
Mengetahui sepenggal masalalu dokter Wisnu, membuat rasa salut dalam hatinya kian subur. Namun sakitnya penghianatan tak dapat ia abaikan. Terlalu sakit, hingga menimbulkan rasa enggan untuk memikirkan tentang cinta.
Syifa menatap 15 lembar uang ratusan didepannya. Kepalanya terasa sakit. Hari-hari penuh air mata ia lalui untuk uang itu. Berjuang menahan derita demi mempertahankan nafas dan satu-satunya harta peninggalan kedua orang tuanya. Membayar pinjaman yang tidak ia nikmati. Menanggung keserakahan paman dan bibinya.
Syifa memejamkan mata. Berharap rasa sakit di hatinya memudar. Namun bayangan tragedi seminggu lalu justru berputar dalam otaknya. Membuatnya kembali merasakan sakitnya diperlakukan seperti itu. Membuat air matanya kembali mengalir di pipinya yang kian kurus.
"Fa, tunggu aku mau ngomong." Adi menahannya didepan gerbang saat ia pulang dari sekolah, untuk mengambil hasil ujian.
"Maaf Di, aku lagi buru-buru." Syifa berusaha melepaskan cengkeraman tangan Adi di pergelangan tangannya.
"Gak Fa, kita perlu bicara, aku, aku..."
"Lepas!, aku bilang lepas!" Syifa mencoba menarik tangannya yang kini terasa sakit.
"Kamu salah paham, itu gak seperti yang kamu kira" Adi gigih.
"Semua orang yang ada di posisi kamu pasti bilang gitu. Cukup Di, kita sampai di sini aja, bukankah itu yang kamu mau?"
"Gak Fa, aku beneran sayang sama kamu."
"Apa kamu bilang Di?!!"
Wajah Adi mendadak pucat, melihat mamanya sudah berdiri didepan pagar rumahnya. Gurat kemarahan tergambar jelas di wajah cantiknya. Dengan langkah besar ia mendekati Adi dan Syifa. Perlahan cengkeraman tangan Adi mengendur, sebelum akhirnya terlepas.
"Ma, Mama...." tergagap Adi menghadapi mamanya yang murka.
Syifa menunduk dalam-dalam. Keringat dingin mendadak mengalir di punggungnya. Ia mulai menata hatinya untuk menerima apa yang akan menimpanya.
"Tadi kamu bilang apa?!," mamanya menghentikan kalimatnya. Mengamati wajah Syifa dengan seksama. "Sayang?" lanjutnya dengan senyum sinis.
"Ma, yuk kita pulang."Adi berusaha menghindari hal buruk.
"Tunggu, mama belum selesai dengan dia." jawabnya tak dapat di bantah.
__ADS_1
Adi mondar-mandir gelisah dibelakang mamanya yang tengah menghakimi Syifa.
"Bukankah kamu pembantu dokter Wisnu?"
"Ma, udahlah ayo kita pulang." Adi berusaha meraih lengan mamanya.
"Diam kamu Adi, kamu juga, bodoh, bisa-bisanya suka sama cewek macam ini." hardik maminya, sambil menepis tangan Adi. "Hai kamu," lanjutnya sambil mencolek pundak Syifa. "Jangan harap kamu bisa sama Adi. Orang kampung seperti kamu gak pantas buat Adi. Ingat itu, Mana ada pembantu naik pangkat jadi nyonya. Jangan mimpi!" ia mengakhiri ceramah pedasnya sambil mendorong Syifa.
Syifa yang sejak tadi mendengarkan dan hidmat terdorong ke belakang dan menabrak gerbang. Menimbulkan bunyi berisik.
"Syifa!" pekik Adi panik.
"Pulang!" dengan kasar wanita itu menarik Adi pulang.
Tanpa merasa bersalah meninggalkan Syifa yang masih tertegun dengan perlakuan kasarnya.
Perlahan Syifa menghapus air matanya. Meraih uang dihadapannya. Menemukan tekad kuat untuk membuktikan bahwa ia tidak berharap pada Adi.
Sore itu Syifa izin pulang sebentar. Menyetor cicilan pada Om Bob. Dan menyisakan lima ratus ribu. Yang akan ia belikan gadget. Tekadnya sudah bulat. Ia akan memulai bisnis online.
Syifa menatap rumah yang kini tampak rapuh. Begitu kotor dan tidak terawat. Sarang laba-laba di mana-mana. Tikus tanah membuat lubang di banyak titik. Tanah bekas galian berserakan. Sampah yang belum sempat ia buang, memenuhi lantai dapur.
Syifa langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia terlalu letih untuk menuruti keinginan hatinya. Walau hanya untuk membersihkan tempat tidurnya. Ia hanya melipat kain penutup ranjang lama dan menggantinya dengan yang bersih. Melemparkan tubuhnya kemudian terlelap hingga pagi.
Syifa mengeliat, perlahan membuka matanya. Dengan damai Syifa menghirup udara segar dalam-dalam. Menikmati udara pedesaan yang steril. Lamat-lamat terdengar kicau burung dari kejauhan. Syifa yang tengah mendapat tamu bulanan, kembali meringkuk. Mengusir dingin yang menusuk.
"Klek" suara pintu dibuka.
Syifa yang hampir terlelap kembali, menajamkan pendengarannya. Mendadak sebuah kekhawatiran muncul. Perlahan Syifa bangkit dari ranjangnya. Sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara. Ia melihat sekeliling. Berharap ada benda yang bisa ia gunakan untuk membela diri. Namun sayang tak ada apapun di kamar itu.
Perasaan, semalam aku kunci.
Dengan waspada Syifa bersembunyi dibalik pintu. Menanti apa yang akan terjadi. Ia berharap ia bisa menyelamatkan diri. Suara langkah kaki waspada terdengar mendekat. Jantung Syifa berdetak lebih cepat. Ketakutan memenuhi seluruh syarafnya. Sendiri, tanpa senjata, apa yang bisa ia lakukan?.
__ADS_1
Tiba-tiba Syifa melihat jendela. Ini bisa jadi alternatif, pikirannya.
"Syifa sayang, kamu dimana?" Syifa kenal betul dengan suara berat itu.
Pelan Syifa mengunci pintu, yang pasti dengan mudah dapat didobrak oleh Om Bob. Tubuhnya yang tinggi dan besar, membuat Syifa bergidik. Membayangkan ditindih olehnya sudah membuat perut Syifa mual. Apalagi beneran?.
Ya Allah.... lindungi hamba Mu ini, Jangan biarkan pintu terbuka sebelum saya bisa melarikan diri....
Tepat setelah Syifa mengunci pintu. Getaran tangan Om Bob mendorong pintu dapat Syifa rasakan. Getaran itu bagai sengatan arus listrik. Panik, Syifa berlari menuju jendela. Dengan cepat Syifa membuka jendela. Memanjatnya dengan susah payah.
"Bruak" pintu terhempas dengan keras saat Syifa berhasil memanjat jendela.
Dengan gagahnya Om Bob berdiri disana bak penjahat. Menatap Syifa dengan sangat menjanjikan.
"Bugh" Syifa menjatuhkan diri agar lebih cepat.
"Akh" sayang, roknya justeru tersangkut.
Karena panik, entah mengapa begitu sulit melepaskan roknya yang tersangkut. Jantungnya serasa meloncat. Tangan kokoh Om Bob meraih roknya. Syifa sudah tak dapat berpikir lagi.
"Jangan Om, jangan, saya kan sudah nyicil Om." Syifa memelas.
"Nih, uang kamu," Om Bob melemparkan uang ke udara. "Aku lebih suka tubuh kamu daripada uang, mau bagaimana aku gak akan terima uang kamu hahaha..." Om Bob menarik roknya.
Ya Allah apa yang harus aku lakukan.
"BRAK!!!!" Syifa menutup jendela sekuat tenaga.
"Ayo sayang aku udah.... akh" seketika Om Bob melepaskan pegangannya.
Ia kesakitan. Wajah dan tangannya terkena hempasan jendela. Tak menyia-nyiakan kesempatan. Syifa segera berlari. Tak peduli ke arah mana ia berlari. Yang ia pikirkan hanyalah segera menjauh dari rumahnya. Menyelamatkan diri dari sesuatu yang sangat mengerikan.
Sesekali Syifa menoleh. Memastikan apakah Om Bob mengejarnya atau tidak. Melihat Om Bob tak menyerah Syifa mempercepat larinya. Kakinya yang telanjang, sesekali menginjak duri dan batu. Menimbulkan rasa sakit yang tidak ia hiraukan.
__ADS_1
Dibelakangnya Om Bob masih terus mengejar. Bahkan lebih bersemangat. Karena Syifa justeru berlari ke ladang yang pasti masih tanpa penghuni.