DiLeMa CINTA

DiLeMa CINTA
Maafkan aku Sahabatku


__ADS_3

Roy merasakan perih pada punggung tangannya. Tapi perih di hatinya jutaan kali lebih menyayat hatinya. Terlintas jelas di matanya. Saat pria brengsek itu dengan tanggkas memeluk dan mencium Syifa. Memang ia rela melepaskan Syifa. Kalau memang itu yang menjadi pilihannya. Ia rela terluka asalkan Syifa bahagia. Itu janjinya saat ia berusaha memperjuangkan cintanya dua hari lalu. Tapi ia tak menyangka Adi akan melakukan semua itu dihari pertama mereka jadian. Dan ia tau betul Syifa bukanlah wanita yang akan dengan mudah melakukan hal semacam itu.


"ARrrrrraaaaaaaaGH.....," Roy geram pada dirinya yang tak mampu melindungi sahabatnya.


"Dugh......" sekali lagi bogem mentah Roy mendarat liar di tembok belakang kantin.


Cemburu, marah, menyesal, semua perasaan itu berkecamuk dalam hatinya. Ia merasa bodoh. Cinta di depan mata ia abaikan. Kini saat cinta melangkah mencari jalannya. Ia kebakaran jenggot sendiri.


"Bodoh!!!" bisik Roy penuh tekanan.


Roy menempelkan wajahnya ke tembok. Frustasi. Semua tak semudah yang ia katakan. Ia bilang rela asal Syifa bahagia. Nyatanya kini ia tak terima dengan mengkambing hitamkan pelukan dan ciuman.


"Dugh ..." sekali lagi Roy menyakiti dirinya sendiri.


"Hentikan Roy.....!!!" teriak Syifa panik seraya menerjang kearah Roy.


Diraihnya tangan Roy yang kini berdarah. Takut menyergap hatinya. Kepalan tangan Roy samasekali tak mengendur. Kemarahan yang besar.


"Roy maafin aku, aku tau aku salah.... " Syifa berusaha menahan tangan Roy yang masih mengepal kuat-kuat penuh emosi.


"Lepasin Fa!!" bisik Roy menakutkan.


"Aku mohon hentikan ... aku minta maaf... aku tau aku salah, tapi gak harus gini Roy" Syifa mengabaikan rasa takutnya.

__ADS_1


"Aku bilang lepas!" Roy menepis tangan Syifa.


Syifa tertegun, ia hampir jatuh karenanya. Ia tak menyangka Roy yang selalu lembut bisa semarah ini.


"Roy kita harus bicara .... aku minta maaf" Syifa kehabisan kata-kata.


Sadar betul ia salah. Telah menerima cinta Adi, sementara Roy ia gantungkan.


"Gak papa Fa kamu gak salah itu hak kamu untuk memilih dia" Roy luluh melihat wajah pias Syifa.


Syifa menggeleng kuat-kuat dengan mata berkaca-kaca. Tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.


"Kemarin aku sudah bilang kan? aku bakal terima apapun keputusan kamu" Roy melanjutkan.


Roy emalingkan muka, menyembunyikan ekspresi wajahnya dari Syifa. Perlahan amarahnya memudar. Apalagi saat dilihatnya Syifa berkaca-kaca.


... aku salah tentang dia .... tapi kamu harus tau, aku gak bisa mundur" lirih Syifa mencurahkan sesal di hatinya.


Dalam benaknya terbayang kisah cinta yang terlalu dewasa, kisah cinta yang tak semestinya ia jalani. Adi yang sudah mala melintang dunia itu. Sudah barang tentu sangat terbiasa dengan yang namanya ciuman dan pelukan.


"Udahlah Fa ... kita jalani aja, aku harap kamu bisa jaga diri. Dia, Adi cowok yang berpengalaman dalam hal semacam itu" Roy berkata perih. Lebih perih dari luka yang sedang dibersihkan Syifa.


Dibiarkannya Syifa membersihkan lukanya dengan tisu, ditatapnya gadis yang sudah lama ia cintai itu lekat-lekat.

__ADS_1


seandainya bisa selamanya seperti ini walau hanya dalam kata persahabatan, tapi mengapa harus ada orang lain diantara kita?


"Aku tau, setelah ini aku mungkin tak akan bisa leluasa bertemu dengan kamu Roy, tapi kumohon jangan menjauh tetaplah menjadi sahabat ku yang selalu menasihati" egois Syifa memohon.


Ingin ia memilih Roy namun entah mengapa ia tak mampu menolak Adi hari itu. Ia bahkan tak mampu menolak pelukan dan ciuman Adi dan lebih parahnya ia tak mampu menggungkapakan kemarahannya. Ia hanya bisa diam dan jatuh terbuai dalam nuansa lain kehidupan.


"Aku nyesel Fa, gak bisa meyakinkan kamu hari itu. tapi sudahlah semua sudah terjadi, jalani dengan setulus hati aja" sahut Roy mulai tenang.


"Maaf....." ucap Syifa penuh sesal.


*M*aaf sejujurnya aku mencintaimu,namun aku juga ingin menjadi kekasih Adi.


"Aku akan selalu menjadi sahabat sejati yang selalu ada buat kamu. aku akan selalu berdoa semoga Adi mulai menyadari kesalahannya telah menyeret kamu kedalam hidupnya"


Roy duduk di lantai, menyandarkan tubuhnya ke tembok. Tak peduli seberapa kacau keadaannya. Syifa mengikuti duduk disampingnya.


Hening sejenak,


"Aku akan menunggumu, Fa" lanjut Roy penuh percaya diri.


Kata-kata itu begitu menohok ulu hatinya. Air mata Syifa mengalir lembut di pipinya. Tak menyangka sebesar itu cinta yang Roy janjikan untuknya.


Tak tahan menghadapi Roy, Syifa berlari meninggalkan Roy dengan hati kian terluka.

__ADS_1


Remuk redam jiwanya telah mengabaikan ketulusan cinta Roy. Dan dengan bodohnya, malah memilih Adi. Yang walaupun ia mencintainya, Adi adalah tipikal cowok yang suka akan hubungan fisik.


Roy hanya bisa menatap punggung Syifa yang perlahan menghilang dengan tatapan nanar.


__ADS_2