
Hari ini Diah sangat banyak sekali pekerjaan, dia harus segera mengepak kembali barang-barang ke dalam kopernya. Dan sampai kelelahan sendiri jadinya, lalu papanya datang ke kamarnya Diah disana.
Tok, tok, tok...
"Iya masuk.., gak di kunci kok. Lagi beberes nih capek banget. Hah...!" celoteh Diah yang keluar dari mulutnya.
"Diah..," terdengar suara papanya yang memanggilnya.
"Oh, papa? Kenapa papa kesini? Kalau perlu apa-apa bilang saja pa, repot-repot papa kesini." ucap Diah yang membantu papanya berjalan.
Lalu Diah membawa papanya duduk di kursi yang ada di dalam kamarnya.
Diah pun melanjutkan mengepak barang yang tinggal sedikit lagi.
"Diah.., kalau kebanyakan barangnya, sebagian disimpan saja disini dan tinggalkan."
"Lagian kan nanti kalian pasti akan pulang ke mari juga saat lebaran atau mendapatkan cuti." ucap papanya.
"Iya pa, Diah juga tahu kok.., maaf ya pa. Harus tinggalkan papa disini, Diah ingin membuka bisnis. Agar ada usaha milik Diah sendiri, papa tak apakan?" tanya Diah ke papanya.
"Papa gak apa kok nak, satu pesan papa tetap jaga selalu keluarga kecilmu, tetap kuat ketika ada masalah dan jangan lari dari masalah seperti saat kamu pergi diwaktu itu." itu pesan papanya kepada Diah.
Diah pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia sangat senang sekali saat papanya menasehatinya. Karena sangat jarang bisa mendengar papa terbuka bercerita pada anaknya seperti sekarang ini.
"Pa.., ayo istirahat." ucap Sania yang membawa papanya saat itu juga.
"Baiklah.., aku akan menuruti apa kata kalian semua yang menganjurkan ku selalu harus tidur terus." kata papanya itu.
Papanya pun tidur di kamarnya setelah tadi minum obatnya, kini Sania pergi dari kamarnya dan melihat anak-anak yang sedang bermain di belakang. Diah pun selesai juga mengepak kopernya lalu pergi menemui Sania yang duduk sedang memperhatikan anak-anaknya.
"Kau kenapa San? Seperti ada sesuatu yang kau pikirkan." tanya Diah.
"Iya, suami ku akan pindah kerja. Dan kami pun mau tak mau harus ikut juga. Aku hanya terpikir bagaimana dengan papa nanti, dan siapa yang akan mengurusnya di rumah bila aku tak disini saat itu nanti." ucap Sania kepada kakaknya.
Diah jadi kepikiran tentang itu, dan dia terdiam sejenak. Sania masih terlihat memperhatikan anak-anak yang bermain.
__ADS_1
"San, kapan kamu rupanya mulai pindah ke luar kota nanti?" tanya Diah lagi.
"Mungkin 3 atau 4 bulan lagi mbak, itu pun mas dulu yang kesana kami nanti baru akan menyusul. Aku juga harus mengurus sekolah anak-anak juga nanti." ujarnya.
Diah pun mengerti dan kemungkinan nanti akan sangat repot bila tak ada yang menjaga papa di sini.
"Coba nanti aku tanya dan minta pendapat mas Bima saja bagaimana." pikirnya.
Kedua adiknya Diah yang lain sedang tak ada juga dirumah. Mereka sedang ditugaskan keluar kota semua oleh bos mereka, jadi mau tak mau papa harus Sania yang urus terus.
Diah pun pergi ke dapur meninggalkan Sania dan anak-anaknya, dia ingin membantu mbok memasak makan malam untuk semuanya. Diah juga mengerjakan pekerjaan yang lainnya, dan merapikan rumah serta barang-barang yang sudah tak terpakai.
****
Hari sudah sore, Diah dan Bima akan ke rumah sakit lagi untuk melihat ke adaan ibu mertuanya Diah. Karena Bima mengatakan ibunya sudah sadar dari komanya saat ini. Bima dengan cepat menelpon dan memberikan kabar kepada Diah istrinya.
Jadi, sore itu juga Diah dan Aira di bawa Bima ke rumah sakit melihat kondisi dari ibunya Bima.
Ternyata ibunya dapat sadar setelah mendengar suara Diah dan Bima yang datang menjenguknya saat itu. Namun Vera tidak mengetahuinya kalau tangan ibunya telah merespon saat Diah dan Bima berpamitan.
Bima dan Diah pun sampai disana, lalu masuk ke kamar rawat dimana ibunya dirawat.
Monik tidak pernah menjenguk ibunya dan hanya menanyakan saja. Ibu Bima tampak senang dan Aira memeluk omanya yang sudah lama tak berjumpa.
Bapak dan Bima pergi menemui dokter yang menangani ibu mereka selama ini. Mereka ingin menanyakan perkembangannya dan kondisinya sekarang ini.
Betapa senangnya ternyata ibunya Bima besok sudah boleh kembali ke rumah. Tapi masih harus berobat jalan dan kontrol dua minggu sekali, tapi setelah dua bulan kemudian baru bisa kontrol sebulan sekali saja.
Mereka senang mendengarkannya tapi Bima dan Diah tak bisa bersama mereka karena besok mereka akan kembali lagi ke Bali.
Tring...
Tring...
Ponselnya Diah berdering dan dia menjawab telpon itu sedikit menjauh dari mereka semua.
__ADS_1
"Iya ada apa San? Kenapa kau menangis..?" tanya Diah yang sedikit panik.
"Hiks, hiks, mbak... papa mbak... papa!"
"Cepatlah mbak kesini, papa sudah tiada dan pergi meninggalkan kita...!" ujar Sania.
"Apa San?!" Diah terkejut dan terduduk di kursi disampingnya.
"Sania.., hallo Sania..., mbak akan segera pulang. Sebentar ya..?" ucap Diah yang berlinang air matanya.
"Ada apa sayang?" tanya Bima.
"Mas papa mas..., papa meninggal. Ayo kita kembali segera mas, atau aku biar naik taksi saja." kata Diah.
"Tidak sayang, ayo kita pulang melihat papa." kata Bima yang langsung pamit ke orang tuanya.
Mereka segera buru-buru pulang ke rumah papanya Diah, mobil pun melaju dengan kencang dan meluncur dengan cepat. Sesampai disana rumah mereka sangat ramai dan di penuhi para tetangga dan semua saudara.
Diah datang sambil menangis dan menerobos keramaian di depan pintu rumahnya.
"Papa..., Sania! Kenapa dengan papa?"
"Bukannya tadi papa masih tidur saja dan tak ada yang membuatnya sakit!" Diah sangat shock dengan apa yang terjadi.
"Papa...! Jangan tinggalkan Diah pa.., Diah akan disini bersama papa dan tidak akan pulang ke Bali lagi pa..," ucapnya yang masih terisak dan menangis.
"Mbak.., jangan begitu."
"Hiks, hiks, papa sudah sembuh mbak.., papa bertemu mama disana. Mama yang akan menjaga papa dan mereka akan bersama." Sania menarik Diah yang terus memeluk papanya.
Semua adik-adik sudah di telpon dan di hubungi agar segera pulang untuk melihat papanya yang terakhir kali.
Kedua adiknya terkejut dan shock karena mendapat kabar tersebut, namun salah satu adiknya tak bisa kembali karena ke adaan yang tak memungkinkan. Dia masih berada di tengah laut karena di tugaskan ke tempat pengeboran minyak di lepas pantai. Jadi hanya yang satunya lagi yang pulang, dan mengikuti prosesi pemakaman.
Segera pulang dengan penerbangan malam itu juga agar bisa cepat sampai. Sedangkan Keberangkatan Bima yang kembali ke Bali besok harus ditunda dulu sampai besok baru akan pergi.
__ADS_1
Diah tiba-tiba pingsan dan tak sadarkan diri karena dia sangat lemas. Karena dia juga belum makan saat pergi di sore itu, Aira memeluk Bima ayahnya. Dia sedih melihat kakeknya meninggal dan melihat mamanya pingsan.
Diah di tidurkan didekat papa yang di baringkan di ruang tamu. Seluruh saudara dan tetangga sangat sedih melihat keluarga mereka. Dan sedih kehilangan papanya mereka, karena orang tua Diah dan Sania termaksud orang yang baik di komplek itu.