
Polisi sudah mendengar percakapan itu melalui ponsel Diah yang terhubung ke polisi itu.
Lalu segera polisi masuk dan bertindak dengan memborgol Tiara saat itu juga.
" Jangan bergerak !"
"Kami sudah mendengar semuanya, dan kali ini jangan coba - coba kabur kemana pun. Karena kamu sudah di kepung sekarang." ucap polisi itu ke Tiara.
" Sial, ternyata mereka sudah memanggil polisi kesini. Aku tidak bisa lari lagi kalau begini." ujarnya dalam hati.
" Kalian ternyata memang mau memasukkan aku ke dalam penjara !"
" Dan kamu mas Bima, bisa - bisanya tidak merasa bersalah pada istri mu sendiri !"
Asal kamu tahu Diah, mas Bima dan aku pernah bersama malam itu." kata Tiara yang menghasut dengan perkataannya.
" Sudah jangan banyak bicara !"
" Ayo jalan, dan jangan banyak bicara !" Tiara di boyong masuk ke mobil polisi.
Dan polisi membawa pergi Tiara yang sudah menculik Aira saat berada di sekolahnya.
" Ma.., ayo kita pulang ma. Aira sudah capek dan sangat lapar." kata Aira yang membuat Diah sedih.
" Iya nak, ayo kita pergi dari sini." kata Bima mengendong Aira dan menggenggam tangan Diah mengajaknya pulang kerumah.
Diah hanya diam saja dan masih terpikir olehnya ucapan Tiara tadi.
Bahwasannya Bima dan Tiara sudah bersama di malam itu.
Namun Diah belum mau bertanya dan meminta penjelasan ke Bima, karena masih ada Aira yang sudah kelaparan dan kelelahan.
Mereka pulang kerumah dengan motornya Bima, lokasinya sedikit jauh dari rumah. Bima melajukan motornya dengan kecepatan agar cepat sampai dirumah.
Hari sudah gelap karena mau turun hujan, suara gemuruh dari langit pun terdengar.
Diah sangat takut turun hujan, dia khawatir dengan Aira yang nanti akan terkena hujan itu.
__ADS_1
Setelah 45 menit di jalan, mereka pun sampai di rumah dan segera turun cepat - cepat masuk kedalam.
" Cess.." hujan pun turun dengan derasnya.
Diah bersyukur hujan turun setelah mereka sampai dirumah. Diah langsung mengambil makanan untuk Aira dan menyuapinya makan.
Aira sangat lahap memakan nasinya, itu terbukti dia sangat kelaparan.
" Aira, kamu disana di beri makan apa tidak ?" tanya Diah merasa kasihan.
" Aira disana makan cuma malam saja ma. Jadi Aira sangat lapar, mereka semua jahat ma. Aira jadi takut ma..." ucap Aira yang masih polos itu.
" Iya sayang, tenanglah ada mama disini. Kamu makanlah dulu yang tenang nanti baru bercerita lagi ya...?" ucap Diah sambil membelai rambutnya dia.
Diah begitu sedih melihat Aira yang sangat kelaparan itu, air matanya jatuh tak tertahan di pelupuk matanya.
"Anak mereka masih kecil sudah harus merasakan pahitnya dunia ini hanya karena dendam. Kasihan Aira yang tak tahu apa - apa menjadi korban dari orang yang tak punya nurani dan akal pikiran." dalam hati Diah menangis kesal.
Bima menghampirinya dan memijat bahu Diah, Bima tahu betul kalau istrinya itu sangat terpukul atas kejadian itu.
" Ma, nanti setelah Aira tidur, ayah mau bicara sama mama. Ini harus di jelaskan, ayah tidak mau ada ke salah pahaman antara kita berdua sehingga rumah tangga kita hancur." kata Bima kepada istrinya.
Bima tidak ingin Diah menjadi berpikir yang tidak - tidak tentang hubungannya dengan Tiara. Dan merasa bahwa Bima sudah berkhianat pada dirinya.
Diah hanya diam saja tak menyahut atau membalas perkataan dari suaminya tadi. Diah lanjut fokus kepada Aira yang sedang makan bersamanya.
Diah lalu mencari pakaian bersih untuk anaknya, Aira pun di mandikan Diah dan dibersihkan. Setelah itu Aira pun tertidur dalam pelukan Diah disampingnya.
Aira terlihat sangat kelelahan dan nyaman saat tidur bersama Diah disisinya.
Bima melihat Diah pun tertidur juga, selama ini dia tak bisa tidur selalu memikirkan Aira ada dimana.
Matanya setiap malam menangis dan tak kuasa menahan dirinya, bahkan Diah tahan tak makan hanya karena memikirkan anaknya.
Sedangkan keluarga dari suaminya tidak diberi tahu kalau Aira pada saat itu telah di culik. Karena mereka saat itu tidak ada dirumah, ibu nya Bima saat itu masuk rumah sakit lagi. Jadi Bima dan Diah sepakat tidak memberi tahukan keluarga mereka masing - masing.
Malam itu mereka semua tidur bersama, Bima pun belum membahas soal ucapan Tiara yang mau dia klarifikasi. Karena malam ini Diah sudah bisa tidur tenang karena Aira sudah ada dirumah dan pulang dengan sehat selamat.
__ADS_1
@@@@@@@@@@@@@@@@
Besoknya Lastri datang kerumah, dia datang menemui ayahnya lalu bercerita dan duduk di depan pintu.
Mereka berbicara hanya berbisik - bisik berdua saja, Diah yang masih sibuk kesana dan kemari tak menghiraukan mereka.
Sedangkan ibunya Lastri sedikit terusik dan tersinggung dengan pembicaraan mereka. Entah apa yang dibicarakan antara ayah dan anaknya itu, mereka seakan tidak memperdulikan yang lain.
Beberapa hari kemudian
Sore Minggunya Lastri datang lagi kerumah ayahnya, dan Bima saat itu baru pulang kerja. Hari itu Bima disuruh masuk oleh bosnya karena ada yang mau disiapkan segera. Dan pukul 5 sore sudah sampai di rumah karena biasa jam segitu pulangnya.
Tiba - tiba Lastri memanggil Bima adiknya untuk duduk di dekatnya. Disitu ada ayah, Lastri dan Bima yang datang menghampiri mereka.
Sementara Diah berada di kamarnya, dia selalu tidak ingin disana bila ada Lastri di rumah. Karena Lastri selalu mencari keributan bila dia datang ke rumah.
" Bima, Maksud ayah kamu segeralah pindah, dan hidup mandiri." ucap Lastri yang menginginkan Bima pergi dari rumah itu.
Sementara adiknya Vera dan ibunya ingin mereka tinggal di rumah itu. Karena ibunya ingin Bima bisa menjaga ibunya dirumah.
Namun pembicaraan itu ibu mereka tidak tahu, karena sedang ada di dalam kamarnya.
" Kakak cuma ingin bilang itu kepada ku ?!"
" Apa memang itu yang di inginkan ayah juga, sudah kakak gak perlu kakak yang mengatakannya."
" Aku sudah mengerti kalau begitu, sebenarnya sehabis lebaran ini kami memang mau pindah rumah."
" Tidak usah kakak repot - repot untuk mengusir kami dari sini !" ucap Bima yang sudah kesal.
Bima yang baru pulang sudah di ajak ribut oleh Lastri kakaknya. Bima jadi kesal dan juga marah, Lastri selalu suka menghasut ayahnya.
Sementara ayahnya kalau anaknya sudah bertengkar tidak bisa menjadi penengah dan menasehati mereka.
Diah juga bingung dengan keluarga suaminya itu, karena dalam keluarganya tidak ada yang seperti itu.
Setahunya kepala rumah tangga harusnya menjadi penengah untuk keluarganya. Itu yang di ajarkan dan yang berlaku dalam keluarga Diah sewaktu dia masih kecil.
__ADS_1
Diah yang menjadi anak pertama dalam keluarganya, sedari dulu sudah mengerti akan hal itu. Dan begitu besar tanggung jawab menjadi anak pertama dalam keluarga.