
Mentari bersinar lembut di ujung timur. Menerobos kabut tebal yang masih enggan meninggalkan atmosfer bumi. Menciptakan lukisan cahaya yang maha dahsyat dengan latar belakang pepohonan dan jalanan sepi di pagi hari. Ditingkahi kicau burung sahut menyahut di atas pohon. Pagi yang sempurna, pikir Syifa kala ia melangkah pelan menyusuri jalan setapak dimana sejauh mata memandang rumpun ilalang bergoyang seirama hembusan angin. Hati-hati ia melangkah menghindari genangan air dan tanah yang becek, bekas yang ditinggalkan hujan yang hampir turun semalaman.
Ditangannya terselip keranjang bambu kecil penuh dengan bunga mawar segar dan sebuah buku kecil. Melintasi jalan utama kompleks pemakaman umum beberapa meter kemudian berbelok ke kanan melewati beberapa makam. Kemudian ia berhenti pada sebuah makam yang masih baru serta satu makam lagi yang lebih lama. Ya itu makam kedua orang tuanya. Kini ia lebih tegar, lebih bisa menerima kenyataan pahit itu.
Tidak seperti dua hari lalu. Saat pertama ia datang setelah seminggu bagi dalam neraka di rumah sakit. Dimana hari-harinya penuh dengan air mata. Makan nasi bagikan duri. Duduk gelisah tiap hari memandang jam dinding yang bagai berhenti. Ingin lari namun tak kuasa. Ingin berteriak namun tak bisa. Tak ada satu masa pun ia lalui tanpa terkenang ayah dan bunda. Yang membuatnya menangis dalam diam. Beruntung sesekali Adi dan Roy datang menemani juga nasihat-nasihat serat makanan dari Dokter Wisnu saat mengontrol perkembangan kesehatannya sedikit banyak memberinya energi positif.
" ibu...!!!!! " teriak Syifa hari itu. Dari rumah sakit ia langsung ke makam ditemani pamannya. Begitu turun dari motor Ia langsung berlari meski tubuhnya masih lemah. Tak peduli meski berkali-kali terpeleset bahkan hampir jatuh.
Jalanan yang becek dan licin Tak menyurutkan langkahnya. Kaki dan rok panjangnya berlumpur. Sepasang sendalnya entah tertinggal di mana.
" ibu.... " rintihannya penuh sesal dan kerinduan. Menjatuhkan tubuhnya di atas pusara ibunya. Dibelakangnya pamannya hanya bisa memandang dengab sedih. Membiarkan Syifa menumpahkan seluruh duka dalam hatinya. Beberapa saat Syifa menangis sesenggukan dalam posisi itu. Melepaskan seluruh rasa perih yang ia tahan selama ini, bernegosiasi dengan hatinya untuk merelakan meski berat.
" biarkan ibumu pergi dengan tenang Syifa " sebuah suara membisiki hatinya " jangan sampai duka yang mendalam menjadi halangan kebahagiaan hakiki. Tak salah ada air mata karena itu adalah tanda kasih sayang. Tapi duka yang terlalu pasti akan menggangu baik yang meninggal maupun yang ditinggal. relakan lah Syifa....." bisik hatinya.
Perlahan Syifa mengangkat kepalanya, menghapus air matanya. Menghirup udara dalam-dalam sambil memejamkan mata. Menata hati.
" Ya Allah... maafkan sikap hamba. Semoga jalannya menuju keabadian dilapangkan. Ya Allah..... berikan tempat yang pantas bagi Ayah dan ibu hamba " pintanya dari lubuk hati yang paling dalam kemudian membaca ayat-ayat Al Qur'an sebisanya. Apa saja yang ia hafal di luar kepala.
Hati-hati Syifa membersihkan bunga-bunga yang sudah mengering dengan sapu lidi yang ia simpan di bawah pohon Kamboja. Setelah selesai ia menaburkan bunga mawar yang baru diatas makam ayah dan ibunya
" ibu ayah Syifa datang " bisik hatinya sambil menaburkan bunga. " ibu, ayah semoga kalian mendapatkan tempat di sana, di sini Syifa baik-baik saja. Insyaallah Syifa sudah ikhlas " lanjutnya kemudian mulai membaca surah Yasin dan beberapa surah pendek yang sering dibacakan untuk arwah dan disempurnakan dengan membaca doa baik doa dalam bahasa Arab yang sebagian besar maknanya tidak ia ketahui maupun doa dalam bahasa Indonesia, permohonan yang ia pinta dari Yang Maha Memberi lagi Maha Pengasih.
Setelah kembali menyimpan sapu lidi dibawah pohon Kamboja. Syifa berjalan pulang dengan tenang. Sepanjang jalan ia berpikir, apa yang akan ia lakukan sesudah ini?. Dan satu-satunya yang melintas di kepalanya adalah ' bekerja ' untuk menghidupi dirinya sendiri.
" kerja apa ya yang cocok untuk anak yang bahkan tidak lulus sekolah tingkat atas " gumamnya. " mungkin aku bisa melakukan ujian susulan baru kemudian bekerja " kembali Syifa bicara sendiri, tak menyadari langkahnya sudah jauh meninggalkan pemakaman bahkan ia hampir sampai rumah.
Sampai di depan rumah, Syifa menghentikan langkahnya. Menatap penuh kenangan bangunan kecil ditengah pekarangan yang dipenuhi tanaman jahe dan ketela pohon itu. Sebuah rumah berukuran 5×6 meter yang terdiri dari 4 ruangan utama yaitu satu ruang tamu, satu kamar, satu dapur dan satu lagi ruang tengah yang multi fungsi. Rumah yang sederhana namun rapi dan bersih. Angin bertiup lembut, memainkan dahan pohon salam disudut pekarangan, kupu-kupu beterbangan diantara serumpun bunga melati yang tumbuh subur disamping sejumlah tangga menuju teras, disampingnya berjajar bunga lain disepanjang kiri kanan teras.
__ADS_1
Syifa tersenyum sendiri mengenang ayahnya seakan tengah mencangkul di sisi kanan rumah sementara ibunya tengah menanam jahe dibelakangnya pada tanah yang sudah selesai digemburkan.
" hai Syifa?!! " Syifa terlonjak kaget, telinganya yang tak siap menerima suara dengan intonasi tinggi menyampaikan data ke otak terlalu keras sehingga secara refleks seluruh tubuhnya bereaksi dengan gerakan yang tak kalah cepat.
Dibelakangnya Om Bob, sang rentenir desa seberang berdiri bersama 2 orang anak buahnya yang terlihat kekar dan berotot. Sangat cocok dengan profesi mereka. Siapapun akan ciut nyalinya bila berhadapan dengan kedua anak buah Om Bob itu.
Syifa menelan ludah yang terasa bagi batu. Tanpa diberitahu terlebih dahulu ia sudah bisa menduga kemana arah tujuan mereka datang.
" oh ternyata Om Bob, kirain siapa? mari masuk " Syifa basa basi untuk menetralisir kekagetannya.
" gak usah, di sini aja cukup " katanya garang, kemudian melambaikan tangan kebelakang, memberi isyarat pada salah satu anak buahnya yang langsung memberikan sebuah map hijau pada Om Bob.
" kamu lihat ini " katanya sambil menunjukkan map yang sangat ia kenal itu.
Syifa menghela nafas berat. " seperti yang saya pikirkan " batinnya marah.
" tapi Om " protes Syifa, tak terima karena setahu dia biaya rumah sakit hanya 10 juta yang di ambil dari pamannya selebihnya dibantu warga dan pemerintah daerah juga dibantu oleh Dokter Nia dan satu lagi yang tidak mau mengungkapkan siapa dirinya.
" saya tidak menerima alasan apapun, yang saya tau harus ada setoran di tiap bulannya, mudah saja, saya orang yang murah hati, saya gak akan kejar-kejar kamu buat bayar tapi begitu jatuh tempo..... rumah ini bisa saya jual atau biar lebih mudah kamu bisa jadi isteri muda saya " katanya genit sambil berusaha menyentuh dagu Syifa. Untungnya Syifa segera berkelit sehingga Om Bob hanya menyentuh angin.
" ingat itu!!" ancamannya kemudian berlalu meninggalkan Syifa yang tertegun.
Syifa duduk di kursi ruang tamu yang terletak tepat di depan jendela yang menghadap ke halaman samping rumahnya, memandang lepas keluar seakan menatap rimbunnya tanaman jahe yang tengah tumbuh subur itu, namun pada kenyataannya ia memandang jauh entah kemana. Ia tak habis pikir, kenapa pamannya begitu tega mencuri surat tanah dan rumahnya kemudian menggadaikannya, memang benar itu untuk biaya rumah sakitnya, tapi yang separuh....?
" pantesan paman dan bibi baik banget mau pulang pergi jagain ibu sama aku " gumam Syifa, hatinya berkecamuk ingin rasanya ia pergi ke rumah pamannya, marah-marah kemudian meminta uangnya kembali, tapi kalo di pikir-pikir bakalan sia-sia, mo dia marah seperti apa uang tetep uang dan uang yang sudah di tangannya gak bakal kembali. Syifa tau betul seperti sifat pamannya yang begitu ambisi dengan tanah bagian almarhum ayahnya yang pada kenyataannya oleh kakek sudah dibagi rata, atau lebih tepatnya lebih banyak bagian pamannya.
Meski tau tidak akan ada hasilnya toh ia tak mampu melawan keinginan untuk protes pada pamannya. Dan di sinilah ia sekarang, dirumah pamannya menghadapi paman dan bibinya yang dengan santainya mengacuhkan kedatangannya.
__ADS_1
Kesal Syifa melihat paman dan bibinya itu, dan makin kesal lagi saat dilihatnya leher bibinya berhias kalung emas yang tampak berbobot, di jarinya juga tersemat beberapa cincin permata mewah.
" Keterlaluan!! " bentak Syifa tiba-tiba memiliki keberanian.
" Sudahlah Syifa, kami hanya mengambil bagian kami, seharusnya kamu bilang makasih sama kami yang udah mau susah-susah cariin uang saat kamu dan ibu kamu menderita. Masih untung rumah itu gak kami jual " jawab bibirnya enteng tanpa memandang Syifa.
" Tega kalian mengambil keuntungan dari penderitaanku " Syifa menumpahkan isi hatinya dengan sia-sia.
" Pergilah Syifa, kami gak ada waktu buat kamu " bibirnya mengakhiri kemudian berlalu diikuti pamannya, menutup pintu ruang tengah, meninggalkan Syifa diruang tamu berteman air mata.
Syifa melangkah gontai meninggalkan rumah pamannya. Pikirannya melayang, kepalanya mendadak pening dan hatinya yang tengah belajar menerima kenyataan kembali terpuruk dalam lembah keputusasaan. Merasa menjadi manusia yang paling nelangsa, berpikir Allah tak mengabulkan doa-doanya.
" cobaan apa lagi ini Ya Allah.... " jerit hatinya.
" dari pada bersedih dan nelangsa begitu mending cari jalan keluarnya " sebuah suara berbisik di hatinya.
" ya " jawabnya singkat, otaknya bekerja keras mencari solusi. Tiba-tiba ia teringat Dokter Nia dan HP butut di tasnya. Merasa menemukan secercah harapan Syifa mempercepat langkah, ingin segera sampai di rumah
Tiba di rumah Syifa Langsung mencari benda kecil yang ia harap bisa menyelesaikan masalahnya. Tak butuh waktu lama, Syifa langsung menemukan HP nya.
" Halo Dokter Nia, ini Syifa " Tak ingin membuang waktu ia langsung mengunjungi Dokter Nia.
" Ya ada apa Syifa? "
Syifa segera membeberkan masalahnya secara garis besar dan mengakhirinya dengan kalimat " saya mohon, bantu saya Dok, kalau-kalau ada teman Dokter yang butuh tenaga kerja "
" baiklah, yang sabar ya, saya akan mencari informasi, begitu ada saya akan kabari kamu secepatnya "
__ADS_1
Dan setelah pembicaraan itu, waktu seakan berjalan mundur. Syifa hanya duduk gelisah memberikan pekerjaan rumah terbengkalai.