
π Selesai pesta, keesokan paginya perut Diah sakit sekali. Dan sakitnya itu tak tertahankan baginya, Diah menangis dan tak sanggup jalan untuk mencari suaminya Bima.
" Agh..., tolong carikan mas Bima bu, Perut Diah sakit sekali." Diah pun pingsan karena tak tahan menahannya.
" Diah?!"
" Diah?!" mereka memanggil namanya.
" Bima...!"
" Bima...!" ibunya Bima mencari anaknya.
" Iya bu...! ada apa?!" suara Bima dari kejauhan menjawab panggilan ibunya itu.
" Bima, Diah Bim..., Diah pingsan!" ucap Ibu Bima.
" Hah?! apa?! Diah pingsan ?!" Bima langsung berlari.
Bima tadinya lagi membereskan tempat pelaminan dan mencari - cari piring yang tertinggal disana, seketika menghentikan pekerjaannya dan segera pergi menemui Diah.
" Bima, tadi Diah mengeluh perutnya sakit, dan sepertinya dia tak bisa berjalan. Lalu minta tolong ibu untuk mencari kamu, terus tiba - tiba dia pingsan begitu saja." ibunya menjelaskan kepada Bima.
" Diah ?! Diah ?!" Bima menepuk pelan pipinya Diah namun tak sadar juga.
Bima langsung membawa Diah ke dokter segera dengan becak yang ada disana. Bima sangat khawatir sekali, Aira di tinggal dirumah bersama neneknya. Hari ini Aira tak bersekolah lantaran kecapean, sekarang saja dia belum bangun dari tidurnya.
Bima mencoba membangunkan Diah lagi di atas becak, namun tak sadar juga. Sudah di coba pakai minyak angin ke hidungnya dan menggosok tangannya serta kakinya, Diah masih belum terbangun juga.
Sampailah mereka di depan ruang UGD, Bima dan bersama perawat membawa Diah ke atas tempat tidur disana. Lalu ada sesuatu yang keluar dari bawah dan berwarna merah terlihat jelas di baju yang dikenakan Diah saat itu.
" Suster, istri saya berdarah?! tolong istri saya suster...?!" ucap Bima bertambah panik.
Bima tak mengerti kenapa dan ada apa sama istrinya itu, padahal dari kemarin sampai tadi pagi dia baik - baik saja.
Tetapi sekarang sudah terjatuh kelantai dan belum sadar juga.
Dokter pun datang dan segera memeriksa Diah di dalam ruangan, darah itu masih terus mengalir ke bajunya. Bima di suruh menunggu di luar ruangan oleh suster tersebut.
Bima pun menuruti perkataan mereka, dan dia bertambah gelisah saat ini.
" Tring..."
" Tring..."
__ADS_1
" Iya hallo bu?" ada apa?" nada suara Bima tak seperti biasanya.
" Bagaimana dengan Diah istri kamu?" tanya ibunya.
" Diah masih di dalam bu lagi di periksa oleh dokter saat ini." ucap Bima.
" Baiklah nak, kalau begitu." ibunya langsung menutup pembicaraannya dan tak ada menelpon - nelpon lagi.
Saat di rumah...
Sementara Monik dirumah tak senang dengan kejadian itu yang membuat semua orang menjadi riuh dan sibuk menceritakan Diah saat itu.
Monik masih tidak suka kepada abangnya maupun istrinya, kejadian malam itu saat Bima menegur Monik, dia menjadi benci ke keluarga kecil Bima.
Lastri yang sudah pulang dari semalam tak ada datang lagi intuk membantu disana. Dia sudah tak kesana lagi untuk membantu ibunya beberes disana.
Semua orang lagi repot dirumah, tiba - tiba Bima pulang ke rumah tanpa Diah bersamanya. Bima belum tahu istrinya kenapa, tetapi ibunya selalu bertanya dimana Diah dan kenapa Diah.
Monik yang kesal langsung berbicara pada ibunya untuk tidak menghiraukannya.
" Bima belum tahu bu, Diah sakit apa. Bima hanya di suruh susternya mengambil baju Diah untuk di ganti karena banyak terkena darah." ucap Bima lemas mengingat darah istrinya tadi banyak keluar.
" Diah berdarah?" ibunya tak percaya yang dikatakan oleh Bima.
" Hallah palingan sakit dan darah biasa saja tapi di besar - besarkan." Monik berkata dalam hatinya tak pakai hati nurani.
Monik tak perduli dengan keadaan istri abangnya itu, dia juga tak ikut membantu membersihkan sisa pestanya sendiri kemarin.
Monik malah masuk kamar lagi bersama suaminya Damar yang masih tidur di dalam.
Sampai siang mereka tak ada keluar - keluar dari kamarnya. Monik merasa sudah memberikan uang, jadi semua itu bukan urusannya lagi saat itu.
Sedangkan Bima masih cemas di rumah sakit. Tak beberapa lama dokter keluar dari ruangan itu menemui Bima yang sedang ada di luar.
"Maaf pak, bapak suaminya ya? apakah bapak tidak tahu istri bapak sedang hamil sudah satu bulan?" tanya dokter tersebut.
" Hah? istri saya hamil dokter?! saya tidak tahu kalau dia sedang hamil, dan istri saya juga tak pernah mengatakannya pada saya." ucap Bima menjelaskan ke dokter itu.
" Iya pak, istri bapak sedang hamil dan sekarang istri bapak mengalami ke guguran dengan pendarahan yang hebat, kami harus mencari darah yang cocok untuk istri bapak saat ini."
" Bu Diah sangat kekurangan darah karena pendarahannya tersebut." ucap dokter itu lagi.
Bima terkejut dengan yang di ucapkan oleh dokter tentang istrinya.
__ADS_1
Dokter sudah bertanya ke Bima jenis golongan darahnya ternyata tak sama dengan istrinya.
Sedangkan istrinya harus segera mendapatkan darah itu segera.
Bima segera mencari ke PMI namun tidak ada juga, istri Bima sekarang kritis dan sekarang dalam kondisi antar hidup dan mati.
Bima bingung mau mencari dimana jenis golongan darah Diah lagi, sementara persediaan dirumah sakit dan PMI tidak ada.
Bima pun kembali dan berkata tidak dapat menemukannya kepada dokter tersebut.
Lalu tak sengaja Bima bertemu pada Tiara yang kebetulan ada di rumah sakit itu juga. Tiara dirawat disana karena saat itu demam tinggi, dan dirawat disana.
Tiara juga tak sengaja mendengar pembicaraan Bima antara dokter itu tadi. Dan dengan sangat kebetulan Tiara memiliki jenis golongan darah AB yang sama dengan Diah.
Lalu Tiara berkata pada suster tentang donor darah itu kepada suster, dan menyuruh suster itu untuk memberi tahukannya ke Bima segera.
Suster itu pun melakukannya, Bima pun berbicara pada suster itu. Bima pun senang ada seseorang yang mau mendonorkan darahnya untuk Diah istrinya.
Namun Bima tak tahu bila itu adalah Tiara yang dulu pernah menculik Aira anaknya. Tiara sangat senang dengan apa yang dia rencanakan saat ini.
"Suster dimana orang yang mau mendonorkan darahnya itu suster?" tanya Bima.
" Beliau ada di kamar 10 dan hari ini dia akan segera keluar dari rumah sakit ini." kata suster itu.
Bima langsung secepatnya menemuinya di kamar 10 tersebut.
" Tok, tok, tok..., permisi." ucap Bima.
" Silahkan masuk!" ucap Tiara dari dalam kamar itu.
" Hai mas Bima..." kata Tiara lagi.
" Kau mau menemui ku agar segera mendonorkan darah ku kan? aku bisa saja, tapi harus ada perjanjian di atas kertas untuk hal ini. Kalau kau tak mau ya tidak apa - apa mas." Tiara memberi sebuah kertas yang sudah Tiara siapkan dari sejak lama.
Tiara tahu hal ini pasti akan terjadi padanya, keberuntungan dalam hidupnya untuk mendapatkan Bima kembali ke sisinya.
Bima terkejut dengan isi perjanjian itu untuk mendapatkan donor darah darinya. Bima seakan tak percaya dan merasa ragu untuk sebuah donor darah saja harus ada pengorbanan.
Bersambung manteman.....
Dukung terus like komen rate πππππlimanya serta favorit jangan lupa ya sayang...
Semoga selalu sehat dalam lindungan Allah semua pembaca ku
__ADS_1
Radiah β€οΈ π terima kasih...