DiLeMa CINTA

DiLeMa CINTA
Dilema Cinta


__ADS_3

bab 152


.


.


.


beberapa mobil berhenti didepan gedung kosong dimana Vanka menyekap Nelly.


rasa kawatir dihati kirania terus bertambah ketika melihat dari mobil-mobil keluar banyak pria yang masuk kedalam gedung kosong itu.


" kakek, ini bagaimana ??" tanya kirania yang sudah sangat kawatir.


" tenanglah, jangan sampai mereka menyadari keberadaan kita.." jawab sang kakek. hingga tak lama setelahnya muncul sebuah mobil yang berhenti disisi mobil kakek beni.


Kirania sedikit terkejut. namun juga bernafas lega, akhirnya bantuan sudah tiba. dari mobil itu keluar Sinta dan Brian, ketua FlowerEangle saat ini.


kakek beni membuka kaca mobilnya, sedangkan Kirania yang senang bertemu Sinta segera keluar dari mobil, sesaat ia lupa jika kini ia masih dalam mode pengintai.


kakek beni yang melihat tingkah kirania hanya dapat menggelengkan kepalanya.


" kak Sinta. !!" Kirania berlari memeluk sinta dengan bahagia. Sinta membalas pelukan dengan senang hati.


"kakak, q merindukanmu..." ucap Kirania.


" kakak juga.. maaf sesaat kakak harus menghilang.." balas Sinta.


" ehemm...sudah, sudah, hentikan drama pelukannya, kita pending dulu.." timpal Brian.


" maaf.." ucap kirania sambil melepas pelukannya.

__ADS_1


kakek beni tersenyum melihat kirania.


" tuan Beni.." sapa Sinta dan brian bersamaan, ketika melihat kakek beni Keluar dari mobilnya.


" dimana anggota kalian ??" tanya Kakek beni.


" disetiap sudut gedung itu Tuan, mereka sudah bersiap." jawab Sinta pasti.


kakek beni mengangguk pertanda mengerti


" tapi Tuan. apa tidak sebaiknya kita beritau farraz ??" tanya Brian memberanikan diri.


" tidak perlu, mereka akan segera sampai disini. " jawab kakek.beni santai.


" maksudnya ??" tanya Kirania yang belum mengerti.


" Kiran, apa kau mau main tembak-tembakkan ??"bisik Sinta mengalihkan pembicaraan.


" tentu saja, " jawab sinta penuh antusias.


" nah kiran, kau tunggu didalam mobil ya, kakek dan kedua anak ini akan masuk kedalam." terang kakek beni.


" apa ?? kakek mau masuk ??!!" ucap Kirania dengan mata membulat.


" iya." jawab kakek beni pelan.


" Tuan, sebaiknya Tuan disini saja, biar kami yang masuk dengan anak buah kami ." timpal Brian.


" Brian, q ingin menyelamatkan cucu menantuku, tolong biarkan q ikut." jelas kakek.beni.


" kakek terlihat begitu mengenal Kak Brian ??" gumam Kirania dalam.hati.

__ADS_1


" tapi kek, kakek masih dalam pemulihan, apa yang akan ku katakan pada Aziel nanti jika sesuatu terjadi pada kakek.." balas Kirania.


" jika kau diam dia tidak akan tau.. sudahlah.." timpal kakek.beni.


Sinta hanya bisa diam tanpa berani berkata, kakek beni dan Brian mulai mendekati gendung kosong yang dipakai Vanka untuk.bersembunyi.


melihat kakek.beni dan Brian sudah menjauh Sinta mengeluarkan sebuah pistol disaku blezernya,


" kiran, kau pegang ini, jika nanti disini kau dalam bahaya gunakan ini untuk melindungi diri, atau jika kami tidak keluar dalam 15 menit, hubungi Suami dan kakakmu untuk segera kesini." perintah Sinta.


Kirania menerima pistol yang diberikan Sinta padanya, seumur hidupnya baru kali ini ia memegang sejata berbahaya itu.


" kak, apa akan terjadi sesuatu ??" tanya kiran penuh cemas.


" semoga semua berjalan lancar, kakak dengar kau sedang mengandung, berusahalah untuk bertahan." belum selesai sinta berkata sudah terjadi baku tembak didalam gedung.


dorr..


dorr..


dorr..


dorr..


Tanpa menunggu apapun sibta berlari menyusul brian dan kakek beni.


pertempuran terjadi disana, mata kirania benar-benar disuguhkan sebuah pertumpahan darah, bahkan baru kali ini kiran melihat sang kakek yang biasanya duduk santai kini menyerang musuh dengan lincahnya. seolah kakek.beni sangat ahli dalam hal bela diri, meski usianya sudah tidak muda lagi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2