DiLeMa CINTA

DiLeMa CINTA
Syifa


__ADS_3

Syifa terus berlari. Menyusuri rerumputan yang masih basah. Hawa dingin tak lagi terasa di tubuhnya. Berlari tanpa tujuan pasti. Menerobos pagi yang masih berkabut. Syifa sadar ia salah jalan. Jika sampai tertangkap, maka tamatlah riwayatnya.


Tiba-tiba Syifa tersungkur. Kakinya tersandung sebatang kayu. Tak peduli, Syifa bangkit dan segera berlari. Apalagi Om Bob hanya beberapa meter dibelakangnya. Baru beberapa langkah, Syifa mendadak berhenti. Diambilnya kayu yang membuatnya tersungkur. Sambil memungut kayu itu Syifa mengambil segenggam tanah yang tak terlalu kering, namun cukup untuk membela diri.


Dengan yakin Syifa menghadang Om Bob yang semakin mendekat. Melihat Syifa memegang kayu yang tak begitu besar Om Bob tersenyum meremehkan.


"Menarik, kamu membuat aku semakin tak sabar untuk menikmati keliaran kamu."


Om Bob menghentikan langkahnya satu meter didepan Syifa. Mengamati Syifa dengan seksama. Mencari celah untuk menangkapnya tanpa harus terkena pukulan. Ia mengambil kuda-kuda. Bersiap melompat, menerjang Syifa.


Telapak tangannya mulai basah. Jantungnya berdetak cepat. Dalam hati memohon keselamatan. Melawan atau tidak, hasilnya sama. Karena ia mengambil jalan yang salah. Disini tidak akan ada orang yang menolongnya, selain diri sendiri. Kalau melawan, setidaknya ada harapan untuk selamat.


Sambil komat-kamit, Syifa melemparkan tanah dalam genggamannya tepat ke wajah Om Bob.


"Akh..." Om Bob berteriak kesakitan sambil memegangi matanya.


Dengan sisa tenaganya, Syifa menendag area terlarang Om Bob.


"Akh..." Om Bob berteriak lebih keras.


Refleks kedua tangannya langsung menutupi bagian itu. Ia marah, sangat marah. Wajahnya merah menakutkan.


"Akh..., kurang ajar!!" Om Bob berteriak marah, sambil berusaha meraih Syifa.


Panik, Syifa mengayunkan kayunya. Memukul tangan Om Bob. Kemudian pundaknya. Punggungnya. Syifa memukul dengan membabi buta. Ia terus memukul sampai kehabisan tenaga dan tangannya sendiri sakit.


Lelah memukuli punggung Om Bob yang masih berdiri, meski tak lagi tegak. Syifa mengayunkan kayunya tinggi-tinggi. Memukul betis Om Bob, hingga pria itu jatuh tersungkur.


"Akh..."


"Maaf Om, Syifa gak punya pilihan." katanya sambil memukul kaki Om Bob sekali lagi.


"Araghhh...," Om Bob mengerang marah. "Syifa.... aku tak akan melepaskan mu, akan kubalas semua ini!"


Sebelum Om Bob bisa bangkit, Syifa berlari kembali ke rumahnya. Terengah-engah, sesekali berhenti karena terlalu lelah.


Ya Allah, beri hamba waktu untuk menyelamatkan diri.

__ADS_1


Sampai di belakang rumah. Syifa menghentikan larinya, membungkuk, mengatur nafas, mengumpulkan tenaga lagi. Seluruh persendiannya terasa mau lepas. Tapi ia tak peduli.


Setelah beberapa saat, Syifa bergegas masuk ke dalam. Mengunci seluruh pintu dan jendela. Menyambar sisa uangnya, kemudian keluar melalui pintu depan.


Setelah mengunci pintu depan. Syifa berlari ke rumah tangga yang bisa bekerja sebagai tukang ojek. Memohon-mohon untuk segera diantarkan ke terminal.


"Baiklah, bukankah kamu baru saja pulang, kenapa tergesa-gesa, sampai harus berangkat sepagi ini?" akhirnya bapak itu menyerah.


"Ada masalah mendadak." jawab Syifa masih terengah-engah.


"Yuk, kayaknya darurat banget sampai keadaan kamu seperti ini." katanya sambil mengeluarkan motor.


Sampai di terminal Syifa langsung memanggil taxi. Menyerahkan kartu nama dokter Wisnu pada pak supir, kemudian jatuh terduduk di kursi belakang. Ia tak mau ambil resiko tertangkap anak buah Om Bob di dalam bus. Lagi pula, dengan naik taxi, ia bisa beristirahat dengan tenang sebelum sampai di rumah dokter Wisnu.


"Cepat pak, bawa saya ke alamat itu!" katanya sambil menengok ke belakang.


Mobil berjalan perlahan. Syifa meletakkan seluruh beban tubuhnya di atas kursi. Mengatur nafas perlahan, meluruskan kaki yang sejak tadi kerja rodi. Menyandarkan kepalanya kemudian memejamkan mata.


Tiba-tiba, Syifa meringis. Perutnya terasa perih. Makin lama makin perih. Hati-hati Syifa membelainya. Berharap mengurangi rasa perih di perutnya.


"Egh..." Syifa membungkuk.


"Gak papa pak, jalan aja, lebih cepat kalo bisa." sahut Syifa ingin segera merebahkan tubuhnya di kamar.


Syifa menggertakan gigi. Menahan rasa sakit di perutnya. Antara perih, lapar dan nyeri yang hebat pada perut bagian bawah. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Kepala juga terasa berat. Hingga akhirnya Syifa terkulai lemah. Tak mampu lagi menahan sakit di sekujur tubuhnya.


" Mbak...," supir taksi itu panik. "Mbak, aduh gimana ni?" kalimat retoris itu terucap dalam nada kebingungan.


Beberapa saat dalam bimbang. Pak sopir mempercepat laju mobilnya. Tengok kanan kiri. Mencari rumah sakit terdekat.Beberapa saat kemudian pak sopir menepikan mobilnya. Memasuki halaman sebuah rumah sakit dan langsung menghentikan mobilnya di depan pintu IGD.


Dengan cepat dan cekatan tenaga medis membawa Syifa ke ruang IGD. Tak ingin terlibat lebih jauh. Ia segera mencari kartu nama yang tadi terjatuh di dalam taksi, saat ia panik.


"Ya disini dokter Wisnu, ada yang bisa saya bantu?" suara dari seberang ramah.


"Maaf dokter, saya supir taksi, tadi ada seorang gadis naik taksi saya, dia memberikan kartu nama anda. Tapi tiba-tiba dia pingsan."


"Gadis?," suaranya terdengar panik "apa pakai kerudung?"

__ADS_1


"Iya"


"Dimana sekarang? saya akan segera ke sana."


"Kami sekarang ada di rumah sakit Dr. Sujadi"


"Tut.... Tut..." sambungan di tutup. Dengan kening berkerut supir taksi itu menatap gadgetnya.


Lima belas menit kemudian. Dokter Wisnu datang dengan mobil silver nya. Memarkirkan mobilnya sembarangan, kemudian menyerahkan kunci pada satpam. Berjalan cepat menuju IGD.


"Anda dokter Wisnu?" supir itu segera menghampiri dokter Wisnu.


"Ya, dimana gadis itu?" tanya dokter Wisnu.


"Sedang ditangani di da...."


Belum selesai supir itu bicara, Dokter Wisnu langsung menerobos masuk ke dalam ruang IGD sambil menunjukkan kartu identitasnya. Sehingga tidak ada yang menghentikan langkahnya.


"Maaf, saya dokter Wisnu, saya yang bertanggungjawab atas pasien?" katanya pada perawat yang tengah mengatur intensitas cairan infus.


Syifa terbaring lemah tak berdaya. Pakaiannya kotor, bahkan kakinya juga kotor. Wajahnya sangat pucat. Dengan sedih, dokter Wisnu menatap keadaan Syifa yang tidak wajar. Dalam hati ia bertanya, 'Sebenarnya apa yang terjadi?'


"Bagaimana keadaannya?" Tanya dokter Wisnu.


Ia menyingkap baju Syifa. Menempelkan stetoskop pada bekas luka Syifa. Merasa sedikit lega karena pihak rumah sakit telah menangani Syifa dengan baik.


"Syok yang sangat hebat Dok, melihat kondisinya, sepertinya pasien mengalami hari yang sangat sulit." perawat itu menjelaskan tanpa diminta.


"Boleh saya lihat laporannya?"


"Silahkan Dok" suster itu menyerahkan sebuah map pada dokter Wisnu.


Setelah memeriksanya, dokter Wisnu mengembalikan file itu pada perawat.


"Terimakasih telah memberikan yang terbaik."


"Itu sudah menjadi tugas kami Dokter."

__ADS_1


Dokter Wisnu keluar. Menemui supir taksi itu. Meminta keterangan dan memberikan ongkos yang pantas. Setelah supir taksi itu berlalu, Dokter Wisnu pergi ke kantin. Memesan bubur dan air mineral.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" pertanyaan itu begitu mengusik hati dokter Wisnu.


__ADS_2