
Hari-hari ia lalui dengan tegar, pergi sekolah dari rumah sakit pulang kembali ke rumah sakit lagi. Sebisa mungkin ia membagi waktu, disela-sela menjaga ibunya ia membaca materi ujian, menyimpan materi dalam memorinya semampu otaknya mengingat dalam kondisi seperti itu. Pagi buta ia bangun untuk menyeka tubuh ibunya dengan air hangat dan cairan antiseptik, mengganti pakaiannya dan menyiapkan barang-barang yang kira-kira akan dibutuhkan saat ia sekolah, meletakkannya dekat-dekat supaya ibunya mudah menjangkau.
Tak dapat dipungkiri pamannya selalu datang menggantikannya saat ia sekolah. Tak tega sesungguhnya melihat pamannya harus bolak-balik tiap hari menempuh perjalanan yang cukup jauh, tapi apa yang dapat ia lakukan, ia tak dapat melalui masa sulit ini sendiri. Yang ia syukuri pamannya yang dulu selalu memusuhi keluarga mereka saat ayah Syifa masih hidup kini berubah jauh lebih baik.
Begitu hingga beberapa hari, mereka silih berganti menjaga Fatimah yang kondisinya kini jauh lebih baik.
Hingga tiba-tiba saja malam itu ketika Syifa sedang mempersiapkan diri menghadapi hari terakhir ujian Fatimah kejang-kejang. Panik Syifa berteriak memanggil suster namun karena kamar mereka berada di pojok suster jaga tak langsung mendengar teriakkan Syifa. Tak putus asa ia terus berteriak, namun kini ia sudah tak sabar menunggu, ia berlari menerobos ruang demi ruang yang terasa sangat panjang
" suster ..... suster ibu saya...." teriaknya begitu ia melihat suster jaga duduk di balik mejanya.
Bagai sebuah remote control suara Syifa langsung membuat 2 suster itu beranjak dari tempat duduknya dan langsung berlari menuju kamar pasien. Mendadak malam yang tadi hening kini menjadi riuh.
Sebelum melakukan pemeriksaan kedua suster itu menyuruh Syifa menunggu di luar. Dari depan pintu Syifa menyaksikan tubuh ibunya mengejang, dadanya naik turun dengan berat. Suster satunya memeriksa aliran infus, memeriksa detak jantung dan menempelkan stetoskop pada bagian perut sementara suster yang lain mencatat entah apa yang dikatakan suster senior itu
__ADS_1
" panggil dokter !!!! " teriaknya sambil memencet tombol darurat.
Semakin hebat ibunya kejang hingga kedua suster itu harus memegangi tubuh ibunya agar tidak terjatuh, dan tiba-tiba dada ibunya terangkat tinggi kemudian terjatuh, tubuh yang sesaat tadi kejang hebat kini diam membeku, tangannya jatuh terkulai tak berdaya tepat pada saat dokter memasuki ruangan dengan tergopoh-gopoh. Memeriksa sesaat kemudian suster menarik sebuah alat dari sudut ruangan.
Syifa jatuh tersungkur, meneteskan air mata tanpa mampu bersuara menyaksikan tubuh ibunya terangkat tinggi-tinggi kemudian terjatuh berkali-kali namun layar monitor tetap menunjukkan garis lurus dan suara tutttttttt panjang yang merobek kalbu.
" sekali lagi suster, maksimal" dokter itu memberi instruksi.
hentikan...... cukup saya ikhlas.... jangan siksa tubuh ibu saya..,...
terimakasih ya Allah..... Engkau masih memberi saya kesempatan untuk memperbaiki bakti
Ibunya masih tak sadarkan diri, tapi masa kritis bisa di katakan sudah berlalu. Dokter dan suster membenahi semua peralatan yang menempel pada tubuh ibunya, kemudian keluar.
__ADS_1
" saya perlu bicara " dokter itu memberi isyarat pada Syifa untuk mengikutinya
Di ruangan dokter itu Syifa dipersilahkan duduk di depan pak dokter yang menampilkan ekspresi wajah datar
" begini" mulainya menghela nafas berat " perlu dilakukan transplantasi ginjal, sebenarnya kami sudah tau sejak pertama kalau ginjal ibu kamu bermasalah, kami sudah berusaha agar tidak perlu melakukan transplantasi ginjal, namun sepertinya hal itu harus dilakukan. Akan sulit menemukan donor yang tepat, biasanya hanya keluarga dekat yang memiliki kecocokan, andainya pun menemukan donor yang tepat, kemungkinan berhasil dan tidaknya berimbang 50% banding 50%. semua keputusan ada ditangan kamu " dokter itu mengakhiri kuliahnya. Menatap gadis yang tampak tegar dan dewasa meski usianya masih sangat muda.
" bisakah saya mendonorkan ginjal saya " katanya seakan tanpa berpikir.
" tapi kamu kan? " dokter menggantung kalimatnya.
" bukankah organ tubuh remaja masih sangat baik dan bagus, dan lagi saya lah satu-satnya keluarga, paman saya belum tentu mau mendonorkan ginjal nya " imbuhnya yakin
" baiklah mari besok kita periksa semoga saja cocok"
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Syifa sudah standby di depan gedung laboratorium, menanti dengan sabar kedatangan Profesor Fahmi yang akan memeriksanya. Tentu saja sebelum ia datang ke sini, terlebih dahulu ia membersihkan tubuh ibunya, mengganti pakaiannya, dan menyuapi ibunya yang kini tampak sangat lemah tak berdaya dengan sekitar 3 selang dan beberapa kabel yang terhubung pada monitor melilit tubuhnya.