
Sebelum berangkat ke sekolah, terlebih dahulu Syifa mampir ke asrama untuk meminjam seragam. Gak pake lama, seragam telah disiapkan di meja kamar. Seperti masih menjadi penghuni asrama. Syifa menghampiri kamar Riska, mengambil kunci yang tersimpan dibawah pot bunga di teras, membuka pintu, dan menyeruak masuk. Tak lama kemudian Syifa keluar dalam balutan seragam rapi.
"Hai Fa"
Syifa menoleh dan melihat Roy dengan senyum manisnya. Dia memang sahabat terbaik. Tak peduli seberapa parah Syifa menyakitinya, ia selalu ada buat Syifa.
"Roy, sejak kapan kamu disitu?"
"Lumayan lama, aku lihat kamu masuk gerbang asrama tadi, trus aku ikutin deh, o ya, mau ujian susulan kan?"
"Ya, semoga aja lancar"
"Amin"
Mereka berjalan beriringan menuju sekolah. Masing-masing menceritakan keadaan mereka saat ini. Roy mencoba peruntungan beasiswa di Unnes Semarang. Melalui jalur PMDK makanya sekarang ia sedang giat belajar.
"Ngambil jurusan apa?" tanya Syifa.
"Sastra Jawa, aku ingin mendalami kebudayaan Jawa" Roy memperlihatkan buku-buku yang ia bawa.
"Bagus itu" Sahut Syifa, yang tau betul Roy menyukai sastra Jawa.
"Semoga keterima"
"Ya, semoga kamu juga bisa lulus"
"Makasih Roy"
Mereka berpisah didepan gedung perpustakaan. Roy pergi bergabung dengan teman-temannya, sedangkan Syifa harus pergi ke gedung pertemuan dimana ujian susulan akan diadakan.
Ternyata yang ikut ujian susulan lebih banyak dari yang Syifa pikirkan. Siswa-siswa dari sekolah lain mulai berdatangan. Wajah-wajah asing mulai berdatangan memenuhi koridor ruang pertemuan. Tak satupun dari mereka yang Syifa kenal. Untuk itu Syifa memilih terbenam dalam poin-poin yang sudah diberikan oleh dokter Wisnu semalam.
Syifa membaca ulang materi yang tak terlalu banyak. Memang, untuk anak IPA, pelajaran Sejarah dan Geografi hanya sekedar untuk pengetahuan umum. Sejarah untuk menanamkan rasa nasionalisme. Sedangkan Geografi mempelajari tentang kependudukan.
Hingga bel masuk berbunyi Syifa masih asyik membaca. Hasilnya tidak mengecewakan. Sebagian besar soal mampu ia kerjakan. Bahkan di jam kedua ia merasa soal-soalnya banyak yang mudah.
Syifa menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menunduk. Hatinya dipenuhi rasa syukur. Setelah mengumpulkan soal sekaligus lembar jawab, Syifa melangkah keluar dengan ringan. Beban dalam hatinya ia tinggal di dalam. Kini ia tinggal menunggu hasil kerja kerasnya.
__ADS_1
Sampai di luar, Syifa disambut teman barunya. Namanya Juan, dari pertama ketemu cewek yang satu ini gak pernah berhenti menggerakkan jarinya dari layar hp. Di setiap ada kesempatan jarinya langsung lincah menelusuri layar gadget. Usut punya usut ia menjalankan bisnis online. Menjual berbagai macam barang. Baju, sepatu,tas, bahkan alat-alat rumah tangga.
"Apa aja dah, asal kita punya koneksi sama yang punya barang, yang kita lakukan cuma sebarin foto, ada yang minat syukur, gak ada gak rugi" katanya menerangkan.
"Kamu bener, caranya gimana?"
Syifa sangat tertarik akan hal itu. Ia bertanya panjang lebar. Untungnya, dengan senang hati Juan menerangkan. Bahkan memberinya tips-tips agar tidak mudah ditipu oleh pembeli maupun penjual.
"Soalnya kita gak ketemu langsung, jadi ada banyak kemungkinan penipuan, tinggal gimana kita berhati-hati" katanya mengakhiri penjelasannya tentang suka duka bisnis online.
Dari situ Syifa mulai tertarik dengan bisnis online. Memikirkan cara untuk bisa segera memulainya.
Setelah ngobrol panjang lebar Syifa mohon diri. Ia ingin menemui Adi. Rasanya sudah lama tidak bertemu. Meski sekarang tempat tinggal mereka berhadapan, Syifa tau kondisi yang jauh berbeda, mengharuskannya untuk bersikap tidak saling mengenal. Untuk itulah Syifa ingin menemui Adi di sekolah.
Syifa berjalan ke parkiran. Siapa tau Adi masih di sana. Di sana Syifa hanya melihat Ben sama Nuri kekasihnya.
"Ben, Adi mana?" tanya Syifa setelah dekat.
"Lagi makan sana Roni di kantin timur"
"Yoi"
Syifa melangkah ringan menuju kantin timur. Rasa rindu tiba-tiba membuncah. Membuatnya lupa betapa sesungguhnya hubungan mereka menjadi rumit semenjak ia bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Tak dapat dipungkiri. Seluruh dunia tau 99% orang kaya akan menentang hubungan asmara tuan muda dengan asisten rumah tangga. Sebesar apapun cinta, kalau yang dibahas harta, sebagai orang tak punya harga dirinya pasti terluka. Tapi cinta ini tengah bersemi. Mampukah Syifa melalui semua itu.
Syifa makin mendekati kantin. Senyum manis menghiasi bibirnya. Dilihatnya Adi dan Roni duduk membelakangi pintu. Syifa mempercepat langkah. Tiba di pintu Syifa bersiap untuk memberi kejutan untuk Adi.
"A..." Suaranya terhenti. Langkahnya pun terhenti.
"Apa Syifa sudah tau?" tanya Roni. Suaranya terdengar jelas. Kantin saat itu agak lenggang.
Entah apa yang mereka bicarakan. Yang Syifa pikirkan. Ada yang tidak beres dengan dirinya. Penasaran, Syifa mendengarkan pembicaraan mereka.
"Tidak, dia gak bakalan tau, orang dia cinta mati sama aku"
"Hahahaha" Roni tertawa. " Trus gimana sama Clara?"
__ADS_1
"Lagi males ni urusan sama cewe"
"Cie.... tumben-tumbenan kamu males, oh ya terus gimana kalo dia cinta sama kamu?"
"Biarin, anggap aja udah putus, lagian sekarang dia jadi art entah di mana"
"Jangan gitu dong, dia kan baru aja kehilangan....."
"Ah, aku juga tau, kalo nyokapnya gak meninggal, udah dari kemarin sandiwara ini berakhir"
"Gak nyangka kamu bisa sekejam ini sama dia"
"Kenapa? apa kamu suka sama dia?"
"Cukup!!!" Teriak Syifa sudah tak tahan lagi. Dadanya naik turun, menahan emosi yang meluap-luap.
Dengan ganas, Syifa menghampiri mereka yang kini tengah tertegun. Matanya menatap tajam penuh amarah. Kedua tangannya mengepal kuat-kuat hingga kuku-kuku jarinya menusuk telapak tangannya.
"Puas?!!!" suara Syifa serak.
"Ini, ini, tidak seperti yang... "Adi terbata.
Ingin sekali Syifa tertawa terbahak-bahak melihat wajah Adi. Cowok yang selalu penuh percaya diri itu, bisa terbata di depan cewek bodoh seperti dirinya.
"Plak!!!" Syifa menampar pipi Adi. Menumpahkan seluruh emosi yang menguasai hatinya.
"Terimakasih untuk semuanya" Bisik Syifa dengan mata berkaca-kaca, kemudian berlari keluar.
Adi menelan ludah yang terasa seperti batu. Menyentuh pipinya yang memerah. Disampingnya Roni masih melongo. Belum bisa mencerna apa yang terjadi barusan. Semua terasa begitu cepat.
"Napa lihat-lihat?!!!" bentak Adi.
Beberapa murid yang menyaksikan semua itu segera membubarkan diri. Membawa gosip paling hangat ke seantero sekolah.
"Gila, berani juga tu cewek" Roni bergumam sambil geleng-geleng kepala.
Malu setengah mati. Adi bangkit dari duduknya kemudian pergi meninggalkan kantin. Harga dirinya jatuh hingga titik yang belum pernah ia capai. Ditampar di depan umum oleh cewek seperti Syifa adalah pengalaman paling menohok ulu hatinya.
__ADS_1