DiLeMa CINTA

DiLeMa CINTA
Maafkan Syifa


__ADS_3

Syifa merasa waktu bagaikan siput yang berjalan terlalu lamban karena beban berat rumahnya. Ia merasa tertidur tanpa ujung. Mencari-cari pijakan di tengah gulita. Berjalan terseok-seok tanpa aral tujuan. Jatuh bangun mencari secercah harapan, mencari jalan keluar dari kegelapan yang terasa mencekam.


Ia terus berjalan meski merangkak. Sekuat tenaga ia menyeret tubuhnya ke depan tanpa tujuan. Tiba-tiba ia terpeleset tubuhnya melayang- layang kemudian terhampas dengan kasar. Remuk redam, sekujur tubuhnya terasa nyeri. Ia meringis menahan rasa sakit. Dan saat itulah ia melihat seberkas cahaya jauh di sana, sangat jauh.


" Syifa..... Syifa....." sebuah suara menyeretnya kearah cahaya itu. Cahaya itu kian nyata dan terang benderang, teramat terang sehingga menyakiti pandangan.


Syifa mengerjap-ngerjapkan mata pelan, matanya terasa sakit saat cahaya menyapa pupil matanya, refleks ia menyipitkan mata menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya dalam ruangan itu. Perlahan ia mengangkat bulu matanya.


Dilihatnya Adi berdiri di sampingnya, tak percaya dengan pengelihatannya, merasa bagaikan mimpi, Syifa menatap Adi lekat-lekat kemudian muncul wajah-wajah lain, Roy, Riska, Susi dan semua teman sekelasnya berdiri memenuhi kamar Syifa. Syifa menatap mereka satu persatu dan berhenti pada Adi yang kini berkaca-kaca.


Ingatannya kembali memutar episode dimana ia duduk penuh syukur didepan bangsal isolasi, lebih tepatnya didepan kaca yang memisahkan antara ia dan ibunya.


" ibu..... " bisiknya serak, air matanya mengalir lembut mengalir hingga ke atas telinga membasahi rambutnya. " dimana ibu.....? " tuntutnya tak sabar. Ditatapnya wajah-wajah temannya yang diam membisu. Bahkan sebagian besar dari mereka tampak sedih. Syifa menelan ludah pahit ia berharap saat ini Ibu masih dirawat, ia berharap saat itu hanya sebuah penurunan kesehatan pasca operasi.


Kuatkan hati ku Ya Allah, beri hamba pertolongan untuk sabar menerima cobaan ini.......Ya Allah.....jangan biarkan hal yang lebih buruk lagi menimpa kami


" apakah ibuku masih dirawat, seburuk apa penanganan yang ibu terima kali ini " Syifa meracau tak tentu arah " siapapun tolonglah, bawa aku ke tempat ibuku, aku mohon.... Roy.... " pintanya pada Roy yang hanya dibalas gelengan kepala sedih.

__ADS_1


" apakah... apakah..ibuku........?" tanyanya menerka, Roy mengangguk seraya memalingkan muka, tak kuasa melihat wajah Syifa.


" Ya Allah...... secepat ini Engkau Memanggil ibu ..... mengapa tak Kau beri hamba kesempatan......." rintihannya. Mendadak ia merasa seakan tubuhnya tak bertulang. Seluruh tenaganya bagi menguap bersama kepastian bahwa sekarang ia telah ditinggalkan.


" kami turut berdukacita atas meninggalnya ibu kamu Syifa, kamu yang tabah.... " bisik Riska sambil menggenggam tangan Syifa menguatkan, sesaat setelah Syifa tenang.


" Riska bisa tolong bawa aku ke ibu " pinta Syifa penuh harap.


" maafkan aku Syifa.... " ragu-ragu Riska menjawab, kini ia tak kuasa lagi menahan air matanya.


" mengapa Ris? apa karena kondisiku ini?"


Air matanya kembali mengalir pelan. Riska menggenggam tangannya kian erat. Berharap hal itu mampu menguatkan hati Syifa. Ia semakin kehilangan kekuatannya, tubuhnya serasa melayang, merasakan kepedihan yang bertubi-tubi. Bahkan disaat terakhir pun ia tak diizinkan melihat ibunya.


" apa dosaku.... sehingga aku tak diizinkan mengantar kepergian ibu......."


" tidak Syifa, kamu sudah berusaha, kamu sudah mengusahakan yang terbaik " hibur Riska.

__ADS_1


Syifa memejamkan mata, membayangkan dirinya berada di tengah-tengah pemakaman ibunya. Membayangkan dirinya kini tengah jongkok disamping pusaran ibunya yang masih basah dan di penuhi warna warni bunga. Menaburkan bunga lebih banyak lagi. Dalam angannya hujan turun rintik-rintik disertai angin yang berhembus lembut, beberapa daun jatuh berserakan terbawa angin.


Maafkan Syifa ibu...... maafkan Syifa....... disaat terakhir Syifa tak dapat mengantarkan kepergian ibu........Ya Allah..... berikan satu tempat disamping Mu untuknya. Sungguh aku bersaksi bahwa beliau pantas menerimanya, ibu adalah sosok yang mengorbankan jiwa raganya untuk keluarga, Ya Allah.... Ridhoi kepergian beliau beri hamba pertolongan untuk mengikhlaskan agar lapang jalannya menuju keabadian......


" Syifa..... " bisik Riska khawatir melihat Syifa lama terdiam sambil memejamkan mata.


Syifa membuka matanya, melihat wajah khawatir Riska yang menggangu angan-angannya. Syifa tersenyum, merasa sedikit lebih baik dan untuk menenangkan teman-tema nya, walau sesungguhnya hatinya nelangsa.


Satu persatu temannya mengucapkan belasungkawa kemudian keluar, menyisakan Adi dan Roy yang sejak tadi diam membisu.


Hening, tak satupun dari mereka yang berniat memecah keheningan. Syifa menatap Adi dan Roy yang sepertinya hubungan mereka sudah jauh lebih baik. Syifa menjadi pusat perhatian mereka berdua. Mata mereka memancarkan penyesalan, penyesalan yang mendalam karena membiarkan Syifa melalui masa sulit seorang diri.


" mengapa tak memberi tahuku sejak kemarin" protes Adi sedikit tak terima.


" ya, setidaknya kalo kamu ngasih tau, kita bisa nemenin kamu melewati masa sulit ini " Roy tak mau kalah memprotes sikap diam Syifa.


" entahlah aku tak memikirkan apapun selain ibuku " jawab Syifa menerawang mengenang detik-detik terakhir bersama ibunya. " pergilah aku ingin sendiri, bukankah seharusnya kalian menghiburku? "

__ADS_1


" maaf " berbarengan Adi dan Roy menyahut.


" tak apa, aku harus ikhlas " serak Syifa berkata, air mata masih saja membasahi pipinya.


__ADS_2