DiLeMa CINTA

DiLeMa CINTA
Adi


__ADS_3

Hari-hari dilalui Syifa dengan separuh jiwanya tertinggal di desa. Rasa tak nyaman, rindu, tertekan dan juga rasa takut memenuhi hatinya.


Meski sudah belajar banyak dari mbok Inah segala cara merawat bayi ia masih saja mengalami kesulitan. Terkadang ia merasa takut bila tiba-tiba baby Dava menangis keras-keras. Ia pikir itu karena kesalahannya dalam mengendong atau memberikan susu. Ternyata bayi sehat menangis itu karena dua sebab yaitu lapar dan ngompol selebihnya asalkan baby merasa nyaman ia tak akan menangis. Begitulah hari demi hari ia lalui dengan belajar dan belajar. Satu yang ia syukuri baby Dava masih terlalu kecil untuk mengetahui siapa yang mengendong. Sehingga dengan mudah Syifa merawatnya tanpa perlu penyesuaian yang berarti. Andaikan Dava berusia 4 atau 5 tahun tentu memerlukan pendekatan ekstra untuk mendekati apalagi untuk merawat. Dan karena baby Dava masih berusia 3 bulan maka dengan mudah Syifa mendekati dan merawatnya, bahkan ia mulai sangat menyayangi baby Dava, meskipun awalnya hanya sebuah pengalihan dari rasa sakit dalam hatinya.


Syifa bernafas lega setelah Dokter Wisnu berangkat ke rumah sakit. Biar sebaik apapun Dokter Wisnu Syifa tetap merasa tidak leluasa bergerak bila Dokter Wisnu masih di rumah. Sejauh ini Syifa masih aman, pagi sekali Dokter Wisnu berangkat dan pulang paling banter jam 5 sore pulang. Seperti pagi ini, begitu Dokter Wisnu berangkat ke rumah sakit, Syifa langsung memandikan Dava. 5 hari kerja ia sudah tidak perlu menganggu pekerjaan mbok Inah hanya untuk membantunya memandikan Dava.


" Sayang... yuk ganti baju... " gumam Syifa sambil menggendong baby Dava. Membawanya ke kamar, dengan hati-hati membaringkannya di atas ranjang. Dava mulai mengoceh menggemaskan tangan dan kakinya bergerak-gerak lucu. Matanya yang bening mampu meluluhkan hati Syifa yang lara.


Penuh kasih Syifa membaluri tubuh montok Dava dengan minyak telon sambil bersenandung. Usai membaluri Dava dengan minyak telon Syifa segera memakaikan baju, kemudian menggendongnya.


" Mbok Syifa bawa Dava jalan-jaln keluar dulu ya " pamit Syifa saat ia membuat susu.


" Hati-hati ya, jangan jauh-jauh " pesan mbok Inah tanpa mengalihkan pandangan dari penggorengan.


Dengan riang Syifa berjalan keluar rumah melalui pintu samping yang langsung terhubung dengan kolam renang berukuran sedang, disekelilingnya tak lupa taman buatan yang dibangun dengan sangat indahnya. Tiap detailnya didata dengan sangat hati-hati. Menciptakan pemandangan nan indah dan sejuk. Diantara pepohonan dan rerumputan dipasang batu pijakan menuju halaman depan juga menuju halaman belakang. Di samping kolam renang dipasang sepasang kursi santai lengkap dengan mejanya.


Syifa tersenyum menatap jernihnya air di kolam itu. Membayangkan ia mandi di sana, membasahi dan membenamkan


seluruh tubuhnya kedalam air yang jernih itu seperti masa kecilnya yang bahagia. Mandi di sungai yang airnya mengalir deras diantara bebatuan. Bercanda dan tertawa bersama teman sebaya, tanpa beban jiwa.


Mengurungkan niatnya untuk jalan-jalan keluar, Syifa memilih duduk santai di atas kursi di halaman belakang. Menatap tanaman yang mendamaikan hati yang merindukan suasana rumah.


" Minum dulu sayang.... " diam-diam Syifa memanggil baby Dava 'sayang' saat sendirian ups maksudnya hanya berdua dengan baby Dava. " Ummmmah " Syifa mencium pipi tembem Dava sebelum memberikan susu padanya.

__ADS_1


Tiba-tiba ekor matanya menangkap setangkai bunga mawar merah yang tengah mekar. Angannya melayang, teringat kekasihnya Adi. Dialah satu-satunya pria yang pernah memberinya setangkai mawar merah saat kencan pertama mereka, jika itu bisa disebut sebuah kencan. Karena mereka hanya makan malam bersama di sebuah warung tenda. Meski terkadang Syifa tidak yakin akan hubungan mereka menilik sikap Adi tak pernah bisa ia terkadang manis terkadang cuek. Namun tak dapat dipungkiri bahwa kenangan bersama Adi adalah kenangan terindah masa SMA nya.


" Oh.. tidur ya sayang " bisik Syifa saat menyadari Dava sudah tertidur pulas. Dengan senyum terukir di bibirnya Syifa beranjak meninggalkan taman dan menidurkan Dava di kamar.


" telolet telolet...... sayur.... " suara bang Jali menggema. Setelah menidurkan Dava di box bayi. Semacam ranjang kecil yang dikelilingi pagar kayu setinggi pinggang orang dewasa, yang dapat diayunkan. Syifa segera berlari keluar. Ia selalu merasa senang ketika tukang sayur itu datang. Ia bisa bercanda sambil memilih-milih sayuran yang akan ia beli.


" Mbok belanja apa hari ini, yuk Syifa bantu, sekalian Syifa mau beli thiwul kangen deh makan makanan desa itu " kata Syifa menghampiri mbok Inah di dapur.


" Tiap hari jajanya juga thiwul mulu apa nggak bosen? " balas mbok Inah sambil mematikan kompor.


" Ya mo gimana lagi, ga ada bosannya " balas Syifa sambil tersenyum.


Mereka, mbok Inah dan Syifa berjalan ke depan melewati taman dan membuka pagar besi yang gagah itu. Disana bang Jali dengan gaya sok machonya tengah melayani ART tetangga. Syifa sudah mengenal beberapa dari mereka. Ada mbak Yuni, mbok Jum, ada juga mbak Riana.


Sedangkan ART depan rumah namnya mbak Susi orangnya baik, cantik dan seksi. Syifa sering kesulitan untuk tidak memperhatikannya. Gimana tidak mbak Susi adalah sosok wanita idaman, kebanyakan wanita ingin memiliki apa yang dimilikinya. Wajah cantik, ramah, baik hati, tubuh seksi, dada padat berisi, bibir sensual pandai menyembunyikan penampilan ah pokoknya Syifa sering terpana melihat penampilan mbak Susi apalagi usia mereka tak jauh berbeda.


" Gantengan siapa mbak sama aku? " bang Jali nimbrung gak mau dicuekin


" Ih bang nggak ada apa-apanya ya bang " sahut mbak Susi genit.


" Sama Pak Wisnu gantengan siapa? " tanya mbak Yuni yang saingan berat sama mbak Susi buat cari perhatian Dokter Wisnu.


" Gantengnya sih ganteng mas Adi tapi... ah kalo Pak Wisnu itu.... ah begitu menggoda... " balas mbak Susi penuh perasaan.

__ADS_1


Darah Syifa tersirap mendengar nama itu. Pikirannya melayang, tiba-tiba ia teringat Adi kekasihnya memang tinggal di tempat kost. Tapi Syifa tak pernah tau alamat aslinya. Benarkah itu Adi kekasihnya atau hanya kebetulan namanya sama?


" Tidak ini pasti orang lain" bantah hatinya yang mulai gelisah.


" Cie..... segitunya, udah cp mati-matian juga, masih jalan di tempat " mbok Jum menggoda mbak Susi.


" Pelan-pelan aja mbak lagian, mendudukkannya kan baru seumur jagung " bang Jali kembali nimbrung.


Kembali Syifa dibikin kaget. Tanda tanya besar di kepalanya, tentang isteri dokter Wisnu terjawab sudah. Ia tak menyangka dokter tampan itu bersetatus duda.


" Kita lihat aja besok pak dokter bakal milih siapa? " mbak Yuni seakan gak terima.


" Eh embak-embak, ibu-ibu pada PD banget mo cp ama pak dokter, emangnya di rumah sakit ga ada suster atau dokter muda yang cantik gitu ampe harus milih satu diantara kalian " bang Jali berkata pedas " mending mah sama saya masih jaka, biar gak kaya tapi setia "


" Makan tu setia, gak usah cari duit, dikasih setia udah pada kenyang " sewot mbak Yuni menyerahkan barang belanjaannya pada bang Jali. " gratis ya bang "


" Boleh neng asal mau jadi isteri Abang "


" Ih amit-amit deh " suara mbak Susi kenes.


Syifa menitipkan jajanannya pada mbok Inah untuk dibayar. Ia ingin segera masuk ke dalam. Nama itu begitu menganggu pikirannya. Entah mengapa ia merasa sangat tidak nyaman. Ia berbalik berjalan menuju pagar. Tiba-tiba kakinya berhenti melangkah ketika sebuah suara tertangkap oleh daun telinganya.


" Mbak Sus, beliin Adi nasi jagung " teriak sebuah suara dari dalam rumah diseberang jalan. Suara yang lekat dalam gendang telinganya. Suara yang selalu ia rindukan. Syifa berbalik, menatap pagar rumah itu yang setelah terbuka. Tak ada siapapun di sana, hanya gerbang yang mendadak hampa. Sesaat Syifa menunggu, berharap ia salah mengenali suara itu. Sedetik dua detik berlalu dalam waktu yang seakan beku.

__ADS_1


" Syifa ini mo dibawa sekalian " suara mbok Inah membuyarkan angannya.


Entah apa yang simpang siur dibelakangnya, Ia bahkan tak menyahut perkataan mbok Inah. Secepat yang ia bisa, Syifa berlari ke dalam dengan seribu perasaan tak nyaman.


__ADS_2