DiLeMa CINTA

DiLeMa CINTA
Ibu


__ADS_3

Syifa menatap tubuh ibunya yang terbaring diam didalam ruang isolasi. Alat-alat yang digunakan juga semakin banyak. Bahkan kini ia harus menghirup udara melalui alat yang berbentuk seperti mangkuk.


" kami baru tau ibu kamu mengidap tuberkulosis yang sangat akut, sangat mengherankan, karena selama disini beliau tak pernah batuk " Dokter Wisnu menerangkan mengapa ibunya harus di isolasi. " kamu harus kuat Syifa, pasrahkan pada_Nya " nasihat Dokter Wisnu


" terimakasih Dok " balas Syifa tanpa mengalihkan pandangan dari ibunya.


" ya sudah saya tinggal, nanti kamu akan di antar suster ke kamar kamu " pamit Dokter Wisnu sambil mengunci rodanya.


" terimakasih atas semua bantuan Dokter " ucap Syifa tulus sambil sekilas menatap wajah Dokter Wisnu.


Lama Syifa duduk terdiam disana menatap kedalam. Merasa bersyukur bahwa operasi berjalan lancar. Mungkin pemulihannya harus melalui tahap ini pikir Syifa yang tidak begitu paham apa ruang isolasi itu.


ibu..... bisik Syifa dalam hatinya, tangannya terulur menyentuh kaca yang dingin, seakan menyentuh tangan ibunya. lekas sembuh Bu, mari kita sama-sama pulang, Syifa rindu ibu.. Bu, Syifa sayang ibu....


Merasa puas berbicara dengan ibunya melalui hatinya, ia berniat kembali ke kamarnya. Ia menengok kanan kiri tak ada suster ia mencondongkan badannya berusaha membuka kunci kursi rodanya. Semakin ia mencondongkan badan semakin perih ia rasakan di bagian perutnya. Tak kuasa menahan perih Syifa mengurungkan niatnya. Disaat itulah ia melihat jemari tangan ibunya bergerak kecil. Dengan antusias Syifa menatap tubuh ibunya lekat-lekat. Makin lama makin kentara gerakan itu.


" ibu.... " bisiknya bahagia.


" Syifa.... sayang..." seakan Syifa mendengar ibunya memanggil.


" ibu.... terimakasih Ya Allah..... " bisiknya penuh syukur.

__ADS_1


Perlahan mata ibunya terbuka, sayup-sayup menatap ke langit-langit kamar, mencoba mengumpulkan kesadaran, berusaha mengenali tempat dimana ia kini berada. Bola matanya berputar mencari dan berhenti ketika mendapati sosok Syifa dibalik kaca.


" Syifa anakku...." seakan mata itu berkata


" ibu..... " Syifa memanggil dengan senyum terkembang. Samar-samar terlihat garis senyum dibalik alat bantu pernafasannya. Perlahan tangannya bergerak menyentuh Syifa dalam angan. Mereka saling mengulurkan tangan di udara yang terasa hampa.


" Syifa anakku..... ibu sayang kamu nak.... " seakan mata berkaca-kaca itu bicara.


" IBU!!!!!!! " teriaknya keras-keras saat tiba-tiba tangan ibunya terkulai lemah di udara, selang infus bergerak dengan ritme menyedihkan, layar monitor menunjukkan garis lurus dengan bunyi " tutttttttt " panjang yang menyayat hati. Air matanya mengalir deras tubuhnya bergetar hebat kemudian ia tak sadarkan diri.


Beberapa perawat datang tergopoh-gopoh dan segera melarikan Syifa keruangannya sendiri, kemudian dengan hati-hati membaringkan Syifa di atas tempat tidurnya.


Melihat bercak darah di baju Syifa, salah satu suster segera memencet tombol darurat tak lama kemudian Dokter Wisnu datang. Dengan cepat beliau menangani bekas jahitan yang terbuka lagi itu. Setelah membersihkan dan mengganti perbannya Dokter Wisnu menempelkan ujung stetoskop di atas luka itu memastikan tidak terjadi apa-apa pada bagian dalamnya.


Diruang isolasi alat-alat segera dilepaskan dari jasad Fatimah. Beruntung sebelum pihak rumah sakit menghubungi keluarga Syifa, pamannya sudah datang terlebih dahulu.


" innalilahi wa Inna ilaihi raji'un " gumamnya saat Dokter Wisnu memberitahu bahwa ibu Syifa telah tiada.


Membiarkan para suster dan Dokter Wisnu merawat jenazah Fatimah, paman Syifa yang bernama Hadi segera menghubungi rumah agar segera dilakukan persiapan. Selesai memberitahu isterinya, Pak Hadi segera menghampiri salah seorang suster.


" apa bisa di bawa pulang hari ini sus? " tanyanya hati-hati.

__ADS_1


" ya. sebentar lagi, surat-suratnya sedang di selesaikan " terang suster itu sambil merapikan alat-alat.


Begitu terlepas dari lilitan berbagai alat jenazah Fatimah segera dibaw ketempat pemandian jenazah. Pak Hadi diikutsertakan mensucikan jenazah Fatimah. Proses pemandiannya tak jauh berbeda dari yang biasa dilakukan penduduk desa, hanya terdapat sedikit perbedaan. Kalau di rumah sakit berdasarkan sisi medis sedangkan di desa berdasarkan ajaran agama. Tapi tak dapat dipungkiri Pak Hadi merasa ngeri juga melihat jenazah Fatimah diperlakukan seperti tubuh orang hidup. Kalau didesa jenazah dimandikan dengan sangat hati-hati maka disini tidak. Mereka mengerjakannya begitu cekatan dan cepat, bisa dipahami mengapa karena dalam satu waktu petugas bisa memandikan 10 jenazah. Seperti saat ini selain Fatimah masih ada 7 jenazah lain yang menunggu untuk dimandikan.


Setelah semua proses yang dilaksanakan dengan cepat tepat pukul setengah sembilan, mobil ambulance yang membawa ibu Syifa bergerak keluar dari rumah sakit menuju tempat tinggal Syifa, meninggalkan Syifa yang masih tak sadarkan diri sendiri di rumah sakit.


Sampai di rumah rombongan disambut keluarga dan tetangga yang langsung berkumpul sejak pemberitahuan berita duka diumumkan melalui mikrofon mushola. Tenda terpal sudah didirikan kursi-kursi juga sudah ditata rapi hanya beberapa yang belum selesai.


Didalam rumah Syifa ibi-ibu jama'ah malam Jum'at sudah menunggu. Begitu jenazah yang sudah disucikan diletakkan ditengah ruangan, sambil beberapa orang mengkafani sementara yang lain membaca surah Yasin. Jenazahnya tampak berseri-seri dan seperti tengah tersenyum. Sungguh suatu pertanda baik.


Beberapa orang tampak menitikkan air mata sambil membaca surah Yasin, tak kuasa menahan perasaan. Terbayang Syifa sendirian di rumah sakit, sementara ibunya di rumah tengah dimakamkan.


" semoga Syifa tegar menghadapi cobaan ini " gumam seorang ibu-ibu.


" iya baru 6 bulan lalu ia kehilangan ayahnya kini ia harus kembali kehilangan " balas ibu yang lain dengan mata berkaca-kaca.


Prosesi pemakaman berjalan sangat cepat. Tanpa halangan dan bahkan terasa sangat mudah. Mungkin karena beliau orang yang baik dan tak banyak menggunjing sehingga dimudahkan jalanya oleh Allah SWT.


Dua orang masuk kedalam liang lahat salah satunya paman Syifa, menerima jenazah yang terasa ringan, membaringkannya dengan posisi kepalanya di Utara dan menghadap kiblat. Agar tidak berguling terlentang jenazah diganjal dengan tanah liat yang dibentuk bulat besar pada tiga posisi. Setelah itu ditutup dengan bambu yang disusun berjajar rapat baru kemudian ditutup dengan tanah.


" Lha Illa ha illa llah lha Illa ha illa llah......... " suara tahlil para jamaah mengiringi pemakaman Fatimah. Aroma segar bebungaan yang ditaburkan diatas gundukan tanah yang masih basah semerbak wangi terbawa hembusan angin. Beberapa daun kamboja melayang-layang kemudian jatuh di atas makam Fatimah. Menciptakan nuansa sunyi yang mencekam.

__ADS_1


Satu persatu tetangga dan kerabat meninggalkan pemakaman setelah pak kyai membacakan doa jenazah. Meninggalkan Fatimah sendiri menghadapi pertanyaan Malaikat, yang sangat menakutkan bila di dunia si mayat orang yang durhaka, dan malaikat itu akan menjelma menjadi seorang yang tampan lagi lemah lembut bila di dunia si mayat adalah orang yang sholeh.


__ADS_2