DiLeMa CINTA

DiLeMa CINTA
Keluar Asrama


__ADS_3

Tanpa terasa hari-hari berlalu bagaikan anak panah yang melesat cepat. Ujian akhir sekolah sudah hampir selesai. Hari-hari yang sibuk membuat Syifa dan yang lainnya melupakan semua masalah yang ada. Mereka terlalu sibuk memikirkan ujian.


Selama ujian baik ia maupun Roy bekerjasama, bagai tak pernah punya maslah. Saling membantu menyelesaikan ujian. Secara langsung maupun tidak langsung.


Ia juga jarang bertemu Adi, tapi pulang sekolah kemarin mereka janjian akan bertemu sepulang sekolah nanti, mereka hendak merayakan selesainya ujian akhir walau hanya dengan makan bakso berdua.


"Rasanya udah lama banget kita ga makan bareng" kata Adi saat mereka tak sengaja bertemu di gerbang sekolah sore itu.


Biasanya Adi tak pernah berhenti menyapanya, terlalu lelah, ingin segera pulang dan mengistirahatkan otak di atas kasur empuk. Dia akan ngeloyor pergi bersama motor sport kesayangannya mendahului Syifa seakan mereka bukanlah sepasang kekasih.


"Ya" jawab Syifa lemah, pikirannya melayang, beberapa hari ini perasaannya tidak nyaman.


Rasanya seperti...... rindukah ia pada Adi tapi rasa-rasanya tidak. Bukan itu, bahkan lebih dari itu. Buktinya, ia samasekali tidak bahagia diajak makan besok. Ia masih merasakan kekosongan dan ganjalan yang sulit dijelaskan.


"Lemes banget ada maslah?" tanya Adi merasa bersalah atas sikapnya beberapa hari terakhir.


"Enggak kok" jawab Syifa lemah.


"Ya udah kalo emang gitu, deal ya besok kita makan bareng" Adi memutuskan.


Dalam hati ia berjanji besok ia akan membuat Syifa melupakan kesedihannya, gak tega juga ngeliat Syifa sendu begitu. Gadis itu biasanya selalu ceria. Sangat jarang Syifa terlihat sendu seperti itu. Kalo bukan karena masalah yang bener-bener berat.


Sejak pagi, Adi mencari sosok Syifa dengan ekor matanya. Di kantin, biasanya ia biasa melihat sekelebat bayangan Syifa membeli air mineral dan Snack sebelum akhirnya ia kembali ke teras kelas untuk belajar. Kalau tidak dikantin, ia bisa melihat Syifa dari jendela kelasnya. Atau tanpa sengaja ketemu di perpustakaan. Ya setidaknya ia selalu melihat Syifa walau sesaat. Tapi, pagi ini? Syifa seakan menghilang justru disaat Adi ingin bersamanya.


Teng teng teng.........


Bel yang didesain, bersuara lonceng itu berbunyi tiga kali. Tanda ujian telah berakhir. sekolah yang sejak tadi hening mendadak bergemuruh bagai sarang lebah yang dilempari batu. Suara bangku digeser terdengar dimana-mana. Murid-murid mulai berhamburan keluar kelas dengan wajah cerah.


Begitu pula Adi. Ia segera meninggalkan ruang kelas. Menerobos kerumunan wajah-wajah sumringah yang mulai menyusun rencana.. Ia segera menyambangi kelas Syifa Rasa penasaran memenuhi pikirannya.


Ditatapnya setiap orang yang keluar dari kelas itu. Tunggu dan tunggu, namun yang ditunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


"Hai ganteng, cari Syifa ya?," tanya Elsa, cewek yang hingga kini masih mencoba mencari perhatian pada Adi. " Doi gak masuk, dasar aneh, hari gini masih bisa absen" katanya centil, sambil memainkan helaian rambutnya yang indah.


"Gak masuk?" gumam Adi bertanya pada diri sendiri.


Ingin ia meladeni Elsa. Tapi ia rasa ada yang tak beres dengan Syifa. Tak menghiraukan Elsa yang masih nyerocos, Adi segera berlari ke tempat parkir. Dan langsung tancap gas menuju asrama putri yang tak jauh dari sekolah.


Sembarangan Adi memarkir motornya. Tergesa-gesa ia menghampiri kamar Syifa yang masih terkunci rapat. Adi mencari-cari orang yang bisa ditanya. Sepi sebagian besar penghuni masih berada di sekolah.


"Cari Syifa?" sebuah suara memaksa Adi berputar 180 derajat. Dilihatnya Riska yang baru pulang dari sekolah.


"Kenapa dia gak masuk?" tanya Adi to the point.


Riska menghela nafas berat " Syifa udah keluar dari asrama dua hari lalu."


"Keluar dari asrama? mengapa?" perasaan Adi kian tak nyaman.

__ADS_1


"Entahlah, waktu itu malam hari, kita lagi belajar buat persiapan ujian, tiba-tiba kepala asrama memanggilnya ke kantor, tak lama kemudian ia masuk ke kamar dan mengemasi semua barang-barangnya dan sampai sekarang belum ada kabar" terang Riska sedih.


"Bisanya aku gak tau," gumam Adi. "Ya udah, thanks ya"


Dengan perasaan kacau Adi berlalu meninggalkan Riska.


 


\*


 


Kebersamaannya bersama Adi sedikit banyak mengurai kegalauan hatinya akhir-akhir ini,


walau dirasa ada yang mengganjal dalam hubungan mereka, Syifa tetap merasa bahagia.


Terkadang hati bertanya apakah semua lelaki seperti ini. Terkadang perhatian namun disaat yang lain cuek bebek seperti tak saling kenal. Ia hampir percaya bahwa Adi hanya mempermainkannya. Bagaimana tidak, disaat ia membutuhkan dukungan dan sandaran, Adi justru menghindarinya. Disaat yang lain romantisnya gak ketulungan.


Syifa menatap langit-langit ruangan temannya terbaring sekarang. Putih bersih, aroma dingin menunjukan betapa steril tempat itu. Meski tubuh terbaring tak berdaya. Pikiran melayang menjelajah dunia. Memikirkan ujian yang terlewat. Memikirkan janji yang ia hianati.


apakah kamu menungguku kasih


menanti kedatanganku yang tak akan pernah datang


maafkan aku


namun aku harus kembali memilih


dan sekarang aku tak kuasa menentukan pilihan


karena pilihan mutlak telah ditentukan


Tergambar jelas dalam benaknya saat malam yang dingin itu, saat ia berusaha meraih konsentrasinya mempelajari halaman demi halaman materi ujian besok. Melawan rasa gelisah yang bergejolak. Membaca baris demi baris yang kemudian berganti bayangan kelam.


"Tok tok tok" pintu diketuk.


Syifa segera membukakan pintu. Pak Kepala Asrama berdiri di sana. Mengundang tanya dalam benak Syifa.


"Syifa ikut bapak ke kantor" katanya menjawab pertanyaan dalam benak Syifa.


Jantungnya serasa meloncat dari wadahnya. Berdesir menyakitkan, diiringi tanya dalam dada.


"Ada apa gerangan?"


Sampai di ruang kepala asrama, Syifa melihat pamannya duduk menunduk di kursi. Seketika ia menoleh menyadari kehadiran Syifa. Mereka bertatapan dalam tatapan pilu.


"Kemasi barang-barang mu nak, kita pulang"

__ADS_1


katanya singkat dengan mata berkaca-kaca.


Seakan bisa membaca apa yang terjadi. Syifa segera berbalik, berlari ke kamar menyeruak menembus dinginnya angin malam. Masuk ke kamar dengan tergesa. Merusak konsentrasi belajar Riska.


Ia terus saja mengemasi barang-barangnya yang memang hanya sedikit, tanpa menghiraukan pertanyaan-pertanyaan Riska. Ia pergi setelah memeluk Riska sambil menahan tangisnya.


"Fa ada apa?" tanya Riska untuk yang kesekian kalinya.


Syifa hanya menggeleng, tak kuasa mengeluarkan suara sambil memeluk erat Riska.


Motor yang membawa Syifa dan pamannya melaju agak cepat menyusuri jalan yang berkelok-kelok. Setelah keluar dari jalan utama kota Bandung. Mereka memasuki jalan kecil yang masih ancur. Disepanjang jalan pepohonan rindang tak putus-putusnya mengawal kiri kanan jalan. Membentuk sebuah lorong menyerupai gua, cahaya mentari menerobos melalui celah dedaunan yang rindang, menciptakan suasana nyaman dan tentram.


Diam membisu hanya deru motor tua yang terdengar seakan berteriak minta pensiun lebih awal, menderu penuh penderitaan, tak kuasa menopang dua tubuh diatasnya apalagi kala jalanan sedikit menanjak suaranya terdengar menyakiti telinga.


Motor memasuki pekarangan rumah yang tampak ringkih dalam balutan kabut dan gelapnya malam. Motor berhenti tepat didepan pintu. Sepi sunyi bagai tak berpenghuni ditambah jarak dari rumah satu ke rumah yang lain agak jauh, selalunya tiap rumah memiliki pekarangan.


"Masuklah, ibumu sudah menunggu" bisik pamannya kala ia hanya diam membisu didepan pintu.


Berusaha menguatkan diri, pelan-pelan ia masuk kedalam. Takut kalau-kalau suara langkah kakinya akan mengusik ketenangan yang ada.


"Ibu....." serta Merta Syifa berlari menyongsong ke dalam langsung menuju kamar tidur ibunya.


Ia membeku, mendapati ibunya terbaring tak berdaya diatas tempat tidurnya. Beliau tampak kurus tak berdaya. Pelan Syifa menghampiri ibunya yang tengah terlelap.


"Syifa, paman pulang dulu, besok pagi paman kesini lagi." pelan pamannya berpamitan.


Tanpa menoleh, Syifa hanya mengangguk mengiyakan.


Syifa jatuh terduduk disamping tempat tidur ibunya.


"*M*aafin Syifa ibu......" rintihnya dalam hati.


Air mata mengalir susul menyusul berlomba-lomba menyeruak dari kelopak matanya. Pandangannya kabur, nafasnya terasa berat, dadanya terasa sesak menahan sakit dalam hatinya. Lebih sakit dari rasa sakit hati yang pernah ia rasakan.


"Syifa, kaukah itu" lirih ibunya memanggil.


Tanggan lemahnya menggapi-gapai, mencari Syifa. Jemarinya yang kurus bergerak lembut menyayat hati.


"Ya ibu, ini Syifa" serak Syifa menyahut


Cepat Syifa menghapus air matanya.


Syifa duduk di samping ibunya sambil membelai lembut punggung tangan ibunya. Menatap lekat-lekat wajah rapuh ibunya.


" Ibu...... " rintih Syifa tak kuasa menahan perasaannya seraya memeluk ibunya. Dalam dekapan ibunya, ia menumpahkan rasa sakit dalam hatinya.


"Gak papa nak, ibu gak papa, ibu hanya sedikit tak enak badan." bisik ibunya menenangkan.

__ADS_1


Malam itu Syifa tidur disamping ibunya, memeluk ibunya seperti dulu ibunya selalu memeluknya saat masih bayi, menyalurkan kehangatan dan kenyamanan.


__ADS_2