DiLeMa CINTA

DiLeMa CINTA
Merasa Bahagia


__ADS_3

Pagi buta, dingin menusuk tulang membuat tubuh menggigil. Kabut belum juga sirna dari cakrawala. Embun pagi masih anggun bergelayut manja diujung dedaunan. Deru angin lembut membelai semesta. Selaras dengan irama tari pepohonan yang meliuk-liuk mempesona. Sungguh nuansa indah alam yang tak ada duanya.


Syifa membuka matanya perlahan. Melawan rasa malas yang memeluk jiwa. Selimut yang sejak tadi rapat menutupi seluruh tubuhnya buru-buru ia lempar sebelum rasa malas kembali menariknya kebalik selimut.


Melawan rasa dingin yang menusuk. Syifa mandi bagaikan orang ngamuk. Suara air jatuh dari ketinggiandengan mengalahkan gemericik air dari kran. Ia mengguyur tubuhnya dengan cepat. Membuat air hanya lewat saja tanpa membasahi tubuhnya. Belum sepenuhnya basah Syifa segera menyapukan sabun ke tubuhnya. Setelah merasa cukup ia segera membilas diri dengan lebih membabi buta, hemat kata Syifa mandi secepat kilat.


"Hemat air.... Woi......" teriak temannya sambil gedor-gedor pintu.


"Iya, iya, udah selesai ni " balas Syifa berusaha lebih keras dari suara air.


30 detik kemudian Syifa keluar sambil membenahi roknya yang belum terpakai sempurna.


"Jorok kamu ah"


"Biarin, sini kalo ada yang mau lihat" balas Syifa sambil kembali melonggarkan roknya.


"Syifa!!!!!!" teriak temannya segera kabur meninggalkan Syifa yang tertawa hingga sakit perut.


"Lumayan, bercanda gini, bikin badan sedikit anget" gumamnya sambil berjalan santai ke kamarnya.


Usai sholat subuh, Syifa menyiapkan tas dan bukunya, ganti baju kemudian berangkat ke sekolah.


Terlalu pagi memang. Kalo aja hari ini ia tidak ada giliran piket kelas. Sudah tentu ia memilih duduk santai di kamar sambil ngopi sampai jam menunjukkan pukul setengah tujuh.


Sampai disekolah ia segera menyambangi kelasnya yang memprihatinkan. gimana enggak. Jam terakhir kemarin, kelas mereka kosong dan sebagian siswa asyik bermain lempar-lemparan kertas. Sehingga sampah hari ini, didominasi oleh gumpalan-gumpalan kertas.


Syifa asyik menyapu lantai, mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan dari tiap sudut meja dan bangku, mengeluarkan sampah dari tiap laci yang sebagian besar laci cewe dipenuhi bungkus makanan ringan. Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada sebuah kertas bermotif bunga mawar berwarna merah muda ia tau betul itu adalah salah satu bagian dari buku Roy.


Ingin Aku Tapi Tak Mampu


Sahabat


andainya bisa kuungkapkan


telah lama rasa ini bersemayam


Andainya bisa ku pertahankan


kan kulakukan walau sampai darah penghabisan


Andainya engkau tau


cinta ini hanya untukmu


kau doa malam ku


kau muara hatiku


Karnamu serpihan hati yang tersakiti


perlahan utuh kembali


Tanpa kau sadari

__ADS_1


kau satukan kembali serpihan hati


yang hancur


Andainya bisa ku lukis kan


seberapa indahnya rasa ini


Sahabat mungkin aku kejam


Namun inilah hati yang mencintai


Hati yang tersakiti


Sebelum memiliki


Dalam doaku


Kubisik kan sebait permohonan


semoga kau kan kembali padaku


"Tek" sapu terlepas dari tangannya.


"Adaw.....!!" teriak Syifa sambil melompat-lompat Dangan satu kaki. Tanpa sengaja ia menjatuhkan sapu yang ia pegang, yang menimpa ujung jarinya.


Kertas itu terlepas dari tangannya. Melayang-layang kemudian jatuh tepat di depan pintu tepat ketika Roy menginjakkan kaki di sana. Tatapan mereka beradu masing-masing memancarkan rasa takut.


"Woi. .. beri jalan woi... jangan tidur didepan pintu" teriak seseorang dari belakang, yang tak memberi kesempatan Roy berpikir.


"Roy" pekik Syifa sambil bersiap untuk menolong Roy.


Seakan tak terjadi apa-apa. Roy segera bangkit sambil memungut kertas itu. Buru-buru memasukkannya kedalam saku celananya sebelum Syifa sempat membantunya berdiri.


"Roy maafin aku" bisik Syifa sendu " aku gak mau dianggap cewek gak bener, jadi, meski berat, aku harus memilih" tatapannya menerawang mengenang setiap jengkal kenangan indah.


bila kenangan adalah tinta


maka engkau adalah tinta merah yang mengisi separuh kenangan ku


bersamamu kehidupan yang selalu suram


kini terang bagai siang


kau mewarnai kehidupanku


"Hoi hoi ngelamun ni, mana kelar nyapunya?" suara Adi membuyarkan lamunannya.


"Oh Adi" tergagap Syifa membalas sapaan kekasihnya itu.


"Ngelamunin aku ya?"


"Ih pd banget sih kamu"

__ADS_1


"Abis sampai segitunya, dipanggil dari tadi gak nggeh, mikirin apa to?"


"Mikirin apa ya?" Syifa balik nanya sambil garuk-garuk kepala yang gak gatal.


"Ah udah deh, laper ni kantin yuk" sambung Adi sambil menggosok perutnya yang rata.


Seperti mendapat angin segar. Selain ia sudah kelaparan ia juga bisa bebas dari pertanyaan maut Adi.


"Ok entar ya, ku kelarin dulu nyapunya" bahagia, Syifa segera menyelesaikan tugasnya dengan tergesa-gesa.


Kelar nyapu Syifa segera mengembalikan peralatan ketempat nya dan segera tancap gas ke kantin sama Adi.


Setelah memesan menu andalan kantin. Apa lagi kalau bukan soto seger sama mendoan tempe dilengkapi segelas teh manis anget. Terasa pas, nikmat, dan terjangkau.


Asap mengepul dari mangkuk dihadapan mereka. Ditemani tempe mendoan yang masih anget. Begitu menggugah selera. Tanpa ba-bi-bu Syifa langsung menambahkan sambal dan kecap ke mangkuknya. Mengaduknya bentar, mencicipi menambahkan lagi, mengaduk dan mencicipi lagi hingga menemukan rasa yang pas. Begitu dirasa pas, Syifa langsung melahapnya.


Didepannya Adi hanya bisa tersenyum melihat tingkah Syifa. Disaat seperti itu entah mengapa ia tampak cantik dalam pandangan Adi, begitu alami dan jujur.


"Napa belepotan ya? " tanya Syifa menyadari Adi memperhatikannya. Sambil buru-buru menyeka mulutnya.


"Nggak kok" balas Adi gugup sambil mengalihkan pandangan.


Sama-sama malu mereka pura-pura makan.


"Oh ya seminggu lagi kita ujian akhir, kamu ada persiapan khusus?" tanya Syifa setelah hening sejenak.


"Gak, kurasa les tambahan di sekolah udah cukup asal kita serius"


Syifa manggut-manggut setuju, ditatapnya wajah Adi yang hari ini tampak lebih tampan, ia masih belum percaya cowok keren didepannya itu adalah kekasihnya. Begitu banyak gadis yang jauh lebih cantik darinya yang terang-terangan mencoba mencuri perhatiannya. Tapi mengapa ia malah memilih cewek yang sama sekali tidak menonjol seperti dirinya? Katakanlah standar gak cantik tapi gak jelek juga. Sebenarnya hingga detik ini Syifa masih belum percaya dengan hubungan mereka.


"Kalo orang bilang kamu gak cantik, itu salah, kamu itu cantik dari dalam, dan sejujurnya kamu itu manis, sangat manis, makin di pandang makin menyenangkan dan bibir kamu itu, begitu menggoda" itu kata Roy memberi tekanan pada kalimat begitu menggoda. Yang langsung dapat bogem manja dari Syifa.


"Ngelamun lagi, mikirin apa sih? kok dari tadi bengong terus?" berondong Adi bak polisi sambil menyesap tehnya.


"Ya mikirin kamu lah" jawab Syifa asal.


"Emang masih perlu dipikirin orang yang ada didepan kamu?" balas Adi tanpa ekspresi.


"Mau mendoan? " tanya Syifa mengalihkan topik pembicaraan.


"Gak, gak! udah kenyang" Adi tersenyum sambil mendorong tangan Syifa yang memegang mendoan.


Alih-alih mengembalikannya ke nampan Syifa malah membenamkan mendoan itu kedalam kuah dalam-dalam, kemudian melahapnya penuh kenikmatan.


"Laper apa doyan?" tanya Adi sambil geleng-geleng kepala.


"Dua duanya" jawab Syifa sambil pasang muka sok manis.


"Kamu......" Adi menghentikan kalimatnya sambil menatap bibir Syifa yang basah dengan pandangan "ingin" .


"Jangan salahkan aku, kalau aku menciummu didepan umum" ancamannya seraya mencondongkan badan.


Sontak Syifa mundur dan memperbaiki posisi duduknya. Wajahnya bersemu merah menahan malu, karena sekarang mereka berdua tengah menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


Syifa tak habis pikir, mengapa Adi selalu mencari kesempatan untuk menciumnya?


__ADS_2