
Perlahan Syifa membuka matanya. Ia merasa nyaman dan damai. Sejenak ia lupa dengan apa yang ia alami tadi. Ditatapnya langit-langit yang putih bersih. Dalam hati bertanya. Dimana ia sekarang, ia rasa ada yang tidak beres. Ia memaksa otaknya kembali menelusuri jalan hidupnya beberapa jam yang lalu.
"Aroma apa ini? seperti sangat akrab." bisiknya, saat hidungnya m
enemukan bau yang sangat ia kenal.
Ia menatap sekitar. Bola matanya menemukan infus yang tergantung di atasnya. Rumah sakit. Syifa mengerutkan dahi.
Bagaimana bisa di rumah sakit? bukankah tadi naik taksi?
Perlahan ia ingin bangkit. Ingin memastikan apakah ia benar-benar di rumah sakit. Namun ada sesuatu yang menahannya. Lebih tepatnya ada seseorang yang tertidur disampingnya sambil memegang erat tangannya.
"Dokter." bisik Syifa saat mengetahui siapa yang menjaganya.
Ditatapnya wajah dokter Wisnu yang tampak letih. Ada rasa halus menyusup dalam kalbu.
Ya Allah... mengapa dokter Wisnu begitu perhatian dan baik padaku. Adakah perasaan tertentu? Tidak, tidak mungkin. Dokter anda tidak seharusnya memperlakukan saya seperti ini. Saya tidak pantas diperlakukan demikian.
Syifa menggelengkan kepala kuat-kuat. Berusaha menepis pikiran indah dalam dirinya. Menyangkal harapan yang datang kala hati terluka.
"Tidak Syifa, kamu gila." gumam Syifa gelisah.
"Syifa, apa yang kamu katakan?" tanya dokter Wisnu masih sayu. Belum sepenuhnya sadar.
Diam. Tertegun. Mendadak lidahnya kelu.
"Kamu sudah sadar?" dengan bahagia dokter Wisnu menggenggam tangan Syifa lebih erat.
"Emm." hanya itu yang mampu ia katakan.
Jujur ia melayang. Tak hanya menggenggam erat tangannya. Kini dokter Wisnu bahkan meremas jemarinya penuh perasaan. Sambil terus mengugkapkan rasa syukur. Tanpa sadar dokter Wisnu bahkan menciumi punggung tangan Syifa.
Wajah Syifa terasa panas. Dalam hati menjerit ingin menarik tangannya. Namun ia tak mampu menggerakkan tangannya. Ia terlalu tertegun dengan perlakuan intim dokter Wisnu. Perlakuan yang mengandung makna mendalam bila dilakukan oleh seorang seperti dokter Wisnu. Terlebih diusianya yang sekarang.
"Klek," tiba-tiba pintu terbuka, "Syifa maaf aku....." kalimat Adi menggantung saat dilihatnya dokter Wisnu menciumi punggung tangan Syifa.
__ADS_1
Wajah panik Adi seketika berubah 180°.
"Oh, maaf, aku... aku..." dengan gugup dokter Wisnu segera melepaskan pegangan tangannya. Ia ingin menyapa Adi. Tapi melihat air mukanya dokter Wisnu mengurungkan niatnya.
"Oh, jadi ini, yang bikin kamu putusin aku?!" Adi menatap keduanya dengan jijik. "Aku pikir kamu gadis yang baik, gadis yang pantas aku perjuangkan. Ternyata kamu sama aja dengan yang lain, materialistis!!, menjijikkan" Adi menumpahkan emosinya.
"Adi jaga bicaramu, apa yang kalian bicarakan, aku gak ngerti?" dokter Wisnu kebingungan menatap Adi dan Syifa bergantian.
Syifa memalingkan muka. Sekuat tenaga menahan emosi yang meluap-luap. Air matanya mengalir lembut membasahi pipinya. Hatinya sakit, bagai dicabik-cabik. Memikirkan kenyataan bahwa ia hanya menjadi bahan permainan saja sudah membuatnya sesak. Sekarang orang itu dengan bangganya menghina dan mempertanyakan harga dirinya.
"Apa masih ada yang mau kamu katakan?" sahut Syifa serak. "Kalau sudah tidak ada yang ingin kamu katakan, silahkan keluar, aku mau istirahat."
"Baru saja menjadi simpanan sudah sombong." hina Adi menatap dokter Wisnu dan Syifa bergantian dengan pandangan jijik.
"Hentikan Adi!!! kamu keterlaluan, ini gak seperti yang kamu pikirkan. Aku sama Syifa tu gak ada hubungan apa-apa." dokter Wisnu berusaha menengahi.
"Mana ada maling mau ngaku. Semua orang dalam posisi kalian mengunakan kalimat itu untuk membela diri."
"Keluar." bisik Syifa serak.
"Ayo kita bicara di luar."
"Balank." suara pintu ditutup agak kasar.
Sepeninggal Adi, dokter Wisnu membeku di tengah ruangan. Atmosfer di kamar itu mendadak terasa pengap meski ber AC. Ia bingung harus berbuat apa. Ditatapnya punggung Syifa yang bergerak-gerak pelan. Ia menangis dalam diam. Seperti yang selalu Syifa lakukan saat ia kehilangan ibunya beberapa waktu lalu.
"Kamu gadis yang kuat dan tabah."
"Aku akan menemui dokter sebentar" pamit dokter Wisnu memberi kesempatan Syifa menenangkan diri.
Tiga hari Syifa di rumah sakit. Tiga hari itu pula dokter Wisnu bolak balik menjaganya. Siang ia pergi ke rumah sakit tempatnya bekerja. Malamnya ia menjaga Syifa. Syifa merasa sangat tidak nyaman. Setiap malam tidur dalam satu ruangan dengan majikannya.
Terlebih harus melihat dokter Wisnu tidur meringkuk di kursi panjang yang sempit. Dengan bantal dan selimut yang tipis yang dipinjam dari rumah sakit. Tentu tak semua orang bisa meminjam bantal dan selimut rumah sakit untuk selain pasien. Kursi itu tampak ringkih dibawah tubuh dokter Wisnu yang gagah.
"Kalo gitu, kita pindah ke bangsal yang lebih besar saja" kata dokter Wisnu sore itu. Saat Syifa menyatakan ketidak tegaannya melihat dokter Wisnu tidur di kursi jaga.
__ADS_1
"Tidak Dok, saya tidak akan mampu. Lagi pula saya lebih suka sendiri, lebih baik dokter pulang saja tidak enak dilihat orang."
"Kamu tidak usah menghawatirkan hal-hal semacam itu Syifa, aku cuma ingin yang terbaik buat kamu."
"Saya mohon dokter, orang-orang mulai membicarakan kita ini akan mencemarkan nama baik dokter."
"Aku tak peduli"
Dokter Wisnu melepaskan jasnya, meletakkannya sembarangan di kursi. Ia kemudian menggulung lengan kemejanya. Membuka satu kancing paling atas agar lebih nyaman. Ia tiba-tiba merasa gerah dengan topik pembicaraan yang dipilih Syifa
"Tapi..."
Syifa menggantungkan kalimatnya, lidahnya kelu, saat dokter Wisnu mendekat dengan langkah lebar dan tatapan yang sulit di artikan. Pipinya terasa sangat panas. Tiba-tiba ia merasa sangat takut dengan apa yang ia pikirkan.
Ia tercekat. Dokter Wisnu mengurungnya di antara kedua tangannya yang kokoh. Dadanya yang sedikit terbuka mengunci pandangannya. Aroma parfum bercampur tubuh yang sudah beraktivitas seharian menghampiri indera penciumannya. Dan entah mengapa aroma itu membuatnya gelisah.
Dokter Wisnu mendekatkan bibirnya ke telinga Syifa. Refleks Syifa memejamkan matanya, saat helaan nafas dokter Wisnu menggelitik daun telinganya yang sensitif. Jantungnya berdetak kencang. Seakan hendak keluar dari tempatnya.
"Apa aku tampak mesum?" tanya dokter Wisnu lembut. Ia mempertahankan posisi itu sejenak. Tampak bahagia mengamati perubahan wajah Syifa yang tampak kacau dan tak dapat berkata-kata.
"Baiklah Syifa, saatnya makan dan minum obat." kata dokter Wisnu bangkit dari posisinya tadi dengan senyum manisnya.
Syifa menghela nafas lega. Perlahan ia menenangkan diri. Meraih kembali kesadaran hatinya yang beberapa saat tadi menguap.
Menit berikutnya Syifa hanya bisa menuruti apa kata dokter Wisnu. Ia tak mau berdebat lagi. Ia tak mau kehilangan rasa hormatnya pada orang yang sangat baik padanya. Ia lebih memilih menyibukkan diri dengan memikirkan cara, bagaimana caranya ia mendapatkan uang untuk biaya pengobatannya.
"Makanlah selagi hangat, saya akan siapkan obatnya." dokter Wisnu berkata seakan tak pernah terjadi apapun di antara mereka. Ia kembali bersikap profesional. 180° dari semenit yang lalu.
"Terimakasih dokter." Syifa menerima nampan makanannya. Dengan patuh menghabiskan semua yang disediakan meski terasa hambar.
Ia ingin segera pulih. itu satu-satunya jalan agar ia bisa segera menyelesaikan masalahnya.
"Syifa, lebih baik kamu abaikan apa yang dikatakan orang lain. Pikiran tentang, itu sangat penting. Kalau kamu ingin segera sembuh."
"Obatnya." lanjutnya sambil mengulurkan tangan hendak menyuapi Syifa obat.
__ADS_1
"Terimakasih dokter, saya bisa sendiri." Syifa mengambil obat dan segelas air putih dari tangan dokter Wisnu.
"Baiklah."