DiLeMa CINTA

DiLeMa CINTA
Transplantasi


__ADS_3

Setelah melakukan berbagai macam pemeriksaan, 3 jam kemudian hasil laboratorium nya keluar. 3 jam yang terasa bagi berabad-abad. Terus memohon dalam hatinya, semoga ia bisa berbagi ginjal dengan ibunya.


apalah arti sebuah ginjal dibandingkan seluruh raga yang tumbuh dari darah dan dagingnya bukankah pada hakikatnya tubuh ini bagian dari tubuhnya? apa pun hasilnya setidaknya sudah berusaha


Satu jam kemudian Syifa sudah terbaring di atas meja operasi di sebuah ruangan yang terhubung dengan ruang operasi untuk mempersiapkan diri. Menaggalkan satu demi satu pakaiannya dan menggantinya dengan selembar pakaian yang lebih pantas disebut kain panjang dengan satu lubang ditengahnya dan terbelah di bagian belakang yang hanya dirapatkan dengan beberapa perekat yang dipasang sembrono. kondisinya kini tak jauh berbeda dengan ibunya. Jarum infus menusuk pergelangan tangannya mengalirkan cairan pengganti makanan.


" tidak.... " tegas Syifa panik ketika perawat itu menyuruhnya melepaskan pakaian dalamnya


" tapi mbak setelah operasi kondisi anda tidak akan memungkinkan anda turun dari ranjang untuk buang air kecil " terang perawat itu sabar. setelah berdebat sejenak akhirnya Syifa mengalah, ia tak ingin mengulur waktu operasi hanya karena masalah itu.


Dengan setengah hati Syifa melepaskan celana dalamnya, kini ia sempurna bugil yang bersembunyi dibalik selembar kain.


Jiwa Syifa kian tertekan ketika perawat itu menyuruhnya membuka pahanya lebar-lebar. Meski sesama wanita ia merasa malu setengah mati, setengah hati Syifa mengikuti interuksi sang perawat, membuka pahanya sedikit


" ya lebih lebar..... ya sedikit lagi " katanya tanpa dosa. wajah Syifa memerah malu merasakan bagian tubuhnya yang paling rahasia terbuka dan rasa dingin menyeruak sedikit kedalam. Dan rasa malunya kian memuncak ketika dengan santainya perawat itu melongok ke dalam mencari posisi kemudian memasukkan selang beberapa inci kedalam tubuhnya hingga mencapai kandung kemih.


Syifa menggigit bibirnya tangannya mencengkram seprei di bawahnya, menahan rasa sakit saat benda asing itu dipaksa memasuki tubuhnya. Rasanya sangat tidak nyaman, setelah selang itu sempurna mencapai kandung kemihnya, seperti orang kebelet namun tidak dapat mengeluarkannya, ingin rasanya ia menarik benda itu dan segera berlari ke toilet, namun apa daya.


Menit berikutnya ia menemukan dirinya didorong menuju sebuah ruangan besar yang terasa sangat luas dengan cat putih bersih. Di setiap sudutnya ada berbagai macam alat medis yang sangat banyak. Udara dalam ruangan itu terasa sangat dingin.


Seorang dokter menghampirinya menjepitkan dua penjepit kabel yang terhubung pada monitor pada ibu jari dan jari tengahnya, seketika begitu benda itu menyentuh kulitnya monitor langsung menunjukkan angka-angka yang ternyata menunjukkan tekanan darah dan detak jantung. Selesai itu dokter menyuruhnya duduk, menyingkap kain yang menutupi tubuhnya bagian belakang. Meraba sesaat kemudian menyuntiknya pada 3 titik di bagian tulang pinggul belakang. Pada saat-saat terakhir kesadarannya ia mendengar suara gilaan roda pada lantai " ibu..... " batinnya kemudian ia merasa kantuk yang amat sangat.


Benar suara tadi memang ibunya, yang kini terbaring tak sadarkan diri setelah seperti apa yang diberikan pada Syifa, tak perlu waktu lama, obat bius itu bekerja dalam hitungan detik. Ibunya dibaringkan di samping Syifa hanya berjarak sekitar satu setengah meter dan dipisahkan oleh selembar kain yang disebut gorden. Mereka ditangani oleh 2 tim medis yang berbeda namun saling kerjasama.


Di sepertiga kesadarannya Syifa menyadari kini dia tak ubahnya seonggok daging tak berharga dihadapan sekumpulan manusia. Ia terbaring pasrah ketika satu-satunya kain yang melindungi tubuhnya dari pandangan manusia disingkap untuk kemudian disampirkan pada sebuah besi stainless kecil yang diposisikan vertikal di atas dadanya menciptakan pemisah antara kepalanya dengan bagian bawah tubuhnya, sehingga pasien tidak dapat melihat apa yang terjadi pada tubuhnya.


Hawa dingin menjalari tubuhnya dada kebawah, kemudian sesuatu yang lebih dingin terasa dioleskan di seluruh permukaan perutnya kemudian ia tak merasakan apapun kecuali pada bagian perutnya serasa ada beberapa serangga yang berjalan meloncat loncat disana.

__ADS_1


Syifa membuka matanya perlahan, dan matanya terasa sakit ketika cahaya mulai menerpa pupil matanya kembali ia memejamkan mata kemudian mengerjap pelan berusaha menyesuaikan matanya dengan intensitas cahaya di ruangan itu.


Ketika ia mampu mengenali ruangan itu, ia sadar ia seorang diri di dalam ruangan itu


" ibu..... " bisiknya yang lebih terdengar seperti suara rintihan.


" Anda sudah siuman "


" suster dimana ibu saya, bagaimana keadaannya?" tanyanya tak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan sang suster juga tak memperdulikan dingin yang menggigit sekujur tubuhnya. Ia menggigil bercampur kantuk.


" ada beliau baik-baik saja, syukurlah operasinya berjalan lancar" sahutnya seraya meletakkan sebuah bantal besar pada perutnya kemudian menaikkan selimut hingga ke dada.


" tidurlah sesaat nanti anda akan baikan "


" tapi saya ingin melihat kondisi ibu saya " bantahannya tak menyadari kondisi tubuhnya yang kini lemah bahkan untuk mengangkat tangan pun ia tak sanggup.


Syifa merasa tertidur terlalu lama. Ia bangun dalam keadaan tak berdaya, separuh tubuhnya masih sulit digerakkan. Dan rasa nyeri kini mulai menyerang perut bagian bawahnya, ia hanya bisa berharap akan ada siapa pun yang datang dan ia akan memohon untuk diantarkan pada ibunya.


" pagi ......" diam sesaat, melongok untuk membaca nama yang tertera pada papan di dinding "......Syifa bagaimana perasaan kamu hari ini? " sapa seseorang yang ia pikir seorang dokter di lihat dari penampilannya. Usianya kira-kira 35 tahun, badannya tegap atletis dan tampak makin macho dengan warna kulitnya yang sedikit gelap khas lelaki yang giat bermain dibawah terik matahari.


" pagi dok? " dari pada menjawab sapaan pak dokter ia malah bertanya.


" ya ini sudah pagi Syifa "


" dok tolong antar kan saya ketempat ibu saya" kata Syifa memohon.


" sabarlah Syifa saya akan cek kondisi kamu dulu, setelah itu saya antar pada ibu kamu"

__ADS_1


Dengan cermat dokter itu memeriksa kondisi fisik Syifa, memeriksa aliran infus dan menyesuaikan dengan kebutuhan. Alat-alat yang kemarin melilit tubuhnya kini sudah dilepas, menyisakan selang infus dan selang pembuangan urin yang sangat menggangu sekali. Malu sekali ketika dokter itu tanpa rasa risih mengalikan urin yang tertampung ke wadah yang sudah disediakan.


" jangan dokter!! " pekiknya dengan wajah merona.


" tak apa ini sudah biasa saya lakukan, lagian saya dengar kamu tak ada yang menunggu? "


Entahlah, mengapa sejak kemarin pamannya tak datang, sehingga membuatnya sendirian dan seorang dokter harus membersihkan urinnya tapi apakah pamannya akan mau melakukan hal itu, sebagai seorang dokter tentu beliau bersikap profesional, bukankah mereka dibayar untuk itu? ah entahlah. Padahal ia sudah memberi tahunya dengan telpon genggam dari dokter Nia kalau mereka harus melaksanakan operasi ganda yang biayanya super mahal. Tak dapat jawaban dari pamannya, ia hanya bisa menghubungi dokter Nia. Ia tak tau lagi mesti meminta bantuan siapa?.


Setelah menceritakan semua yang terjadi dan apa yang harus dilakukan, dokter Nia berjanji akan membantunya sebisanya.


" kamu tenang aja aku akan mengurusnya dari jauh, dan entah apa yang dilakukan dokter Nia sehingga paginya ia sudah diberitahu kalau operasi bisa dilaksanakan dan ia harus mempersiapkan diri untuk pemeriksaan tes kecocokan.


Dokter itu keluar ruangan sesaat kemudian masuk kembali dengan membawa kursi roda yang dilengkapi tiang penyangga infus. Setelah mengunci rodanya agar tidak berjalan sendiri, dokter itu membantu Syifa duduk.


" kamu pegang ini agar tidak sakit " katanya sambil menyerahkan selang urinnya, ingin ia memakai topeng saat itu juga. Wajahnya terasa panas saat menerima benda terkutuk itu setidaknya hanya menurut Syifa saat ini benda itu menjadi sangat terkutuk.


Dengan lembut dokter itu membopong Syifa kemudian mendudukkannya di atas kursi roda, meskipun begitu ia masih merasakan perih pada sayatan diperutnya saat tubuhnya terangkat, tapi ia tak peduli saat ini ia hanya ingin melihat kondisi ibunya.


Beruntung tadi pagi ia sudah siben ( membasuh wajah tubuh dan tangan dengan air hangat dicampur antiseptik menggunakan kain ) dan berganti pakaian dibantu oleh perawat, sehingga ia tidak harus selalu menanggung malu di hadapan dokter itu.


Setelah menyematkan kantong infus pada tiang penyangga,4 pasang roda kecil dibawah Syifa mulai menggilas lantai perlahan. Dibelakangnya dokter itu mendorong dengan lembut sehingga terasa nyaman bagi Syifa yang baru saja melakukan operasi.


" pagi Dokter Wisnu " sapa seorang perawat padan dokter yang ternyata bernama Wisnu.


" pagi suster Indah " balasnya ramah pada suster cantik itu.


Perjalanan itu terasa lama sekali. Terlebih sapaan-sapaan hangat para perawat yang berpapasan dengan mereka membuat Syifa merasa risih terlihat banget mereka pada lagi cari perhatian.

__ADS_1


Syifa menatap Dokter Wisnu penuh tanya saat ia dihentikan didepan sebuah ruangan dengan dinding kaca seluruhnya. Syifa melihat keatas dan melihat papan kecil bertuliskan isolasi.


__ADS_2