DiLeMa CINTA

DiLeMa CINTA
Ujian Susulan


__ADS_3

Siangnya, sekitar pukul sembilan, saat Syifa membuang sampah. Syifa melihat Adi, benar-benar Adi, tengah bermain basket didepan rumah. Meski terhalang pagar Syifa yakin betul bahwa dia itu Adi kekasihnya. Postur tubuh dan gaya permainan yang sangat ia hafal.


Efeknya, ia mulai tidak fokus bekerja. Macam-macam pikiran menggangu nya. Perasaan lebih pada dokter Wisnu, pemberitahuan dari sekolah yang menyuruhnya untuk mengikuti ujian susulan, ditambah Adi kekasihnya ternyata tinggal di depan rumah tempat ia bekerja.


Untungnya, Dava masih belum bisa apa-apa, yang penting digendong, minum susu, ganti popok, yah gak lari-larian sampai jatuh gitulah. Perubahan yang paling mencolok, Syifa jadi jarang mengajak Dava bicara.


"Syifa jangan ngelamun, ntar den Dava jatuh lho" tegur mbok Inah siang itu. Saat mereka makan siang


" Oh iya maaf" tergagap Syifa menyahut, buru-buru ia memeriksa roda kereta bayi yang Alhamdulillah sudah ia kunci.


"Emang ada apa? mbok perhatiin, dari tadi kamu bengong mulu."


"Ah gak papa mbok, cuma, agak kangen aja sama suasana rumah" bohong Syifa.


"Oo... kalo itu mah kamu harus kuat, biar masalah kamu cepat selesai, ya to?" nasihat mbok Inah yang sudah tau banyak tentang Syifa.


"Iya mbok, mbok bener, oh ya mbok, boleh gak Syifa minta tolong?"


"Minta tolong apa? selama mbok bisa pasti mbok bantu"


"Gini mbok, aku tidak kemarin dapat SMS dari paman aku di desa, katanya ada surat dari sekolah, aku suruh ikut ujian susulan"


"Lha itu bagus, kamu harus berangkat bagaimanapun caranya"


"Tapi mbok, ujiannya besok pagi, terus den Dava?" Syifa menggantung kalimatnya.


"Tenang aja Syifa, biar den Dava sama saya"


"Mbok pasti repot kalo harus masak sama ngurus den Dava."

__ADS_1


"Ah gak usah pusing-pusing, nyuci bisa kita loundry, masaknya bisa nunggu kamu pulang kan?"


Agak lama mereka mendiskusikan hal itu. Akhirnya dengan yakin, Syifa mengambil kesempatan itu. Nanti malam ia akan minta izin sama Dokter Wisnu. Kata mbok Inah, Dokter Wisnu orang yang baik, beliau pasti akan mengizinkan.


Tak disangka dokter Wisnu sangat mendukung keputusannya. Ia bahkan mengizinkan Syifa menggunakan perpustakaan pribadinya. Menemukan buku-buku yang dibutuhkan. Pastinya Syifa sangat berterimakasih karena sejujurnya ia samasekali tidak mempunyai buku untuk dibaca malam itu. Rencananya ia akan berangkat pagi-pagi untuk belajar di perpustakaan. Tapi nasib baik sepertinya berpihak padanya sehingga ia dengan mudah menemukan semua buku yang ia butuhkan, bahkan tanpa keluar rumah.


Setelah mencari-cari akhirnya Syifa menemukan buku setebal 5 cm dengan ukuran besar. Tertulis dengan huruf kapital pada sampul depan ' KUMPULAN MATERI UJIAN NASIONAL ' dibawanya tertulis mata pelajaran apa saja yang dimuat didalamnya. Tanpa pikir panjang Syifa segera mengambil buku itu.


"Pilihan yang bagus"


Syifa terlonjak kaget mendengar suara dokter Wisnu, yang entah sejak kapan ada di situ.


"Ah dokter Wisnu, dokter mengagetkan saya" kata Syifa sambil mengelus-elus dada.


"Maaf gak bermaksud gitu, sini biar aku bantu kamu pilih materi yang tepat" katanya dengan nada santai namun tak dapat dibantah.


Syifa menatap tak percaya.


"Tapi dokter, saya .... saya...." Syifa terbata, tak tau harus bagaimana.


"Kemari!" perintahnya sambil duduk di bangku yang terletak tepat di tengah ruangan.


Dengan patuh Syifa melangkah maju, menarik sebuah kursi tepat di depan dokter Wisnu. Mereka duduk berhadapan, terpisah oleh sebuah meja kayu yang kokoh dan mengkilap. Dokter Wisnu meraih buku yang dibawa Syifa dan langsung mencari-cari halaman yang ia inginkan.


"Pelajaran apa besok?"


"Sejarah sama Geografi" jawab Syifa ragu.


Ini gila, batin Syifa saat mencium aroma segar dari seberang, yang mampu membuatnya gelisah seketika. masa bisa gelisah gini duduk berdua sama pak dokter, ini gak boleh terjadi. Syifa menarik nafas dalam-dalam. Memantapkan hati agar tidak terlena akan pesona dan kebaikan pak dokter.

__ADS_1


"Baik untuk dua pelajar itu, inti pokoknya kamu harus sering-sering membaca aja"


Diam. Hanya suara lembar-lembar kertas yang dibuka dengan hati-hati. Syifa tak bisa menahan diri untuk tidak menatap wajah yang tengah serius itu. Begitu berwibawa, penuh kasih, baik hati dan meski usianya tak lagi muda, namun wajah dan sikapnya saat ini menunjukkan yang sebaiknya.


"Ada apa Syifa?" tanya dokter Wisnu lembut ada senyum misterius yang samar-samar dibibir dokter Wisnu saat mengacaukan lamunan Syifa.


Dokter Wisnu bangkit dari duduknya, berputar mendekati Syifa. Berdiri tepat di samping Syifa. Mendadak jantung Syifa berdetak kencang. Bayangan mengerikan teman-temannya di kampung berkelebat dalam benaknya. Wajah-wajah teman seperjuangan yang pulang dalam keadaan hamil tanpa suami. Gadis-gadis polos yang terpaksa mengadu nasip ke kota dengan skill minim yang menjadi korban nafsu.


Dengan kikuk Syifa menggeser duduknya. Segala macam antisipasi berputar dalam otaknya. Sayangnya ruangan itu begitu bersih hanya ada satu set meja kursi yang kini mereka tempati dan ribuan buku yang tertata rapi di sekeliling mereka. Ekor matanya terus berputar mencari jalan keselamatan dan ia bisa merasa sedikit lega saat melihat pintu terbuka lebar. Ia bisa berteriak keras-keras sehingga mbok Inah akan datang.


Dokter Wisnu mengulurkan tangannya tepat didepan dada Syifa. Syifa tercekat, membeku dan bisu.


"Maaf, sepertinya aku menyimpan pulpen di laci" katanya sambil membuka laci meja.


"Oh ... " Syifa hanya bisa mengeluarkan kata itu saat dokter Wisnu meraih pulpen yang dimaksud.


Dokter Wisnu mulai membuka halaman demi halaman, menerangkan dengan ringkas dan melingkari poin-poin yang dirasa penting. Sikapnya begitu natural dan tulus. Diam-diam Syifa menyesal telah berburuk sangka padanya. Tak dapat dipungkiri penjelasan ringkasnya sangat mudah ia pahami. Belajar bersamanya terasa menyenangkan walau awalnya sangat menegangkan bagi Syifa.


"Bagaimana? ada yang mau ditanyakan?" tanyanya seperti seorang guru.


"Tidak Dok"


"Baiklah kalau gitu, sebelum ujian besok kamu baca ulang saja poin-poin yang udah aku lingkari, sekarang istirahat, sudah malam" katanya sambil berjalan keluar ruangan.


Syifa memandangi punggung dokter Wisnu hingga menghilang. Begitu ia yakin dokter Wisnu telah kembali ke kamarnya, Syifa menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Jangan gila Fa, kamu punya Adi, jangan bilang kamu suka dokter Wisnu, itu gak boleh terjadi, dia lebih pantas jadi ayah kamu" bisik Syifa pada diri sendiri. "Ingat Adi tinggal di depan dan jangan berpaling apalagi dengan seorang duda berumur" Syifa masih saja meracau menasehati hatinya, yang menurutnya terlalu mudah terpesona


Syifa, membereskan meja menatap buku yang dipegangnya. Tarik nafas, membulatkan tekad untuk melangkah menuju dan sukses, mengesampingkan perasaan bahkan perasaannya pada Adi, dengan senjata pamungkas hutang pada om Bob yang akan menyeretnya dalam masalah besar kalau tidak ia lunasi. Ia tak mau kehilangan satu-satunya peninggalan kedua tangannya. Tapi ia juga tidak akan membiarkan dirinya menjadi isteri ketiga om Bob.

__ADS_1


Lama Syifa termenung. Bernegosiasi dengan hatinya. Memikirkan jalan keluar yang lebih baik daripada terus bekerja sebagai asisten rumah tangga. Tanpa menyadari ada orang yang sakit hati mendengar kata-katanya. Meskipun lirih, suara itu bergerak terlalu jauh karena suasana yang hening.


__ADS_2