
Setelah semua yang terjadi padanya. Syifa seakan telah kehabisan air mata. Sesakit apapun hatinya dipermainkan oleh Adi. Ia hanya bisa melamun dengan mata berkaca-kaca. Air mata tak lagi mau menetes. Luka hatinya hanya mampu ia pendam dan menjadikannya pemicu semangat.
Tekad untuk melangkah ke depan, semakin membara. Lupakan cinta untuk sejenak waktu. Begitu Syifa bertekad. Baik Adi, maupun Roy, tidak akan ia biarkan menghalangi langkahnya.
Malam-malam terasa hening, sejak ia tau cintanya yang besar justru telah dipermainkan. Sesal pun tak berguna. Persahabatan ia korbankan demi cinta yang ternyata hanya dusta.
Bodohnya .... bukankah jelas tak mungkin cowok seperti dia mau pacaran sama cewek kaya aku. Bodoh, cinta menjadikan aku buta. Terimakasih Di, aku akan selalu ingat hari ini.
Syifa duduk di teras. Duduk setengah berbaring di kursi Cleopatra yang nyaman. Menatap tanaman yang terasa menyejukkan hati yang tersakiti. Dava sudah tertidur, tapi ia tak dapat memejamkan matanya. Kata-kata Adi tadi siang memaksanya terus terjaga merasakan sakit di dada.
Ditangannya sebuah selebaran paket pendidikan setara universitas tidak menarik perhatiannya. Jatuh ke lantai yang dingin dan beku. Menjadi saksi bisu sakitnya luka tanpa air mata.
\*
Jam menunjukkan pukul sepuluh. Dokter Wisnu terjaga dari tidurnya. Seperti biasa. Ia akan melihat kondisi Dava. Perlahan dokter Wisnu membuka pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Dava.
"Klek" pintu terbuka perlahan.
Kepala dokter Wisnu mengintip. Dava tampak menggeliat, hal itu menarik perhatiannya. Ia masuk ke dalam. Mengamati buah hatinya dari dekat.
Maafkan ayah, tak bisa memberikan yang terbaik. Ayah sudah berusaha, tapi takdir berkata lain.
Dokter Wisnu mengambil kursi dan duduk di samping ranjang. Matanya menatap penuh luka. Menelusuri setiap lekuk garis wajah buah hatinya. Perlahan jemarinya membelai pipi Dava. Lembut dan menghangatkan jiwa. Tiba-tiba kembali menggeliat. Tangan kecilnya jatuh di atas tangan ayahnya, seakan memeluk.
"Cess" Bak setetes embun pagi ditengah sahara perasaan kasih paling dalam mendamaikan jiwanya. Satu-satunya kekuatan untuk terus berjuang. Seperti malaikat kecil yang menciptakan keajaiban. Merubah segala yang tak mungkin menjadi mungkin. Pemilik cinta dan pengorbanan.
Lama dokter Wisnu menikmati kemesraan itu. Menunggu Dava menggeliat kembali. Tak kuasa memindahkan tangan kecil itu meski lelah menghampiri. Menyandarkan kepalanya di atas pembatas ranjang. Terlelap.
Dokter Wisnu terbangun dengan tubuh terasa pegal, saat Dava menggeliat. Beberapa saat dokter Wisnu duduk. Menunggu rasa sakit di beberapa titik persendiannya menghilang. Saat itulah, tanpa sengaja dokter Wisnu melihat pintu yang terhubung dengan kamar Syifa terbuka. Perlahan dokter Wisnu bangkit, berjalan kearah pintu. Dilihatnya kamar itu masih kosong.
__ADS_1
"Kemana Syifa jam segini?" gumam dokter Wisnu.
Dokter Wisnu melangkah keluar. Mencari Syifa di dapur. Tak ada. Perpustakaan, ruang makan, ruang keluarga, ia mencari di setiap ruangan yang mungkin didatangi Syifa, nihil. Syifa tak terlihat di mana-mana. Sedikit panik ia berjalan ke ruang tamu. Pintu depan belum tertutup sempurna.
"Apa Syifa keluar ya?"
"Brum... brum..."
Suara motor diluar sana sahut menyahut. Melahirkan suasana ngeri di malam yang sepi. Berbagai prasangka menyelimuti hati dokter Wisnu. Rasa takut mendorongnya bergegas keluar.
Dan, betapa leganya ia melihat Syifa meringkuk seperti kucing di atas kursi Cleopatra.
"Syifa" panggilnya perlahan.
Gadis itu samasekali tak bergeming. Nafasnya teratur, mengatakan betapa nyenyak tidurnya meski dingin menusuk tulang.
"Syifa" sekali lagi dokter Wisnu berusaha membangunkan Syifa.
Sia-sia, Syifa justeru makin meringkuk. Mencoba mengurangi dingin. Sekali lagi dokter Wisnu mencoba membangunkan Syifa. Pada akhirnya ia menyerah, tak tega melihat mata sembab Syifa. Membiarkan Syifa tidur dengan damai.
Mentari mulai menampakkan sinarnya. Jam weker di sudut meja mulai meraung-raung, minta perhatian. Syifa menggeliat, merenggangkan otot-ototnya yang teras kaku. Aroma segar menghampiri rongga hidungnya. Menenangkan. Nyaman, Syifa memeluk selimut tebal yang lembut itu. Menikmati belaian lembut kain mahal itu.
Kesadaran mulai menyapanya. Ia ingat kemarin sore ia mencuci selimutnya. Karena hujan tak kunjung reda, selimut itu belum kering. Ditatapnya selimut merah marun yang menutupi seluruh tubuhnya.
Ia pikir ia masih di teras, di atas kursi cantik yang nyaman. Tapi, ia mendapati dirinya tidur di kamar. Dan lebih parahnya, selimut itu.....
"Ya Tuhan, ini selimut dokter Wisnu!!!" pekik Syifa langsung meloncat dari tempat tidurnya.
"Bodoh, apa yang terjadi?"
Syifa mondar-mandir kebingungan. Menerka-nerka apa yang terjadi semalam.
"Uh...." Syifa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Berpikir hingga kepalanya terasa sakit. Menerawang apa yang ia lakukan setelah ia melamun di teras.
"Klek!!!" suara pintu terbuka.
Syifa menoleh dan mendapati dokter Wisnu berdiri di sana bersama Dava.
"Sudah bangun?" tanya dokter Wisnu ramah.
Syifa terkesiap. Malu bukan kepalang. Membayangkan apa yang terjadi semalam. Dan paginya langsung bertemu dengan dokter Wisnu persis setelah ia terbangun. Begitu buruknya keadaannya saat itu.
Ya Allah... biarkan aku menghilang untuk saat ini saja,
"Eh i, iya, maaf saya mau ke kamar mandi" Syifa menemukan alasan tepat melarikan diri.
Sambil berkata Syifa ngeloyor keluar meninggalkan dokter Wisnu yang tersenyum menatap rona merah di wajah itu.
Usai sholat, Syifa segera mengambil alih Dava dari pelukan dokter Wisnu. Mengesampingkan rasa malu dan canggungnya, ia menghampiri dokter Wisnu yang tengah duduk di ruang tengah.
"Maaf, saya malah merepotkan" katanya sambil mengambil Dava dari tangan dokter Wisnu.
"Tidak, aku tidak keberatan kok" Jawab dokter Wisnu tulus.
Dengan hati-hati dokter Wisnu menyerahkan Dava. Entah mengapa selendang malah membelit tangan dokter Wisnu. Membuat Syifa sedikit kesulitan menerima Dava. Saat itulah tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. Syifa tertegun, tanpa sengaja justru menatap bola mata dokter Wisnu.
Pandangan mereka terkunci satu sama lain. Saling menyelami satu sama lain. Syifa dengan rasa hormat dan kekagumannya, mengutuk dirinya yang telah memberikan banyak hal terjadi dalam hatinya.
Sementara dokter Wisnu, dengan sekuat tenaga menahan kebutuhan mendasar dalam dirinya. Kerinduan akan sebuah hubungan yang lama ia abaikan. Hasrat yang ia pikir telah padam semenjak sebuah penghianatan. Kini tiba-tiba membara terhadap gadis belia.
Dokter Wisnu membenci dirinya sendiri. Yang tak kuasa mengabaikan Syifa. Tak mampu menahan keinginannya untuk memberikan perhatian lebih pada Syifa.
Cepat-cepat dokter Wisnu menarik tangannya. Memalingkan wajah, tak ingin Syifa melihat geliat bola matanya lebar jauh. Menyembunyikan sesuatu yang besar dari pandangan Syifa.
Dengan gemetar Syifa melepaskan selendang yang melilit tangan dokter Wisnu. Membebaskan Dava dari pelukan sang ayah. Kemudian menggendongnya penuh kasih.
__ADS_1
Maksud hati ingin segera enyah dari hadapan dokter Wisnu. Agak tergesa Syifa melangkahkan kaki. Namun sayang, kakinya justeru tersangkut kaki meja. Seketika ia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya oleng. Sadar apa yang terjadi, Syifa memeluk Dava erat-erat. Pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya. Yang ia pikirkan hanyalah keselamatan Dava.