DiLeMa CINTA

DiLeMa CINTA
Persona Dokter Wisnu


__ADS_3

Syifa merasakan tubuhnya melayang. Ia pasrah, dipeluknya Dava erat-erat. Syifa sudah bersiap jatuh ke lantai, ketika dengan cepat lengan kokoh dokter Wisnu meraih tubuhnya. Sekali lagi keadaan membuat Syifa berada dalam pelukan dokter Wisnu.


Syifa terpesona, sepenuhnya terpesona oleh apapun yang ada dalam diri dokter Wisnu. Ia tak mampu mengalihkan pandangannya dari bola mata teduh itu. Terseret kedalam kelamnya bola mata itu. Ada kepedihan yang mendalam, ada teka-teki tanpa jawaban di sana.


"Owe... owe...." Dava yang berada di antara mereka seakan tak terima di jadikan obat nyamuk.


Dengan canggung dokter Wisnu membantu Syifa berdiri. Melepaskan tangannya dari pinggang Syifa.


"Maaf sayang, kak Syifa kurang hati-hati" bisiknya berusaha menenangkan Dava.


Tubuhnya terasa seringan kapas, melayang, gemetar, dan kebingungan. Syifa menyeret langkahnya meninggalkan dokter Wisnu. Menenangkan Dava dengan suara serak.


Sampai di dapur Syifa langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kursi. Mengistirahatkan kakinya yang serasa tak bertulang. Ia tampak seperti orang linglung. Nafasnya memburu. Wajahnya merona.


"Syifa?!, itu lho den Dava nya kok dibiarin nangis? mbok Inah yang sedang memasak menegurnya.


"Apa Mbok?." sahut Syifa asal.


Ia masih belum kembali ke dunia nyata. Masih merasakan sentuhan sesaat dokter Wisnu. Lengan kokoh itu seakan masih menempel di pinggangnya. Melingkar kuat, menahan tubuhnya yang limbung.


Cukup Syifa, dokter Wisnu kan mau menyelamatkan Dava. Jangan halu, please nyadar diri dong.


"Owe.... owe..." dengan kaki kecilnya Dava mencari perhatian.


"Syifa!," mbok Inah kembali menegur Syifa yang tampak kacau "Ampun deh ni anak, Syifa!" akhirnya Mbok Inah menyentuh pundak Syifa.


"Oh, iya Mbok, ada apa?" Tergagap Syifa memeluk Dava yang sejak tadi menangis.


"Ya itu, den Dava nya jangan di cuekin." katanya sambil geleng-geleng kepala.


"Iya Mbok." Syifa membenahi gendongannya, kemudian membuat susu untuk Dava.


"Kenapa to? kok sampai ngelamun gitu?" tanya Mbok Inah yang gak tau apa-apa.

__ADS_1


"Gak kenapa-napa kok." dusta Syifa, sambil menyembunyikan wajahnya.


"Udah mulai rahasia-rahasiaan ya dari mbok Inah? lihat saja nanti kalo udah kepepet, awas!" katanya sambil bergaya sok berpaling muka.


"Jadi...." Syifa menggantungkan kalimatnya, melihat dokter Wisnu memasuki dapur.


Syifa menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mendadak terasa panas. Ia pura-pura asyik mengaduk susu Dava. Untungnya Dava sudah tenang dari insiden jatuh tadi. Kalo belum, tentu Syifa bakal report menenangkannya dalam keadaan seperti ini.


Dokter Wisnu yang sudah siap berangkat ke rumah sakit, berjalan pelan menuju meja. Meraih sepotong roti tawar, mengoleskan selai kacang kemudian membakarnya.


"Gak usah Mbok, aku sarapan ini aja" larang dokter Wisnu saat melihat Mbok Inah gugup menyiapkan menu sarapan yang belum sempurna.


"Maaf tuan." Mbok Inah berkata lirih penuh sesal.


Ingin rasanya Syifa menertawakan Mbok Inah yang suka PD itu, saat ini. Bener-bener bukan Mbok Inah. Tapi Syifa hanya bisa tertawa dalam hati. Ia sendiri sekarang tengah merasa seperti tersangka yang tengah diadili.


"Tak apa Mbok, aku yang sarapan terlalu pagi, soalnya ada pasien darurat" katanya menenangkan Mbok Inah.


Disambarnya roti bakar yang sudah matang. Bukan dokter Wisnu yang selalu Syifa lihat. Pria itu mendadak seperti ABG. Memakan rotinya sambil berjalan tergesa. Berlalu keluar tanpa memperdulikan Mbok Inah yang menatap serangkaian keanehan pagi ini dengan penuh tanda tanya.


"Puff... " Syifa menghela nafas lega, begitu suara motor dokter Wisnu menghilang di kejauhan.


"Ada apa to ini? kok pada aneh?" Tanya Mbok Inah masih penasaran.


"Apanya yang aneh Mbok, perasaan Mbok aja kali." elak Syifa sambil menimang Dava.


Mbok Inah bergumam tak percaya. Memilih menyimpan tanya itu dalam hati dan melanjutkan memasak. Mengaduk sayur yang mulai menyebarkan aroma nikmat. Aroma khas sayur lodeh buatan mbok Inah memang tiada duanya. Mengundang rasa lapar siapapun yang mendapati aromanya.


"Jadi laper Mbok."


"Iya ni, Mbok juga, ya udah sana, den Dava dimendiin dulu, baru kemudian kita sarapan bareng, udah mateng semua ni."


"Siap Mbok...."

__ADS_1


Selesai memandikan Dava, Syifa dan Mbok Inah sarapan bareng di dapur. Sambil makan Syifa mulai menceritakan semua kejadian yang ia alami sejak semalam pada orang tua yang diam-diam ia anggap ibu. Mbok Inah begitu perhatian dan baik padanya. Terlalu baik malah.


Usut punya usut ternyata, Mbok Inah punya cucu yang seharusnya seusia dengannya. Cucu pertama dan satu-satunya yang beliau punya. Namun sayang, ganasnya penyakit Flek menggerogoti tubuhnya yang kecil.


Beliau menyalahkan diri sendiri. Karena waktu itu keterbatasan ekonomi membuat keluarganya harus hidup dalam kondisi yang kurang baik. Tidur di lantai hanya beralaskan tikar. Dingin yang menusuk membawa penyakit pada cucunya yang belum genap berusia 5 tahun.


Karena itulah Mbok Inah sangat perhatian padanya. Ia mencurahkan kerinduan pada cucunya, pada Syifa. Mereka satu sama lain saling mengisi kekosongan hati dari orang yang dicintai. Membentuk hubungan dekat yang harmonis.


"Mbok rasa, den Wisnu punya rasa deh, sama Syifa." ringan sekali Mbok Inah berkata.


Membuat Syifa kian takut dengan bayanga-bayang masa depan yang sulit. Ketidakmungkinan yang pasti akan ia alami, seandainya memang ada rasa yang lain di antara mereka. Perbedaan usia yang terlalu jauh. Perbedaan kasta yang juga berbanding 180°. Juga latar belakang kehidupan dan pendidikan yang yah amat jauh, adalah alasan mutlak ketidakmungkinan itu.


"Apa Mbok?!!," Syifa bertanya kaget "Itu gak mungkin Mbok."


"Mbok kenal benar den Wisnu, sama art-art sebelum kamu, den Wisnu cuek aja tuh"


"Ini kan cuma kebetulan Mbok."


"Nggak, Mbok udah puluhan tahun tinggal di sini, Mbok tau bener seperti apa den Wisnu. Sejak ditinggal non Rere den Wisnu gak pernah bersikap hangat sama cewek lho." terang Mbok Inah mulai membuka masa lalu yang menjadi tanda tanya dalam benak Syifa.


"Non Rere?" Syifa memancing informasi lebih banyak.


"Jadi, den Wisnu dan non Rere, menikah hampir 7 tahun lamanya. Selama itu mereka belum juga punya momongan. 2 tahun terakhir mereka mulai sering bertengkar. Non Rere menyalahkan den Wisnu. Karena diam-diam non Rere memeriksakan diri. Hasilnya non Rere sehat, gak punya masalah.


Den Wisnu mencoba bertahan. Berbagai cara ia lakukan untuk mematahkan tuduhan non Rere. Obat herbal, farmasi bahkan pengobatan alternatif juga beliau jalani.


Setahun berobat ke sana kemari tanpa hasil. Non Rere mulai sering pulang pagi dalam keadaan mabuk. Dengan sabar den Wisnu merawat non Rere. Menanti non Rere sadar dan mau melanjutkan hubungan dengan baik meski tanpa adanya buah hati diantara mereka.


Puncaknya, sore itu, saat den Wisnu pulang kerja. Pintu rumah sedikit terbuka. Pemandangan yang sudah lama tidak ia lihat. Bahagia mengetahui non Rere sudah dirumah sebelum malam, den Wisnu menerobos masuk mencari sosok isterinya. Dan seperti ada yang menuntunnya. Den Wisnu langsung menuju kamar tidur. Membuka pintu lebar-lebar, dan betapa terkejutnya den Wisnu.


Dengan mata kepalanya sendiri. Ia menyaksikan isterinya bergumul dengan temannya sendiri. Mendengar lengkuhan memohon yang sudah jarang ia dengar. Bahkan keduanya tidak menyadari kehadiran den Wisnu." Mbok Inah mengakhiri ceritanya dengan mata berkaca-kaca.


Syifa mendengarkan kisah pilu itu dengan hati sakit. Tak menyangka dokter Wisnu yang memiliki sejuta pesona, ternyata dikhianati oleh isterinya. Apalah arti seorang buah hati bila memang Yang Kuasa belum memberi. Mau dipaksa sama siapa aja ya hasilnya tetep sama. Belum Rejeki, kalau kata orang tua.

__ADS_1


Tunggu, kalo seperti itu kisahnya. Lalu, Dava?.


__ADS_2