih hingga cinta yang sesungguhnya malah kamu abaikan karena ketidaktahuan" Riska menasehati sebelum Syifa membuka pintu.


Sudah biasa Roy melihat penampilan Syifa seperti itu. Sangat tidak asing. Namun entah mengapa setelah lebih dari tiga hari ia tidak bertemu, gadis itu tampak menawan, anggun dan satu yang tak begitu ia sadari, cantik, lebih tepatnya manis terlebih saat ia tersenyum malu-malu.


"Maaf menunggu lama" ujar Syifa mengusir rasa canggung nya.


"Yoi ga masalah" jawab Roy tenang.


Setelah sedikit basa basi mereka memutuskan untuk makan malam disebuah warung lesehan. Sebuah warung makan kecil, meski kecil tempatnya, menu makanannya tak perlu diragukan lagi. Sup iga sapi dengan sambal goreng ati yang super pedes.


Mereka duduk berhadapan di sebuah balai kecil beratapkan ijuk. Kian terasa nyaman dengan hiasan sebuah bonsai kecil di salah satu pojok nya. Lampu remang-remang memberi kesan dan nuansa damai. Duduk berlama-lama di tempat itu tidaklah mengundang bosan. Apalagi bersama orang sepesial.

__ADS_1


"Fa aku mo ngomong soal yang kemarin" Roy membuka pembicaraan.


Syifa terdiam, tak tahu mesti berkata apa.


"Aku tau, aku salah, tapi serius, perasaan itu ada, dan sejak lama. Syifa, aku berharap hubungan kita lebih dari sahabat"


"Entahlah Roy, mungkin ada rasa yang berbeda di antara kita yang datang tanpa kita sadari, tapi aku perlu waktu untuk menentukan sikap. Walau belum pasti Adi ada perasaan, tapi jujur saja, aku berharap ada langkah lebih lanjut dalam hubungan kami. Aku juga tidak munafik, ada keraguan untuk melanjutkan hubungan ini sejak ......"


"Selamat menikmati....." suara pramusaji memotong kata-kata Syifa sambil menghidangkan menu pesanan mereka.


"Makasih" Roy dan Syifa berbarengan.


"Yuk makan dulu" Roy memutuskan untuk makan terlebih dahulu.


Mereka makan dalam diam dalam pemikiran mereka masing-masing.


"Ok Syifa, " kata Roy sambil mengunyah suapan terakhirnya.


"Emmm Alhamdulillah diberikan rasa kenyang" lanjutnya sambil menyesap es jeruk manis nya.


"Fa ngapain bengong, segitunya ngeliatin nya" tegur Roy seraya mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Syifa.


"Ee ... apa ?" Syifa tergagap. Malu setengah mati, ketahuan sedang memperhatikan Roy diam-diam.


Buru buru Syifa menyelesaikan makannya, menunduk dalam-dalam sambil terus mengunyah.


"Emmmmm.....Fa ada yang perlu kamu tau"


Roy mengawali setelah Syifa menyelesaikan makannya.


"Aku serius soal perasaan ini, aku sayang sama kamu, dan aku akan terima apapun jawaban kamu. mungkin waktunya sangat tidak tepat, aku hanya ingin berjuang selagi ada kesempatan. itu aja."


Dalam hati Syifa menjerit, mengapa baru sekarang, mengapa harus disaat ia berharap pada orang lain.


"Kasih aku waktu Roy" jawab Syifa akhirnya.


"Ya gak perlu buru-buru, siapapun itu, aku harap itu yang terbaik".

__ADS_1


__ADS_2