
Pagi buta, Fatimah, ibu Syifa, merintih kesakitan sambil memegangi perutnya, panik Syifa menolong ibunya dengan menggosokkan minyak angin pada bagian yang sakit. Nihil, ibunya terus merintih sambil meremas perut bagian bawahnya. Tak kuasa melihat ibunya kesakitan dan ia samasekali tak mampu menolong, Syifa lari terbirit-birit ke rumah pamannya.
Dalam masa yang singkat, paman dan bibinya sudah datang ke rumahnya. Tak dapat dihindarkan lagi dengan motor butut pamannya Fatimah dibawa ke puskesmas setempat yang sudah menerapkan sistem jaga 24 jam.
Motor itu kian menderita menopang 3 orang sekaligus. Tapi siapa peduli dengan rintihan besi tua itu, rintihan orang tua Syifa mengalahkan semuanya. Motor melaju secepat yang bisa dilakukan kendaraan itu, menembus kabut tebal dan gelap yang belum juga beranjak.
Sampai disana, dokter jaga langsung memberikan pertolongan pertama, memberi suntikan pereda nyeri dan memasang infus. Cairan itu tetes demi tetes menyatu dengan darah dalam nadi, perlahan rasa sakit nya berkurang dan ibu Syifa mulai tenang.
Dari balik kaca Syifa hanya bisa menatap semua itu bagai orang yang tengah nonton TV. Bedanya kali ini pemeran utamanya adalah ibunya. 30 menit kemudian Dokter keluar dari ruang tindakan dengan wajah datar.
" bagaimana keadaan ibu saya Dok?" buru Syifa tak sabar.
" mari kita duduk di sana" balas dokter itu seraya menunjuk pada sebuah meja kerja.
" begini nak..... " mulainya setelah duduk didepan Syifa, dibelakangnya pamannya berdiri tak kalah gelisah " saya akan membuat surat rujukan, ibu kamu harus dibawa ke rumah sakit yang lebih besar" terang sang dokter tenang.
" rumah sakit Dok? sebenarnya apa penyakit ibu saya?
" saya belum bisa memastikan, tapi dari diaknosa yang ada sepertinya asam lambung ibu kamu sangat tinggi, ini hanya diaknosa sementara akan lebih baik bila ditangani lebih lanjut"
" tapi Dok apa harus dibawa ke kota?"
" ya beliau memerlukan perawatan yang lebih lengkap, ini surat rujukannya, jam tujuh nanti ambulance akan mengantarkan kalian" Dokter Nia, nama Dokter jaga itu, menyerahkan selembar kertas sambil bangkit berdiri mendekati Syifa dan menepuk pundak Syifa lembut.
" kamu harus kuat, ibu kamu perlu dukungan besar untuk melalui masa sulit ini"
" terimakasih Dok" sahut Syifa serak.
Mau tak mau Syifa harus rela meninggalkan ibunya sendirian di sana, ia harus pulang untuk mempersiapkan segalanya, mencari surat-surat yang diperlukan, pakaian dan tentunya uang. Yang ia lakukan pertama kali adalah mengemasi barang-barang yang diperlukan tak terkecuali seragam dan buku-buku yang semalam ia bawa dari asrama. Selesai itu ia mencari surat-surat yang diperlukan, KTP, KK dan beberapa surat lain. Ketika ia tengah kebingungan tiba-tiba pamannya datang.
" Syifa pakai uang ini" pamannya memberikan segepok uang ratusan.
__ADS_1
" tapi paman?" tanya Syifa kebingungan, ditatapnya wajah satu-satunya kerabat yang ia punya.
" jangan dipikirkan, keselamatan ibu kamu lebih penting" pamannya memaksa.
Awalnya Syifa menolak, tapi dengan apik sang paman memaksanya menerima uang itu, terlebih ia memang sangat memerlukan banyak uang.
Setelah mengunci pintu, Syifa berangkat ke puskesmas bersama pamannya, membawa tas berukuran besar dan sebuah kardus berisi makanan ringan dan air mineral yang disiapkan oleh isteri pamannya. Terlalu berlebih-lebihan menurut Syifa, tapi ia tak bisa menolak.
" apakah sebanyak ini,toh aku gak akan lama" pikir Syifa saat menerima kardus itu.
Pukul tujuh lebih mobil ambulance membawa mereka ke rumah sakit besar di kota Bandung, rumah sakit yang mashur akan biaya permalam yang tinggi karena kualitas pelayanan dan fasilitasnya yang lengkap. Awalnya Syifa merasa keberatan, ia menginginkan kesembuhan ibunya namun ia ingin mencari jalan yang ia mampu melaluinya.
" percayalah.... pada saya, ibu kamu sangat memerlukan perawatan khusus" kata-kata Dokter Nia membuatnya tak peduli tentang uang, ia hanya ingin kesembuhan ibunya.
" ini ada alat komunikasi, tak bagus tapi dengan ini kamu bisa menghubungi saya atau keluarga di rumah" Dokter Nia meletakkan handphone jadul di telapak tangannya." disitu ada nomor saya, kalau perlu sesuatu hubungi saya, insyaallah saya akan berusaha membantu".
Sepertinya obat pereda nyeri tadi tak terlalu berpengaruh pada ibunya. Syifa mencoba menolong ibunya dengan sia-sia. Fatimah terus saja merintih sambil memegangi perutnya, ia mulai meronta-ronta, hingga hampir jatuh dari tempat tidurnya, tak hanya itu darah segar mengalir dari pergelangan tangannya, jarum infus terlepas dengan kasar. Dengan sigap dokter Nia memegangi tangan yang terluka, Syifa membantu memegangi ibunya agar lebih tenang.
" Syifa maafin ibu nak" bisiknya penuh sesal.
" tidak bu, justru Syifa yang minta maaf selama ini selalu nyusahin ibu" balasnya serak teringat seluruh kenakalan yang ia lakukan. Sementara ibu anak itu saling mencurahkan sesal, dokter Nia bisa dengan leluasa kembali mencari nadi di pergelangan tangan yang lain, tentu sebelumnya beliau telah membersihkan luka yang tadi dan membalutnya dengan kain kasa.
Tiba di rumah sakit, mereka langsung disambut petugas IGD yang dengan sigap menurunkan ranjang dorong dari ambulans dan langsung mendorongnya masuk ke dalam IGD.
Mendadak ruangan itu menjadi sangat sibuk ada yang mengambil cairan infus ada yang mengambil oksigen, cekatan mereka memeriksa keadaan ibunya. Sepuluh menit kemudian Syifa diperbolehkan menemui ibunya yang sudah jauh lebih baik walaupun masih tampak letih.
" ibu, apa ibu merasa lebih baik?" tanya Syifa mulai tenang.
" ya jauh lebih baik"
"syukurlah Bu" lega Syifa mendengarkannya
__ADS_1
" Syifa saya kembali ke desa kalau ada apa-apa jangan sungkan" dokter Nia muncul untuk berpamitan.
" silahkan dokter oh ya terimakasih atas semua bantuan dokter, entah apa yang bisa saya lakukan tanpa bantuan dokter"
"itu sudah tugas saya, baiklah jaga diri baik-baik" dokter Nia berpamitan pada Syifa kemudian mendekati Fatimah "ibu harus kuat, saya yakin ibu bisa melewati masa sulit ini"
" terimakasih dokter"
Pukul delapan tepat Fatimah sudah biasa pindah keruang inap biasa keadaannya pun sudah mulai menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Melihat kondisi ibunya demikian Syifa teringat akan ujian sekolahnya, diliriknya jam di dinding yang menunjukkan pukul delapan lebih lima menit.
' masih ada waktu ' pikirannya
" Bu apa ibu baik-baik saja kalau Syifa tinggal, hari ini ujian" katanya penuh sesal.
" pergilah nak, maafkan ibu, karena ibu kamu tadi malam tak sempat belajar"
" tak apa bu, baiklah kalau begitu Syifa berangkat, Syifa akan panggilkan paman untuk menemani ibu".
Setelah minta tolong pamannya untuk menemani ibunya Syifa segera bersiap pergi ke sekolah. Tentunya ia tak sempat memikirkan untuk mandi, ia hanya cuci muka, gosok gigi, kemudian ganti baju secepat yang ia bisa lakukan.
Untuk menyingkat waktu Syifa memilih naik ojek yang kebetulan mangkal tak jauh dari rumah sakit. lebih mahal dikit gak masalah.
Sepertinya hari ini adalah hari paling melelahkan bagi Syifa, bagaimana tidak? sampai di sekolah ia langsung disambut soal ujian yang harus ia kerjakan dalam waktu tiga puluh menit. Waktu seakan berlari, belum genap sepuluh soal ia kerjakan bel tanda berakhirnya waktu mengerjakan berbunyi tiga kali. Panik Syifa menoleh kanan kiri teman-temannya mulai riuh berdiri.
" Syifa teruskan saja, kami akan menunggu, kami akan memberi waktu secukupnya" dengan bijak guru penjaga itu menenangkan Syifa.
" terimakasih Bu saya akan menggunakannya sebaik mungkin" sahut Syifa yang langsung kembali tenggelam dalam lautan soal. Diluar Roy menunggu sambil komat-kamit mendoakan Syifa sambal membaca materi yang tak lagi bisa ia pahami.
Sepuluh menit sebelum pelajaran kedua dimulai Syifa meletakkan alat tulisnya dengan perasaan lega, merenggangkan otot sesaat kemudian membawa soal dan lembar jawab ke depan
" terimakasih sudah memberi saya kesempatan" kata Syifa penuh hidmat. Diikuti anggukan tulus Bu guru yang segera keluar kelas.
__ADS_1